NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:482
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BADAI DAN BENTENG PERLINDUNGAN

Langkah awal Maira untuk berbenah diri ternyata tidak berjalan semulus yang ia bayangkan. Setan seolah tidak rela melihat satu jiwanya lepas begitu saja dari jalan kegelapan. Hari itu, ketenangan yang baru saja dirasakan Maira di kafe kembali terusik hebat. Penyebabnya adalah kehadiran Rayn.

Lelaki itu datang dan duduk di salah satu sudut kafe selama berjam-jam. Sepanjang waktu itu, tatapan matanya yang tajam dan dingin selalu tertuju lurus kepada Maira. Tatapan itu seolah mengisyaratkan sebaris ancaman bahwa sampai kapan pun, Rayn tidak akan pernah melepaskan Maira begitu saja. Maira merasa sangat risih dan tidak nyaman. Meskipun selama di dalam kafe Rayn tidak melakukan tindakan fisik apa pun, namun pandangan intim yang sarat akan kepemilikan egois itu sukses membuat punggung Maira meremang.

Sementara itu, di tempat lain pada malam sebelumnya, sebuah riak konflik telah lebih dulu tercipta. Di sebuah kelab malam yang remang-remang, Rayn sedang menenggelamkan diri dalam pengaruh alkohol berat bersama Naomi—wanita yang dulu merebutnya dari Maira. Namun, dalam keadaan mabuk berat dan saat sedang bercumbu dengan Naomi, kesadaran Rayn justru melayang pada sosok Maira yang baru.

Dengan bibir yang meracau tak beraturan, Rayn menyebut-nyebut nama Maira di depan wajah Naomi. “Maira... lo kok... anggun banget pakai baju itu... Maira...” racau Rayn berulang kali.

Mendengar nama perempuan lain keluar dari mulut kekasihnya di momen intim seperti itu, ego Naomi seketika runtuh. Rasa cemburu dan harga diri yang terinjak membuat Naomi meradang. Alih-alih menyalahkan Rayn yang mabuk, seluruh kemarahan dan kebencian Naomi justru ia tumpahkan sepenuhnya kepada Maira. Naomi menganggap Maira sengaja memasang perangkap pesona baru untuk merebut Rayn kembali.

Keesokan harinya, dengan amarah yang mendidih, Naomi nekat mendatangi kafe tempat Maira bekerja. Tanpa memedulikan etika di tempat umum, Naomi langsung menghampiri Maira yang sedang mengelap meja konter.

“Dasar perempuan munafik!” maki Naomi lantang, membuat beberapa pengunjung kafe tersentak dan menoleh ke arah mereka.

Maira terkejut, namun ia berusaha menahan emosinya agar tidak terpancing. “Naomi? Ada apa ini? Tolong jangan bikin keributan di tempat kerja gue.”

“Gak usah sok alim lo pakai jilbab begini!” bentak Naomi, menunjuk wajah Maira dengan sinis. “Lo sengaja, kan, berubah kayak gini buat nyari perhatian Rayn lagi? Asal lo tahu ya, semalam Rayn mabuk dan dia terus-terusan nyebut nama lo! Lo apain cowok gue, hah?!”

Maira menarik napas dalam-dalam, menatap Naomi dengan pandangan dingin yang kini jauh lebih berani. “Kalau Rayn terus mikirin gue, itu bukan salah gue, Naomi. Dan jujur, gue sama sekali gak peduli lagi sama dia,” tegas Maira.

Naomi mendengus meremehkan. “Halah, bohong!”

“Gue gak bohong,” sahut Maira, langkahnya maju satu langkah demi menekan intimidasi Naomi. “Lo yang dulu berambisi banget ngekhianatin gue dan ngerebut dia dari gue, kan? Harusnya sekarang lo sadar diri dan jaga cowok lo baik-baik. Kalau Rayn dulu bisa dengan mudah ngebuang gue demi lo, dia juga bisa buang lo kapan aja demi perempuan lain. Sadar, Naomi!”

Kata-kata skakmat dari Maira sukses membuat Naomi mati kutu. Wajahnya merah padam menahan malu karena ditatap oleh pengunjung kafe. Tanpa bisa membalas sepatah kata pun, Naomi akhirnya berbalik dan pergi menghentakkan kakinya keluar kafe dengan rasa dongkol yang luar biasa.

Namun, ujian Maira hari itu belum selesai sampai di situ. Sore harinya, tepat saat shif kerja Maira selesai dan ia melangkah keluar dari area kafe menuju jalanan yang agak sepi untuk mencari angkutan, sebuah langkah kaki bergegas mengejarnya. Itu Rayn.

Lelaki itu langsung menghadang jalan Maira, menatapnya dengan pandangan yang kian mengintimidasi. “Mai, tunggu!”

Maira mundur selangkah, menatap mantan kekasihnya itu dengan gusar. “Mau apa lagi lo, Ray? Jangan ganggu gue lagi.”

Rayn tersenyum miring, senyuman manipulatif yang dulu selalu berhasil membuat Maira bertekuk lutut ketakutan. “Mai, inget ya... semua aib lo selama kita pacaran dulu ada di gue. Sebagian besar foto dan video lo bahkan masih tersimpan rapi di ponsel gue ini,” ucap Rayn sembari menepuk saku celananya dengan nada mengancam yang kental. “Kalau lo gak mau semua aib lo ini kesebar dan bikin lo malu seumur hidup, lo harus balik sama gue sekarang.”

Mendengar ancaman serendah itu, jantung Maira sempat berdegup kencang. Ia bingung dan takut harus berbuat apa. Bayangan kehancuran nama baiknya sempat melintas di kepala. Namun, mengingat kembali sujud tobatnya semalam, seberkas keberanian baru tiba-tiba mengalir di dalam darahnya. Maira berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlihat lemah di depan lelaki berengsek ini.

Maira menegakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam sepasang mata Rayn dengan tatapan paling tegas yang pernah ia miliki. “Lakuin, Ray. Lakuin apa pun yang lo mau! Gue udah gak peduli lagi mau aib gue kesebar atau nggak. Gue udah gak takut!” tegas Maira berani.

Rayn tersentak, tidak menyangka akan mendapat perlawanan sekeras itu dari Maira yang biasanya penurut. Wajah Rayn berubah mengeras, ia maju selangkah mencoba meraih pergelangan tangan Maira. “Mai! Lo jangan keras kepala ya! Lo bisa balik lagi ke gue, kita bisa seru-seruan lagi kayak dulu bebas tanpa beban, Mai!”

Maira dengan cepat menepis tangan Rayn sebelum sempat menyentuhnya. Air matanya hampir menetes, bukan karena takut, melainkan karena mengingat betapa bodohnya ia dulu. “Iya, dulu... cuman lo yang seru-seruan sendiri menikmati semuanya, Ray! Sementara gue? Gue tenggelam dalam rasa bersalah sama diri gue sendiri setiap kali gue selesai sama lo! Gue tersiksa, Ray!”

Rayn mendengus kasar, urat-urat di lehernya menegang. “Sok suci lo sekarang, Mai! Munafik!” bentak Rayn kasar.

“Terserah lo mau bilang gue apapun! Yang jelas, jangan pernah berani ganggu hidup gue lagi, Ray!” balas Maira dengan suara yang bergetar hebat.

Situasi di pinggir jalan itu semakin memanas dan tegang. Rayn yang tersulut emosinya tampak hendak bertindak lebih agresif dan mencengkeram bahu Maira secara paksa. Namun, tepat sebelum tangan kotor Rayn sempat menyentuh pakaian Maira, sebuah tubuh kokoh langsung pasang badan, berdiri tegak tepat di depan Maira, menjadikannya benteng perlindungan yang kokoh. Itu Fatih.

Rayn terkejut jalannya diadang. Ia menatap Fatih dengan pandangan menyalang dan penuh amarah. “Siapa Lo? Ikut campur aja!” bentak Rayn kasar.

Fatih menatap Rayn dengan pandangan mata yang teramat tajam dan berwibawa, membuat nyali Rayn mendadak tersendat di tenggorokan. “Saya cuman gak suka ada yang kasar sama perempuan,” ucap Fatih dengan suara bariton yang berat dan penuh penekanan.

Rayn mengepalkan tangannya, menatap Fatih dan Maira bergantian dengan rasa dongkol yang tertahan. Menyadari dirinya kalah dominasi dan mulai memancing perhatian orang sekitar, Rayn akhirnya mengumpat kasar, lalu memilih mundur dan berjalan pergi menjauh.

Setelah memastikan Rayn bener-bener pergi, Fatih membalikkan tubuhnya menghadap Maira. Ia menjaga jaraknya dengan sopan, menatap Maira yang masih tampak gemetar dengan sisa-sisa air mata di pipinya.

Maira mengembuskan napas lega yang teramat dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Ia mendongak menatap Fatih dengan perasaan campur aduk.

“Makasih ya, Fatih... Lo udah bantuin gue lagi,” bisik Maira tulus dengan suara parau.

Namun, setelah mengucapkan itu, Maira langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ada rasa canggung dan malu yang teramat besar yang mendadak menyergap jiwanya. “Gue... gue bener-bener malu sama Lo. Kenapa ya, setiap kejadian memalukan tentang diri gue... selalu aja dilihat sama Lo?” ucap Maira dengan nada miris, meratapi nasibnya yang selalu terlihat kacau di depan lelaki itu.

Mendengar penuturan Maira, Fatih tidak tertawa atau menghakimi. Lelaki itu justru mengembuskan napas perlahan lalu tersenyum sangat teduh, sebuah senyuman yang seketika mengalirkan rasa aman ke dalam dada Maira.

“Gak apa-apa, Mbak,” ucap Fatih dengan nada suara yang begitu menyejukkan. “Allah ngehadirin orang di hidup Mbak itu bukan tanpa alasan. Mungkin dengan kebetulan-kebetulan ini... adalah cara Tuhan nyelametin Mbak lewat saya.”

Maira terpaku di tempatnya berdiri, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Fatih. Kalimat itu terasa begitu menghujam jantungnya, meruntuhkan rasa minder dan malu yang sempat ia rasakan, berganti dengan rasa syukur yang membuncah di dalam ulu hatinya.

Malam harinya, setelah badai emosi yang menguras tenaganya seharian, Maira duduk termenung di tepi tempat tidur kamarnya. Kejadian dilabrak Naomi dan diancam Rayn sempat membuat hatinya goyah dan ketakutan. Namun, alih-alih melarikan diri ke kelab malam seperti dulu, malam ini ada sebuah tarikan kuat yang terbesit di dalam lubuk hatinya.

Maira melangkah pelan menuju lemari, mengambil sebuah Al-Qur'an kecil milik almarhum neneknya yang sudah sangat lama tidak pernah ia sentuh hingga permukaannya sedikit berdebu. Maira mengusap sampul kitab suci itu dengan perasaan haru, lalu membukanya di atas pangkuan di bawah temaram lampu kamar.

Ia mulai mencoba membaca lembaran awal kitab suci tersebut. Namun, baru saja matanya menatap baris pertama, dahi Maira langsung mengernyit dalam. Lidahnya terasa begitu kaku dan kelu karena sudah bertahun-tahun lamanya ia mengabaikan kalam Tuhan semenjak hidupnya berantakan.

Maira menatap tiga huruf di awal surat Al-Baqarah dengan pandangan bingung. Jari telunjuknya gemetar menyentuh lembaran kertas tersebut.

“Aduhh... ini dibacanya gimana ya? Lupa banget,” gumam Maira frustrasi pada dirinya sendiri.

Ia mencoba mengingat-ingat kembali pelajaran mengaji masa kecilnya yang sudah terkubur dalam. Maira mulai mengeja dengan ragu-ragu. “Ohh... A... la... Ma? Alama?” Maira terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya cepat. “Kayaknya bukan deh. Duh, apa ya?”

Maira menghabiskan waktu lama sekali hanya di ayat pertama surat Al-Baqarah itu. Ia mendesah pelan, meratapi betapa jauhnya ia sudah tersesat sampai-sampai membaca huruf paling dasar pun ia sudah tidak mampu. Rasa bersalah sempat menyergap, namun kali ini rasa bersalah itu berubah menjadi tekad.

“Aduh... kayaknya gue bener-bener perlu belajar lagi deh dari dasar. Gak bisa kalau cuma nebak-nebak sendiri kayak gini,” bisik Maira lirih.

Sebuah pemikiran tiba-tiba terlintas di dalam kepalanya, memicu pergolakan batin yang cukup sengit. “Kalau... kalau gue masuk pesantren buat belajar agama, bakal malu-maluin gak yah? Segede gini baru masuk pesantren... apa kata orang nanti?” batin Maira ragu. Ada rasa minder dan gengsi yang sempat mencuat mengingat usianya yang sudah dewasa.

Namun, Maira segera menepis pikiran negatif itu. Ia memandangi kembali mushaf di pangkuannya. Luar biasanya, malam ini, trauma dan ketakutan akibat kejadian dilabrak Naomi serta ancaman dari Rayn tadi siang benar-benar tertutup rapat dan terlupakan begitu saja. Pikirannya kini sudah sepenuhnya dialihkan oleh rasa penasaran yang teramat besar dan kerinduan yang membuncah untuk bisa kembali belajar membaca Al-Qur'an dengan benar. Malam itu, di dalam kesunyian kamarnya, Maira bertekad untuk mencari cara agar bisa mengeja kembali huruf-huruf milik Tuhannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!