"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."
Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.
"Yuna Anindya."
Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.
"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.
Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Sisi Pak Dosen
Malam makin larut. Suara gemercik air keran di wastafel dapur perlahan berhenti seiring dengan piring terakhir yang selesai dibilas oleh Yuna. Sesuai janjinya, ia menuntaskan tugas mencuci piring dengan bersih, meskipun beberapa kali sempat melirik ruang tengah memastikan keberadaan Labib.
Pria itu sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya, kacamata bacanya kembali terpasang. Jari-jarinya menari dengan cepat di atas papan ketik, kemungkinan besar sedang memeriksa draf tugas akhir mahasiswa atau menyusun materi kuliah untuk besok pagi. Aura serius dan berwibawa itu kembali menguar kuat.
Yuna berjalan perlahan mendekat, membawa dua cangkir teh hangat yang baru saja ia seduh—satu-satunya hal di dapur yang ia yakin tidak akan gagal ia buat.
"Mas Labib, ini tehnya," kata Yuna pelan, meletakkan cangkir itu di meja kopi di depan Labib.
"Ya, terima kasih, Yuna," sahut Labib tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. Namun, tangannya terulur meraih cangkir tersebut dan menyesapnya sedikit. "Duduklah."
Yuna mengambil posisi duduk di ujung sofa yang sama, memberikan jarak yang cukup aman. Ia memeluk lututnya, menatap profil samping wajah suaminya dari balik helaian rambutnya. Pikiran yang sejak sore mengganjal di kepalanya mendadak menuntut untuk dikeluarkan.
"Mas," panggil Yuna ragu.
"Ya?" Labib menurunkan sedikit layar laptopnya, kini menatap Yuna sepenuhnya.
"Yuna boleh tanya sesuatu?"
"Tanya saja."
Yuna menggigit bibir bawahnya sejenak, menimbang-nimbang apakah pertanyaannya ini akan membuat dosen di depannya ini tersinggung atau tidak. "Kenapa... Mas Labib kalau di kampus galak banget? Maksud Yuna, dingin, tegas, dan nggak pernah senyum sama sekali sampai semua mahasiswa takut. Tapi..." Yuna menjeda kalimatnya, wajahnya agak memanas. "...tapi kalau di rumah, sama Yuna, Mas baik banget. Bahkan mau masakin nasi goreng. Rasanya kayak... beda orang."
Labib terdiam sebentar. Pria berumur 31 tahun itu meletakkan laptopnya ke meja, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa. Matanya menatap Yuna dengan kehangatan yang lagi-lagi membuat jantung Yuna berdesir.
Sebuah senyuman tipis, hampir tak kentara, muncul di wajah tampan itu.
"Kamu mau tahu alasannya?" tanya Labib dengan suara beratnya yang tenang.
Yuna mengangguk cepat, matanya berbinar penasaran.
"Di kampus, saya memegang tanggung jawab besar," jelas Labib, nadanya terdengar seperti seorang mentor yang sedang berbagi ilmu. "Dunia arsitektur itu keras, Yuna. Garis yang salah satu milimeter saja di atas kertas bisa membuat sebuah bangunan runtuh di dunia nyata dan membahayakan nyawa orang. Saya tidak bisa bersikap lembek atau memaklumi kelalaian mahasiswa. Sikap tegas saya adalah cara saya mendidik kalian agar menjadi profesional yang berintegritas. Lagipula..." Labib menggantung kalimatnya, menatap Yuna dengan tatapan intens. "...kalau saya terlalu ramah, mahasiswa tidak akan fokus belajar, melainkan fokus pada hal lain."
Yuna langsung teringat desas-desus di kampus tentang deretan mahasiswi yang sengaja berdandan heboh demi menarik perhatian Pak Labib. Apa yang dikatakan suaminya memang ada benarnya. Sikap galak itu adalah tameng profesionalitasnya.
"Lalu... kenapa sama Yuna beda?" kejar Yuna lagi, suaranya makin lirih.
Labib memajukan tubuhnya, memotong jarak di antara mereka. Pria itu mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala Yuna dengan sangat lembut—sebuah sentuhan yang membuat Yuna merasa begitu dilindungi.
"Karena di sini, saya bukan Pak Labib dosenmu," ujar Labib pelan namun sarat akan penegasan. "Di sini, saya adalah suamimu. Rumah ini adalah tempat di mana saya melepas semua topeng profesionalitas itu. Tugas saya di rumah ini bukan untuk menguji atau menilaimu, Yuna. Tugas saya di sini adalah menjagamu, menyayangimu, dan memastikan kamu merasa aman setelah kehilangan ayahmu."
Labib menarik kembali tangannya, lalu menepuk pelan ruang kosong di sofa di sebelahnya. "Kamu tidak perlu takut atau canggung lagi di rumah ini. Saya tidak akan pernah membawa sikap galak di kampus itu ke hadapan istri saya sendiri."
Mendengar penuturan jujur dan tulus dari Labib, dinding kecanggungan di hati Yuna perlahan mulai terkikis. Rasa heran yang tadi menggelayuti pikirannya kini berubah menjadi rasa syukur yang mendalam. Di balik sosok "dosen pembunuh" yang ditakuti satu universitas, ada seorang pria matang yang memperlakukannya bak seorang ratu di dunia rahasia mereka berdua.