Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.
Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.
Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Di tengah keputusasaan itu, Reno mulai menghubungkan semua kemalangannya dengan satu hal, sejak Nadia pergi dari hidupnya, keberuntungan seolah ikut menghilang. Ia bahkan mengabaikan kenyataan bahwa penyebab utama kehancuran bisnisnya adalah ulahnya sendiri. Dalam pikirannya, jika Nadia kembali, simpati publik mungkin akan mereda. Orang-orang mungkin akan menganggap mereka telah berdamai, lalu perlahan melupakan semua yang terjadi.
Dengan keyakinan itulah Reno memberanikan diri mendatangi kontrakan Nadia. Mobilnya berhenti di depan rumah sederhana yang dulu begitu sering ia remehkan. Reno turun dengan langkah tergesa. Matanya tampak sembap karena kurang tidur. Begitu Nadia membuka pintu, ia yang hendak menjemput Kian, keduanya saling berpandangan beberapa saat.
Nadia jelas terkejut. "Ada apa kamu ke sini?"
Reno tidak lagi menunjukkan sikap angkuhnya seperti dulu. Dengan suara yang terdengar lelah, ia berkata bahwa ia ingin memperbaiki semuanya. Ia mengaku telah melakukan banyak kesalahan dan meminta Nadia pulang bersamanya. Ia berjanji akan berubah, akan menjadi suami yang baik, dan akan memperlakukan Nadia serta Kian dengan semestinya.
Namun Nadia hanya menatapnya tanpa ekspresi. Ia sudah terlalu sering mendengar janji-janji seperti itu.
Reno melangkah lebih dekat. Kali ini nada bicaranya berubah menjadi memaksa. Ia mengatakan bahwa mereka adalah keluarga dan seharusnya memulai semuanya dari awal. Bahkan ia menyebut Kian membutuhkan sosok ayah yang utuh di rumah.
Nadia tetap bergeming. Baginya, pria yang berdiri di hadapannya bukan datang karena cinta. Reno datang ketika bisnisnya berada di ambang kebangkrutan, ketika seluruh dunia seolah berbalik meninggalkannya, dan ketika ia membutuhkan seseorang untuk menyelamatkan keadaan. Nadia menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak perceraian mereka diputuskan, ia merasa benar-benar telah menutup pintu hatinya bagi Reno.
Reno menggeleng berulang kali saat melihat tatapan dingin Nadia. Ia melangkah mendekat, berusaha meyakinkan mantan istrinya dengan suara yang terdengar putus asa. "Itu semua tidak benar, Nad. Aku sangat mencintaimu. Sangat. Makanya sejak awal aku nggak mau melepaskan kamu. Tapi kamu yang kekeh ingin berpisah. Bahkan sekarang, kalau kamu mau, aku bisa menceraikan Karin. Kami hanya menikah siri. Sangat mudah membuatnya pergi dari hidupku."
Nadia memandang Reno lama. Wajah pria itu memang tampak lebih kurus, matanya cekung, dan penampilannya jauh berbeda dari Reno yang dulu selalu percaya diri. Namun, entah mengapa, semua perubahan itu tidak lagi mampu mengusik hatinya. Ia justru merasa sedih. Bukan sedih karena masih mencintai Reno, melainkan sedih melihat seseorang yang dulu begitu ia hormati kini menganggap sebuah hubungan bisa diputus semudah membalikkan telapak tangan. Dengan tenang Nadia menggeleng. "Reno, coba dengarkan kata-katamu sendiri."
Reno terdiam. "Kamu bilang bisa dengan mudah membuat Karin pergi dari hidupmu karena pernikahan kalian siri." Nadia menarik napas pelan. "Dulu, kamu juga dengan mudah membuatku dan Kian pergi dari hidupmu." Kalimat itu membuat Reno kehilangan kata-kata. "Kamu tidak sedang membuktikan cintamu padaku. Kamu justru sedang membuktikan bahwa kamu terbiasa mengorbankan orang lain ketika keadaan tidak sesuai keinginanmu."
Reno buru-buru menyela. "Bukan begitu, Nad..."
"Kalau hari ini kamu sanggup meninggalkan Karin demi aku, apa jaminannya beberapa tahun lagi kamu tidak meninggalkanku demi perempuan lain?" Reno menundukkan kepala. Nadia melanjutkan dengan suara yang tetap tenang. "Cinta bukan tentang siapa yang kembali ketika hidupnya sedang hancur. Cinta adalah tentang siapa yang tetap bertahan ketika keadaan masih baik." Ia menatap Reno lurus-lurus. "Dulu, saat bisnismu berkembang, saat hidupmu nyaman, saat kamu merasa memiliki segalanya... kamulah yang memilih meninggalkanku."
Ucapan itu menghantam Reno jauh lebih keras daripada bentakan. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa semua alasan yang ia susun terdengar begitu rapuh di hadapan perempuan yang pernah ia lukai.
Nadia kemudian membuka pintu lebih lebar. "Bukannya aku mengusirmu. Tapi mulai hari ini, datanglah ke sini hanya jika urusannya tentang Kian."
Reno memejamkan mata. Ia tahu, pintu rumah itu masih terbuka. Namun pintu hati Nadia telah tertutup rapat untuknya. Reno menatap Nadia dengan mata yang memerah. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa kehilangan perempuan yang selama ini selalu menunggunya pulang. "Harus bagaimana lagi, Nad?" suaranya lirih. "Harus bagaimana caranya meluluhkan hatimu?"
Nadia tersenyum tipis. Senyum yang tidak lagi menyimpan harapan. "Kamu salah bertanya, Reno." Reno mengernyit. "Seharusnya pertanyaannya bukan bagaimana meluluhkan hatiku."
"Lalu apa?"
"Bagaimana mengembalikan kepercayaanku." Reno terdiam. "Dan jawabannya..." Nadia menggeleng pelan. "Aku sendiri tidak tahu. Hening menyelimuti keduanya. "Aku pernah mencintaimu dengan seluruh hatiku. Aku pernah mempercayaimu sepenuhnya. Bahkan ketika orang lain mulai melihat perubahanmu, aku masih membelamu." Nadia mengembuskan napas panjang. "Tapi semua itu habis sedikit demi sedikit. Bukan dalam sehari, melainkan setiap kali kamu memilih perempuan lain. Setiap kali kamu mengabaikan Kian. Setiap kali aku menangis sendirian sementara kamu hidup bahagia." Suara Nadia tetap tenang, tetapi setiap katanya terasa begitu dalam. "Hatiku bukan tembok yang bisa kamu dobrak kalau sedang ingin masuk. Hatiku adalah rumah yang dulu kamu tinggalkan atas pilihanmu sendiri."
Reno menunduk. Tak ada satu pun kalimat yang mampu ia gunakan untuk membantah. Kini ia mulai mengerti, ada luka yang bisa sembuh, tetapi tidak selalu membuat seseorang ingin kembali kepada orang yang pernah melukainya.
Tatapan Reno berubah kosong. Semua penolakan Nadia, kehancuran bisnisnya, dan rasa kehilangan yang selama ini ia pendam bercampur menjadi keputusasaan yang membuatnya kehilangan akal sehat. Di benaknya hanya ada satu pikiran yang keliru, jika Nadia tidak mau kembali dengan kata-kata, maka ia akan memaksanya untuk tetap bersamanya. "Nad... jangan tinggalkan aku lagi," ucapnya dengan napas memburu.
Nadia mulai merasa ada yang tidak beres. Ia mundur selangkah. "Reno, tenang."
Namun Reno justru meraih pergelangan tangan Nadia. "Tolong... jangan suruh aku kehilangan kamu."
"Reno, lepaskan!"
Pegangan Reno semakin kuat. Nadia berusaha menarik tangannya sambil mendorong tubuh mantan suaminya. "Kamu sudah gila? Lepaskan aku!" Reno seperti tidak lagi mendengar. Ia terus berusaha mendekat, membuat Nadia benar-benar ketakutan. "Reno!" Dengan sekuat tenaga, Nadia berteriak meminta pertolongan. "Tolong...!"
Di saat yang bersamaan, sebuah mobil berhenti tepat di depan kontrakan. Pak Fahri baru saja mengantar Kian pulang. Karena Nadia belum datang menjemput, pihak sekolah menghubunginya sebagai orang tua Rey yang sudah beberapa kali membantu mengantar Kian. Begitu turun dari mobil, Fahri mendengar teriakan dari dalam rumah. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menuju pintu yang terbuka. Pemandangan di hadapannya membuat darahnya mendidih. Reno sedang memaksa Nadia yang terus berusaha melepaskan diri. "Hei!" Bentakan Fahri membuat Reno menoleh. Belum sempat Reno bereaksi, Fahri menariknya menjauh dari Nadia lalu melayangkan satu pukulan keras ke wajahnya. Bruk! Tubuh Reno terhuyung hingga jatuh ke lantai. "Berani sekali kamu memaksa perempuan!" bentak Fahri dengan napas memburu.