NovelToon NovelToon
Aku Bisa Membeli Semuanya Dengan Sistem Diskon

Aku Bisa Membeli Semuanya Dengan Sistem Diskon

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Semua benda di dunia memiliki harga.

Rumah, restoran, perusahaan, bahkan kesempatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun.

Saat hidup Lin Liu berada di titik terendah, sebuah sistem misterius memilihnya sebagai pemilik baru. Sistem itu tidak memberinya uang, kekuatan, ataupun keberuntungan.

Yang diberikannya hanyalah... diskon.

Semakin besar target yang berhasil dicapai, semakin langka kartu diskon yang diperoleh. Dengan satu kartu, sesuatu yang mustahil dimiliki bisa berubah menjadi kesempatan yang berada dalam jangkauan.

Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensinya.

Di balik setiap transaksi, tersembunyi rahasia yang membuat dunia tidak sesederhana yang terlihat. Kini Lin Liu harus menentukan apa yang layak dibeli... dan apa yang seharusnya tidak pernah memiliki harga.

Karena ketika segalanya bisa dibeli, batas antara keberuntungan dan keserakahan menjadi sangat tipis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Kafe kecil di dekat taman kota itu cukup ramai sore itu, dipenuhi aroma kopi yang hangat dan suara musik instrumental yang mengalun pelan dari pengeras suara sudut ruangan. Lin Liu tiba lebih awal dari waktu yang dijanjikan, memilih meja di dekat jendela yang menghadap taman, jantungnya berdebar tidak menentu tanpa alasan yang jelas.

Sepuluh menit kemudian, Huang Ruoxi muncul, mengenakan pakaian kasual yang jauh lebih sederhana dari gaun-gaun mahal yang biasa dia kenakan, rambutnya diikat santai ke belakang. Dia duduk di seberang Lin Liu, matanya sedikit menghindar, jarinya memutar-mutar tali tas kecil yang dia bawa.

"Kau datang tepat waktu," katanya, suaranya sedikit canggung, berbeda dari nada tegas yang biasa dia gunakan.

"Kau yang mengajak, masa aku telat," Lin Liu menjawab santai, mencoba mencairkan suasana yang terasa berbeda dari biasanya. "Bagaimana keadaan keluargamu setelah kejadian waktu itu?"

Huang Ruoxi menghela napas panjang, menatap gelas air di depannya. "Ayahku sedang menghadapi pemeriksaan dari pihak berwenang soal pinjaman ilegal itu. Cukup berat, tapi setidaknya pertunanganku dengan Liu Feng resmi dibatalkan. Dia bahkan menghindar dari semua pemberitaan sekarang."

"Syukurlah," Lin Liu berkata tulus, meskipun ada sedikit rasa bersalah menyelinap di dadanya. "Maaf kalau caranya jadi seperti ini, membuat keluargamu kena masalah hukum."

"Jangan minta maaf," Huang Ruoxi menyahut cepat, menatap Lin Liu tegas untuk pertama kalinya sejak dia duduk. "Kau membantuku lepas dari pernikahan yang tidak kuinginkan. Itu jauh lebih berarti daripada masalah hukum yang harus dihadapi ayahku sendiri."

Hening sejenak di antara mereka, hanya diselingi suara denting sendok mengaduk kopi dari meja sebelah. Lin Liu memperhatikan Huang Ruoxi yang tampak gelisah, jarinya masih memutar-mutar tali tasnya, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu.

"Sebenarnya, ada yang mau kubicarakan," Huang Ruoxi akhirnya berkata, suaranya sedikit lebih pelan. "Aku... aku mau mengajakmu pergi berlibur. Naik kapal pesiar, empat hari tiga malam ke Bali."

Lin Liu mengerjapkan mata, tidak yakin dia mendengar dengan benar. "Kapal pesiar? Ke Bali? Kenapa tiba-tiba?"

Wajah Huang Ruoxi memerah samar, dia buru-buru mengalihkan pandangan ke luar jendela, berusaha terdengar sesantai mungkin meskipun jelas gugup. "Anggap saja ini hadiah dariku, buat balas budi karena kau sudah membantuku waktu itu. Bukan karena alasan lain, jangan salah paham."

"Aku tidak bilang apa-apa, kok," Lin Liu menahan senyum melihat tingkah gadis itu, meskipun dalam hati dia bertanya-tanya apa yang sebenarnya membuat Ruoxi begitu gugup hanya untuk mengucapkan ajakan sederhana itu.

"Pokoknya, ini cuma hadiah, titik," Huang Ruoxi menegaskan lagi, meskipun nadanya justru semakin terdengar defensif. "Kapalnya berangkat lusa dari pelabuhan, empat hari tiga malam, semua biaya sudah kutanggung. Kau tinggal siapkan diri saja."

Lin Liu terdiam sejenak, mempertimbangkan tawaran itu. Di satu sisi, dia masih punya banyak tanggung jawab—misi sistem yang baru saja selesai namun belum tentu tidak akan muncul misi baru, utang yang masih menggantung, dan ancaman Chen Datong yang entah kapan akan muncul lagi. Namun di sisi lain, ada sesuatu dalam dirinya yang begitu ingin menerima ajakan itu, sebuah kesempatan langka untuk sejenak melupakan semua beban yang selama ini menghimpitnya.

"Baiklah, aku mau," jawabnya akhirnya, tersenyum tulus.

Wajah Huang Ruoxi seketika berbinar, meskipun dia buru-buru menyembunyikannya dengan berdeham pelan. "Bagus. Tapi ingat satu hal penting."

"Apa itu?" Lin Liu bertanya, penasaran dengan nada serius yang tiba-tiba muncul.

"Jangan pernah, aku ulangi, jangan pernah kau berpakaian norak seperti waktu pertama kita bertemu," Huang Ruoxi menunjuk Lin Liu dengan jari telunjuknya, matanya menyipit tegas. "Ini kapal pesiar mewah, banyak orang penting yang naik. Aku tidak mau reputasiku ikut hancur gara-gara kau muncul dengan kemeja oranye dan celana hijau army lagi."

Lin Liu tertawa keras mendengar peringatan itu, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Baik, baik, aku janji. Aku sudah belajar banyak dari pelajaranmu waktu itu, kok."

"Bagus kalau begitu," Huang Ruoxi mengangguk puas, meskipun senyum kecil yang tersembunyi di sudut bibirnya tidak sepenuhnya bisa dia sembunyikan. "Aku akan kirim detail keberangkatannya lewat pesan nanti malam."

Sepanjang sisa pertemuan itu, mereka berbincang lebih ringan, membahas hal-hal sederhana seperti makanan favorit dan tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi, jauh dari topik berat soal utang dan ancaman yang selama ini selalu membayangi kehidupan Lin Liu. Namun di balik senyum yang dia tunjukkan, Huang Ruoxi menyimpan sesuatu dalam hatinya yang belum sepenuhnya berani dia ungkapkan—sebuah alasan yang jauh lebih dalam dari sekadar "hadiah balas budi" yang dia sampaikan tadi.

1
Elzi Lamoz
Sistem. semoga sistem ini bisa bantu Lin Liu, tapi terlalu bergantung sistem juga bakal dia jadi lemah. bukan fisik tapi hatinya.
遥依•𝙀𝙉𝙩𝙖𝙧%: Gak kok sistemnya itu lebih kek motivasi dengan imbalan hadiah kartu diskon
total 1 replies
Elzi Lamoz
bukannya bantu orang malah mencibir. laki atau cewek sih suami nya ini.
Intsomi: 🤣....
total 3 replies
Elzi Lamoz
Jangan terlalu memikirkan apa yang udah terjadi, mending isi perut dulu, walau dompet kosong.
遥依•𝙀𝙉𝙩𝙖𝙧%
Sering terjadi di Indonesia, ULTI setiap orang tua😹
Elzi Lamoz
Kasian sih, terus ada bayangan emak bapaknya berkata di keheningan. kamu harus membalas budi karena telah kami besarkan nak🥲
Elzi Lamoz
Depkolertor kah, sadis parah🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!