NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:769
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8- Perkelahian

Sementara itu di seberang jalan, sebuah warung kopi sederhana masih buka dengan lampu kuning yang redup. Suara gelas beradu pelan, dan aroma kopi hitam yang pekat tercium harum memenuhi udara.

Max yang tau jika Alena kerja lembur, ia sengaja stanby dan duduk santai di kursi kayu warung tersebut.

Satu tangannya memegang gelas kopi dan satu lagi memainkan korek api. Matanya tidak pernah lepas dari toko bunga di seberang seperti cctv yang terus memperhatikan target.

“Lo serius nungguin cewek toko bunga itu malam ini?” goda salah satu temannya.

“Gue cuma lagi… penasaran," ujarnya sembari tersenyum nakal.

Namun.. kini tatapannya berubah dan sedikit menyipit.

“Eh… itu bukannya orang yang kemarin?” kata temannya lagi.

Max tidak menjawab dan hanya fokus menatap Alena yang berada di toko.

Di dalam sana ia melihat gerakan kasar. Pot bunga yang jatuh dan bayangan seseorang yang terdorong.

crash!

Suara pecahan pun samar terdengar bahkan dari luar.

Seketika senyum Max hilang lalu bergumam, “Kayaknya… gue harus pergi."

Tanpa menunggu respon teman-temannya, ia langsung berdiri dan melangkah dengan cepat.

kring…!

Pintu toko pun terbuka keras dan Max langsung menyaksikan suasana yang tegang. Pecahan pot berserakan, Bara yang berdiri sambil menahan sakit, dan Mico yang masih berdiri arogan di depan Alena.

“Wah…” suara Max terdengar santai. "Gue telat ya?”

Semua orang di dalam toko pun menoleh.

“Siapa lo?” tanya Mico mengernyit kesal.

Max pun melangkah masuk. Tatapannya menyapu keadaan, dari pecahan pot, Bara dan Alena.

“Gue cuma ninggalin sebentar, toko jadi berantakan gini?” kata Max.

Alena tidak menjawab perkataan Max. Namun ketika tatapan mereka bertemu Max pun langsung mengerti lalu menoleh ke arah Mico.

“Lo yang bikin semua ini?” tanyanya santai.

“Ckk! Urusan gue. Lo siapa?”

Max tertawa kecil.

“Gue?” ia lalu melangkah lebih dekat dan menjawab, “Orang yang bakal bikin lo keluar dari sini… dengan cara nggak enak.”

“Coba aja,” tantang Mico.

Lalu...

bugh!

Tanpa aba-aba Mico langsung melayangkan pukulannya duluan. Namun Max lebih cepat dan berhasil menghindar. Dan...

dugh!

Balasannya tepat mengenai wajah Mico.

“UGH—!”

Mico pun terhuyung ke belakang.

“Gue benci orang yang mukul duluan,” gumam Max dengan santainya.

“Brengsek!” teriak Mico.

Ia kembali menyerang dan kali ini lebih brutal.

bugh! dugh! brak!

Perkelahian pun pecah di tengah toko. Meja tergeser. Pot bunga tersenggol dan kelopak bunga beterbangan.

“Berhenti…!” cegah Bara. Namun tidak ada yang mendengarkannya.

Mico menyerang dengan membabi buta. Namun Max lebih terlatih dan lebih tenang. Ia berhasil menahan pukulan dan mengunci pergerakan.

Dan...

dugh!

Satu pukulan telak ke perut Mico hingga ia terjatuh ke lutut dan terengah.

Max lalu mendekat dan menarik kerah baju Mico. “Denger ya,” bisiknya. "Lo salah tempat.”

Ia mendorong Mico hingga jatuh ke lantai. “Dan lo salah orang," lanjutnya.

Tidak mau kalah, Mico mencoba bangkit namun tubuhnya goyah. Ia pun menatap Max dengan marah lalu melirik ke Alena.

“Ini belum selesai… Lo cari mati...” desisnya. Perlahan, tangan Mico merogoh ke balik jaket.

Bara yang melihat itu langsung panik. “Jangan, Mico!” teriaknya.

Namun semuanya sudah terlambat.

Kilatan logam muncul di bawah cahaya lampu. Sebilah sajam kini berada di tangan Mico.

Alena yang berdiri tak jauh dari sana langsung menegang. Tatapannya mengeras dan membaca bahaya yang datang dalam hitungan detik. Sementara itu, Max sama sekali belum menyadari bahaya yang mengintainya.

Dan saat Mico melesat maju,

“MATI LO!”

Tusukan itu mengarah tepat ke tubuh Max. Namun, tepat sebelum pisau itu mengenai sasarannya, langkah Mico tiba-tiba goyah. Kakinya seperti tersandung sesuatu yang tak terlihat. Tubuhnya miring dan arah serangannya pun melenceng.

Saat sadar, Max pun refleks mundur dengan napas yang tercekat. Ia terkejut melihat pisau yang membelah udara. Jika terlambat sedikit saja, mungkin perutnyalah yang akan terbelah.

Semuanya terjadi begitu saja tanpa ada yang benar-benar menyadari jika yang barusan terjadi adalah perbuatan Alena hingga Max pun terselamatkan.

"Argh!." Mico menggeram kesal dan amarahnya pun semakin tak terkendali.

Tidak ingin terjadi hal yang lebih bahaya, Bara pun segera berlari mendekat dan mencoba menghentikan semuanya. “Mico, cukup! Ini sudah kelewatan!” katanya, lalu berusaha merebut sajam itu.

“Lepasin!” bentak Mico.

Alih-alih berhenti, Mico justru mengayunkan senjata itu ke arah Bara.

"AWASSSSS!” teriak Alena.

Reflek Alena langsung bergerak dan melangkah dengan cepat, namun kali ini, ia sedikit kalah cepat hingga satu sayatan tajam membelah udara dan...

“Ukh—!”

Tubuh Alena tersentak.

Bukan Bara yang terkena.

Melainkan dirinya.

Pisau itu menancap di sisi tubuh Alena dan darah pun langsung merembes membasahi kain bajunya yang semula bersih.

“Alena...?” suara Max tercekat.

Tubuh Alena goyah. Matanya sedikit membesar, namun tidak ada teriakan. Dan kemudian, tubuh itu jatuh.

“ALENA!”

Max segera menangkapnya sebelum benar-benar terhempas ke lantai. Tangannya gemetar saat menahan luka di tubuh Alena dan berusaha menghentikan darah yang terus mengalir.

“Hey... lihat gue! Jangan tutup mata!” paniknya.

Adapun Bara, ia berlutut di lantai dengan wajah yang nampak pucat. “Ini... ini semua salahku...” sesalnya dengan suara yang bergetar.

Sementara tak jauh dari sana, Mico hanya berdiri membeku. Kesombongan di wajahnya seakan hilang dan terus menatap darah yang mulai menggenang dengan ekspresi tak percaya.

Max lalu mengangkat wajahnya dan menatap Mico dengan mata penuh amarah yang membakar. “Kalau dia kenapa-kenapa, gue pastiin lo nggak akan keluar hidup-hidup," pekiknya, hingga membuat Mico mundur selangkah.

Sementara itu, Alena menggenggam lemah baju Max.

“...jangan...” bisiknya.

Max langsung menoleh dengan cepat. “Jangan ngomong. Hemat tenaga.”

Namun Alena menggeleng lemah, lalu tatapannya beralih ke Bara. “Bukan... salahmu...”

“Ambulans! Cepat!” teriak Max ke arah luar dengan panik.

Namun sebelum kesadarannya benar-benar memudar, Alena kembali menarik sedikit baju Max. “Awas...” bisiknya.

Max pun mengernyit. “Kenapa?”

Namun saat ia mengikuti arah pandangan Alena, ia melihatnya. Ia melihat jika tatapan Alena yang dingin dan tajam itu mengarah lurus ke Mico.

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!