Sembilan tahun lalu, Mentari Ayuningtyas terpaksa mematahkan hati Devan Elvano.
Di masa SMA, Devan hanyalah remaja miskin berkemeja lusuh yang mengendarai motor tua. Demi menuruti tuntutan keluarganya dan menyembunyikan sebuah rahasia menyakitkan, Mentari memutus hubungan mereka dengan cara yang paling kejam, meninggalkan luka mendalam di hati pria yang teramat mencintainya itu.
Kini, roda takdir telah berputar 180 derajat.
Mentari terjebak dalam realitas urban yang mencekik. Sebagai seorang wanita kantoran biasa, ia mendapati dirinya di ambang kehancuran ketika sang ibu jatuh sakit dan tagihan rumah sakit menumpuk hingga ratusan juta. Di tengah keputusasaannya, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Devan.
Namun, Devan yang sekarang bukanlah remaja lemah yang bisa ditindas. Ia telah menjelma menjadi CEO Elvano Group—seorang miliarder dingin nan kejam yang memiliki jaringan restoran bintang lima di berbagai negara dan memegang saham mayoritas di perusahaan tempat Mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nge Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan di Dalam Darah
Kata-kata Clara laksana belati tak kasat mata yang menusuk tepat ke jantung Mentari. Seluruh persendian di tubuh wanita itu mendadak lemas. Pamannya sendiri? Paman Baskoro? Pria yang selama sembilan tahun ini selalu datang ke rumah sakit dengan wajah prihatin, yang menyodorkan amplop-amplop berisi uang tunai untuk tambahan biaya pengobatan ibunya saat mereka berada di titik terendah.
Mentari menggelengkan kepala, air matanya perlahan menetes. "Tidak... itu tidak mungkin. Paman Baskoro sangat menyayangi Ibu. Dia tidak mungkin menghancurkan Ayah..."
"Tidak mungkin?" Clara terkekeh sinis, melangkah maju setapak meski tatapan para pengawal Devan menahannya. Ia merobek amplop cokelat itu dan mengeluarkan selembar salinan dokumen audit resmi dengan tanda tangan yang sangat familier di atas meterai lama. "Lihat ini, Mentari! Ini tanda tangan Baskoro Adiwinata! Dia menjual seluruh data finansial Wijaya Group kepada keluarga Bramantyo demi menghapus utang judi pribadinya di Singapura dan mendapatkan posisi direktur di salah satu anak perusahaan mereka dulu!"
Clara kemudian menatap Devan dengan tatapan penuh dendam. "Dan kamu, Devan Elvano! Jangan berlagak pahlawan. Perusahaan yang kamu pimpin sekarang, Elvano Group, didirikan di atas puing-puing Wijaya Group. Paman Baskoro menggunakan kedudukannya untuk mempermudah akuisisi aset-aset kotor itu demi menyenangkan Bramantyo. Kamu telah memelihara tikus dalam selimut tanpa kamu sadari!"
Devan tidak menunjukkan kepanikan yang diinginkan Clara. Ekspresi wajahnya justru semakin dingin, matanya menyipit menatap lembaran kertas di tangan wanita itu. Ia melangkah maju, perlahan namun pasti, mendekati Clara. Tekanan aura yang dipancarkannya begitu kuat hingga Clara secara tidak sadar mundur satu langkah.
"Kamu pikir aku tidak tahu?" suara Devan mengalun rendah, sarat akan bahaya yang mematikan.
Clara tertegun. "Apa maksudmu?"
"Tiga tahun lalu, saat aku mulai membeli kembali aset-aset Wijaya Group, aku sudah menemukan kejanggalan pada keterlibatan Baskoro," Devan mendengus sinis, berdiri tepat satu meter di depan Clara. "Aku sengaja membiarkan pria tua itu tetap memegang jabatannya dan terus berpura-pura menjadi paman yang baik untuk Mentari. Kenapa? Karena aku butuh dia mengumpulkan seluruh bukti keterlibatan Bramantyo Senior dalam satu alur yang bersih. Baskoro hanyalah pion yang kupelihara sampai hari di mana dia tidak lagi berguna."
Devan merebut dokumen di tangan Clara dengan sekali sentakan kasar. "Dan hari itu... adalah hari ini. Dokumen yang kamu bawa ini tidak ada artinya, Clara. Karena tadi pagi, tim hukumku sudah membekukan seluruh aset atas nama Baskoro Adiwinata dan melayangkan gugatan penggelapan dana ke kepolisian."
Devan melemparkan dokumen itu ke lantai, lalu menatap Clara dengan pandangan menjijikkan. "Kamu datang ke sini mengira memiliki kartu as untuk memeras kami, padahal kamu hanya mengantarkan dirimu sendiri ke dalam jebakan. Pengawal, serahkan wanita ini ke pihak kepolisian atas tuduhan keterlibatan pemerasan bersama Arkan Bramantyo."
"Devan! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Devan!" jerit Clara histeris saat kedua pengawal bertubuh kekar itu langsung mencengkeram lengannya dan menyeretnya paksa menuju lift privat. Suara teriakan frustrasinya perlahan memudar seiring tertutupnya pintu lift.
Begitu keheningan kembali menguasai lobi lantai lima puluh lima, Devan segera berbalik. Matanya langsung tertuju pada Mentari yang kini terduduk lemas di kursi kerjanya, menenggelamkan wajah di kedua telapak tangannya dengan bahu yang berguncang hebat karena tangisan yang tertahan.
Devan melangkah cepat, berlutut di depan kursi Mentari. Ia menarik kedua tangan wanita itu dari wajahnya, menggenggam jemarinya yang teramat dingin.
"Mentari, lihat aku," pinta Devan lembut, suaranya dipenuhi kecemasan yang mendalam. "Maafkan aku... maaf karena menyembunyikan fakta tentang pamanmu selama ini. Aku hanya tidak ingin menghancurkan satu-satunya pilar keluarga yang kamu percayai saat itu, sebelum aku bisa memastikan keamananmu sepenuhnya."
Mentari mendongak, matanya merah dan basah oleh air mata. "Kenapa, Devan? Kenapa orang-orang yang kuanggap sebagai pelindung justru menjadi orang yang paling tega menghancurkan keluargaku? Ayah meninggal dalam kepedihan, Ibu sakit sakitan... dan semua itu karena keserakahan paman kandungku sendiri?"
Devan menarik Mentari ke dalam pelukannya, mendekap kepala wanita itu erat di dada bidangnya, membiarkan Mentari menumpahkan seluruh rasa sakit dan kekecewaan atas pengkhianatan berdarah itu pada kemeja putihnya.
"Kamu tidak sendirian lagi, Mentari. Dinding kebohongan mereka sudah runtuh semuanya. Mulai hari ini, tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ancaman," bisik Devan berulang kali, mengecup puncak kepala Mentari dengan penuh kasih. "Biarkan aku yang menjadi pelindungmu yang sesungguhnya. Kali ini, tidak akan ada satu pun pengkhianat yang bisa menyentuhmu."
Di dalam dekapan hangat Devan, di tengah sisa-sisa badai pengkhianatan keluarga yang baru saja terungkap, Mentari menyadari satu hal: dunia di luarnya mungkin penuh dengan kepalsuan, namun pelukan pria posesif yang kini menjelma menjadi dunianya adalah satu-satunya kebenaran yang nyata.