Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
satu tahun menjadi istrinya
Tempat itu tak jauh dari rumah sakit, tampak aman dan tenang. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, aku masih bisa lari atau berteriak. Tetap waspada, tak boleh lengah sedetik pun. Namun satu hal terus berputar di kepala tanpa henti: Kenapa dia repot-repot mendekati orang sepertiku? Gadis miskin, berantakan, tak punya apa-apa?
Dengan segala keraguan yang masih menyelimuti hati, aku mengikuti langkahnya. Masuk ke dalam gedung megah yang hanya pernah kulihat dari jauh — kaca bening, marmer berkilau, langit-langit tinggi seolah tak tersentuh. Luas, sejuk, segala sesuatu berkilau terkena lampu gantung yang indah. Orang berjalan tenang dan teratur, pakaian mereka rapi dan mahal — membuatku merasa tersesat di dunia yang bukan milikku, seolah aku hanyalah noda kotor di atas kain sutra yang bersih. Jantung berdegup kencang tak terkendali, telapak tangan basah oleh keringat dingin. Aku berjalan menunduk dalam, menatap lantai berkilau yang memantulkan bayanganku yang berantakan, sampai akhirnya ia berhenti di depan meja lebar dan empuk di sudut restoran. Ia memberi isyarat agar aku duduk di kursi di hadapannya.
Saat mata kami tak sengaja bertemu, rasa malu menyerangku sampai ke ubun-ubun. Aku melirik sekeliling takjub — Ya Tuhan, baru pertama kali dalam hidupku aku masuk ke tempat semewah ini. Kenapa semua orang berhenti sejenak dan menoleh ke arahku? Wajahku makin memerah karena malu. Segera aku sadar dan menatap bajuku sendiri: kusam, berdebu, bagian bawah rok robek, ada noda darah kering di lengan. Pasti mereka jijik melihatku — kotor, lusuh, tak pantas berada di sini di antara keanggunan ini.
Langkahku terhenti sebelum mendekat ke meja. Dia sadar, menoleh heran. “Ada apa? Mari duduk.”
Aku meremas ujung bajuku erat-erat, menunduk makin dalam hingga dagu hampir menyentuh dada. “Maafkan saya… saya datang dalam keadaan kotor begini. Takut menodai kursi.”
Dia melirik sekilas ke arah orang-orang yang menatapku dengan tatapan dingin dan penasaran — satu tatapan darinya yang tajam dan menusuk, seketika mereka semua memalingkan wajah, pura-pura sibuk seolah tak terjadi apa-apa, seolah tak pernah melihatku sama sekali.
“Itu bukan hal penting. Mari duduk,” ucapnya tenang namun tegas, tak memberi ruang untuk menolak.
Aku memberanikan diri maju kembali, duduk perlahan di tepi kursi — tak berani menyandarkan punggung. Dalam hati cemas luar biasa: Kursi bersih rapi ini pasti akan kotor karena aku. Bagaimana jika harus membayar gantinya? Padahal aku tak punya uang sepeser pun. Aku memejamkan mata sejenak, menahan cemas yang makin memuncak di dada.
Belum sempat aku tenang, pelayan di samping mendekat dengan sopan. “Selamat siang, Tuan, Nona. Ada pesanan apa?”
Aku kaget menoleh. Dia mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti pelan dan penuh wibawa. “Terima kasih, Tidak perlu.”
Pikiranku bergejolak hebat: perut melilit lapar sejak kemarin, tapi aku tak boleh sembarangan menerima kebaikannya. Tujuannya masih belum jelas sama sekali! Dia bisa saja menaruh niat buruk, dan aku tak punya cara untuk melindungi diri.
Dia menatapku lembut namun tegas, seolah bisa membaca setiap kekhawatiran di mataku. “Jangan sungkan. Pesan apa saja, semuanya tanggung jawabku.”
Cepat aku menggelengkan kepala, mengangkat kedua tangan menolak dengan sopan. “Terima kasih atas kebaikanmu, Tuan, tapi sungguh saya tak butuh apa-apa. Saya baik-baik saja.”
Dia mengembuskan napas pelan, seolah menyadari bahwa aku tak akan mudah menerima apa pun tanpa tahu alasannya. “Baik, langsung saja saya sampaikan maksud saya.”
Hatiku terasa lega — syukurlah, dia orang tegas, tak berbelit-belit. Tapi kalimat selanjutnya yang keluar dari bibirnya membuat seluruh tubuhku kaku, membeku di tempat seolah tertimpa hujan es di tengah musim dingin.
“Maukah kau menikah denganku?”
Mataku terbelalak lebar tak percaya, tubuh kaku tak bisa bergerak sedikit pun. Napas tertahan di kerongkongan. Dunia di sekitarku seolah berhenti berputar.
“Perkenalkan nama saya Adrian Romanov,” ucapnya tenang, seolah sedang membicarakan cuaca, bukan pernikahan. “Saya butuh istri. Ini pernikahan perjanjian — hanya satu tahun. Setelah itu berpisah tanpa ikatan apa pun, tanpa tuntutan, tanpa beban. Saya sudah tahu keadaan adikmu — dia butuh operasi besar, dan biayanya enam ratus juta rupiah — angka yang tak mungkin kau kumpulkan dalam waktu singkat. Sebagai gantinya, saya tanggung semua biaya perawatan, operasi, dan kebutuhan rumah sakit. Juga sediakan tempat tinggal yang layak untuk kalian berdua — aman, hangat, dan tak perlu khawatir lagi soal makanan atau pakaian.”
Ia mengambil selembar kertas rapi dan bersih dari map di sampingnya, meletakkannya pelan di tengah meja — di antara kami berdua. “Isinya jelas dan terperinci. Silakan baca baik-baik sebelum memutuskan.”
Tanganku terulur perlahan untuk mengambil kertas itu, berhenti sejenak di udara seolah tak percaya ini nyata. “Maaf saya lancang, Tuan Adrian… kenapa memilih saya? Bukankah banyak wanita lain yang jauh lebih pantas, lebih cantik, lebih kaya, dan lebih berpendidikan untuk mendampingi Tuan?”
Adrian menatap tepat ke mataku, tatapannya tajam namun entah mengapa jujur. “Saya baru pulang dari luar negeri. Keluarga mendesak saya segera menikah — syarat mutlak untuk mewarisi posisi dan kekuasaan. Juga… saya dengar perjuanganmu demi menyelamatkan adikmu. Ini saling menguntungkan: kau selamatkan nyawanya, saya penuhi syarat keluarga. Setelah setahun selesai, saya berikan rumah untuk tempat tinggalmu — milikmu sepenuhnya. Apakah itu cukup?”
Mendengarnya, seberkas cahaya menembus kegelapan tebal yang meliputi hatiku selama ini. Doa-doa yang selalu kupanjatkan di tengah malam yang sepi akhirnya dijawab Tuhan. Harapan yang hampir padam kini tumbuh kuat kembali di dada — bukan untukku, tapi untuk Aslan.
Melihatku diam mematung lama, Adrian bicara dengan nada yang lebih lembut, seolah takut menakutiku. “Saya takkan memaksamu. Jika ragu atau tak setuju, anggap pembicaraan ini tak pernah terjadi… dan saya tetap akan membayar biaya operasi adikmu sebagai bantuan tanpa syarat.”
Kalimat terakhir itu membuatku tersentak — kebaikan yang tak diminta, yang tak masuk akal, yang menyakitkan karena terlalu tulus. Aku tak bisa membiarkannya berkorban tanpa alasan. Dan aku tak bisa membiarkan Aslan menunggu sedetik pun lebih lama.
“Saya setuju.”
Adrian terdiam sejenak, sedikit kaget mendengar jawaban yang begitu cepat dan tegas. Aku menatapnya serius agar tak salah paham — ini bukan untukku, ini untuk satu-satunya keluarga yang tersisa. “Saya bersedia.”
Raut wajahnya kembali tenang, tertutup rapat seperti semula — tak bisa dibaca, tak bisa ditebak. “Baiklah.”
Segera ia mengambil ponsel, bicara singkat pada seseorang di seberang sana. “Datang sekarang. Bawa dokumen yang sudah disiapkan.”
Tak lama, pria berjas hitam rapi datang ke meja kami — Alat komunikasi terpasang di telinganya, tubuh tinggi dan tegap, wajah kaku dan tegas sedikit menakutkan — persis pengawal terlatih yang tak mengenal kata ampun. Ia menyodorkan berkas sambil menunduk hormat dalam diam.
Adrian menerimanya, meletakkannya pelan di tengah meja tepat di hadapanku. Kertas itu terbungkus rapi dengan sampul berbingkai emas, berkilau bersih tanpa noda atau kerutan sedikit pun — seolah tak boleh disentuh oleh tangan kotor sepertiku.
“Silakan baca teliti dulu,” ucapnya tenang dan tegas. “Jika ada yang kurang jelas atau ada permintaan lain, sampaikan sekarang sebelum tanda tangan. Setelah tinta menempel, tak bisa diubah lagi.”
Ia diam sejenak, menatapku dengan tatapan yang sulit dimengerti — ada keraguan, ada rasa hormat, ada sesuatu yang tak bisa kuuraikan. Perlahan aku menarik dokumen itu ke arahku. Mataku melirik tulisan-tulisan yang rapi dan formal, tapi sebenarnya tak benar-benar membaca atau memahami isi satu per satu. Bagiiku, ada satu hal yang lebih penting dari semua kalimat hukum ini: Aslan akan selamat. Itu saja yang penting.
Saat aku mengangkat wajah, mata kami bertemu lagi. Tatapannya tajam, menembus hingga ke dasar jiwa. Secara refleks aku menunduk kembali, jantung makin berdegup kencang. Mengatur napas sejenak sebelum berani bicara dengan suara yang masih terbata-bata namun penuh kepastian:
“Saya… menerima semua isi perjanjian ini. Tapi bolehkah saya tahu kapan dana disiapkan?” Dalam hatiku tambahkan: Keadaan adik tak bisa ditunda sedetik pun. Setiap jam yang berlalu adalah ancaman baginya.”
Adrian menunjuk bagian bawah lembaran itu — tempat yang kosong, menunggu tanda tanganku. “Jika sudah yakin, silakan tanda tangan di sana. Segera setelah tinta kering, aku akan melunasi seluruh biaya di rumah sakit.”
Tak lagi membaca kalimat demi kalimat. Bagiku keselamatan Aslan adalah segalanya — apa pun syaratnya, apa pun harganya, takkan kutolak. Aku mengambil pulpen yang diletakkannya di samping kertas, tanganku sedikit gemetar namun penuh keteguhan hati. Menulis namaku — Zara — di atas garis putus-putus itu. Setiap huruf terasa berat, namun setiap huruf adalah janji: Aku akan menyelamatkanmu, Aslan. Apa pun yang terjadi.
Adrian menatap sejenak setelah melihat tanda tanganku, nada bicaranya sedikit berubah — penuh rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan: “Kau terlalu berani dan terlalu cepat memutuskan. Berani tanda tangan tanpa membaca isinya dulu. Takutkah isi ini merugikanmu nanti? Menyerahkan hidupmu kepada orang asing selama satu tahun?”
Aku mengangkat wajah kembali, menatap lurus padanya tanpa ragu sedikit pun. “Saya rela melakukan apa saja,” jawabku pelan namun tegas. Dalam hati ku tambahkan: Bahkan nyawaku sendiri sekalipun, takkan pernah menyesal. Tak ada yang lebih penting dari Aslan. Baca atau tidak, jawabanku tetap sama.
Adrian diam lama mendengar itu, matanya meneliti setiap inci wajahku seolah baru pertama kali melihatku dengan benar. Lalu ia mengambil pulpen, menandatangani namanya sendiri — goresan tegas, rapi, penuh kepastian tanpa ragu sedikit pun. Ia segera menelepon lagi, suaranya sangat pelan namun tegas dan tak terbantahkan; sementara pikiranku melayang jauh ke rumah sakit: Semoga Aslan kuat menahan sakitnya, semoga belum terlambat, semoga dia menunggu Kakaknya.
“Yamal, urus administrasi dan bayar semua biaya rumah sakit itu sekarang juga,” perintahnya tegas dan meyakinkan. “Segalanya akan segera beres. Tak perlu cemas lagi — mulai saat ini, beban itu bukan lagi milikmu sendirian.”
Ia bangkit berdiri, mengulurkan tangannya padaku. Aku ikut berdiri, ragu sejenak sebelum menyambut uluran tangannya dengan hormat. Tangannya hangat, genggamannya kokoh namun tak menyakitkan — seolah ia berjanji untuk tak melepaskanku jatuh. Di balik mata biru jernihnya tersimpan sesuatu yang sulit kupahami — mungkin rasa kagum, mungkin rasa bersalah, mungkin sesuatu yang bahkan ia sendiri belum sadari.
Pria ini tampan, berkuasa, sangat dihormati semua orang. Kenapa memilih aku — yang lusuh, miskin, tak berpendidikan, tak punya apa-apa untuk ditawarkan? Padahal ia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik, kaya, dan pantas mendampinginya. Mungkin ini cara Tuhan mengirimkan pertolongan — lewat tangan yang paling tak kusangka-sangka.
Artinya mulai hari ini, hidupku terikat dengan pria ini sebagai istrinya selama satu tahun penuh. Entah ini akan menjadi kebahagiaan terbesar atau ujian yang lebih berat dari sebelumnya — biar waktu yang menjawab. Yang paling penting: nyawa Aslan selamat. Itu sudah lebih dari cukup. Aku sudah kehilangan Ayah dan Ibu selamanya — hanya Aslan satu-satunya keluarga yang tersisa. Selama aku masih bernapas, takkan pernah membiarkan hal buruk menimpanya.