Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Langit masih diselimuti awan gelap.
Hujan turun semakin deras, membasahi halaman luas Mansion Laurent yang kini dipenuhi bekas pecahan kaca, kendaraan taktis, dan jejak pertempuran.
Lampu sorot darurat menerangi pelataran depan.
Di kedua sisi halaman...
Pasukan keamanan Laurent dan kelompok bersenjata Patrick masih saling membidik dari balik perlindungan.
Tidak ada yang menembak.
Namun satu gerakan kecil saja...
Perang bisa kembali pecah.
Di dalam aula utama...
Lucas memandang Alyssa yang masih berdiri dengan wajah pucat.
Tatapan gadis itu dipenuhi tekad.
"Aku akan pergi."
Lucas menggeleng pelan.
"Kau tidak berjalan sendiri."
Alyssa menatapnya.
"Lalu?"
Lucas berkata singkat,
"Aku yang akan mengantarmu."
Sebelum Alyssa sempat bertanya...
Lucas membungkukkan badan.
"Apa yang—"
Belum selesai kalimatnya...
Lucas mengangkat Alyssa dengan kedua lengannya.
Refleks Alyssa terkejut.
"Lucas!"
"Apa yang kau lakukan?"
Lucas menjawab tenang.
"Kau masih lemah."
"Aku tidak akan membiarkanmu berjalan dalam kondisi seperti ini."
Wajah Alyssa memerah karena malu sekaligus gugup.
"Aku masih bisa berjalan."
Lucas menggeleng.
"Dokter berkata kau masih belum pulih."
"Aku tidak mau mengambil risiko."
Adrian yang berdiri di samping mereka segera memahami maksud atasannya.
"Tuan..."
Lucas menoleh.
"Aku akan keluar."
Adrian langsung menggeleng.
"Itu terlalu berbahaya."
Lucas menjawab mantap.
"Justru karena itu aku harus melakukannya."
Ia kemudian berbicara melalui radio.
"Seluruh personel."
"Gencatan senjata sementara."
"Tidak ada yang melepaskan tembakan tanpa perintah langsung dariku."
Suara para komandan terdengar hampir bersamaan.
"Siap."
Lucas lalu menatap Adrian.
"Kalau aku memberi isyarat..."
"Amankan seluruh penghuni mansion."
"Dimengerti."
Pintu utama mansion perlahan terbuka.
Derit engsel terdengar di tengah derasnya hujan.
Seluruh mata langsung tertuju ke arah bangunan megah itu.
Lucas melangkah keluar.
Dengan Alyssa yang masih berada dalam gendongannya.
Air hujan membasahi bahu jas Lucas.
Namun langkahnya tetap mantap.
Alyssa memegang pelan kerah bajunya.
"Lucas..."
"Aku masih bisa turun."
Lucas menjawab tanpa mengalihkan pandangan.
"Tidak sekarang."
Beberapa meter di depan...
Patrick berdiri di bawah payung hitam besar.
Di sampingnya berdiri puluhan anak buah.
Tatapannya langsung tertuju kepada Lucas.
Lalu...
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
"Akhirnya."
"Kau keluar juga."
Lucas berhenti sekitar sepuluh meter dari Patrick.
Hening.
Hanya suara hujan yang terdengar.
Patrick mengangkat tangan.
"Turunkan senjata."
Beberapa anak buahnya saling berpandangan.
"Tuan?"
Patrick mengulang dengan nada lebih tegas.
"Aku bilang..."
"Turunkan senjata."
Satu per satu laras senjata mulai diarahkan ke bawah.
Lucas juga menoleh sedikit.
"Adrian."
Adrian memberi isyarat kepada tim Laurent.
"Turunkan senjata."
Meski tetap waspada, kedua belah pihak mematuhi perintah pemimpin mereka.
Suasana menjadi jauh lebih sunyi.
Patrick tersenyum.
"Nah."
"Begini lebih enak."
Lucas berbicara datar.
"Aku datang bukan untuk berbasa-basi."
Patrick terkekeh.
"Aku tahu."
Lucas menatap lurus ke arah Patrick.
"Aku punya syarat."
Patrick mengangkat alis.
"Kau masih sempat memberi syarat?"
Lucas tidak bergeming.
"Selama pembicaraan berlangsung."
"Tidak ada pengawalan yang mendekat."
"Hanya kau."
"Hanya aku."
Patrick tersenyum tipis.
"Berani juga."
Lucas melanjutkan.
"Dan sebelum apa pun terjadi..."
"Aku ingin jawaban."
Patrick menyilangkan tangan.
"Silakan."
"Di mana Mariska Isabel?"
Mendengar nama itu...
Ekspresi Alyssa langsung berubah.
Matanya kembali dipenuhi harapan.
Patrick tampak berpikir beberapa detik.
Lalu...
Ia justru tertawa kecil.
"Itu pertanyaanmu?"
Lucas tetap diam.
Patrick menggeleng pelan.
"Lucas."
"Aku benar-benar tidak tahu."
Alyssa langsung berseru.
"Bohong!"
Patrick memandang Alyssa.
"Aku tidak berbohong."
"Kau yakin?"
Patrick mengangguk.
"Setelah kau melarikan diri..."
"Wanita itu juga menghilang."
"Kami kehilangan jejaknya."
Alyssa menggigit bibir.
"Tidak mungkin."
Patrick mengangkat bahu.
"Itu kenyataannya."
Lucas memperhatikan ekspresi Patrick.
Ia mencoba membaca setiap perubahan wajah lawannya.
Namun Patrick tampak sangat tenang.
Lucas kembali bertanya.
"Jadi kau tidak menyekap Isabel?"
Patrick menjawab tanpa ragu.
"Tidak."
"Kalau aku memang menangkapnya..."
"Untuk apa kusembunyikan?"
"Aku justru akan menjadikannya alat tawar-menawar."
Kalimat itu membuat Alyssa membeku.
Lucas juga terdiam.
Jawaban itu terdengar masuk akal.
Patrick kembali melangkah satu langkah ke depan.
"Yang kuinginkan sejak awal hanya satu."
Tatapannya beralih kepada Alyssa.
"Gadis itu."
Alyssa menundukkan kepala.
Patrick melanjutkan,
"Serahkan Alyssa."
"Semua ini selesai."
Lucas menarik napas panjang.
Ia menoleh kepada Alyssa.
Gadis itu tampak pasrah.
Perlahan Lucas menurunkannya hingga berdiri di atas tanah.
Meski begitu...
Ia tetap berdiri di samping Alyssa.
Patrick tersenyum puas.
"Itu baru keputusan yang benar."
Alyssa memandang Lucas.
Air matanya mulai menggenang.
"Maafkan aku..."
Lucas tidak menjawab.
Tatapannya justru menyapu seluruh halaman.
Mengamati posisi anak buah Patrick.
Jarak kendaraan.
Arah lampu.
Pintu keluar.
Semua diperhatikannya dengan saksama.
Patrick mengulurkan tangan.
"Alyssa."
"Kemarilah."
Alyssa memejamkan mata sejenak.
Kemudian melangkah perlahan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Lucas tetap berdiri di tempat.
Tatapannya tidak pernah lepas dari Alyssa.
Hujan semakin deras.
Suasana terasa begitu sunyi hingga suara tetesan air pun terdengar jelas.
Patrick tersenyum semakin lebar.
"Tinggal sedikit lagi."
Alyssa kembali melangkah.
Kini jaraknya hanya beberapa meter dari Patrick.
Lucas mengepalkan tangan.
Adrian yang melihat dari kejauhan mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Tuan..."
gumamnya pelan.
Patrick kembali mengulurkan tangan.
"Satu langkah lagi."
Alyssa mengangkat wajah.
Tatapannya kosong.
Ia menarik napas panjang...
Lalu melangkahkan kaki untuk terakhir kalinya.
Namun tepat pada detik ketika ujung jarinya hampir menyentuh tangan Patrick...
DOR!
Satu suara tembakan keras memecah keheningan.
Semua orang sontak membeku.
Namun suara tembakan itu...
Bukan berasal dari pasukan Laurent.
Dan juga bukan dari orang-orang Patrick.
Peluru itu datang dari arah yang sama sekali berbeda.
Dari balik gelapnya hutan di sisi utara mansion.
Sesaat kemudian...
Terdengar teriakan panik dari salah satu anak buah Patrick.
"Tuan!"
"Ada kelompok lain!"
Satu suara tembakan memecah keheningan.
DOR!
Semua orang langsung mengangkat senjata.
Tatapan Patrick berubah tajam.
"Itu bukan anak buahku."
Lucas juga tidak bergerak sedikit pun.
Namun...
Berbeda dengan semua orang di sana...
Sudut bibir Lucas justru terangkat sangat tipis.
Senyum yang hampir tidak terlihat.
Patrick langsung menyadarinya.
"...Kau?"
Lucas tidak menjawab.
Dari balik pepohonan di sisi utara mansion, puluhan pria berpakaian hitam keluar dengan formasi yang sangat rapi.
Gerakan mereka seragam.
Disiplin.
Tidak membabi buta.
Mereka tidak menembaki siapa pun.
Mereka hanya membentuk perimeter baru.
Di tengah barisan itu...
Terlihat seorang remaja laki-laki sekitar tujuh belas tahun dengan kedua tangannya diikat menggunakan borgol khusus.
Wajahnya pucat.
Namun tidak mengalami luka serius.
"Tuan Patrick!!"
Salah seorang anak buah Patrick berteriak panik.
"Itu... Tuan Muda!"
Patrick membeku.
Matanya membelalak.
"Demian..."
Anak laki-laki itu mengangkat wajah.
"Ayah!"
Suasana yang tadi dikuasai Patrick kini berubah total.
Lucas tetap berdiri tenang.
Hujan masih turun deras.
Namun kini justru pihak Patrick yang kehilangan ketenangan.
Patrick menatap Lucas.
"Kau..."
Lucas akhirnya membuka suara.
"Aku hanya memastikan."
"...aku tidak datang tanpa persiapan."
...
Satu hari sebelumnya...