NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Pendaratannya Sang Pembawa Ilusi di Arlong Park

​Perahu layar kecil itu membelah ombak Laut Timur dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Tanpa bantuan mesin atau awak tambahan, Muzan Kibutsi memanfaatkan kombinasi kekuatan fisik barunya yang menembus angka 100 dan pemahamannya yang sempurna tentang dinamika angin untuk mendayung dan mengarahkan kemudi dengan efisiensi tingkat tinggi. Perahu itu meluncur di atas air bagaikan speedboat tanpa suara.

​Di tengah pelayaran menuju gugusan Kepulauan Conomi, Muzan singgah sejenak di sebuah pangkalan Angkatan Laut kecil yang terpencil. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, menggunakan otorisasi sistem Inventory, ia menyerahkan wujud stasis dari Kapten Kuro (16 Juta Belly) dan Don Krieg (17 Juta Belly) kepada perwira jaga yang kebingungan dan ketakutan karena penyerahan buronan berprofil tinggi itu dilakukan tanpa kehadiran sang pemburu secara langsung.

​Hasilnya instan. Saldo Belly milik Muzan meledak naik kembali ke angka 33.369.850 Belly.

​Kekayaan yang berlimpah di tangan seorang dalang bayangan.

​Dua hari kemudian, perahu layar kecil itu merapat di pantai tersembunyi di balik tebing batu karang di Pulau Conomi. Dari kejauhan, menara-menara bergaya arsitektur oriental yang dikelilingi tembok tinggi dan gerbang berbentuk rahang hiu tampak menjulang megah di pusat pulau tersebut—Arlong Park. Istana tirani tempat Arlong the Saw dan pasukan manusia ikannya memperbudak penduduk Desa Cocoyasi selama delapan tahun terakhir.

​Muzan berdiri di atas geladak perahu layarnya, menatap ke arah gerbang Arlong Park dengan mata hitam yang tenang. Angin laut meniup jubah hitamnya. Berkat peningkatan fisik masif yang ia terima dari Achievement pertempuran melawan Mihawk, otot-otot tubuhnya padat berisi, memberikan postur tegap yang jauh melampaui usianya yang baru empat belas tahun.

​"Arlong," gumam Muzan dingin. "Kau menganggap manusia adalah ras yang lebih rendah dan kotor. Kau mengandalkan kekuatan fisik dan keunggulan air untuk menebar teror di lautan ini."

​Muzan mengangkat tangan kanannya. Di dalam ruang mentalnya, ia memanggil slot boneka terkuatnya saat ini.

​"Keluarkan Uchiha Itachi."

​Pilar cahaya berwarna keemasan menyala terang, membelah bayangan tebing karang di pesisir pantai. Cahaya itu berputar lembut sebelum memudar, menampilkan sosok seorang pria berambut hitam panjang yang diikat longgar di belakang. Ia mengenakan jubah hitam panjang bermotif awan merah—mantel Akatsuki. Wajahnya tampan namun menyiratkan ketenangan mutlak yang teramat dalam.

​Dan yang paling mencolok, mata pria itu telah berubah menjadi pola Mangekyou Sharingan, berputar pelan dengan bilah tiga kincir angin berwarna merah darah.

​Itachi Uchiha berdiri tanpa suara di atas pasir pantai. Udara di sekitarnya seolah membeku. Tidak ada hawa membunuh yang meledak liar seperti saat Zenitsu atau Mustang bertarung; yang ada hanyalah kehampaan spiritual yang sangat menekan, seolah-olah pria itu adalah malaikat maut yang baru saja turun dari dimensi lain.

​Muzan, dengan kapasitas mentalnya yang mencapai 636 poin, tidak perlu lagi bersusah payah mengatur setiap gerakan Itachi. Berkat kecerdasan bawaan karakter legendaris tersebut, Itachi memahami eksistensinya dan tujuannya di dunia ini secara instan begitu ia bermanifestasi.

​Itachi menoleh perlahan, menatap Muzan dengan mata Sharingan-nya. Ia membungkuk sedikit, memberikan gestur hormat yang tenang.

​"Aku mengerti," suara Itachi terdengar rendah, lembut namun berwibawa. "Sebuah dunia baru, dan sekelompok makhluk arogan yang menyiksa yang lemah. Apa yang Anda inginkan dari mereka, Tuan?"

​"Aku tidak butuh negosiasi, Itachi," jawab Muzan, suaranya sedingin es. "Masuklah ke Arlong Park. Hancurkan ego mereka. Tunjukkan pada manusia ikan itu arti sesungguhnya dari neraka sebelum mereka sempat menyadari siapa yang datang."

​"Sesuai keinginan Anda."

​Itachi berbalik. Langkah kakinya begitu ringan, nyaris tidak meninggalkan jejak di atas pasir pantai. Ia mulai berjalan menyusuri jalan setapak menuju gerbang utama Arlong Park yang dijaga ketat oleh manusia ikan bertubuh besar.

​Di dalam kompleks Arlong Park, suasana sore itu cukup santai.

​Arlong si Manusia Ikan Hiu, dengan hidungnya yang panjang dan bergerigi serta taring hiu yang menakutkan, sedang duduk di singgasana utamanya, meneguk sake sambil tertawa bersama para perwira utamanya: Kuroobi si ahli karate manusia ikan, Chew si penembak air, dan Hatchan si manusia ikan bertangan enam yang ramah namun mematikan.

​"Gahahahaha! Bajak laut Krieg itu benar-benar tidak berguna!" bentak Arlong dengan suara menggelegar. "Mendengar kabar bahwa armadanya dihancurkan di Grand Line membuatku tertawa! Manusia memang ras yang lemah! Mereka tidak pantas hidup di bumi ini!"

​Para perwira manusia ikan lainnya ikut tertawa meremehkan.

​Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah gerbang utama.

​BOM!

​Gerbang besi setebal dua puluh sentimeter yang menjadi simbol kekuasaan Arlong Park di pulau itu mendadak terpental hancur berkeping-keping, menerbangkan puluhan penjaga manusia ikan hingga menabrak bangunan utama di dalam halaman.

​Arlong dan para perwiranya langsung berdiri, wajah mereka dipenuhi kemarahan.

​"Siapa berani membuat kekacauan di wilayah Arlong Park?!" geram Arlong, mencabut pedang besarnya, Kiribachi.

​Dari balik kepulan debu gerbang yang hancur, sesosok pria berbalut jubah hitam dengan awan merah melangkah masuk dengan tenang. Rambut hitam panjangnya tertiup angin, dan kedua matanya—yang bersinar merah darah dengan pola Mangekyou Sharingan—menatap lurus ke arah singgasana Arlong.

​"Manusia ikan..." suara Itachi berbisik pelan, namun terdengar jelas di telinga setiap makhluk di halaman tersebut. "Kalian sangat bangga pada fisik kalian. Mari kita lihat, apakah kebanggaan itu masih tersisa... di dalam dunia mimpiku."

​Arlong meraung marah. "Bocah manusia sialan! Habisi dia!"

​Puluhan manusia ikan bersenjata tombak dan parang berlari menerjang Itachi secara bersamaan.

​Itachi bahkan tidak mengangkat tangannya. Ia hanya berhenti melangkah, dan menatap lurus ke mata manusia ikan terdepan yang memimpin serbuan.

​Mangekyou Sharingan berputar semakin cepat.

​"Tsukuyomi."

​Waktu di halaman Arlong Park seolah berhenti total.

​Manusia ikan terdepan yang menatap mata Itachi mendadak mematung. Tubuhnya kaku, matanya melotot putih. Dalam sepersekian detik, kesadarannya tersedot ke dalam dimensi mental buatan Itachi—sebuah ruang merah darah tak bertepi, di mana Itachi adalah dewa atas ruang, waktu, dan massa. Di dalam ruang itu, manusia ikan tersebut disiksa secara psikologis selama tiga hari tiga malam, merasakan setiap detik tusukan pedang ilusi yang tak berujung, sementara di dunia nyata, waktu yang berjalan tidak lebih dari satu kedipan mata.

​Bruk!

​Manusia ikan itu langsung ambruk ke tanah, mulutnya berbusa, pingsan dengan otak yang mengalami syok parah akibat trauma mental ekstrem.

​Satu detik kemudian, hal yang sama terjadi pada puluhan manusia ikan lainnya yang menatap mata Itachi secara tidak sengaja. Mereka berjatuhan ke tanah satu per satu tanpa ada satupun yang sempat menyentuh jubah Itachi.

​Kuroobi, Chew, dan Hatchan membelalakkan mata mereka ngeri. Mereka belum pernah melihat trik sulap atau Buah Iblis seaneh ini. Manusia-manusia ikan itu tidak diserang secara fisik; mereka tumbang hanya karena menatap mata pria itu!

​Arlong mencengkeram pedang Kiribachi-nya dengan kuat, urat-urat lehernya menonjol keluar. Kemarahannya mencapai puncaknya.

​"Sihir apa yang kau gunakan, keparat?!" raung Arlong, melompat tinggi ke udara, mengangkat pedang besarnya dengan tenaga penuh untuk membelah Itachi menjadi dua dari atas. "Aku akan mencincangmu menjadi makanan ikan!"

​Itachi mendongak perlahan. Ia mengangkat tangan kanannya, mengarahkan dua jari ke depan.

​Di dalam mata Mangekyou Sharingan-nya, api hitam abadi yang tidak akan padam sebelum membakar habis sasarannya mulai berkobar.

​"Amaterasu."

​Dari udara kosong di atas titik di mana Arlong melayang, nyala api hitam legam yang mengerikan tiba-tiba muncul menyelimuti sekujur tubuh sang Kapten Manusia Ikan.

​FWOOSH!

​"AGRRRRRHHHHHHH!!!!!!"

​Jeritan kesakitan yang paling mengerikan di sepanjang sejarah Arlong Park meledak dari mulut Arlong. Ia jatuh berdebum ke tanah, berguling-guling dengan histeris. Api hitam itu melahap zirah kulit dan sisik hiunya, namun tidak peduli seberapa keras ia mencoba memadamkannya atau melemparkan pasir ke atasnya, api itu terus membakar tanpa menyisakan abu, menghanguskan dagingnya secara perlahan dari luar ke dalam.

​Kuroobi dan Chew mundur ketakutan, gemetar hebat melihat pemimpin mereka yang selama ini diagung-agungkan kini meronta-ronta dalam kobaran api hitam yang tidak wajar.

​Itachi berjalan melewati tubuh Arlong yang terbakar, mengabaikan jeritannya, dan mengarahkan pandangannya ke dalam bangunan utama Arlong Park—tempat di mana peta-peta dan kekayaan hasil pemerasan selama delapan tahun disimpan.

​Di luar gerbang Arlong Park, tersembunyi di balik bayang-bayang tebing, Muzan Kibutsi menyaksikan semuanya dengan senyum kemenangan yang mutlak.

​Faksi Erebus telah menancapkan taringnya di East Blue.

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!