Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.
Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.
Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.
Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.
Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.
Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
##28
Ruang tengah Penthouse mewah itu kembali diliputi keheningan yang hangat usai ciuman dalam yang mereka bagikan. Namun, di balik dekapan eratnya pada tubuh mulus Lux, otak cerdas Braxton Desmon mendadak membeku.
Sebuah ingatan yang sangat spesifik merayap naik dari dasar ingatannya, memicu gelombang ketakutan dingin yang seketika membuat bulu kuduknya berdiri tegak.
Braxton teringat persis pada kalimat yang baru saja dilontarkan dari mulutnya sendiri beberapa detik yang lalu dengan nada berapi-api: "Demi Tuhan, tidak pernah! Jangankan berciuman, memeluknya saja aku tidak pernah!"
Oh, Sial.
Braxton membelalakkan matanya di balik bahu Lux, menelan ludah dengan susah payah. Pria itu baru saja menyadari sebuah kesalahan fatal dalam ingatan historisnya.
Ia memang tidak pernah mencium, bercinta, atau memiliki hubungan asmara apa pun dengan Amelia Giger. Namun, Dipesta perayaan Kelulusan Tahun pertama dikampus Lamanya—Braxton yang bersikap sopan pernah mendaratkan satu tepukan dan pelukan singkat di bahu Amelia untuk perayaan Bersama.
Pelukan formal sebagai teman yang hanya berlangsung tiga detik itulah yang menjadi pemantik awal dari segala kegilaan dan obsesi mematikan Amelia Giger. Wanita dengan penuh obsesi dan kegilaan.
Braxton menegang kaku. Keringat dingin mencetus halus di sepanjang tulang belakangnya. Pria narsis yang biasanya begitu percaya diri, mendominasi, dan tak gentar menghadapi para pengusaha papan atas itu kini mendadak berubah menjadi tipe suami yang amat sangat... takut istri.
Braxton melirik ke arah Lux yang masih bersandar manja di dadanya. Ia teringat kembali bagaimana lima belas menit yang lalu istrinya baru saja membuat seorang Amelia Giger terduduk gemetar syok di lantai semen kusam tanpa menyentuh pisau sama sekali.
Lux bukan cuma cantik, tapi juga teramat mematikan jika sudah tersulut emosi.
Ouch... tidak, batin Braxton bergejolak hebat dengan kepanikan murni seorang suami yang terancam bahaya.
Rahasia pelukan tiga detik itu akan kutelan hidup-hidup sampai Aku mati! Kalau sampai Lux tahu aku pernah memeluk wanita gila itu walau cuma sejengkal, dia pasti akan mengulitiku hidup-hidup dan melempar koperku keluar dari Penthouse malam ini juga!
"Braxton?" panggil Lux pelan, merasakan ketegangan mendadak pada otot-otot dada suaminya. Lux mendongak, menatap wajah tampan Braxton dengan alis terangkat.
"Kenapa jantungmu mendadak berdetak seperti orang yang habis dikejar beruang?"
Braxton seketika menyunggingkan senyum paling manis, paling tampan, dan paling polos yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya.
"Ah... tidak ada, Sayang!" jawab Braxton cepat, sedikit terlalu cepat hingga suaminya itu terdengar agak dramatis. Pria itu menyapu rambut halus Lux dengan jemarinya yang agak gemetar. "Jantungku berdebar kencang... tentu saja karena aku sedang memeluk istriku yang paling cantik dan paling luar biasa di seluruh muka bumi ini."
Lux menatap suaminya curiga selama tiga detik. Namun, melihat binar mata cokelat Braxton yang tampak amat mengabdi dan sedikit pias, kekehan renyah kembali lolos dari bibir merona Lux. Ia menikmati bagaimana pria ini mendadak menjadi begitu tunduk dan patuh di bawah kendalinya.
"Baguslah kalau begitu, Tuan Desmon," bisik Lux penuh kemenangan seraya mengelus rahang tegas suaminya. "Karena jika sampai ada satu saja kebohongan kecil yang terlewat dari mulutmu... kau tahu sendiri akibatnya."
"Tentu, Nyonya Desmon. Seluruh jiwa dan ragaku sudah menjadi milikmu sepenuhnya," balas Braxton patuh, menghembuskan napas lega di dalam hatinya karena berhasil meloloskan rahasia "pelukan teman" itu dari radar sensitif istrinya.
Atmosfer tegang di antara mereka perlahan-lahan menguap, berganti menjadi gelombang kehangatan yang kian pekat dan menggoda. Braxton tidak membiarkan keraguan merusak malam mereka lagi.
Pria itu menyusupkan satu tangannya ke bawah lipatan lutut Lux dan tangan lainnya di punggung mulusnya, lalu mengangkat tubuh tipis istrinya secara murni dalam posisi bridal carry.
"Braxton!" pekik Lux kaget seraya refleks melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh suaminya.
"Waktu untuk membahas wanita gila itu sudah habis, Sayang," bisik Braxton dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi amat berat, seksi, dan sarat akan gairah yang membakar. Sepasang mata cokelatnya menatap lurus ke dalam bibir merona Lux. "Malam ini hanya milik kita berdua."
Braxton melangkah tegap membawa istrinya menuju kamar tidur utama. Pintu kayu mahoni bergeser tutup, mengunci seluruh teror dunia luar dan menyisakan kehangatan privat yang siap meledak di antara pasangan pengantin baru tersebut.
Braxton merebahkan Lux secara perlahan di atas tempat tidur berukuran king-size yang terhampar empuk.
Pria itu menyusul di atasnya, menopang tubuh tegapnya dengan kedua lengan kekarnya di sisi kepala Lux. Lampu kamar yang temaram memancarkan pendar keemasan di atas kulit mulus mereka, menciptakan aura romantis yang teramat intim.
Namun, sebelum bibir Braxton sempat mendarat di lehernya, Lux menahan dada bidang suaminya dengan kedua telapak tangannya.
Lux menatap Braxton tajam, menyunggingkan senyuman memperingatkan yang amat menggoda.
"Dengar dulu, Tuan Desmon," peringat Lux dengan suara rendah yang sedikit serak. "Besok hari Senin. Kita berdua harus masuk kembali ke kampus Universitas Los Angeles. Dan kau tahu betul... tidak boleh ada noda kemerahan baru di leher atau dadaku yang bisa terlihat oleh anak-anak kampus!"
Braxton tertawa rendah di atas wajah istrinya, napas hangatnya menyapu permukaan kulit pipi Lux. Pria itu menunduk, mengecup singkat ujung hidung istrinya.
"Pesan diterima dengan sangat baik, Nyonya Desmon," bisik Braxton tengil. "Aku berjanji akan bermain sangat bersih malam ini... tapi aku tidak berjanji bisa bersikap lembut."
Sebelum Lux sempat membalas, Braxton memotong jarak dan membungkam bibir merona istrinya dalam sebuah ciuman yang teramat dalam dan dominan.
Keduanya tenggelam dalam pusaran gairah yang saling menuntut. Tangan Braxton bergerak lihai membelai setiap lekuk tubuh istrinya dengan penuh penyesatan yang manis, membakar seluruh sisa rasionalitas yang tersisa di dalam benak Lux.
Lux mendesah halus di sela-sela ciuman panas mereka, jemarinya meremas bahu kekar Braxton, menarik tubuh tegap suaminya agar semakin merapat tanpa jarak. Permainan malam itu bergerak semakin intens dan mengalir begitu panas.
Braxton membuktikan kata-katanya—pria itu menyapu setiap inci tubuh istrinya dengan sentuhan dan kecupan yang penuh perhitungan, memastikan ia menyalurkan seluruh kepemilikan dan cintanya yang membara tanpa menyisakan jejak luka atau kemerahan yang mencolok.
Malam berlalu dalam simfoni penyatuan cinta mereka yang teramat panas dan indah. Di atas peraduan mewah itu, tak ada lagi bayang-bayang masa lalu, ketakutan, atau ancaman Amelia Giger.
Hanya ada Braxton yang bertakhta sepenuhnya di dalam jiwa Lux, dan Lux yang memegang kendali penuh atas hati dan hidup Braxton Desmon.
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux