Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan Baru
Keesokan harinya, Ayyasy tersentak bangun dari tidurnya. Begitu melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 06.40, matanya langsung membelalak. Ia terlambat!
Dengan panik, Ayyasy segera menyambar selembar handuk, mandi kilat, dan menyumbat mulutnya dengan sepotong roti sebagai sarapan darurat. Tanpa membuang waktu, ia langsung berhamburan keluar rumah untuk berangkat ke sekolah.
Biasanya, Ayyasy harus mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari mengejar waktu. Namun, pagi ini terasa sangat berbeda. Setiap kali kakinya menghentak aspal, tubuhnya melesat maju dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Angin pagi yang menerpa wajahnya terasa bergesekan ekstrem, memicu hawa panas membara yang tiba-tiba menyelimuti tubuhnya.
Hah? kok lari gua bisa secepat ini?! tanya Ayyasy dalam hati. Ia benar-benar kebingungan melihat tiang-tiang listrik di pinggir jalan terlewati dalam sekejap mata.
Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, gerbang sekolah sudah terpampang di depan mata. Ayyasy mengerem langkahnya mendadak, menyisakan kepulan asap tipis dari sepatu ketsnya. Di dekat gerbang, ternyata teman-temannya yang semalam juga sudah berkumpul, tampak sedang menunggunya dengan ekspresi wajah yang sama-sama tegang.
“yas! lu tadi sadar gak? pas lu lari, lu ngeluarin api terus lari lu makin cepet” tanya Sintia kepada Ayyasy yang baru saja sampai. Ayyasy terlihat kaget bahkan tidak percaya dengan perkataan Sintia tadi.
Karena bel sekolah sebentar lagi akan berbunyi, mereka memutuskan untuk tidak memikirkan itu dulu dan langsung lari menuju kelas mereka.
pelajaran pun dimulai seperti biasa. Tidak terjadi apa-apa, aman, damai, tentram. Tapi ketika jam pelajaran kedua berlangsung. Ada sebuah ledakan yang membuat seluruh gedung sekolah bergetar. Ledakan itu berasal dari arah pinggir kota. Para siswa mulai melihat keluar jendela. Asap mengepul tebal di tempat ledakan tadi terdengar. Perlahan, sesuatu yang mengerikan muncul. Dari dalam asap itu keluar sesosok makhluk yang mengerikan. Ia berdiri tegak menatap kota Zenith. Matanya merah, giginya tajam tajam, badannya besar, tangannya empat. Semua orang yang melihat itu langsung lari ketakutan.
Monster itu kemudian langsung menyerang warga-warga yang ada di sekitar. Ayyasy dan teman-temannya yang melihat itu merasa tidak bisa tinggal diam. Mereka kemudian berlari keluar kelas lalu melesat menuju monster itu. Entah kenapa, padahal jarak sekolah mereka dengan pinggir kota itu lumayan jauh. Tapi mereka bisa sampai hanya dalam satu menit. Sesampainya disana Ayyasy langsung maju berhadapan dengan monster itu. Belum sempat melawan, Ayyasy malah lari ketakutan ke belakang night.
"lu ngapain sih!" ucap Sintia marah ke Ayyasy sambil narik Ayyasy ke depan.
Mereka berdelapan mulai saling pandang. Tiba-tiba dari dalam tubuh mereka mengalir sebuah kekuatan hebat. Mereka merasa bahwa mereka harus segera melawan monster itu.
Ayyasy akhirnya maju duluan dan langsung memukul tepat di wajah monster itu. Ketika ia memukul monster itu, ada api yang keluar dari pukulannya tersebut. Ayyasy kaget dan ga nyangka ternyata batu bercahaya kemarin memberikannya kekuatan. Melihat Ayyasy menggunakan kekuatan , yang lain pun mencoba menggunakan kekuatan mereka. Tapi kekuatan mereka malah ga terkendali. Mulai dari rehan yang numbuhin terlalu banyak rumput. Arkan yang malah bikin lubang di bawah kakinya dan dia jatuh ke lubang itu. Abzari yang malah terapung kesana kemari. Azkailah yang nyamperin petir kemana mana. Serafe yang malah silau sendiri. Sintia yang malah bekuin Night. Semuanya tampak chaos sekali. Monster melihat mereka yang sedang kacau. Ia memanfaatkan celah dan menyerang mereka. Mereka berdelapan terpental dan kesakitan. Karena efek serangan monster tadi, es yang membekukan Night pecah. Night langsung berlari menuju monster itu dan menyerangnya menggunakan tusukan bayangan yang terbuat dari bayangannya sendiri. Monster itu tertusuk tepat di dadanya. Ia mengerang ksakitan dan seketika melebur menjadi abu, menghilang dalam sekejap.
Setelah melihat monster tersebut hilang, delapan orang tadi saling pandang. Mereka sangat terkejut sekali dengan apa yang terjadi. Mereka berjalan kembali menuju sekolah sambil bertanya-tanya "jadi kita beneran dapet kekuatan nih? dan kita harus ngelindungin orang orang dari serangan monster. kayak monster tadi?" batin mereka dalam hati.
Sesampainya di halaman sekolah, suasana sudah benar-benar kacau. Para siswa dan guru berlarian panik di koridor, beberapa ambulans dan mobil polisi terdengar melintas di luar pagar dengan sirine yang meraung-raung. Mumpung suasana sedang riuh, Ayyasy dan tujuh temannya menyelinap masuk kembali ke area sekolah tanpa disadari siapa pun.
Mereka akhirnya berkumpul di belakang gedung olahraga—tempat yang cukup sepi dan aman dari jangkauan Pak Jaka maupun siswa lainnya.
"Parah... asli parah banget!" Arkan membuka suara sambil menepuk-nepuk celananya yang kotor penuh tanah akibat jatuh ke lubangnya sendiri tadi.
"Kita baru aja ngelawan monster bertangan empat! Dan Night... lu tadi keren banget, bro! Bayangan lu bisa jadi tombak gitu!!
Night yang dari tadi diam sambil menggigil akibat sisa-sisa efek es Sintia hanya mengangguk pelan. "Gue cuma refleks. Pas esnya pecah, gue ngerasa bayangan di bawah kaki gue kayak bisa ditarik dan dibentuk."
"Tapi jujur, kita tadi ngaco banget," celetuk Rehan sambil tertawa hambar. Ia melihat jarinya yang masih meneteskan getah tanaman. "Gue malah bikin lapangan pinggir kota jadi kaya hutan rimba. Terus Abzari melayang-layang kayak balon gas meleset!"
"Ya mau gimana lagi!" potong Abzari tidak terima sambil membetulkan rambutnya yang acak-acakan kena angin.
"Gue kan belum dapat buku petunjuk cara terbang yang bener! Lagian Azkailah juga nyaris nyambar gue pake petirnya!"
"Sori, sori! Listrik di badan gue tadi responsnya terlalu cepat!" sahut Azkailah sambil menyeringai polos.
Di tengah perdebatan kecil itu, Ayyasy menatap kedua kepalan tangannya. Sisa-sisa hawa hangat dari api yang keluar saat ia memukul monster tadi masih terasa. Ia lalu menatap teman-temannya satu per satu dengan raut wajah yang berubah menjadi serius.
"Batu jatuh semalam... batu itu bukan sekadar meteor biasa," ujar Ayyasy tegas. Suasana mendadak hening. "Batu itu ngasih kita kekuatan ini bukan buat pamer atau main-main. Monster tadi, matanya merah sama persis kayak mata yang ngintip kita di gunung semalam."
Sintia melipat dadanya, raut wajahnya yang galak kini berganti menjadi cemas. "Maksud lu... bakal ada monster-monster lain yang muncul setelah ini?"
"Kemungkinan besar iya," jawab Serafe pelan. Ia melepas sarung tangannya sebentar, menatap telapak tangannya yang berpendar halus. "Ledakan batu semalam kaya menyebarkan sinyal. Monster-monster itu pasti terancam atau justru tertarik sama keberadaan kekuatan kita di kota Zenith ini."
Mereka semua saling pandang. Rasa takut tentu ada, tapi bayangan warga kota yang bisa terancam jika monster-monster itu menyerang lagi membuat rasa tanggung jawab tumbuh di dalam diri mereka.
"Jadi... kita ini semacam tim pahlawan super sekarang?" tanya Arkan sambil mencoba tersenyum, meski kakinya masih agak gemetar.
"Kelihatannya gitu," jawab Ayyasy. "Tapi kalau kita bertarung kayak tadi—kacau, saling serang tak sengaja, dan nggak bisa ngendaliin kekuatan—kita bukannya menyelamatkan kota, malah bikin kota hancur duluan."
"Terus kita harus gimana?" tanya Sintia.
Ayyasy menatap ke arah gunung di belakang sekolah mereka. "Kita harus latihan. Mulai nanti sore habis pulang sekolah, kita kumpul lagi di tempat batu itu jatuh. Kita harus belajar menguasai kekuatan masing-masing sebelum monster berikutnya datang."
Semua mengangguk setuju. Sebuah ikatan baru kini terjalin di antara kedelapan remaja tersebut. Mereka bukan lagi sekadar teman nongkrong atau teman main game online, melainkan pelindung kota Zenith.
Sore hari pun tiba. Angin sejuk pegunungan menyambut mereka yang sudah berkumpul di bekas titik jatuhnya bintang. Sisa-sisa abu meteorit semalam masih membekas tipis di tanah.
Saat Ayyasy dan yang lainnya sibuk berdiskusi serius menyusun rencana latihan mengendalikan kekuatan, Serafe malah melamun dan matanya melirik ke sana-sini. Karena bosan mendengarkan perdebatan Arkan dan Abzari, Serafe diam-diam keluyuran menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bukit.
Tak jauh dari sana, langkah Serafe terhenti. Matanya membelalak takjub. Di balik semak belukar yang lebat, berdiri sebuah bangunan dua lantai bergaya villa tua yang sudah lama terbengkalai. Dindingnya ditumbuhi tanaman merambat, catnya mengelupas, dan atapnya penuh dedaunan kering, tapi strukturnya masih terlihat cukup kokoh.
"Guys! Guys! Ikut aku sebentar! Lu semua wajib lihat ini!" teriak Serafe sambil berlari terengah-engah kembali ke arah teman-temannya.
"Ngapain sih, Ser? Jangan keluyuran sendirian, ntar kalau ada monster lagi gimana?" omel Sintia sambil melipat tangan.
"Udah, ikut aja dulu! Pokoknya keren!" potong Serafe antusias.
Dipimpin oleh Serafe, mereka berdelapan menerobos jalan setapak kecil hingga sampai di depan bangunan tua tersebut. Mereka semua terpana menatap bangunan dua lantai di hadapan mereka.
"Wah... ini mah peninggalan tua," gumam Night sambil mengamati bayangan bangunan yang menjulang tinggi.
"Bentar... kalau bangunan ini kosong dan terpencil, berarti gak akan ada orang yang tahu kalau kita di sini, kan?" cetus Ayyasy, matanya mulai berbinar. "Tempat ini cocok banget buat jadi markas rahasia kita! Sekalian tempat kita latihan!"
"Setuju!" sahut Rehan cepat. "Tapi masalahnya... tempat ini kotor dan berantakan banget."
"Yaudah, kita bersihin dan renovasi sekarang! Pakai kekuatan kita masing-masing!" seru Abzari bersemangat.
Maka, aksi "renovasi markas" paling kacau sepanjang sejarah pun dimulai.
"Biar gue tiup semua debu dan daun kering di dalam!" ujar Abzari percaya diri. Ia mengayunkan tangannya, menciptakan pusaran angin kecil. Niatnya baik, tapi anginnya terlalu kencang! Debu dan dedaunan bukannya keluar, malah berputar-putar di dalam ruangan, membuat Ayyasy dan Sintia terbatuk-batuk hebat.
"Abzari! Lu bukannya bersih-bersih malah bikin badai debu!" bentak Sintia kesal. Karena emosi, telapak tangan Sintia mendadak dingin ekstrem. Saat ia menyentuh pintu kayu tua yang lapuk, pintu itu langsung membeku total dan pecah menjadi serpihan es! "Ups... sori, sengaja..." gumam Sintia meringis polos.
Di sisi lain, Rehan mencoba membantu merapikan halaman luar. "Tenang, tanaman merambatnya biar gue yang atur." Rehan memegang akar pohon liar, berniat menyuruhnya menyingkir. Namun, kekuatannya malah meluap; tanaman merambat itu justru tumbuh makin ganas dan sempat melilit kaki Arkan sampai cowok itu terbalik bergelantungan di pohon.
"Rehan! Lepasin gue! Kepala gue di bawah nih!" teriak Arkan panik. Saat berusaha lepas, kaki Arkan menghentak tanah, membuat lantai teras depan mendadak retak dan ambles beberapa sentimeter.
Sementara itu, Azkailah mencoba menyalakan generator tua yang tergeletak di sudut ruangan. "Coba gue kasih sedikit daya..." PZZZZT! Percikan listrik biru keluar dari jarinya. Bukannya menyala pelan, generator itu malah meledak kecil dan mengeluarkan asap hitam yang membuat wajah Azkailah gosong ingusan.
"Aduh, perih..." rintih Azkailah sambil menyengir.
"Duh, kalian ini bukannya ngebantu malah ngerusak!"
cetus Serafe sambil menepuk jidatnya. Mengingat tempat itu sangat gelap karena tertutup asap dan abu, Serafe mengangkat kedua tangannya. Cahaya putih terang dan murni memancar dari telapak tangannya, menerangi seluruh isi bangunan bagaikan lampu gantung raksasa.
"Nih, gue penerangnya. Ayyasy, tolong bakar sampah-sampah yang udah dikumpulin!"
Ayyasy mengangguk. Dengan hati-hati, ia memfokuskan hawa panas di jarinya dan menyentuh tumpukan sampah kayu di halaman. FUSHHH! Api menyala dengan pas tanpa membakar hal lain.
Night, yang memanfaatkan cahaya terang dari Serafe, menggunakan bayangan-bayangan yang terbentuk di dinding untuk mengangkat balok-balok kayu berat dan membuangnya keluar dengan rapi.
Meskipun diwarnai ledakan generator, lantai retak, pintu membeku, dan Arkan yang sempat tersangkut di pohon, perlahan tapi pasti bangunan tua itu mulai terlihat rapi dan layak huni.
Setelah berjam-jam bekerja keras penuh gelak tawa dan kekonyolan, mereka berdelapan akhirnya terduduk lelah di teras lantai dua, menatap pemandangan kota Zenith dari kejauhan yang mulai dihiasi lampu-lampu malam.
"Nggak nyangka ya... kita punya markas sendiri sekarang," gumam Ayyasy sambil tersenyum puas, menikmati terpaan angin malam.
Hari-hari setelahnya berlangsung begitu cepat dan padat. Setiap kali bel pulang sekolah berbunyi, Ayyasy dan teman-temannya tidak lagi nongkrong di warung atau langsung pulang ke rumah untuk bermain game online. Langkah mereka langsung tertuju pada satu tempat: villa tua di atas bukit yang kini resmi menjadi markas rahasia mereka.
Di sana, mereka berlatih tanpa kenal lelah. Dari yang tadinya saling membekukan kawan sendiri atau jatuh ke lubang buatan sendiri, perlahan insting dan kendali kekuatan mereka makin terasah tajam.
Bahkan, kekuatan ajaib itu tidak hanya mereka gunakan saat bertarung melawan monster, tetapi juga untuk membantu kebutuhan sehari-hari dan menolong warga Kota Zenith dalam situasi darurat.
Contohnya, saat ada mobil bak warga yang mogok dan kemasukan lumpur di tanjakan, Arkan hanya perlu menghentakkan sarung tangannya ke tanah untuk mendorong mobil itu naik dengan mudah. Ketika terjadi pemadaman listrik massal di komplek perumahan, Azkailah dengan senang hati menjadi "pembangkit listrik cadangan" agar warga tidak kegelapan. Sintia sering membantu pedagang es krim yang mesin pendinginnya rusak agar dagangannya tidak meleleh, sementara Rehan menggunakan kekuatannya untuk membantu petani menyelamatkan tanaman yang layu agar tumbuh segar kembali dalam hitungan detik.
Menjalani dua kehidupan sebagai pelajar sekaligus pahlawan super rahasia memang terasa sangat berat. Rasa lelah, tugas sekolah yang menumpuk, hingga alasan yang harus dikarang untuk orang tua kerap membuat mereka kewalahan. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka mulai terbiasa dengan ritme hidup yang baru ini.
Dua bulan telah berlalu sejak peristiwa bintang jatuh di bukit.
Sore itu, di dalam markas yang kini sudah rapi dan dilengkapi berbagai fasilitas sederhana, kedelapan remaja tersebut berkumpul. Mereka merasa ikatan di antara mereka bukan lagi sekadar kawan biasa, melainkan sebuah tim pelindung yang utuh.
"Kita nggak bisa terus-terusan dipanggil 'anak-anak misterius' sama warga atau berita di TV," ujar Ayyasy sambil berdiri di tengah ruangan. "Kita butuh nama tim."
Setelah melalui berbagai perdebatan seru dan saling lempar ide kocak, mereka akhirnya sepakat memilih satu nama yang mewakili keajaiban yang mereka terima: Miracle.
Tidak hanya nama tim, untuk memaksimalkan potensi tempur dan menyalurkan energi elemen mereka agar tidak liar, mereka juga merancang dan membuat senjata khas masing-masing:
* Ayyasy: Menggemgam sebuah pedang api besar (Dragon Sword) yang sanggup menebas musuh sekaligus menyebarkan kobaran api yang membakar.
* Azkailah: Menggunakan dua bilah pedang halilintar merah yang sangat ringan dan beracun bagi monster, memungkinkannya bertarung dengan kecepatan kilat.
* Night: Menempa sebuah samurai bayangan yang bisa menyatu dengan kegelapan dan menebas titik lemah musuh dari arah yang tak terduga.
* Sintia: Mengangkat sebuah meriam es yang dapat membekukan musuh dalam sekali tembak.
* Arkan: Memakai sarung tangan tanah pelindung tebal yang mampu menghancurkan fondasi batu keras dan memicu gempa lokal.
* Rehan: Membawa kombinasi palu dan perisai raksasa berbahan dasar elemen pelindung untuk menjadi benteng pertahanan utama tim.
* Abzari & Serafe: Berbeda dari yang lain, mereka berdua memilih bertarung dengan tangan kosong. Aias menjadi mage di tim.
Dengan identitas baru, senjata yang mematikan, dan kendali kekuatan yang kian sempurna, tim Miracle siap menghadapi ancaman apa pun yang akan mengguncang Kota Zenith di masa depan.