Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Arimbi
Pagi berganti dengan dingin yang menusuk. Langit Jakarta tertutup awan kelabu tebal ketika Alina melangkah masuk ke lobi utama PT Dirgantara Megah Karya. Sejak kakinya melewati pintu kaca raksasa, ia sudah merasakan kejanggalan di udara.
Bisik-bisik kasak-kusuk terdengar dari tiap sudut, di dekat meja resepsionis, di depan pintu lift, hingga di dalam kabin lift yang membawanya naik ke lantai 12.
Saat pintu lift terbuka, suasana di divisi Pemasaran tampak sangat tegang. Siska yang melihat kedatangan Alina langsung berlari mendekat, menarik tangannya menuju area kubikel yang agak tersembunyi.
"Alina, kamu sudah lihat berita pagi ini belum?" bisik Siska dengan raut wajah panik, suaranya sangat pelan seolah takut terdengar oleh dinding kantor.
"Berita apa, Siska?" Alina merapikan posisi tas selempangnya, jantungnya mendadak berdegup kencang membayangkan kata-kata Devan tadi malam.
Siska menyalakan layar tabletnya dan menyodorkannya ke depan mata Alina. Di sana, sebuah situs portal berita bisnis dan gaya hidup kelas atas menampilkan foto berukuran besar di halaman utamanya.
Foto itu memperlihatkan Devan yang mengenakan setelan jas gelap sedang berdiri berdampingan dengan seorang wanita bertubuh tinggi semampai, berparas cantik menawan dengan gaun malam mewah berwarna abu-abu perak. Wanita itu adalah Arimbi Rekso.
Judul berita itu tercetak dengan huruf cetak tebal yang mencolok:
PERALIHAN TAHTA DAN ALIANSI BISNIS: DEVAN DIRGANTARA DAN ARIMBI REKSO DIKABARKAN SEGERA RESMI BERTUNANGAN MINGGU DEPAN.
Darah Alina serasa berhenti mengalir. Walaupun Devan sudah memperingatkannya tadi malam untuk tidak memercayai rumor apa pun yang beredar di media, melihat foto Devan berdiri bersanding begitu serasi dengan Arimbi tetap saja memberikan rasa sakit yang menikam dadanya.
Dunia wanita itu begitu berkilau, begitu pas disandingkan dengan sosok penguasa seperti Devan. Sementara dirinya ... hanyalah staf biasa yang menyembunyikan statusnya di balik enkripsi data korporat.
"Alina? Kamu tidak apa-apa?" tegur Siska cemas melihat wajah Alina yang mendadak pucat pasi. "Aduh, maaf ya kalau aku bikin kamu kaget. Seluruh kantor memang lagi heboh membicarakan foto ini. Katanya Nona Arimbi itu putri tunggal pemilik Rekso Group, konsorsium yang mau menyuntikkan dana triliunan untuk proyek peluncuran mobil listrik kita."
Alina memaksakan sebuah senyuman tipis, berusaha keras menguasai getaran di bibirnya. "Iya, tidak apa-apa, Siska. Foto itu ... memang terlihat sangat serasi. Pak Devan cocok sekali dengan Nona Arimbi."
"Yah, begitulah dunia orang kaya," Siska menghela napas panjang sambil mengambil kembali tabletnya. "Pernikahan buat mereka itu cuma soal aliansi saham dan kekuasaan. Tapi kasihan ya Pak Devan, wajahnya di foto itu kelihatan dingin banget, tidak ada senyum-senyumnya sama sekali."
Alina menatap kembali foto itu sekilas. Siska benar. Di bawah kilatan lampu kilat para wartawan, raut wajah Devan tampak amat keras, matanya memancarkan amarah yang tersembunyi di balik ketenangan yang dipaksakan.
Pukul sepuluh pagi. Kesibukan di lantai 12 mendadak terhenti ketika pintu lift eksekutif terbuka. Suasana seketika hening. Pak Bagas melangkah keluar lebih dulu, disikuti oleh dua orang pengawal pribadi berbadan tegap. Dan di belakang mereka, berjalan seorang wanita yang memancarkan aura keanggunan serta kemewahan yang tak tertandingi.
Arimbi Rekso.
Wanita itu mengenakan blazer kustom berwarna krem pastel yang memeluk tubuh semampainya dengan sempurna, dipadukan dengan sepatu hak tinggi berwarna senada. Rambut gelombangnya ditata rapi, dan senyum tipisnya memancarkan rasa percaya diri seorang bangsawan yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya.
Mbak Maya segera keluar dari ruangannya dengan terburu-buru untuk menyambut tamu agung tersebut. "Selamat pagi, Nona Arimbi. Selamat datang di divisi Pemasaran. Ada yang bisa kami bantu?"
Arimbi menghentikan langkahnya di tengah ruangan, matanya yang dilapisi riasan sempurna menyapu seluruh isi ruangan sebelum akhirnya terhenti pada Mbak Maya. Senyumnya terkembang manis, namun nadanya sarat akan dominasi halus.
"Selamat pagi, Mbak Maya," jawab Arimbi dengan suara yang merdu dan renyah.
"Saya ke sini atas undangan Paman Hendra untuk meninjau persiapan materi promosi proyek Dirgantara City. Sebagai calon mitra utama konsorsium Rekso Group, saya ingin memastikan semua poin kesepakatan visual disajikan dengan sempurna sebelum rapat pleno sore nanti."
"Ah, tentu saja, Nona Arimbi," kata Mbak Maya sopan, meski raut wajahnya menyiratkan kebingungan karena kedatangan mendadak ini tidak ada dalam jadwal resmi. "Materi presentasi dan berkas draf akhir saat ini sedang difinalisasi oleh tim inti kami."
"Siapa yang memegang berkas draf utamanya?" tanya Arimbi langsung, pandangannya mulai menjelajahi kubikel-kubikel di ruangan itu.
Mbak Maya menoleh ke arah meja Alina. "Alina Dania. Dia staf yang bertanggung jawab mengompilasi draf visual dan data lampiran proyek."
Arimbi melangkah perlahan menuju meja Alina. Suara ketukan sepatu hak tingginya bergaung halus di lantai marmer, menarik perhatian seluruh mata di ruangan itu. Alina berdiri dari kursinya, membungkuk hormat dengan tenang meski dadanya bergemuruh hebat.
"Selamat pagi, Nona Arimbi," panggil Alina lembut namun tegas.
Arimbi menghentikan langkahnya tepat di depan meja Alina. Ia menatap Alina dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat tajam. Ada kilatan ketidaksukaan yang sangat tipis di mata Arimbi, sebuah insting kewanitaan yang mendeteksi ancaman tak kasat mata di depan matanya.
"Jadi kamu yang bernama Alina Dania?"
ujar Arimbi sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Paman Hendra sempat menyebut namamu tadi malam. Beliau bilang kamu staf baru yang sempat terlibat masalah berkas hilang kemarin?"
Alina menatap mata Arimbi tanpa gentar.
"Masalah kemarin adalah tindakan sabotase individu yang sudah ditangani secara hukum oleh kepolisian dan pimpinan perusahaan, Nona. Seluruh berkas asli sudah aman dan draf final sudah siap."
Arimbi memiringkan kepalanya sedikit, tersenyum dingin. "Bagus kalau begitu. Coba saya lihat berkas draf visualnya sekarang."
Alina merogoh folder tebal bersampul kulit hitam dari mejanya dan menyerahkannya secara profesional kepada Arimbi. Arimbi membuka folder itu, membalik lembar demi lembar dengan gerakan lambat yang disengaja.
"Desain layout-nya cukup rapi," komentar Arimbi datar. Namun, saat sampai pada lembar analisis segmentasi pasar, jemari Arimbi berhenti. "Tapi warna penekanan logo Rekso Group di bagian aliansi investasi ini terlalu pucat. Dan font yang digunakan tidak sesuai dengan standar korporat keluarga kami. Ini harus diubah total."
Alina mengerutkan dahi dengan sopan. "Maaf, Nona Arimbi. Warna dan font tersebut disesuaikan dengan brand guideline resmi PT Dirgantara yang telah disetujui langsung oleh Pak Devan dua hari yang lalu."
Mendengar nama 'Devan' disebut oleh Alina, raut manis di wajah Arimbi seketika mengeras. Atmosfer di sekitar meja Alina mendadak berubah menjadi sangat tegang.
"Saya adalah calon tunangan Devan dan representasi utama Rekso Group di proyek ini, Alina," kata Arimbi dengan nada suara yang merendah, sarat akan tekanan intim yang mengintimidasi. "Apa yang saya katakan adalah cerminan dari keinginan dewan investor. Kamu cuma staf pelaksana di sini. Tugasmu adalah menuruti arahan, bukan mendebat keputusan calon pemilik saham terbesar perusahaan ini."
Kata-kata calon tunangan Devan dan calon pemilik terucap begitu tajam, seolah sengaja ditujukan untuk menghancurkan harga diri Alina di depan rekan-rekannya.
Siska dan Mbak Maya menahan napas di tempat masing-masing. Namun sebelum Alina sempat membalas ucapan bernada merendahkan itu, sebuah suara bass yang sangat familier dan sarat akan wibawa dingin bergema dari arah koridor utama.
"Sejak kapan Rekso Group memiliki wewenang mencampuri standar desain internal PT Dirgantara tanpa persetujuanku?"
Seluruh orang di ruangan itu menoleh cepat. Devan berdiri di sana. Pria itu mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna hitam pekat, melangkah mendekat dengan aura kepemimpinan yang begitu dominan dan mengintimidasi.
Di sampingnya, Pak Bagas berjalan dengan wajah tegap.
Arimbi seketika mengubah raut wajahnya kembali menjadi lembut dan tersenyum manis saat melihat Devan. "Devan ... Aku cuma sedang membantu meninjau materi presentasi untuk rapat sore nanti. Aku merasa ada beberapa hal yang perlu disesuaikan agar aliansi keluarga kita terlihat lebih dominan."
Devan melangkah hingga berdiri di samping Alina, secara alami menempatkan posisinya sebagai pelindung di depan meja gadis itu. Pandangan mata Devan yang sedingin es mengunci Arimbi tanpa sedikit pun keraguan.
"Materi presentasi ini dipersiapkan di bawah instruksi langsung dariku," kata Devan datar namun begitu menusuk. "Alina Dania menjalankan tugasnya sesuai dengan standar tertinggi perusahaan. Kamu tidak memiliki kapasitas operasional untuk mengubah apa pun di gedung ini, Arimbi."
Arimbi tertegun, senyum di bibirnya perlahan memudar. Wajahnya merona merah karena rasa malu dipermalukan secara tidak langsung di depan para staf bawahannya Devan.
"Devan, aku melakukan ini untuk kebaikan aliansi bisnis kita dan rencana pertunangan yang dibicarakan Paman Hendra tadi malam—"
"Tidak ada aliansi bisnis yang mengizinkan campur tangan tak berdasar di divisi saya," potong Devan tegas, memutus kalimat Arimbi tanpa ampun. Devan lalu menoleh ke arah Pak Bagas. "Bagas, antar Nona Arimbi kembali ke ruang tamu VIP di lantai 19. Rapat pleno investor baru akan dimulai pukul tiga sore."
Pak Bagas maju satu langkah dan membungkuk sopan. "Mari, Nona Arimbi. Saya antar ke ruang tunggu."
Gigi Arimbi bergeletuk menahan amarah dan kehormatannya yang terkoyak. Ia menatap Devan dengan tatapan tak percaya, lalu melirik Alina dengan kebencian yang kini membara secara terbuka di matanya. Arimbi menyadari sesuatu yang sangat berbahaya: tatapan Devan pada staf biasa bernama Alina ini bukanlah tatapan seorang bos kepada bawahan, melainkan tatapan seorang pria yang sedang melindungi wanita pilihannya.
Dengan hentakan sepatu hak tingginya yang keras, Arimbi membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan ruangan disusul oleh Pak Bagas dan para pengawalnya.
Suasana di lantai 12 kembali hening. Devan memalingkan tubuhnya menatap Alina. Di depan Mbak Maya dan staf lainnya, Devan mempertahankan raut wajah profesionalnya, namun tatapan matanya yang teduh memberikan ketenangan yang sangat dibutuhkan oleh Alina.
"Lanjutkan pekerjaanmu, Alina," ujar Devan lembut. "Pastikan berkas draf asli tetap pada format awal yang kutandatangani."
"Baik, Pak Devan. Terima kasih," jawab Alina tulus, suaranya kembali mantap.
Devan mengangguk pelan, lalu berbalik dan melangkah pergi menuju lift eksekutif.
Saat sosok Devan menghilang di balik pintu lift, Alina menarik napas panjang dan kembali duduk di kursinya. Meremas liontin cincin emas putih di balik bajunya, Alina tahu bahwa tindakan Devan membelanya di depan Arimbi hari ini telah menceretkan garis perang yang lebih besar.
Arimbi dan Pak Hendra tidak akan tinggal diam, dan rahasia pernikahan mereka kini berada di pusat badai yang siap meledak kapan saja.