"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."
"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"
Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.
Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.
Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.
Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.
"Via... kita mulai dari awal."
"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Perubahan yang Membuatnya Ragu
Mereka jatuh bersama ke atas karpet dengan posisi Levia berada di atas tubuh Vandra.
Wajah mereka hanya terpaut beberapa senti. Napas keduanya saling beradu.
Levia membelalakkan mata.Vandra pun sama terkejutnya. Belum sempat salah satu bergerak...
Bzzzz...
Kecoa itu kembali terbang. Lalu mendarat di punggung tangan Levia yang sedang bertumpu di dada Vandra.
"AAAAAAAAAA!!"
Levia refleks mengangkat tangannya dan satu tangan lagi langsung memeluk Vandra erat. Bahkan tanpa sadar Levia menyembunyikan wajahnya di dada pria itu.
"Ambil! Ambil! Cepat ambil!"
Vandra yang masih berusaha mencerna situasi hanya bisa menghela napas. "Diam."
"Kecoanya ada di tanganku!"
"Aku tahu."
"Terus kenapa kamu masih diam?!"
Vandra mengeryit. Dalam posisi masih terlentang di bawah Levia, ia mengangkat tangan perlahan. Tatapannya tertuju pada kecoa yang merayap di punggung tangan wanita itu.
"Jangan bergerak."
"Aku gak bisa!"
"Kalau kamu bergerak, dia terbang lagi."
Levia langsung membeku.
Dengan gerakan cepat, Vandra menangkap kecoa itu menggunakan telapak tangannya. Kecoa itu berhasil ditangkap.
"Udah."
Levia membuka sebelah matanya perlahan. "Udah?"
"Iya."
"Bener?"
"Iya."
Setelah memastikan, Levia buru-buru bergeser dari atas tubuh Vandra.
Pria itu kemudian bangkit dan berjalan menuju pintu sambil membawa kecoa tersebut.
Levia masih berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah pucat.
"Buang jauh-jauh!"
"Iya."
"Jangan sampai masuk lagi!"
Vandra mengangguk kecil.
Begitu pria itu melewati ambang pintu, Levia buru-buru menutup pintu.
Brak!
Vandra yang baru keluar sempat terkejut mendengar pintu dibelakangnya ditutup cukup keras.
Klik.
Bahkan terdengar suara kunci diputar.
Vandra berkedip. Lalu menatap pintu yang kini tertutup rapat.
"..."
Beberapa detik ia hanya berdiri di sana.
"Dia... ngunci pintunya?"
Biasanya, Levia justru mencari berbagai cara agar bisa masuk ke kamarnya.
Sekarang...
Wanita itu malah menguncikan pintu untuknya. Vandra mengusap tengkuknya pelan.
"Aneh."
Ia berjalan menuju tempat sampah di ujung lorong untuk membuang kecoa itu.
Namun sebelum masuk ke kamarnya sendiri, ia sempat melirik sekali lagi ke arah pintu Levia.
Entah kenapa, pemandangan barusan terus terulang di kepalanya.
Sementara itu...
Di dalam kamar. Levia menyandarkan punggung ke pintu sambil mengembuskan napas lega.
"Akhirnya kecoanya pergi..."
Namun beberapa detik kemudian, pikirannya kembali pada kejadian tadi. Wajahnya perlahan memanas.
"Tunggu..."
"Tadi aku..."
Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
"Astaga!"
Baru saja ia berhasil lolos dari kecoa, sekarang ia malah harus menghadapi rasa malu karena tadi memeluk calon mantan suaminya.
Levia menjambak rambutnya sendiri pelan.
"Dia pasti mikir aku sengaja. Padahal aku cuma panik karena kecoa!"
Sementara di luar sana, hujan mulai mengguyur bumi.
-
Di kamar sebelah...
Ratih yang sejak tadi berbaring hanya bisa berkedip mendengar teriakan-teriakan dari arah kamar Levia. Tubuhnya terlalu lemah untuk keluar dari kamar.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu ditutup cukup keras.
Lalu...
Sunyi.
Ratih menoleh ke arah pintu. "Kok... tiba-tiba diem?"
Ia mengernyit bingung.
"Jangan-jangan..." Sudut bibirnya perlahan terangkat. "...mereka akhirnya baikan?"
Lalu ia menarik selimut hingga ke dada sambil tersenyum kecil.
"Semoga saja..."
***
Pagi itu, Levia terbangun lebih awal dari biasanya. Ia sempat menatap langit-langit kamar beberapa detik sebelum menyadari sesuatu.
"Ini bukan kamar di rumah Ayah."
Ia baru ingat bahwa semalam dirinya menginap di rumah Ratih karena hujan deras.
Levia bangkit dari tempat tidur, lalu menghela napas pelan. Biasanya, setelah bangun pagi, ia akan berjalan bersama Bram atau melakukan olahraga ringan di halaman rumah.
Namun di rumah ini, ia tidak memiliki baju olahraga. Dan ia merasa tak nyaman jika berolahraga mengenakan pakaian biasa.
"Mau tidur lagi pun gak bisa. Kalau begitu... bantu masak aja."
Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang nyaman, Levia keluar kamar. Ia berjalan menuju dapur.
Begitu sampai, aroma bawang yang sedang ditumis langsung menyambutnya.
Bi Dami yang sedang menyiapkan sarapan menoleh. Matanya langsung membesar.
"Eh?"
Levia tersenyum. "Selamat pagi, Bi."
"Selamat pagi, Non." Bi Dami masih menatapnya seolah melihat sesuatu yang aneh.
Levia mengernyit. "Ada apa, Bi?"
"Non sudah bangun?"
Levia tertawa kecil. "Iya."
"Sepagi ini?"
"Iya."
Bi Dami mengusap tangannya pada celemek. "Non butuh sesuatu?"
"Enggak. Aku mau bantu masak."
Tangan Bi Dami yang sedang memegang sendok langsung berhenti. "Bantu... masak?"
"Iya."
Bi Dami menatap Levia dari atas sampai bawah. Selama hampir setahun Levia tinggal di rumah itu, belum pernah sekalipun ia melihat wanita tersebut masuk ke dapur untuk memasak.
Biasanya, kalau ingin makan, Levia hanya tinggal meminta.
"Non mau masak apa?"
"Bibi sedang masak apa?"
"Sup ayam, tumis sayur, sama ikan goreng."
Levia melirik bahan-bahan yang sudah tersedia. "Kalau begitu aku boleh masak tumis sayurnya?"
Bi Dami tampak ragu. "Non yakin?"
"Yakin."
"Tapi kalau Non capek..."
"Gak apa-apa, Bi. Aku cuma mau bantu."
Bi Dami akhirnya mengangguk. "Ya sudah."
Levia segera mencuci tangan dan mengenakan celemek. Ia mengambil beberapa sayuran, lalu mulai memotongnya.Gerakannya cepat dan rapi.
Bi Dami yang semula hendak kembali menyiapkan sup perlahan memperlambat pekerjaannya.
Levia memasukkan minyak secukupnya ke dalam wajan. Bawang putih. Bawang merah. Sedikit cabai. Aromanya mulai memenuhi dapur.
Bi Dami melirik lagi. "Non..."
"Hm?"
"Bisa masak juga?"
Levia tersenyum kecil. "Anggap saja... sekarang aku sedang belajar."
Padahal bagi Vivian, memasak bukan sesuatu yang asing. Sebagai orang yang terbiasa memerhatikan detail, ia juga terbiasa mengurus berbagai hal sendiri ketika pekerjaannya menuntut.
Ia mencicipi sedikit tumisan. "Kurang garem dikit."
Bi Dami semakin memerhatikannya.
Setelah menambahkan bumbu, Levia kembali mengaduk. Beberapa menit kemudian, tumis sayur itu selesai.
Levia mematikan kompor. "Sudah."
Bi Dami menatap hidangan tersebut. Penampilannya sederhana, tetapi warnanya menarik dan terlihat menggugah selera.
"Non..."
"Iya?"
"Ini benar-benar masakan Nona?"
Levia terkekeh. "Iya."
Bi Dami hanya bisa menggeleng sambil tersenyum. "Saya benar-benar baru lihat Nona masak."
Levia hanya tersenyum lalu mulai menyajikan masakan. Bi Dami membantu menatanya di atas meja.
"Sudah selesai." Levia melepaskan celemek. "Kalau begitu, aku mau bersiap, Bi."
"Baik, Non."
Levia kemudian kembali ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Ratih keluar dari kamar dengan langkah perlahan.
Vandra sudah duduk di meja makan. Namun begitu melihat hidangan yang tersaji, pria itu langsung mengernyit.
Ada sup ayam, ikan goreng, tumis sayuran, dan beberapa potong buah yang ditata rapi. Semuanya terlihat berbeda dari sarapan biasanya.
"Bi, ini beli dari restoran?"
Bi Dami langsung menggeleng.
"Bukan, Pak."
"Terus?"
"Saya yang masak sebagian."
Vandra mengangguk. "Lalu yang lainnya?"
Bi Dami tersenyum. "Non Levia yang masak."
Tangan Vandra yang hendak mengambil gelas langsung berhenti.
Ratih juga menoleh. "Levia?"
"Iya, Bu."
Ratih tampak tidak percaya. "Dia yang memasak?"
Bi Dami mengangguk cepat. "Iya. Saya sendiri sampai kaget."
Vandra menatap hidangan di depannya. Kemudian ia mengalihkan pandangan kepada Bi Dami.
"Levia benar-benar memasak semua ini?"
"Tidak semuanya, Pak. Tapi tumis sayur dan ikan itu Nona yang masak."
Ratih tersenyum kecil. "Selama hampir setahun dia tinggal di sini, Ibu gak pernah sekali pun lihat dia masuk dapur."
Bi Dami terkekeh. "Saya juga begitu, Bu."
Vandra tidak berkata apa-apa. Tatapannya kembali jatuh pada hidangan yang tersaji. Semalam ia melihat Levia bersikap berbeda. Pagi ini, wanita itu bahkan bangun lebih awal dan memasak.
Entah berapa banyak hal tentang Levia yang ternyata belum pernah ia ketahui. Dan untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan, hal itu membuatnya semakin penasaran.
Ratih berdehem pelan.
"Van..."
Vandra mengangkat wajah.
"Sejak pulang ke rumah Ayahnya, Levia banyak berubah."
Vandra terdiam.
Ratih menatap putranya cukup lama sebelum melanjutkan. "Ibu gak tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah dia hampir tenggelam waktu itu. Tapi sekarang... Ibu melihat Levia yang berbeda."
Vandra menunduk, tak memberikan jawaban.
Ratih menarik napas pelan. "Kalau dia benar-benar sudah berubah..."
Ia berhenti sejenak, seolah ragu dengan pertanyaan yang hendak dilontarkannya.
"Van, kamu masih benar-benar ingin menceraikannya?"
Vandra perlahan mengangkat wajah.
Ratih menatapnya penuh harap. "Atau... kamu gak mau ngasih dia satu kesempatan lagi?"
...✨“Terkadang, ketika seseorang akhirnya berhenti mengejar, barulah kita sadar bahwa selama ini kehadirannya tidak pernah benar-benar ingin kita kehilangan.”✨...
.
To be continued
ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.
syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄