NovelToon NovelToon
DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MHKaylid_

Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".

"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"

bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.

Mariska tersenyum licik.

"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."

"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.

"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."

Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.

Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.

"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.

"Jangan sampai gadis itu lolos!"

Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.

Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Mansion keluarga Laurent yang biasanya sunyi tetap berjalan dengan ritme yang teratur.

Para pelayan bergerak tanpa suara.

Beberapa pengawal berjaga di setiap pintu masuk.

Lampu-lampu kristal yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya hangat, membuat seluruh ruangan tampak megah namun tetap terasa dingin.

Di salah satu kamar tamu lantai dua...

Alyssa duduk di tepi tempat tidur dengan tubuh masih kaku.

Ia belum benar-benar percaya bahwa dirinya berada di tempat semewah ini.

Kasur yang empuk.

Karpet Persia yang membentang hampir memenuhi ruangan.

Perapian marmer.

Lemari kayu ukir.

Bahkan tirai jendelanya tampak lebih mahal daripada seluruh isi rumah yang selama ini ia tempati bersama ibu tirinya.

"Silakan duduk lebih nyaman, Nona."

Seorang wanita paruh baya tersenyum ramah.

Namanya Clara.

Ia telah mengabdi di Mansion Laurent selama hampir dua puluh tahun dan dipercaya mengurus seluruh kebutuhan keluarga.

"Dokter keluarga akan segera datang."

Alyssa tersenyum canggung.

"Terima kasih."

Clara memperhatikan tangan Alyssa.

"Luka ini harus segera dibersihkan."

"Kalau tidak, bisa menimbulkan infeksi."

Alyssa mengangguk pelan.

Tak lama kemudian, dokter keluarga datang membawa kotak medis.

Beliau memeriksa bekas cakaran di tangan Alyssa.

"Lukanya tidak dalam."

"Tapi ada beberapa goresan lain di bahu."

Alyssa sedikit terkejut.

"Oh..."

"Mungkin saat saya berlari tadi."

Dokter mengangguk.

"Silakan duduk menghadap sana."

Clara membantu Alyssa membuka bagian belakang pakaian luarnya agar luka di bahu dapat dibersihkan.

Semua dilakukan dengan sopan dan profesional.

Dokter mulai mengoleskan cairan antiseptik.

Alyssa meringis pelan.

"Perih?"

"Tidak apa-apa."

Clara tersenyum.

"Nona sangat kuat."

Sementara itu...

Di ruang kerja lantai tiga.

Lucas Laurent berdiri di depan jendela besar.

Di tangannya terdapat sebuah tablet.

Adrian Hartmann baru saja memasuki ruangan.

"Tuan."

"Ada perkembangan."

Lucas menoleh.

"Bicaralah."

Adrian meletakkan beberapa berkas di atas meja.

"Orang-orang Patrick mulai bergerak."

Lucas membuka salah satu laporan.

Di dalamnya terdapat foto-foto CCTV dari berbagai lokasi.

Beberapa kendaraan hitam terlihat menyusuri jalanan kota.

"Mereka menyebar."

Adrian mengangguk.

"Informan kita melaporkan bahwa mereka mencari seorang perempuan bernama Alyssa."

Lucas membaca lebih teliti.

Laporan berikutnya menyebutkan bahwa beberapa orang juga mendatangi rumah Mariska.

Ada pula yang terlihat mengawasi rumah sakit, terminal, dan stasiun.

Mereka benar-benar memburu Alyssa.

Lucas menyandarkan tubuhnya.

"Patrick..."

Ia mengenal nama itu.

Tidak secara pribadi.

Namun cukup mengetahui reputasinya.

Selama bertahun-tahun keluarga Patrick selalu bermain di balik layar.

Jarang tampil.

Tetapi setiap kali nama mereka muncul...

Selalu ada masalah besar.

"Apa mereka mengetahui Alyssa berada di sini?"

Adrian menggeleng.

"Belum."

"Tapi mereka pasti sedang menelusuri siapa yang membawanya keluar dari hotel."

Lucas menatap layar beberapa saat.

Kemudian berkata singkat,

"Perketat keamanan mansion."

"Sudah saya lakukan."

"Tambahkan personel di gerbang timur."

"Baik."

Damien kembali membaca laporan terakhir.

Satu kalimat membuat tatapannya berubah lebih serius.

Target harus ditemukan hidup-hidup.

Ia menutup tablet perlahan.

Instingnya mengatakan bahwa Alyssa bukan sekadar korban utang biasa.

Ada sesuatu yang belum ia ketahui.

"Aku akan berbicara dengannya."

Adrian mengangguk.

"Saya antar."

"Tidak perlu."

Lucas berjalan keluar dari ruang kerja.

Koridor lantai dua terasa sangat tenang.

Langkah Lucas bergema pelan di atas lantai marmer.

Beberapa pelayan yang berpapasan segera membungkukkan badan.

"Selamat malam, Tuan."

Lucas hanya mengangguk singkat.

Ia berhenti di depan kamar tamu yang ditempati Alyssa.

Pintu kamar tidak tertutup rapat.

Dari celah pintu terdengar suara Clara.

"Sedikit lagi selesai, Nona."

Damien berniat mengetuk pintu.

Namun sebelum tangannya menyentuh daun pintu, ia tanpa sengaja melihat ke dalam.

Alyssa duduk membelakanginya.

Bagian belakang pakaian luarnya disingkap secukupnya agar luka di bahu dapat dibersihkan.

Dokter keluarga sedang mengoleskan salep pada goresan-goresan kecil yang tampaknya didapat saat ia melarikan diri.

Clara berdiri di sampingnya sambil memegang handuk bersih.

Lucas langsung mengalihkan pandangan.

Ia mundur satu langkah.

Kemudian mengetuk pintu dengan tenang.

Tok... Tok...

Clara menoleh.

"Oh, Tuan Lucas."

"Silakan masuk."

Lucas baru membuka pintu setelah memastikan Clara telah membantu Alyssa merapikan kembali pakaiannya.

"Apa saya mengganggu?"

"Tidak, Tuan."

Dokter menutup kotak medisnya.

"Pengobatan sudah selesai."

Lucas mengangguk.

"Bagaimana kondisinya?"

Dokter menjawab,

"Tidak ada luka serius."

"Hanya beberapa goresan di tangan dan bahu."

"Beliau juga tampak sangat kelelahan."

"Kalau memungkinkan, biarkan beliau beristirahat."

"Baik."

Dokter dan Clara kemudian berpamitan meninggalkan kamar.

Kini hanya tinggal Lucas dan Alyssa.

Suasana kembali hening.

Alyssa berdiri dari tempat duduknya.

"Maaf..."

Lucas mengangkat alis.

"Untuk apa?"

"Saya sudah merepotkan Anda."

Lucas meletakkan tablet di atas meja kecil.

"Lihat ini."

Ia menggeser layar ke arah Alyssa.

Alyssa membaca laporan singkat yang terpampang.

Wajahnya perlahan memucat.

"Mereka..."

"...masih mencari saya?"

"Bukan hanya mencari."

Lucas menjawab datar.

"Mereka mengerahkan banyak orang."

Alyssa menggigit bibirnya.

Tangannya mulai bergetar.

"Aku..."

"Aku benar-benar tidak ingin menyeret siapa pun."

Lucas memperhatikan perubahan ekspresinya.

Ia melihat ketakutan yang nyata.

Bukan dibuat-buat.

"Alyssa."

Perempuan itu mengangkat wajahnya.

"Ceritakan semuanya."

"Tidak ada yang disembunyikan."

"Kalau aku ingin melindungimu..."

"...aku harus tahu siapa yang sedang kita hadapi."

Air mata perlahan menggenang di pelupuk mata Alyssa.

Selama ini...

Tidak ada seorang pun yang pernah memintanya bercerita.

Semua orang hanya menyuruhnya diam.

Hanya menyuruhnya patuh.

Namun pria yang terkenal dingin itu justru memintanya mengatakan yang sebenarnya.

Beberapa saat Alyssa hanya menunduk.

Lalu dengan suara lirih ia mulai berkata,

"Ayah saya meninggal empat tahun lalu."

"Sejak itu..."

"Ibu tiri saya mulai terlilit utang."

"Saya tidak tahu kepada siapa."

"Sampai beberapa hari yang lalu..."

"...saya mendengar nama Patrick."

Lucas tetap diam, membiarkannya melanjutkan.

"Ibu tiri saya mengatakan..."

"...kalau saya harus membayar semua utang itu."

"Padahal saya tidak pernah meminjam uang."

Suara Alyssa mulai bergetar.

"Lalu..."

"Dia membawa saya ke hotel."

"Katanya ada pekerjaan."

"Ternyata..."

Kalimatnya terhenti.

Ia memejamkan mata sejenak.

Lucas tidak mendesak.

Beberapa detik kemudian Alyssa menarik napas panjang.

"Saya melarikan diri."

"Itu saja yang saya ingat."

Lucas menatap tablet di atas meja.

Kini banyak bagian mulai tersusun.

Namun masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab.

Mengapa keluarga Patrick begitu bersikeras mengejar Alyssa?

Sekadar pelunasan utang...

Tidak sebanding dengan pengerahan orang sebanyak itu.

Berarti...

Masih ada rahasia lain yang belum terungkap.

Lucas menutup layar tablet.

"Lupakan dulu semuanya malam ini."

Alyssa menatapnya.

"Di mansion ini..."

"...tidak seorang pun akan memaksamu keluar."

"Beristirahatlah."

Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, Alyssa merasakan sesuatu yang telah lama hilang dari hidupnya.

Rasa aman.

Meski hanya sesaat.

Dan di luar mansion...

"Hayooo makin penasaran gak nih?? Kalau penasaran jangan ragu apalagi sungkan buat komen dan beri ulasan serta rating yaa guyss.. Mwaahh" MHKaylid_

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!