Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL19
KAMU?
Gimana, Mas? Sarapannya enak nggak?
Romi membaca pesan yang baru masuk di ponselnya. Keningnya langsung berkerut ketika mengenali nomor pengirim, meski nomor itu sudah lama ia hapus dari daftar kontak.
Pesan itu hanya dibacanya sekilas sebelum langsung dihapus tanpa balasan. Ia tahu betul siapa pengirimnya. Karena itulah ia memilih diam. Semakin sedikit memberi respons, semakin kecil pula peluang membuka kembali masalah yang sudah susah payah ia tutup.
“Pagi, Bro.”
“Hmm, pagi.”
“Butek amat tuh muka?”
Romi melirik sekilas ke arah Gunawan. “Biasa aja. Lo sendiri tumbenan datang cepat, mabok lo hah?” balas Romi seraya melihat arloji miliknya.
Buk!
“Sialan lo!’ umpat Gunawan, menonjok lengan mendengar sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.
“Oh iya Rel, lo masih ingat nggak klien developer kita tahun yang lalu itu?”
“Klien developer yang mana?”
“Itu loh yang proyek tripel yang di kota Surabaya waktu itu? Yang kita disuruh koordinasi sama pihak properti mereka juga.”
Sebenarnya Romi ingat, bahkan saat awal Gunawan mengatakan proyek di Surabaya, hanya saja ia ingin lebih yakin lagi apakah proyek Surabaya yang ia pikirkan dan yang Gunawan maksud adalah proyek yang sama.
“PT. ANGSANA PUTRA?”
“Yup!”
“Kenapa memangnya?”
“Gue ketemu sama tuh perempuan.”
“Apaan sih, Wan, nggak jelas.”
“Lah kok nggak jelas?”
“Ya iya nggak jelas lah. Coba kasih tahu gue dimana letak korelasi antara PT. ANGSANA PUTRA, dengan pihak properti dan yang lo bahas ketemu cewek itu?”
“Nah, ini nih kalau nggak dapat suplai tenaga dari istri, otaknya jadi buntu.”
“Maksud lo, yang buntu otak gue apa otak lo?” Tembak Romi.
“Sialan! Lo mau bilang gue jomblo karatan?” Decak Gunawan kesal yang dibalas kekehan oleh Romi.
“Ya terus apaan dong?”
“Intinya tuh gue ketemu sama tuh perempuan. Yang kerja di perusahaan properti itu. Itu loh si Jelita.”
“Apa?”
“Nah, kagetkan lo?”
“Biasa aja.” Elak Romi.
“Tapi ada yang aneh sama tuh perempuan.”
“Aneh? Aneh kenapa?” tanya Romi penasaran.
“Iya, aneh pake banget. Dan kalau tahu pasti lo juga bakalan kaget kayak gue, bahkan melebihi kagetnya gue.”
“Ya apa?”
“Lo beneran mau tahu?”
“Iya, Wan. Cepat bilang.”
“Mau tahu aja apa mau tahu banget?”
“Gue tonjok ni ya! Bilang nggak dia bilang apa?”
Romi makin gelisah dengan apa yang akan disampaikan oleh Gunawan itu, jangan sampai dia memberitahu soal hubungan abu-abu mereka pada Gunawan, selain karena tidak ingin semuanya makin runyam, juga karena rekan kerja sekaligus sahabatnya adalah tipe mulut ember.
“Santai bro, santai. Gue makin yakin kalo lo nggak dikasih jatah sama si Hannah, pagi-pagi sudah emosi tingkat tinggi.”
Beruntung di dalam lift hanya ada mereka berdua, entah yang lain sudah datang lebih dulu atau mereka yang datang terlalu pagi.
“Jadi gue ketemu dia di mall beberapa hari yang lalu. Dari jauh gue kok kayak kenal nih perempuan, tapi lupa pastinya dimana. Karena penasaran, gue ikutin dia sampai akhirnya gue hadang pas dia mau masuk supermarket.”
“Gila lo!”
“Daripada gue yang gila saking penasaran? Lagian dia nyambut baik gue kok. Kayaknya dia juga ingat muka gue, buktinya dia langsung nyapa gue.”
“Terus?”
“Nah ini gongnya dan lo harus pasang telinga lo baik-baik.”
“Apaan sih.” Romi keluar lebih dulu dari lift ketika pintu lift terbuka.
“Woy lo mau kemana? Nggak mau dengar lanjutannya?”
“Gak perlu. Gak penting juga,” sahut Romi tanpa menoleh. Ia berjalan terus ke ruangannya tanpa menunggu Gunawan yang terlihat frustrasi karenanya.
“Iya juga sih. Nanya alamat rumah orang emang nggak penting-penting amat.”
Gunawan mengedikkan bahu ke atas. Mungkin benar yang dikatakan Romi jika itu bukanlah sesuatu yang penting.
Hari itu pekerjaan Romi cukup padat hingga rasa penasarannya sejak pagi perlahan terlupakan. Terlebih kali ini ia juga harus mengantarkan sang istri yang akan berangkat ke negeri Singa selama satu pekan.
“Mau kemana?” tanya Gunawan. Ini jam istirahat, biasanya mereka akan makan siang bersama, baik di kantin ataupun ke restoran atau warung makan yang tidak jauh dari kantor mereka.
“Makan siang.”
“Sama dong berarti, barengan aja, Bro.”
“Sorry, Bro gue mau makan siang bareng Hannah.”
“Nggak apa-apa, gue bisa kok jadi obat nyamuk,” balas Gunawan lagi.
Pria itu tipe extrovert pakai banget yang tak suka kesunyian maka makan siang sendirian adalah hal yang kurang menyenangkan baginya.
Romi tertawa kecil.
“Mungkin lain. Gue mau sekalian antar dia ke Bandara setelah makan siang. Bareng yang lain aja.”
“Bandara? Ngapain, dinas lagi dia?”
Romi tak menyahut, tapi tetap menjawab dengan menganggukkan kepala.
“Masih mau ikut?” Gelak Romi.
“No Way!”
“Yaudah, gue duluan.”
“Salam sama Hannah.”
“Siap, entar gue sampein.”
Akhirnya kedua pria tampan itu keluar dari lift bersama namun berbeda arah. Gunawan belok kiri menuju kantin, sedang Romi menuju pintu keluar.
***
“Loh, kok sendirian?”
Langkah Gunawan berhenti tepat di depan seorang wanita cantik.
“Iya nih, Romi makan siang di luar.”
“Di luar? Kok nggak bareng?”
“Nggak lah, nggak enak juga gangguin orang.”
“Maksudnya?”
“Dia mau makan siang bareng istrinya.”
“Oh!”
“Emangnya istri pak Romi nggak suka ya kalau ada yang nimbrung?”
“Bukan, istrinya orangnya baik. Baik banget malah. Saya juga kenal sama dia. Hanya saja gue mau kasih mereka space waktu sebelum mereka berpisah.”
“Apa?! Mereka mau cerai?” Sungguh Jelita sangat kaget mendengar itu.
“Cerai? Ya nggak lah mana mungkin? Orang mereka saling bulol.”
“Bulol apaan?”
“Iya, itu bucin tolol.”
“Oh singkatan. Kirain apa.”
“Mereka cuma pisah beberapa hari doang. Istrinya itu mau dinas lapangan.” Jelas Gunawan. Tidak mungkin juga seorang Romi yang bucin pada istrinya mau cerai. Ia ingat betul perjuangan seorang Romi dalam mendekati wanita itu (Hannah maksudnya).
“Oh… kirain mau cerai?” respon Jelita sekenanya.
“Nggak lah. Kayaknya sih mereka bakalan awet sampai kakek nenek deh. Secara mereka tuh kayak amplop dan perangko. Lengket tak terpisahkan.”
“Kamu terlalu naif, Wan. Semua bisa saja terjadi. Termasuk seseorang yang bucin pada pasangan bisa berbalik menjadi benci.”
Gunawan menatap wanita yang ada di hadapannya itu dalam-dalam. Ada makna tersirat yang bisa ditangkapnya dari pernyataan wanita itu barusan. Sedari awal bertemu beberapa waktu di mall saat itu juga ia sedikit dikejutkan dengan pertanyaan mengenai sahabatnya itu.
“Boleh gue nanya sesuatu?”
“Apa?”
“Waktu di mall kemarin... kenapa lo nanya alamat rumah Romi?”
Jelita terlihat tenang.
“Memangnya kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa sih.... cuma menurut gue agak aneh aja.”
“Terus sekarang lo ngajak makan siang di kantor dan minta Romi ikut. Waktu di mall juga lo nanya alamat rumahnya. Wajar kalau gue mikir lo punya ketertarikan sama Romi.”
“Pikiran kamu terlalu jauh, Wan. Aku biasa aja kok, lagipula itu cuma basa basi doang.”
“Basa basi?”
Jelita mengangguk pelan. “Iya basa-basi, lagipula tanpa kamu kasih tahu juga aku sudah tahu. Secara perusahaan kita kan kerja sama lagi?”
“Lagi?”
Kembali wanita itu mengangguk.
“Kamu nggak tahu ya kalau kantormu ada kerjasama dengan perusahaan properti PT. ANGSANA PUTRA?”
Gunawan menggeleng pelan. “Bukan saya yang tangani proyek itu.”
“Emang bukan kamu, tapi pak Romi. Bahkan kita sudah bertemu kemarin.”
“Apa?”
Jelita tersenyum miring, “Biasa aja.”
“Oke, sorry. Tapi terlepas dari itu semua gue harap kamu bisa jaga jarak. Romi sudah menikah dan mereka saling mencintai.”
“Kamu mikirnya terlalu jauh, Wan.”
“Hanya mengingatkan saja sebagai teman.”
“Terima kasih, tapi asal kamu tahu kalau rasa cinta sebucin atau selengket apapun bisa hilang seiring berjalannya waktu. Kayak aku.”
“Kayak kamu?”
“Awalnya suamiku cinta banget, sayang banget, pokoknya segalanya deh tapi seiring waktu cinta, sayang itu terkikis bersama dengan waktu yang terus berlalu. Hanya karena alasan klise cinta dan sayang yang sudah dirajut selama bertahun-tahun hilang begitu saja.” Tanpa sadar, cerita tentang kandasnya rumah tangganya lolos begitu saja.
“Jadi… kamu?”
Jelita tersenyum meringis.
“Iya, aku janda.”
Gunawan speechless mendengar pengakuan Jelita.
“Tenang aja. Aku nggak punya niat mengganggu rumah tangga siapa pun.”
“Syukurlah.”
Gunawan mengembuskan napas lega. Ia mulai yakin kekhawatirannya selama ini hanyalah prasangka yang berlebihan.
Sayangnya, ia tidak tahu bahwa Jelita baru saja menyampaikan setengah dari kebenaran.
Ia memang tak pernah berniat merebut suami orang.
Namun pertemuan demi pertemuan dengan Romi perlahan menggoyahkan benteng yang selama ini ia bangun sendiri.
Kini, bahkan Jelita sendiri mulai takut karena ia tak lagi yakin masih mampu mengendalikan perasaannya.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐