Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.
Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.
Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 | DREAM
Suasana Perpustakaan kampus begitu hening, hanya menyisakan suara hembusan pendingin ruangan yang pelan. Elara, yang lelah karena ketegangan yang terus mencekik, akhirnya menyerah pada rasa kantuk yang berat. Kepalanya terkulai di atas meja, di samping buku tebal yang terbuka.
Dalam tidurnya yang gelisah, Elara tidak lagi berada di Perpustakaan. Ia tersedot ke dalam memori yang paling ia jaga namun paling ia takuti.
Flashback
Cahaya matahari sore yang keemasan menyiram ruang latihan menembak rahasia di bawah tanah milik keluarga Vance. Bau mesiu yang tajam begitu akrab di hidung Elara kecil yang baru berusia sepuluh tahun.
"Tarik napas, Elara. Jangan melawan hentakannya, biarkan itu menjadi bagian dari tubuhmu," suara Grandma Eleanor terdengar tenang namun penuh wibawa.
Elara kecil menarik pelatuknya. DOR! Peluru itu menembus tepat di pusat target.
"Lagi! Aku melakukannya lagi, Grandma!" seru Elara dengan mata berbinar. Wajahnya yang kotor karena debu latihan tampak sangat bahagia. Ia berlari memeluk wanita tua yang mengenakan setelan jas kaku dengan lambang yang disembunyikan itu.
Eleanor menatap cucunya dengan tatapan yang sulit diartikan bangga, namun sarat akan kesedihan yang mendalam. Ia mengusap rambut Elara. "Kau berbakat, Elara. Jauh lebih berbakat dari Julian. Tapi ingat, dunia yang kau pilih ini tidak mengenal belas kasihan. Sekali kau melangkah ke jalan ini, tidak ada jalan untuk pulang."
"Aku tidak Peduli ! Aku ingin menjadi agen legendaris seperti Grandma!" sahut Elara penuh percaya diri.
Tiba-tiba Pemandangan itu berputar hebat. Cahaya emas menghilang, digantikan oleh kegelapan yang pekat. Suasana berubah drastis. Elara kini berdiri di sebuah kamar yang dingin, di mana bau bunga melati dan desinfektan memenuhi udara.
Elara melihat dirinya sendiri, saat berusia sebelas tahun, sedang berlutut di samping tempat tidur. Di atasnya, terbaring tubuh tak bernyawa Eleanor.
Dunia Elara kecil hancur. Ia tidak melihat sosok agen tangguh yang selama ini ia kagumi, melainkan hanya seorang wanita tua yang telah pergi untuk selamanya, menyisakan kekosongan yang tidak akan pernah terisi.
"Grandma?" suara Elara kecil serak karena tangisan yang tak henti-hentinya. "Jangan Pergi Grandma bilang kau akan melihatku menjadi agen hebat Kau bilang kau akan mengajariku cara bertahan hidup di dunia yang kejam ini!"
Elara dewasa, yang kini berdiri di antara bayang-bayang memori itu, mencoba menjangkau tubuh dirinya sendiri yang sedang mengguncang bahu Eleanor yang dingin. Namun, tangannya menembus udara kosong.
"GRANDMA! BANGUN!" jerit Elara kecil, suaranya melengking memecah keheningan rumah itu. "JANGAN TINGGALKAN AKU SENDIRI DI DUNIA INI!"
"GRANDMA!"
Elara tersentak bangun di perpustakaan. Napasnya memburu, keringat dingin membanjiri Pelipisnya. Ia tidak sadar bahwa ia telah berteriak cukup keras hingga beberapa mahasiswa di meja seberang menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung dan terganggu.
Elara tersentak dari lamunannya. Suara gaduh di sekelilingnya membuat kesadaran Elara kembali sepenuhnya ke dunia nyata ke perpustakaan yang dingin itu. Ia tidak berada di rumahnya, dan pria yang ada di depannya bukanlah mendiang neneknya, melainkan Dante Moretti.
Dante berdiri menjulang di samping meja, menatap Elara dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa telanjang. Ia tidak sedang menatap Elara dengan tatapan predator, melainkan tatapan yang aneh hampir menyerupai rasa kasihan.
"Kau berteriak memanggil nenekmu dalam tidurmu," Dante berbisik pelan, suaranya tidak terdengar seperti perintah, melainkan sebuah fakta.
Elara langsung bangkit berdiri, menepis tangan Dante yang sempat menyentuh bahunya. "Jangan berani-berani menyentuhku. Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau mengikutiku sampai ke perpustakaan?"
Dante tidak marah. Ia justru meletakkan sebuah kotak makan di atas meja kayu yang beralaskan tumpukan buku sejarah.
"Kau tidak makan seharian. Aku tidak bisa membiarkan letnan baruku mati kelaparan sebelum dia sempat membuktikan kesetiaannya padaku."
Elara menatap kotak makan itu dengan jijik. "Kau pikir aku akan memakan ini? Bagaimana jika kau meracuniku?"
Dante tersenyum sinis, sebuah senyum tipis yang tak mencapai matanya. "Jika aku ingin membunuhmu, Elara, aku tidak akan melakukannya dengan cara yang serendah itu. Aku lebih suka melihatmu menatapku saat nyawamu perlahan menghilang."
Ia berbalik, meninggalkan Elara sendirian di antara rak buku. Elara terpaku, menatap kotak makan itu. Namun, ia tidak punya waktu untuk memikirkan Dante. Ponselnya bergetar hebat di dalam saku. Itu Dave.
Elara mengangkatnya dengan tangan gemetar. " Dave? Kenapa kau menelepon di jam seperti ini?"
"Elara, jangan bersuara, dengarkan aku baik-baik," suara Dave di seberang telepon terdengar serak dan tergesa-gesa, seolah dia sedang bersembunyi. "Aku berhasil menembus enkripsi file lama yang kau minta tentang kematian Grandma Eleanor."
Elara merasakan udara di sekitarnya menipis. "Apa? Apa maksudmu?"
"Data itu tidak hilang, Elara. Seseorang sengaja menghapusnya dari database agensi tahun lalu," suara Dave menekan.
"Aku menemukan laporan otopsi yang disembunyikan. Kematian Grandma bukan karena serangan jantung biasa. Ada residu racun langka yang ditemukan dalam sistem sarafnya."
Elara meremas Ponselnya hingga buku jarinya memutih. " Siapa pelakunya? Siapa yang meracuninya?"
Dave terdiam lama, napasnya terdengar berat di ujung telepon. "Data itu menyebutkan sebuah kode operasi dari sindikat yang bergerak di Eropa Utara. Kode itu adalah The Silent Shadow Elara, The Silent Shadow adalah nama kode untuk operasi pembunuhan yang dipimpin oleh seseorang yang sangat dekat dengan lingkaran inti Moretti saat itu."
Elara merasa ruangan di sekitarnya berputar. "Siapa Pelakunya, Dave? Katakan padaku!"
"Operasi itu," Dave menarik napas dalam, "dikomandoi langsung oleh Dante Moretti."
Elara terhempas ke kursinya, kakinya tidak lagi mampu menopang berat tubuhnya. Dunianya hancur berkeping-keping. Pria yang baru saja berdiri di depannya, pria yang memaksanya menjadi letnan, pria yang telah merayap ke dalam hidupnya... adalah orang yang sama yang merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.
"Apa?"
●●●●