Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin terdesak
"Cv atas nama Sena Setiawan, urus itu untukku," ucap Pradipta pada asistennya-Arkana. Pria yang menjadi drivernya kemarin.
"Sena yang kemarin Pak?"
"Hm."
"Bapak tertarik sama Sena?"
"Mbaknya," ucap Pradipta dengan tatapan fokus pada layar komputer, memeriksa hasil editing karyawannya yang berada di bagian promosi.
"Tapi Bu Alya sudah menikah. Saya tahu pak Dipta kelamaan jomblo, tetapi merebut istri orang ...."
"Sekali lagi kamu bicara, saya akan menendangmu keluar dari ruangan ini Arkana!" Pradipta mendongak dan menatap tajam asistennya yang selalu menistakan dirinya tanpa rasa takut.
Pradipta mendaratkan punggungnya pada sandaran kursi sembari menghela napas panjang. Jemarinya bergerak mengklik pencarian semalam sehingga muncul nama Alya dan putra sulung Ardana.
"Mereka berpisah karena apa? Kenapa nggak ada berita apapun tentang mereka?" gumam Pradipta yang dibuat bingung oleh wanita yang menarik perhatiannya sejak pertama kali bertemu di taksi bapaknya.
Bagaimana wanita itu tertawa, bagaimana dia bicara dan cara memperlakukan seorang driver taksi.
"Sekalinya tertarik sama perempuan malah bersuami," gerutu Pradipta. Pusing sendiri karena tidak tahu apa yang terjadi dalam rumah tangga Alya.
Jika dia tahu penyebabnya, dia bisa beradaptasi dan hati-hati ketika mendekat.
Ponsel di atas mejanya berdering, dan itu dari bapak. Mungkin sudah membaca pesannya.
"Tumben banget kamu nanya-nanya perempuan Dipta. Sudah siap menikah?" tanya bapaknya diseberang telepon.
"Bukan begitu Bapak."
"Bapak nggak tau perempuan itu. Tapi bapak beberapa kali bertemu dengannya dalam keadaan yang sama. Sepertinya hidupnya nggak baik-baik saja, dia selalu menangis."
"Tapi dia selalu tersenyum pada orang yang ditamuinya Bapak."
"Itulah pandainya dia. Kamu jangan deketin dia kalau cuma penasaran, bapak kasian liatnya."
"Iya ... Bapak di sana jaga kesehatan, ibu juga. Kalau bisa tinggal di rumah yang Dipta beli, jangan di rumah tua."
"Kamu ini mentang-mentang sudah banyak uang. Rumah tua yang kamu bicarakan itu punya banyak kenangan bapak dan ibu, belum lagi kamu tumbuh besar di sana."
Pradipta meringis, apalagi panggilan telepon diputuh oleh bapaknya setelah marah-marah. Dia hanya ingin membuat orang tuanya hidup layak dan menikmati kerja kerasnya, tetapi selalu dianggap sombong oleh bapaknya.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mendekatinya?" gumam Pradipta.
"Pak, urusan Sena sudah selesai. Mau saya bantu cari tahu istri orang nggak?" Dan tiba-tiba saja kepala Arkana muncul di balik pintu.
Lantas pulpen di meja Pradipta melayang, beruntung tidak mengenai kepala Rakana yang langsung menutup pintu.
Setelahnya asistennya itu muncul lagi dengan wajah lebih serius.
"Bapak ada jadwal meeting dengan klien setelah makan siang."
"Setelah meeting bapak harus ke aula untuk memeriksa kesiapan resepsi dua hari lagi."
"Dan investor yang kita bicarakan sebelumnya, bersedia bertemu sore harinya."
"Padat sekali. Bagaimana dengan Sena?"
"Sudah di arahkan ke divisi tata rias Pak."
"Oke, saya mau tidur dulu."
"Inilah alasan pak Dipta nggak punya pacar. Soalnya kalau ada waktu tidur mulu."
"Arkana!" teriak Pradipta dan dia hanya mendengar pintu dibanting karena orangnya lari terbirit-birit.
***
Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi sound pemecah keheningan makan malam di kediaman Ardana. Tidak ada pembicaraan hangat seperti saat Alya bersama mereka.
Tidak ada celetukan ringan pembawa suasana dari menantu yang selalu tersenyum dan tidak pernah terluka.
"Aku kangen kak Alya," ujar Adrina tiba-tiba. "Rumah ini berubah sejak kak Alya pergi," lanjutnya, mengambil perhatian Safira yang berusaha fokus pada makanannya.
"Mama juga kangen sama Alya, tapi sepertinya Alya nggak mau ketemu kita lagi. Dia memblokir mama dan papa."
"Adrina juga." Bibir Adrina melengkung ke bawah. "Mungkin karena nggak mau kita memaksanya kembali setelah tahu dia hamil."
"Hamil?" ucap Mama, papa dan Adrian serempak. Safira? Wanita itu seketika panas dingin dan mengenggam gagang sendok sangat kuat.
"Iya kak Alya hamil. Kata pacar aku pas masuk rumah sakit sudah 8 minggu."
"Kamu benar-benar nggak punya hati Adrian!" Papa Adrian mengebrak meja makan. "Menelantarkan istri yang sedang hamil."
"Adrian nggak pernah mau menelantarkannya Pa. Alya yang memilih pergi, dia juga nggak memberitahu bahwa sedang hamil."
"Mana mungkin dia bertahan setelah kau menghamili wanita lain!"
Makan malam yang semula tenang akhirnya berantakan hanya karena celetuka Adrina.
Satu persatu anggota keluarga meninggalkan meja makan, menyisakan Safira dengan kegelisahannya.
Dia sedang hamil saja tidak bisa mengambil hati keluarga suaminya, apalagi sekarang dia keguguran dan fakta bahwa Alya sedang hamil membuat posisinya terancam.
"Mas nggak akan mencari Alya kan? Mas hanya akan mencintaiku saja kan?" tanya Safira, tetapi Adrian hanya diam.
Entah kemana pikiran pria itu, yang pasti tatapannya kosong dan raut wajahnya sangat datar setelah mengetahui wanita yang dia cintai dan sakiti mengandung anaknya.
"Mas Adrian!"
"Diam Safira, pikiranku sedang kacau." Adrian beranjak dan menuju kamarnya. Berbaring di ranjang, menatap langit-langit kamar.
***
"Mbak harus makan yang banyak biar bayinya sehat." Sena menambahkan daging ke piring Alya. Keduanya sedang makan malam bersama penuh bahagia.
"Tapi aneh ya mbak? Biasanya orang hamil banyak maunya dan banyak hal-hal yang bikin nggak mood."
"Itu karena calon anakku sangat pengertian Sena. Dia nggak rewel sama sekali."
"Padahal kalau rewel, aku siap mewujudkan semuanya."
"Kamu ini selalu antusias jika membicarakan janinku." Alya mengelengkan kepalanya. "Bagaimana hari pertamamu kerja?"
"Aman banget Mbak. Mana karyawannya pak Dipta nggak ada sistem senioritas. Anak baru dan anak lama diperlakukan dengan baik."
"Syukur deh kalau lingkungan pekerjaanya baik."
"Makasih ya Mbak sudah ngasih aku pekerjaan."
"Lah yang ngasih kan mas Dipta."
"Tapi karena Mbak. Pak Dipta juga bilangnya harus makasih ke mbak." Sena kembali menyantap makan malamnya.
Sedangkan Alya selesai lebih dulu dan menerima telpon dari ibunya yang menanyakan kabar.
"Baik Bu. Tapi tolong jangan kasih tau siapapun tentang keberadaanku ya. Aku sudah cukup bahagia di sini."
"Iya Nak, ibu juga nggak suka melihatmu menderita. Jalani hidupmu dengan baik di sana."
"Terimakasih Bu."
Alya terus berjalan sambil berbicara dengan ibunya dan ketika akan menutup gorden rumah, dia melihat pria sedang memperhatikan kontrakannya. Pria itu duduk di atas kap mobilnya.
Kadang menatap kontrakannya, kadang layar ponsel.
"Sudah dulu ya Bu, Alya ada urusan sebentar." Alya memutus panggilan dan menghampiri pria tersebut.
"Mas Dipta ngapain malam-malam di depan pagar? Mau ketemu Sena?" tanya Alya. Ya orang yang dilihatnya tadi adalah Pradipta.
"Anu ... itu ... Kamu sudah makan malam?" Pradipta mengaruk tengkuknya. Usia 27 tahunnya tampak tidak berguna di depan Alya.
"Sudah mas, baru saja selesai."
"Ada beberapa tempat yang bagus dinikmati malam hari, kamu mau melihatnya?"
.
.
.
Weh ketika yang patah hati di deketin belum berpengalaman, apa nggak canggung?🤣
Jangan lupa tinggalkan jejak.
makin besar kepala aja diaa....
Biarkan Alya dengan kebahagiaan nya