NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertolongan Chensi untuk Ibu

Dua hari setelah percakapan itu, sebuah tim yang terdiri dari dokter, perawat, dan asisten keuangan yang dipercaya Chensi tiba di kampung halaman Annisa. Mereka datang dengan surat pengantar resmi dan membawa semua dokumen yang dibutuhkan, serta membawa kendaraan khusus yang nyaman untuk mengangkut pasien.

Begitu melihat kedatangan orang‑orang berpakaian rapi dan membawa peralatan medis lengkap, Ibu Sari dan adik Annisa, Anna, terkejut dan langsung waspada. Mereka hidup sederhana, tidak pernah berurusan dengan orang‑orang seperti itu, apalagi saat kondisi mereka sedang lemah dan membutuhkan bantuan.

“Maaf, kami datang atas perintah Tuan Chensi, untuk membawa Ibu Sari berobat ke rumah sakit terbaik di Kota Malaka,” ucap kepala tim dengan nada sopan namun tegas.

Anna segera berdiri di depan tempat tidur ibunya, melindungi dengan tangan terbentang. “Tuan Chensi? Siapa itu? Kami tidak kenal dengan nama itu. Dan mengapa dia tiba‑tiba mau membiayai pengobatan Ibu? Apa maksudnya semua ini?”

Ibu Sari yang masih lemah hanya menatap dengan pandangan bingung dan ragu. “Anna… jangan‑jangan ini ada salah paham? Kita tidak punya kerabat atau kenalan orang kaya jauh di sana.”

“Kami hanya menjalankan perintah, Nona. Semua biaya sudah ditanggung penuh, mulai dari pemeriksaan, operasi, hingga perawatan selanjutnya,” jelas orang itu lagi. “Tapi jika Ibu dan Adik tidak percaya, silakan hubungi Kakak Annisa untuk memastikannya sendiri.”

Tanpa menunggu lama, Anna segera mengambil ponsel dan menghubungi nomor kakaknya. Suara Annisa terdengar dari seberang saluran, dan Anna langsung bertanya dengan nada cemas dan curiga.

“Kak Annisa! Ada orang asing datang ke sini sekarang. Mereka bilang atas nama seseorang bernama Chensi, mau membawa Ibu berobat ke rumah sakit jauh di Malaka. Siapa orang itu sebenarnya? Kenapa dia tiba‑tiba membantu kita? Jangan‑jangan ini ada penipuan atau ada hal yang tidak baik yang Kakak sembunyikan dari kami?”

Mendengar pertanyaan itu, jantung Annisa berdebar kencang. Ia menarik napas panjang, berusaha menjelaskan dengan hati‑hati agar tidak menimbulkan keraguan lebih besar, namun juga tidak membuka semuanya secara mendetail yang bisa membuat keluarganya terkejut.

“Dengar, Anna. Orang yang bernama Chensi itu adalah majikan tempat kakak bekerja selama ini. Dia orang yang sangat berkuasa dan baik hati. Dia tahu kondisi Ibu sedang sakit parah, dan dia menawarkan bantuan ini secara tulus. Semua ini aman, tidak ada penipuan. Percayalah pada Kakak ya…”

“Tapi mengapa dia sebegitunya membantu kita? Kita hanya orang miskin, tidak bisa membalas kebaikannya,” bantah Anna masih tidak percaya. “Dan kenapa harus dibawa ke Malaka? Itu sangat jauh dari sini.”

“Karena di sana ada rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap dan dokter spesialis yang bisa menangani penyakit ginjal Ibu dengan lebih baik,” jawab Annisa lembut namun tegas. “Kakak sudah memastikan semuanya. Jangan ragu lagi, biarkan mereka membawa Ibu ke sana. Ini satu‑satunya kesempatan terbaik agar Ibu bisa sembuh.”

Setelah mendengar penjelasan langsung dari Annisa, Anna akhirnya sedikit melunak. Ia menoleh ke arah ibunya yang mengangguk perlahan. “Jika Kakak yakin, dan ini memang jalan yang diberikan Tuhan… maka kita terima saja. Tapi hati‑hati ya, Kak. Jangan sampai kita terjebak dalam hutang budi yang terlalu berat.”

“Kakak tahu, Anna. Jangan khawatir, Kakak akan menjaga diri dan menjaga harga diri kita,” jawab Annisa dengan suara yang sedikit terguncang.

Begitu telepon ditutup, Anna mengizinkan tim itu untuk memeriksa kondisi ibunya dan mempersiapkan keberangkatan. Dalam waktu singkat, Ibu Sari sudah di papah dan dibawa ke dalam kendaraan yang nyaman.

Di sisi lain, Chensi yang mendengar kabar bahwa keluarganya akhirnya setuju, menghela napas lega. Ia mendekati Annisa yang sedang duduk menunduk, wajahnya tampak bingung dan penuh beban.

“Kau tidak perlu merasa tertekan,” ucapnya lembut. “Membantu ibumu bukan berarti aku menuntut balasan apa pun. Aku hanya ingin melihatmu tenang, agar anak kita juga tumbuh dengan baik.”

Annisa menatapnya, matanya berkaca‑kaca. “Terima kasih banyak, Tuan. Tapi… saya hanya takut. Semakin banyak kebaikan yang Tuan berikan, semakin besar pula rasa hutang budi ini. Saya tidak tahu bagaimana cara membalasnya, dan juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Ibu dan Anna nanti.”

Chensi hanya tersenyum tipis, lalu menepuk lembut bahunya. “Nanti kita pikirkan jalannya satu per satu. Yang penting sekarang, Ibu harus segera mendapatkan pertolongan. Semua hal yang rumit itu bisa kita selesaikan perlahan‑lahan.”

Annisa mengangguk. Namun di dalam hatinya, ia sadar bahwa bantuan ini telah mengikat mereka lebih erat lagi. Jarak yang sempat tercipta mulai menipis, namun teka‑teki tentang masa depan mereka justru semakin mendekat dan harus segera dipecahkan.

Sesampainya di Rumah Sakit besar di Kota Malaka, Bu Sari dan Anna segera ditempatkan di ruang rawat VIP yang sudah disiapkan khusus. Semua kebutuhan mereka terpenuhi tanpa kekurangan sedikit pun, dokter‑dokter terbaik sudah ditugaskan untuk menangani pemeriksaan lanjutan. Namun, Chensi sengaja tidak muncul secara langsung. Ia hanya memantau perkembangan lewat laporan harian dari asistennya, Li Wei.

“Kenapa Tuan tidak menemui mereka? Bukan lebih baik jika Tuan bertemu sekaligus menjelaskan posisi kita?” tanya Li Wei suatu sore.

Chensi menggeleng pelan, tatapannya serius. “Belum waktunya. Jika aku muncul sekarang, mereka akan semakin bertanya banyak hal. Mereka belum tahu kehamilan Annisa, belum tahu siapa aku sebenarnya dalam hidupnya. Biarkan mereka terbiasa dengan perawatan ini terlebih dahulu, jangan buat mereka terkejut dengan hal yang belum siap dijelaskan.”

Namun keputusan itu justru memicu pertengkaran baru. Begitu Annisa mendengar bahwa ibunya sudah ditempatkan dan jadwal operasi sudah ditetapkan minggu depan, ia segera memohon izin pada Chensi.

“Tuan, izinkan saya pergi ke Malaka. Saya ingin melihat Ibu sendiri, ingin mendampinginya saat operasi berlangsung. Saya tidak bisa hanya duduk di sini dan menunggu kabar saja, hati saya gelisah setiap saat,” ucapnya dengan nada memohon, matanya berkaca‑kaca.

Namun Chensi menolak dengan tegas. “Tidak bisa. Perjalanan ke sana jauh dan memakan waktu berjam‑jam. Kondisimu sedang mengandung lima bulan, tidak boleh lelah atau terpapar perubahan suhu yang drastis. Dokter sudah melarangmu melakukan perjalanan jauh tanpa alasan mendesak.”

“Saya bisa menjaga diri, Tuan! Saya hanya ingin berada di sisi Ibu saat dia butuh saya!” bantah Annisa, suaranya mulai meninggi karena emosi. “Kenapa Tuan selalu membatasi kebebasan saya? Bahkan untuk menemui ibu kandung sendiri pun saya tidak diizinkan!”

“Bukan membatasi, tapi melindungi!” jawab Chensi juga dengan nada meninggi, namun segera diturunkan agar tidak semakin memanas. “Aku sudah mengatur semuanya dengan rapi. Ada dokter, perawat, dan orang kepercayaanku yang akan menjaga Ibumu sebaik mungkin. Kamu tidak perlu khawatir, dia akan baik‑baik saja.”

Namun kata‑kata itu tidak mampu menenangkan hati Annisa. Ia merasa keputusannya diabaikan, dan rasa rindu serta khawatirnya dianggap tidak penting. Dengan wajah merah padam menahan amarah dan kesal, ia berbalik dan melangkah cepat menuju kamar. Begitu masuk, ia menutup pintu dengan keras dan menguncinya dari dalam.

“Annisa! Buka pintunya!” seru Chensi mengetuk pintu beberapa kali.

Tidak ada jawaban dari dalam. Hanya keheningan yang menyelimuti.

Chensi menghela napas panjang, tangannya terangkat ingin mengetuk lagi tapi akhirnya jatuh lemas. Ia berdiri di depan pintu itu dengan tatapan lelah dan bingung. Ia tahu niatnya baik, tapi cara penyampaiannya selalu terasa kaku dan membatasi. Ia ingin melindungi, tapi justru membuat Annisa merasa terpenjara.

“Kenapa selalu begini… setiap kali aku berusaha menjaga, justru dia merasa tertekan,” gumamnya lirih.

Ia tahu ia memiliki kunci cadangan pintu kamar itu, disimpan di laci meja kerjanya. Ia bisa saja mengambilnya dan masuk kapan saja ia mau, memaksa Annisa untuk membuka hati dan berbicara. Namun kali ini ia menahan diri. Ia sadar, jika ia masuk dengan paksa, itu hanya akan memperburuk suasana dan membuktikan bahwa ia memang menguasai segalanya bahkan privasi gadis itu sekalipun.

Dengan langkah berat, Chensi berbalik berjalan menjauh dari pintu kamar itu. Ia akan menunggu sampai Annisa tenang sendiri, berharap nanti suasana bisa dibicarakan dengan kepala dingin. Namun di dalam hatinya, ia mulai sadar bahwa ia harus segera menemukan jalan keluar yang jelas—jika tidak, bantuan dan kebaikan yang ia berikan justru akan menjadi tembok yang semakin memisahkan mereka.

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Jalanilah hubungan kalian berdua seperti ini dulu, sambil terus berdoa suatu saat jika Tuhan sudah berkehendak kalian untuk bersatu selamanya.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Chensi saat ini mulai tertarik untuk mempelajarinya, siapa tahu suatu saat nanti atas ijin Yang Maha Kuasa Chensi tidak hanya mempelajari saja namun juga memperdalam ilmunya serta meyakini apa yang sudah ditegaskan di dalam setiap ayat-ayatnya.
Naufal Affiq
semoga chensi mendapat hidayah
Naufal Affiq
bagus chensi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
lanjut kak dewi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
seiring berjalannya waktu semoga hubungan kalian.bisa menemukan jalan yang baik
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
asingkan aliin keluar pulau terpencil biar tidak bisa balik lagi 🙄
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
chensi mana mau dengar wong calon cucu sendiri mau di lenyapkan
Naufal Affiq
bagus chensi,buat mereka jera seumur hidup
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Rukun-rukun ya kalian berdua 🥰👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
hukuman yg pantas buat kalian bertiga mk nya mikir sebelum bertindak
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
memang pengawal bodo hrsnya konfirmasi dl sm tuanmu , trima sj hukumnya nya skrg
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Akhirnya Aulin menerima hukuman dari Chensi, semoga saja dia benar-benar tak akan mengganggu kehidupan Annisa di kemudian hari 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
kasiann Annisa semoga dia tidak apa apa dan Chensi cepat datang menolong 😟😟
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
bego banget penjaganya mudah percaya ditambah iming iming uang lagi harusnya konfirmasi sendiri sama Chensi mengenai kedatangan Ailin🤧😤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
huaa senangnya mendengar pengakuan kalian sekarang jangan galau lagi Annisa nanti Chansi pasti pulang
Naufal Affiq
chensi cepat pulang,annisa di bawa ailin pergi dari rumah mu,alasan kau yang menyuruhnya.tolong annisa vhensi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!