NovelToon NovelToon
Gadis Culun Milik Tuan Marco

Gadis Culun Milik Tuan Marco

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!

JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤

"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"

"MarcoI—itu apa?"

"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."

"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"

"Ssstttt, Cobalah... "

"Ini sakit!"

"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"

"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"

Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.

Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Pagi yang cerah membentang luas. Langit biru dihiasi awan-awan tipis, sementara sinar matahari memantul lembut di permukaan kanal yang terlihat indah. Udara musim semi terasa sejuk, membawa aroma bunga tulip bercampur rumput liar.

Di halaman depan mansion, Marco sudah berdiri dengan pakaian yang jauh lebih santai daripada setelan jas atau pakaian yang saat ia kenakan saat kuliah.

Kali ini Marco mengenakan kaus putih polos, jaket tipis berwarna hitam, celana jeans gelap, dan sneakers putih. Di sampingnya, dua sepeda siap ia naiki kekota.

Liora yang baru keluar dari mansion langsung menghentikan langkahnya. Matanya membulat menatap dua sepeda kayu berada di hadapannya saat ini.

"K—kita... naik sepeda?" tanyanya.

Marco mengangguk santai. "Tentu saja. Ini cara terbaik untuk menikmati kota Amsterdam dengan bersepeda."

Liora menyipitkan mata. "Kenapa tidak naik mobil saja?"

"Karena nanti kau hanya melihat kota dari balik jendela."

"Aku tidak keberatan. Itu lebih bagus, kita tidak akan kelelahan."

"Aku keberatan."

Liora memutar bola matanya dengan malas. "Paman, ya Tuhan"

"Naik."

"Pasti sangat melelahkan."

"Belum juga dikayuh, kau sudah banyak mengeluh. Dasar gadis manja!"

Liora memelototinya. "Hah! Kau memang tidak punya belas kasihan."

Marco hanya tersenyum tipis. Senyum khas seperti seorang yang sengaja mengerjai sang keponakan. "Percayalah. Nanti kau akan menyukainya."

"Aku tidak percaya padamu."

"Yasudah jika kau tak percaya padaku."

Liora benar-benar kesal, tetapi akhirnya menyerah. Ia mengambil salah satu sepeda dengan berjalan malas.

"Jika aku terjatuh, kau harus bertanggung jawab Marco!"

"Astaga, apa kau tidak pernah menaiki sepeda saat kau kecil."

Liora tidak menjawab, Marco menggeleng saja atas perilaku gadis itu sebelum mulai mengayuh sepedanya. Liora segera menyusul dari belakang.

***

Mereka melintasi jalan-jalan berbatu yang sangat bersih dan rapi. Di kanan kiri, rumah-rumah tua bergaya khas Belanda berdiri berjajar dengan jendela-jendela besar yang dipenuhi pot bunga warna-warni. Sesekali terdengar bunyi bel sepeda dari warga lokal yang melintas.

Liora yang awalnya mengeluh perlahan mulai menikmati perjalanan.

"Wow, ini sangat menyenangkan. Tidak seperti yang kubayangkan. "

Matanya sedikit berbinar melihat kanal yang membentang panjang. Airnya tenang, memantulkan bayangan bangunan-bangunan tua yang tampak seperti lukisan. Di beberapa sudut, perahu-perahu kecil berlayar pelan membawa para wisatawan.

"Indah sekali." gumam Liora tanpa sadar.

Marco melirik sekilas ke arahnya. "Aku sudah mengatakannya kan."

Liora tersenyum kecil. Tapi tetap saja ia sedikit kesal pada Marco."Hm, kali ini kau benar."

Mereka terus bersepeda melewati jembatan-jembatan batu yang dihiasi pot bunga warna-warni. Angin sejuk meniup lembut rambut Liora hingga beberapa helainya menari di udara.

Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah lapangan luas yang dipenuhi bunga tulip bermekaran.

Liora langsung menghentikan sepedanya.

"Marco! Berhenti!"

Marco ikut berhenti. Liora sudah berlari kecil menuju hamparan bunga sambil mengeluarkan kamera instannya.

"Jangan bergerak!"

Marco mengangkat alis. "Kenapa?"

"Jadilah modelku."

"Apa?"

"Cepat!"

Marco menghela napas pasrah. "Baiklah."

Liora mulai memotret berkali-kali.

Klik!

Klik!

Klik!

Marco berdiri dengan wajah datar.

"Coba senyum sedikit!"

"Tidak akan."

"Dikit saja."

"Tidak."

"Dasar pelit."

Marco akhirnya mengembuskan napas gusar dan memaksakan dirinya agar tersenyum tipis.

Klik!

Liora melihat hasil fotonya lalu tersenyum puas. "Itu! Jauh lebih bagus."

Marco berjalan mendekat. "Giliranku."

"Hah?"

Sebelum sempat bereaksi, kamera itu sudah berpindah ke tangan Marco.

"Sekarang kau."

Liora langsung panik. "Aku tidak siap!"

"Tadi kau juga tidak memberiku kesempatan."

Marco mengarahkan kamera. "Senyum."

Liora spontan tersenyum, tapi senyum itu bukan senyum tulus. Melainkan senyum yang sedikit terpaksa. Tapi itu tidak menutupi kecantikannya.

Klik!

Hasil fotonya keluar perlahan dari kamera instan. Marco melihatnya sekilas, lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat.

Sangat cantik. Bahkan pemandangan di belakangnya terasa kalah indah dibanding senyum gadis itu.

Marco segera mengalihkan pandangan sebelum pikirannya kembali melayang terlalu jauh.

"Bagus," ucapnya singkat sambil menyerahkan foto itu.

Liora menerimanya dengan wajah berbinar.

"Aku suka!"

Ia memasukkan foto itu dengan hati-hati ke dalam dompet kecilnya. "Itu akan jadi kenang-kenangan terindah."

Marco hanya mengangguk pelan. "Masih banyak tempat yang akan kita datangi."

"Kalau begitu ayo!"

Dengan penuh semangat, gadis itu kembali menaiki sepedanya menyusuri kota tanpa tanpa satu pun keluhan yang keluar dari bibirnya.

Marco mengikutinya dari belakang sembari memperhatikan gerak gerik sang gadis. Melihat Liora tertawa lepas menikmati setiap sudut kota, untuk sesaat semua beban di kepalanya terasa menghilang. Namun jauh di lubuk hatinya, ia sadar bahwa perasaan yang terus tumbuh itu bukan lagi sesuatu yang bisa ia abaikan. Dan itulah yang justru paling ia takutkan.

"Ini sangat menyenangkan!"

Marco yang berada di sampingnya melirik sekilas dengan sudut bibir terangkat.

"Siapa yang mengatakan jika menaiki sepeda itu melelahkan?"

Liora pura-pura tidak mendengar. Ia mengejek Marco, "Hm? Aku tidak mendengarmu Marco!"

"Baru lima belas menit kau mengatakannya, apa kau sudah dimensia."

"Kau berani mengataiku dimensia Marco!" Liora menjulurkan lidah mengejek. "Pendapat orang boleh berubah kapan saja."

"Dasar gadis aneh!"

"Kau paman aneh!"

***

Jalanan pagi itu belum terlalu ramai. Sesekali pasangan lansia melintas dengan sepeda, beberapa anak kecil tertawa riang menuju sekolah, sementara aroma kopi dan roti hangat keluar dari kafe-kafe kecil di pinggir jalan.

Liora terus menoleh ke segala arah. "Paman, lihat!"

Ia menunjuk sebuah jembatan tua yang dihiasi ratusan pot bunga warna-warni.

"Cantik sekali."

"Kota ini memang terkenal dengan jembatan dan kanalnya yang indah."

Liora cepat-cepat mengeluarkan kamera instannya."Tunggu! Jangan bergerak."

"Kau memintaku agar menjadi model lagi."

"Sepertinya kau terlalu percaya diri!"

Klik!

Kali ini yang dipotretnya bukan Marco, melainkan pemandangan kanal dengan sebuah perahu kecil yang baru saja lewat.

"Ini bagus." gumamnya puas sembari Liora memiringkan kepala.

Tak lama kemudian mereka melewati sebuah toko kecil yang menjual stroopwafel hangat. Aroma karamel yang manis langsung membuat Liora menghentikan sepedanya.

Marco ikut berhenti.

"Kau mau kemana?"

Liora menghirup udara dalam-dalam. "Apa kau mencium baunya?"

Marco mengangguk. "Stroopwafel."

"Aku mau."

"Kita baru saja selesai makan."

"Tapi aku menginginkannya."

Marco menahan tawa. "Astaga, gadis culunku apa kau masih lapar?"

"Iya."

Marco akhirnya menurut. Daripada ia melihat sang gadis memajukan bibirnya dengan gemas. "Hmmm baiklah."

Beberapa menit kemudian, keduanya duduk di bangku taman sambil menikmati makanan yang masih hangat.

Begitu menggigitnya, mata Liora langsung membulat. "Enak sekali!"

Lelehan karamel hangat berpadu dengan adonan wafel yang renyah membuatnya tersenyum puas.

Marco memperhatikannya diam-diam.

"Pelan-pelan."

"Tidak bisa. Ini terlalu enak." Melihat ekspresi bahagia gadis itu, Marco ikut tersenyum tertahan.

Selesai makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Di sebuah tikungan, Liora terlalu sibuk melihat bangunan tua di sebelah kiri hingga tidak memperhatikan jalan di depannya.

"Baby girl, hati-hati!"

"Hah?"

Roda depan sepedanya hampir menabrak tiang pembatas.

"Astaga!"

Sepeda itu hampir saja kehilangan keseimbangan. Refleks, Marco segera meraih setang sepeda Liora dan menahannya sebelum benar-benar jatuh.

"Pegang yang benar."

Jantung Liora berdegup kencang. "U-untung ada kau!"

Marco menghela napas lega. "Maka dari itu jangan melihat ke mana-mana saat kau sedang mengayuh."

Liora tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya. "Aku ceroboh."

"Ya, kau sangat ceroboh!"

Marco menggeleng pelan. "Kalau sampai kau jatuh, ibumu bisa menyalahkanku."

Liora tersenyum jahil. "Itu berarti kau memang harus menjagaku dengan benar."

Marco menatapnya beberapa detik, lalu "Itu memang tugasku."

Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat Liora terdiam sejenak. Ada kehangatan yang tak bisa dijelaskan memenuhi dadanya. Namun sebelum suasana berubah menjadi canggung, Marco kembali berjalan lebih dulu

"Ayo. Masih ada satu tempat lagi yang ingin kutunjukkan."

Liora segera tersadar lalu tersenyum lebar.

"Kalau begitu, kita taruhan saja sampai sana!"

Belum sempat Marco menjawab, gadis itu sudah mengayuh sepedanya sekencang mungkin sambil tertawa riang.

"Hei! Curang!" seru Marco sambil mengejarnya.

Tawa mereka begitu ruang. Semilir angin pagi, mengiringi perjalanan menyusuri indahnya kota Belanda yang seolah menjadi saksi semakin dekatnya hubungan mereka, meski keduanya masih belum berani mengakui apa yang sebenarnya mulai tumbuh di dalam hati masing-masing.

"Sebentar!" seru Liora.

Marco menghentikan sepedanya. Liora mengangkat ponselnya sambil tersenyum. "Aku akan membuat video."

"Apa kau ini memang tidak bisa jauh dari kamera."

"Tentu saja. Momen seperti ini harus diabadikan Marco."

Marco menelan ludah dan tak percaya dengan sisi lain dalam diri Liora. Gadis itu mulai merekam.

"Halo semuanya! Hari ini aku sedang keliling Amsterdam. Lihat ini cantik sekali!"

Kamera ponselnya berputar menampilkan kanal, jembatan kecil, bunga-bunga warna-warni, lalu tanpa sengaja mengarah kepada Marco yang sedang berdiri sembari memegang sepedanya.

"Dan ini dia pemandu wisataku hari ini."

Marco langsung mengangkat sebelah alis.

"Pemandu wisata?"

"Iya."

"Gratis?"

Liora tertawa. "Tidak. Aku hanya membayarnya menggunakan es krim."

Marco ikut terkekeh. Video itu kemudian diunggah Liora ke Instagram Story. Tak butuh waktu lama, notifikasi balasan mulai berdatangan.

Belum sempat ia membaca semuanya, ponselnya berdering. Nama Karens muncul di layar.

Liora terkejut, segera mengangkatnya. Perasaan tak enak merayap dalam dirinya.

"Halo?"

Suara Karens langsung terdengar heboh dari seberang sana.

"WOAH! Jadi benar kau sedang bersepeda dengan paman tampanmu itu?"

Mata Liora langsung membulat. "K-Karens!"

"Aku baru saja melihat Instagram Story-mu! Astaga, dia tampan sekali memakai pakaian santai. Kalian seperti pasangan yang sedang berkencan!"

"APA? Jangan bicara sembarangan!"

Wajah Liora seketika memerah. Marco yang berada tak jauh darinya melirik penasaran.

"Kenapa?"

Liora cepat-cepat menoleh sembari menggeleng cepat. "Tidak ada apa-apa!"

Di seberang telepon, Karens justru tertawa semakin keras. "Hahaha! Liora, wajahmu pasti memerah sekarang!"

"Tidak!"

"Bohong. Aku hafal sekali kalau kau sedang malu."

"Aku tidak malu!"

"Oh ya? Coba keraskan sedikit suaramu. Biar aku bisa menyapa Paman Marcomu itu."

"Jangan berani-berani!"

Sial! Gadis absurt itu benar-benar mempermalukan Liora. Membuatnya malu dihadapan Marco.

"Tolong sampaikan ya, dia cocok sekali menjadi model majalah."

"Karens tutup mulutmu!"

Liora sampai menghentakkan kaki karena gemas. Melihat tingkah Liora begitu kesal Marco merasa curiga.

"Karens lagi?"

Liora menutup mikrofon ponselnya dengan tangan.

"Iya."

"Apa dia menggodamu lagi?"

Liora mengembuskan napas panjang. "Hmm."

"Tentang aku?"

Liora hanya bisa mengangguk pelan. Marco menahan senyum, sementara dari ponsel kembali terdengar suara Karens.

"Eh, Liora! Jangan-jangan Paman Marco ada di sampingmu, ya?"

Liora memejamkan mata sesaat.

"Waduh! Halo, Paman Marco! Tolong jaga sahabatku baik-baik, ya!"

Marco yang mendengar suara itu dari jarak dekat ia menjaga ekspresi seketika. Ia kemudian mendekat sedikit ke arah ponsel.

"Halo, Karens."

Di seberang sana terdengar suara terkejut.

"YA AMPUN! SUARAMU SANGAT TAMPAN!"

Liora spontan menepuk dahinya. "Karens! apa kau sudah kehilangan akal? "

"Hahaha! Baik, baik. Aku tidak mengganggu lagi. Selamat menikmati kencannya!"

"Ini bukan kencan!"

Belum sempat Liora menjelaskan lebih jauh, sambungan telepon sudah lebih dulu diputus oleh Karens. Liora menatap layar ponselnya sembari meremas ponsel itu.

"Dasar Karens."

Marco melepas tawanya. "Temanmu memang sangat suka menggodamu ya?"

Liora menghela napas panjang sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Kalau sudah mulai menggoda, dia memang tidak ada obatnya."

Marco tersenyum kecil. "Kurasa, dia cukup lucu."

"Lucu untukmu. Tidak untukku."

Marco akhirnya tertawa pelan. Melihat sang gadis yang begitu kikuk, ntah mengapa perjalanan pagi itu terasa jauh lebih menyenangkan daripada yang ia bayangkan.

1
Lilyyy
HALLO GUYS, JANGAN LUPA BERIKAN ULASAN YA JIKA BERKENAN TRIMAKASIH UNTUK YANG SUDAH MAMPIR 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!