Daniel, Minami dan Latifa. Tiga sahabat yang bermimpi membangun sebuah roket bersama. Impian besar ini mereka rancang sedari mereka masih berada di sekolah dasar. mereka berambisius untuk membangun roket bersama.
Namun kondisi Latifa begitu kritis, disaat-saat terakhirnya, Latifa ingin impian mereka tetap berjalan meski tanpa dirinya.
Daniel dan Minami berjanji untuk menuntaskan misi besar yang diberikan Latifa sebelum dirinya tiada.
ini adalah kisah tiga sahabat yang bermimpi membawa umat manusia selangkah lebih maju.
ManuverNine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awazaki Chiru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
• Heze
Malamnya Daniel dan Minami pergi berdua untuk melihat bintang-bintang di hutan yang menjadi tempat reunian dadakan mereka kemaren.
"Waduh, Daniel. Kamu yakin kita ke sini lagi?" Ucap Minami sembari membawa kursi kayu.
"Iya, aku membawa mu ke sini karna tempatnya cocok!" Jawab Daniel.
"kamu kenapa bawa aku ke tempat sepi, sih? aku jadi curiga dengan niat burukmu!" Minami mencurigai Daniel karena ia dibawa ke tengah hutan yang sunyi dan gelap.
"Kau menganggapku apa sih?" Ucap Daniel
"Yaaa, aku menganggap mu sebagai cowok, jadi aku sebagai cewek wajib waspada denganmu" Minami menjawab dan perlahan menjauh.
"Ahh, Terserah kamu saja, deh!" Ucap Daniel
..
Sepanjang perjalanan Daniel dan Minami hanya membicarakan hal tidak penting, layaknya seorang sahabat, mereka mengoceh hal receh yang sebenarnya tidak berbobot, tapi dengan itu mereka berdua jadi semakin dekat.
Akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan yang sedari kemaren ingin Daniel datangi namun tak sempat.
"Jadi kemaren kamu pengen ke sini, ya?" Tanya Minami.
"Iya, aku melihat potensi tempat ini untuk menjadi landasan roket kecilku nanti." Jawab Daniel.
Daniel mulai memasang teleskopnya dan juga mengatur arah bintang yang ingin ia amati.
"Tempat ini indah, bagaimana kamu bisa tau bintang bisa dilihat dari tempat ini?" Minami mengagumi tempat yang Daniel pilih, ia menanyakan kepada Daniel bagaimana caranya Daniel bisa tau kalau tempat itu bisa jadi lokasi melihat bintang yang indah dan terang.
"Gampang aja, Ini kan tempat gelap dan jauh dari keramaian, hanya dengan itu aku bisa melihat bintang-bintang dengan jelas karena polusi cahaya tidak ada di sini" Jawab Daniel yang menjelaskan kenapa dirinya bisa mengetahui bintang bintang bisa dilihat dengan jelas.
"Jadi, kamu mau liat bintang apa?" Tanya Minami
"Aku akan mengamati bintang bernama Heze. Bintang yang berada di konstilasi Virgo yang dapat kita lihat di bulan Juli ini!" Jawab Daniel sembari mencari lokasi bintang Heze.
"Tau, gak Minami. Kalau Virgo itu adalah lambang kesucian bagi wanita. dan bintang Heze tuh adalah bintang dengan sistem ganda" Daniel mulai menjelaskan tentang bintang Heze yang ia ketahui.
"Maksudnya bintang ganda, apa, ya?" Minami tidak mengerti apa maksud Minami.
"Sistem bintang ganda tuh, sistem yang membuat 2 bintang mengorbit titik pusat gravitasi, jadi dia terlihat seperti berdansa. kamu bisa bayangkan saja dengan matahari yang sama-sama mengitari titik pusat gravitasi yang sama. nah itulah sistem bintang ganda!" Daniel menjawab dan menjelaskan apa itu sistem bintang ganda kepada Minami.
"Wah, gimana jadinya kalau itu beneran terjadi di matahari kita , ya!" Minami mulai suka dengan pembahasan yang Diberikan oleh Daniel.
"Waduh, jangan sampai terjadi. Kita adalah orang yang paling beruntung, soalnya matahari ini sistem tunggal yang langka di alam semata, Hampir seluruh bintang di alam semesta ini punya sistem ganda, jadi kita salah satu yang beruntung!" Daniel berjalan mendekat ke arah Minami. Minami yang bingung hanya bisa diam saat Daniel datang ke hadapannya.
"Kenapa kamu mendekat, Daniel?" Ucap Minami yang kini tak berani bergerak.
"Coba kamu lihat telescope-nya." Ucap Daniel.
Minami perlahan mendekat ke telescope dan Daniel menyuruhnya untuk melihat bintang yang sudah Daniel arahkan.
mata Minami berbinar-binar saat melihat bintang Heze. Warna biru putih yang indah menyilaui matanya, meski tak terlihat jelas, Minami mengaguminya. Ini adalah kali pertama Daniel mengajaknya ke tempat seindah ini. di desa dahulu sebelum mereka berpisah, Daniel tidak pernah menunjukan hal ini. ia hanya bercerita tentang indahnya langit malam tanpa memperlihatkannya secara langsung.
Entah mengapa, Minami menangis, air matanya keluar. ia tak bisa membayangkan bahwa dirinya bukan siapa-siapa.
"Kau tau, Minami? bintang itu jaraknya 75 tahun cahaya dari kita, meski dengan kekuatan cahaya, Kita perlu 75 tahun ke sana, itu hampir seluruh hidup manusia moderen saat ini." Daniel mendekat ke Minami. Ia mengarahkan teleskopnya ke bintang Spica yang tepat berada di sampinya.
"Sekarang lihat, Ini adalah Spica, Bintang kesukaanku. Ia begitu terang di rasi Virgo." Daniel mengarahkan teleskopnya ke bintang Spica.
minami melihat lagi ke dalam teleskop, ia melihat bintang yang terangnya sangat jelas, lebih jelas dari bintang sebelumnya.
"Daniel, Makasih sudah mau ngasih lihat indahnya alam semesta!" Ucap Minami.
"Tentu, kamu harus ingat juga, bahwa kita itu hanyalah butiran debu, bahkan lebih kecil dari debu, mungkin kita kayak Proton karena saking kecilnya." Ucap Daniel.
"Kita memang hanya manusia, manusia yang banyak mimpi, manusia yang kebelet akan kekuasaan, manusia yang serakah, manusia yang hina. tapi kita harus tau, dalam diri kita itu ada miliaran kehidupan dan miliaran sisa antariksa" Daniel berjalan ke kursi lipat yang dibawa Minami sebelumnya dan menyuruh Minami untuk duduk di sini sambil melihat langit malam yang indah.
Minami perlahan duduk di samping Daniel dan melihat ke atas, tepat ia melihat ratusan ribu bintang. Mata Minami berbinar-binar melihat keindahan ini, di desa ia tak pernah melihat pemandangan seindah ini, di desa sama seperti di Kota, Minami hanya melihat banyaknya lampu jalan. namun di kota ia tak menyangka bisa menemukan keindahan kosmos seperti ini.
"Daniel, entah kenapa aku mulai menyukai kosmos sama sepertimu, bisakah kau mengajarku?" Di hari itu, minami mengagumi indahnya langit malam, ia berharap suatu hari nanti ia bisa melihat keindahannya secara langsung.
"Daniel, Aku ingin menjadi seorang Astronot!" Ucap Minami.
"Ehh?? serius?? ini bukan mimpi dadakan karna hanya melihat langit, kan?" Daniel terkejut mendengar permintaan Minami yang nyeleneh.
"Bukan, aku tidak mengigau aku beneran ingin jadi astronot" ucap Minami
"Jadi astronot itu gak mudah, Lho! butuh latihan bertahun-tahun dan kompentensi yang luar biasa, belum lagi latihannya yang bikin kamu pusing dua ratus ribu keliling." Daniel mengucapkan keseluruhan bintang yang ada di Galaksi Bima Sakti.
"Aku tak peduli, suatu saat aku akan jadi astronot!" Ucap minami Sembari berpose kece.
"Kamu bahkan lupa janji kita dahulu untuk membuat roket bersama!" Ucap Daniel.
"Ah, iya aku lupa... hehe" Minami ternyata lupa dengan janji mereka.
"kalau begitu, Roketnya kamu dan Latifa yang buat, sedangkan aku jadi pilot roketnya. gimana? adil, kan?" Minami meyakinkan Daniel agar Minami bisa diajari.
"astaga, Cewek cantik ternyata bisa gini juga, ya!" Gumam Daniel.
"Yaudah, aku bantu. tapi harus serius, ya!" Daniel serius dengan perkataannya.
"Benera? asikkk!!!" Minami kegirangan dengan jawaban Daniel yang akan membantunya menjadi seorang Astronot Perempuan.
"Kalau begitu siap-siap, ya! aku keras dalam mengajari orang" Ucap Daniel.
Malam itu mereka habiskan dengan tenang, melihat bintang-bintang indah yang berkilauan.
...
"Entah dari kapan, aku menyukaimu, Daniel"