"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAKIT 31
Ughhhh
Mita menggeliat. Ketika dia sudah membuka mata sepenuhnya, kesadaran wanita itu pun sepenuhnya terkumpul dan menimbulkan rasa kaget saat mendapati dirinya sudah terbaring di tempat tidur lengkap dengan selimut yang menutup tubuhnya.
"Astagfirullah, aku beneran ketiduran sampai nggak sadar. Duuuh maluuuuu,"ucapnya lirih.
Mita yakin 100% bahwa Lingga lah yang menggendongnya dari mobil ke kamar. Ia mengusap wajahnya kasar, malam ini banyak sekali hal memalukan dari dirinya yang dilihat oleh Lingga.
"Ughhh bagaimana aku bisa ngadepin dia besok,"ucapnya lagi.
Mita menyibakkan selimutnya, lalu melirik ke arah jam dinding yang> Waktu menunjukkan pukul 01.00 lewat tengah malam.
Mita ingat bahwa dirinya tadi belum menjalankan kewajiban sholat malam. Ia pun bergegas untuk melakukannya. Tak membutuhkan waktu lama, Mita sudah selesai dengan hal wajib tersebut.
Namun matanya tak kunjung bisa terlelap kembali. Alhasil Mita memilih untuk mengambil handphone dan membuka media sosialnya.
Mata Mita membelalak saat mendapat banyak pesan di media sosial. Mereka yang mengiriminya pesan dalah Erdio dan Medi.
Milik Erdio tak dibaca olehnya karena Mita sudah tahu apa isinya. Ya MIta sudah bisa menebak apa isi pesan dari Erdio. Sehingga dia memilih membuka pesan dari Medi.
Di dalam pesan tu, Medi menceritakan tentang kejadian buruk yang menimpanya. Keguguran, ternyata ucapan Erdio tentang Medi benar adanya.
"Aku keguguran, Mas Erdio lagi nyari kamu lagi. Dia ngomong nggak mau cerai sama kamu. Kamu seneng kan? Kamu seneng kan pasti ngelihat aku keguguran terus ditinggalin kayak gini?
Begitulah isi penan yang diberikan Medi kepada Mita. Tentu saja Mita hanya membacanya dan tak ingin membalas pesan tersebut.
Baginya apa yang dikatakan Medi tak memiliki arti apapun untuknya. Dan jujur saja apa yang terjadi pada Medi sama sekali tak menyentuh hati Mita. Ia sama sekali tidak merasa kasihan dan sama sekali tidak merasa iba atas apa yang terjadi pada Medi.
Bukannya Mita tidak merasa kasihan terhadap bayi dalam kandungan Medi, namun ia merasa bahwa lebih baik demikian. Jika anak itu lahir, mungkin anak itu menjadi lebih kasihan lagi mengingat Erdio yang sama sekali tidak menginginkan anak itu. Buktinya, Erdio merasa sangat senang ketika bercerita soal Medi yang keguguran.
"Haaah, begini kah akhir dari keluarga kita ini, Pak? Aku pikir, aku bisa hidup bersama Erdio dalam waktu yang lama. Dan aku pikir, akan melihat Medi menikah dengan kekasihnya. Lalu kita bersama-sama memiliki anak yang lucu, menjadi keluarga yang lebih besar lagi. Tapi ternyata nggak gitu. Harapanku, impianku, semuanya kandas bahkan tak lama setelah aku menikah. Hahaha, lucu banget rasanya. Tapi aku bersyukur, bapak udah nggak ada saat kejadian ini menimpaku. Kalau bapak masih ada, bukannya bapak akan sedih? Pak, Buk, tenang disana ya? Aku akan hidup lebih baik lagi setelah ini."
Mita janji kepada dirinya, bahwa tadi adalah kejadian terakhir dirinya ketakutan menghadapi Erdio. Dia berjanji untuk kuat dan lebih berani lagi dalam menghadapi Erdio.
Satu hal yang Mita tekankan bahwa Erdio bukan lagi siapa-siapa di dalam hidupnya. Mita membuang semua rasa cinta dan sayangnya kepada pria itu, pria yang tak akan pernah ia inginkan kembali masuk di dalam kehidupannya.
Mita kemudian kembali naik ke ranjang. Dia merebahkan tubuhnya, dan tak lama kemudian matanya kembali terpejam.
Sekarang, tangis itu sudah tak ada lagi. Hatinya yang sakit pun mulai tersamarkan. Mita terus mengafirmasi dirinya sendiri bahwa menangisi dan merasa sakit hati kepada Erdio dan Medi tak perlu berlama-lama.
Malam itu berlalu dengan cepat. Malam yang diawali dengan rasa takut, kini diakhiri dengan senyuman cerah dan semangat untuk menghadapi hari yang baru.
Selepas adzan subuh Mita langsung pergi ke dapur. Di sana ada seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan. Wanita itu mengenalkan dirinya dengan nama Sri. Sri ternyata istri dari sopir Lingga yang bernama Ramlan.
Dengan Ramlan, Mita tentu pernah mengenal. Namun dengan Sri, dia baru kali ini melihat.
"Saya Mita, Bu Sri. Salam kenal nggeh," sapa Mita sopan.
"Salam kenal juga Mbak Mita, panggil aja saya Sri," jawab Sri dengan senyum ramahnya.
"Ah ndak enak kalau saya manggil langsung nama. Saya manggil nya Bu aja ya, biar enak. Bu Sri mau bikin sarapan kah? Mau bikin apa, biar saya bantu," ucap Mita.
"Kalau pagi gini, nggak repot kok Mbak. Den Lingga, Mas Bari dan Mas Wilson biasanya cuma ngopi aja. Paling sih makan roti kalau mau. Jadi sekarang saya cuma nyiapin apa yang mau dimasak nanti siang," jelas Sri.
"Oh gitu, ya udah aku bantu ya nyiapin rotinya. Jangan dilarang, soalnya aku bingung juga mau ngapain ini, Buk hehehe."
Sri hanya mengangguk kecil. Pada dasarnya Sri sudah diwanti-wanti oleh Lingga untuk membiarkan Mita melakukan apapun yang diinginkannya. Maka dari itu, Sri tidak akan melarang Mita membantunya.
Matahari mulai terlihat, para lelaki itu satu per satu muncul dari kamar mereka dan duduk bersamaan di meja makan.
Sejenak Mita merasa terhipnotis dengan mereka. Ia baru sadar bahwa ketiga pria itu memiliki ketampanan yang luar biasa.
"Kenapa kalian masih jomblo, padahal ganteng-ganteng lho," celetuk Mita tiba-tiba.
"Waduh, mimpi apa aku semalem pagi-pagi udah dapat pujian ganteng. Mit, makasih lho. Hari ini pasti aku bakalan sangat semangat kerjanya. Buset, kapan lagi coba pagi-pagi dipuji ganteng sama seorang Swastamita yang dari dulu terkenal nggak iyeng-iyengan sama cowok," Sahit Bari dengan mata berbinar-binar.
Sedangkan dua pria lainnya hanya diam dengan wajah datar. Namun Mita bisa melihat senyum tipis di bibir Lingga, hanya saja itu cuma sekian detik saja.
"Mit, udah siap kerja?" tanya Lingga.
"Sudah sih Pak, tapi baju kerja saya nggak ada," jawab Mita.
"Ya udah besok aja, nanti beli dulu. Bari besok kamu masuk kerjanya," balas Lingga.
Dengan mata yang berkedip, Bari berkata, "Mit, kamu tadi bilang kan kenapa kami jomblo. Jawabannya adalah karena si bos belum dapet pasangan. Makanya aku sama Wilson juga nggak punya. Kalau Bos udah dapet, yakin deh kamu juga. Nah Mit, coba cariin jodoh buat si Bos. Biar kami juga punya pasangan juga. Kalau nggak, kamu aja Mit yang jadi pasangan si Bos."
Eh?
TBC
typo kak
stidak nya kasih epilog lh,spya tau lingga nnggu Mita menerima perasaannya brapa lama,,