NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tirimu Adalah Balas Dendamku

Menjadi Ibu Tirimu Adalah Balas Dendamku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

​Dixon tidak langsung merespons kalimat pasrah Cia. Pria berusia 39 tahun itu justru menyunggingkan senyum miring yang teramat dingin, seolah ia baru saja memenangkan sebuah permainan tebak-tebakan. Tatapan elangnya menyipit, mengunci wajah Cia yang masih basah oleh air mata.

​"Benarkah?" tanya Dixon, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan nada meremehkan. Pria itu perlahan menarik kembali kedua tangannya yang mengurung Cia, lalu mundur dua langkah dan bersedekap di dada. "Maka buat surat pengunduran dirimu sekarang juga. Saya tidak butuh karyawan yang membawa masalah pribadi ke dalam kantor saya."

​Deg.

​Bagai dihantam godam tak kasat mata, jantung Cia berdegup sangat kencang. Di balik wajahnya yang tertunduk ketakutan, batinnya menjerit panik. Rasa takut yang teramat sangat seketika merayap di ulu hatinya.

​“Sial! Kenapa reaksinya begini? Dia beneran menyuruhku mundur?!” jerit Cia dalam hati. Rencana brilian yang ia susun di apartemennya mendadak berantakan. Ia mengira ego Dixon akan menahan dirinya, tetapi pria sedingin es ini justru mendepaknya tanpa keraguan sedikit pun.

​Namun, Cia sudah terlanjur basah. Jika di detik ini ia menarik kembali kata-katanya dan memohon untuk tetap bekerja, penyamarannya sebagai gadis lugu yang ketakutan akan terbongkar. Dixon pasti akan langsung tahu bahwa dia memiliki motif terselubung. Bagaimanapun juga, Cia harus mengambil risiko terbesar ini demi menjaga harga diri topengnya.

​"B-baik, Tuan... saya akan membuatnya sekarang," cicit Cia dengan suara yang bergetar menahan tangis. Ia membungkuk hormat dengan tubuh yang gemetar, lalu buru-buru memutar kenop pintu dan keluar dari ruangan neraka itu.

​Kurang dari lima belas menit kemudian, Cia kembali ke ruangan lantai teratas. Di tangannya, selembar kertas putih berlogo perusahaan—surat pengunduran diri resmi—telah tercetak dengan tanda tangannya di atas materai.

​Cia melangkah mendekati meja marmer hitam Dixon dengan kepala yang terus tertunduk. "Ini surat pengunduran diri saya, Tuan Dixon," ucapnya lirih, meletakkan kertas itu dengan tangan yang sengaja dibuat gemetar di atas meja.

​Dixon menatap kertas itu sekilas, lalu beralih menatap wajah Cia. Senyum miring yang penuh kemenangan kembali terukir di bibir tipisnya yang kokoh. Tanpa sepatah kata pun, Dixon menyambar pena mahalnya, lalu menggoreskan tanda tangan tegas di atas kertas tersebut dalam sekali tarikan.

​Sret.

​"Mulai detik ini, kau resmi berhenti dari perusahaan saya," ucap Dixon dingin, mengempaskan kembali pena itu ke atas meja. Tatapannya datar, seolah keberadaan Cia tidak lebih dari sekadar angin lalu yang tak berarti.

​Dada Cia terasa sangat sesak. Rasa kecewa, marah, dan syok bercampur aduk menjadi satu di dalam hatinya. Taruhannya gagal total. Aksesnya untuk mendekati Dixon dan membalas dendam pada Amora telah terputus di hari pertama.

​Namun di depan Dixon, Cia tetap mempertahankan sisa-sisa aktingnya. Ia buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan, memasang wajah yang sangat gugup, takut, sekaligus terluka.

​"T-terima kasih atas bimbingannya selama ini, Tuan... Maafkan kesalahan saya," ucap Cia terbata-bata. Ia memberikan satu anggukan hormat yang dalam, lalu berbalik dan melangkah pergi dengan tergesa-gesga, seolah ia ingin segera lari dari hadapan sang monster.

​Suasana di kubikel Divisi Analisis Pasar mendadak heboh ketika Cia kembali dengan wajah sembap dan sebuah kardus kosong di tangannya. Rekan-rekan kerjanya, termasuk Citra, langsung mengerubunginya dengan wajah panik.

​"Valencia! Ada apa? Kenapa kamu bawa kardus? Kamu nggak beneran dipecat 'kan?!" tanya Citra setengah histeris.

​Cia hanya menggeleng lemah, memaksakan sebuah senyuman tipis yang terlihat sangat menyedihkan. "Aku... aku mengundurkan diri, Cit. Ada masalah mendesak yang harus aku selesaikan," jawab Cia lirih, sengaja tidak memberi tahu detail aslinya.

​Dengan tangan yang masih lemas, Cia mulai memberesi barang-barang pribadinya dari atas meja kerja yang sudah ia tempati selama tiga tahun terakhir. Satu per satu barangnya dimasukkan ke dalam kardus kotak pensil murah, cangkir kopi kesayangannya, hingga piagam penghargaan karyawan terbaik yang baru beberapa puluh menit lalu ia terima dengan bangga. Piagam yang kini terasa seperti sebuah lelucon pahit.

​Rekan-rekan kantornya menatap Cia dengan pandangan iba yang mendalam. Mereka tidak menyangka, Valencia si pegawai teladan yang baru saja mendapat penghargaan, harus pergi dengan cara mengenaskan seperti ini setelah dipanggil ke ruangan Direktur Utama.

​Cia mengangkat kardus besarnya, memeluknya erat di dada. Sembari melangkah keluar dari ruangan divisi menuju lift, matanya menatap lurus ke lantai marmer.

​Rasa takut dan kecewa yang sempat melandanya perlahan menguap, digantikan oleh kobaran api dendam yang justru menyala berkali-kali lipat lebih dahsyat di dalam dadanya.

​“Gue emang kalah di langkah pertama, Tuan Dixon,” batin Cia dengan kilat mata yang mendadak berubah menjadi sangat tajam dan sedingin es saat pintu lift tertutup. “Tapi jangan pikir permainan ini selesai. Kalau gue nggak bisa mendekat lewat jalur formal sebagai pegawaimu... gue akan cari cara lain yang jauh lebih liar untuk masuk ke dalam hidupmu dan menghancurkan putrimu!”

1
Hasti Asti
semangat terus kak berkata, cerita kamu bagus
sryharty
sebelum pembalasan kamu terendus Amora,,kamu harus bikin duda karatan bertekuk lutut sama kamu cia,,biar si duda ga bisa jauh2 dari kamu,,kalo jauh dari kamu langsung gila,,jadi nanti si Amora tidak bisa banyak tingkah
aku
kudukung pembalasanmu dg 🌹 go cia go!!
aku
aduh aq juga tercia cia nih 😁 gasss ciaaaa 😃
Hasti Asti
lanjut kak😍
sryharty
kenapa seh ka up nya irit banget
Shion Hin
hohoho mulai seru 🔥🔥🔥
Marsya
wah mw nambah bacanya lagi,klanjutannya pasti lbih seru🤭🤭🤭🤭
Shion Hin
ayo kak semangat... 🔥🔥🔥🙏
sryharty
kenapa up nya cuma satu2 yah
Yuyun Suprapti
crazy up dong kk thor🤭💪
Shion Hin
😍
Rahman Hayati
wow
selanjutnya rencana lebih menantang lagi Thor, mungkin buat dia belajar beladiri dikit lah
saran thor
sryharty
ka doubel up lah
sryharty
😁 pokonya kamu harus jual mahal cia,,jangan kejar2 duda karatan
biar dia yg tercia dan ga bisa jauh sama kamu
Rahman Hayati
jgn terlalu tua lah Thor yg sedang sedang saja umurnya
sryharty
semoga sampai selesai alurnya masih bagus
sryharty
si duda karatan udah mulai Ter cia2 neh
ayo cia kamu harus kuat
balas semua rasa sakitmu ke Mora..
kamu jangan gegabah tarik ulur si duda karatan biar dia penasaran sama kamu
lanjut yu ka up nya bagus loh cerita kamu
Shion Hin
huaaaa.... gk sabar deh ... 🥺
sryharty
pasti nanti cia hamil,,bawa kabur nanti anaknya cia
biar si duda karatan kelabakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!