NovelToon NovelToon
Love Me Back

Love Me Back

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.

"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.

"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.

"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.

Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lmb13

Karena Sian harus menghadiri rapat penting dia terpaksa meninggalkan Ryn di rumah sakit. Tak lupa menitipkannya ke dokter Lea yang kebetulan jaga pagi. Ryn sebenarnya malas minum banyak sekali obat tapi Sian mengancam akan menghukumnya setelah sembuh jika tidak menurut.

Selama ini setiap sakit Ryn jarang periksa ke dokter, hanya membeli antibiotik di apotek itupun kalau dia ingat.

Tok tok...

Pintu terdengar diketuk oleh seseorang dari arah luar. Ryn menyahut agar dia masuk saja. Kemunculannya membuat Ryn berpikir sejenak, apa dirinya menimbulkan masalah sehingga tuan Lee Tak datang menemuinya?

"Aku tahu kau gadis pintar. Kau bisa bersama Sian kapanpun, tapi kau juga harus ingat posisimu nona Zhao Ryn!" Seperti dugaan Ryn, Lee Tak pasti meminta Ryn menjauh dari Sian.

Lalu Ryn bisa apa? Mereka telah sama-sama terikat sekarang. Bahkan Ryn tidak tahu jalan keluarnya.

"Jika anda saja tidak mampu mengatur Sian, lantas apakah aku bisa? Tuan sebaiknya membahas ini dengannya." Ryn memberi saran agar Lee Tak membicarakan masalah perjodohan itu bersama Sian, bukan dirinya.

"Kau hanya anak gundik nona, reputasi Sian akan buruk saat publik tahu hubungan gelap kalian." Benar apa yang Lee Tak katakan, Ryn seperti noda menempel di hidup Sian. Dia tersenyum tipis menanggapi hinaan pria paruh baya di ujung brankar.

"Aku tidak akan membiarkan Sian jatuh." Ujar Ryn berjanji pada dirinya sendiri dihadapan Lee Tak.

Lee Tak diam. Akan sulit menyuruh Ryn menjauhi Sian, dia memutuskan pergi dan akan merencanakan hal lainnya. Sian boleh saja bermain dengan siapapun asal tidak mempengaruhi nama baiknya, juga jangan sampai memiliki anak kecuali dari istrinya sendiri.

Sedangkan Sian dia hari itu sangat sibuk mengecek beberapa laporan setelah rapat penting bersama klien. Perusahaan memang menjadi miliknya namun masih ada campur tangan Lee Tak tentunya. Beberapa kondisi kadang tidak Sian sukai karena itu keputusan Lee Tak langsung. Contoh jelasnya pernikahan bisnis dirinya dan Yuri Chen. Alasannya klise, Lee Tak ingin perusahaan Chen menangani proyek besar mereka selanjutnya.

"Kau sudah meminta izin cuti untuk Zhao Ryn?" Di sela jeda pekerjaannya Sian masih mengingat Ryn.

"Sudah tuan. Mereka mengerti karena nona kelelahan akibat sering bekerja lembur." Jawab Jun mengambil dokumen yang sudah Sian tanda tangani.

"Sebelum ke rumah sakit aku ingin menemui Yuni." Kata Sian memberitahu, Jun menunduk tanda mengerti sebelum keluar ruangan.

Ternyata Sian mengurung Yuni di gudang mansion pribadi miliknya. Tanpa diberi makan atau sekedar minum sejak kedatangannya kemarin. Sian duduk di kursi berhadapan dengan Yuni langsung yang tidak terikat sama sekali. Anak buah Jun sudah memastikan Yuni aman.

"Sampai matipun Aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian." Yuni langsung memberi ultimatum menatap Sian tajam.

"Kami tidak membutuhkan itu. Sebaiknya persiapkan dirimu, aku akan membalas apa yang telah kau perbuat pada Zhao Ryn." Sian melirik Jun memberinya perintah. Jun langsung menyuruh anak buahnya melakukan tugas yang sudah ia jelaskan.

Tanpa melakukan perlawanan, kedua pergelangan tangan Yuni di ikat oleh pengawal Sian pada rantai yang menggantung. Pengawal lainnya muncul membawa cambuk. Satu kali Yuni dicambuk masih bersikeras menahannya. Tentu Sian enggan mengotori tangannya sendiri, dia lebih suka menyaksikan Yuni kesakitan karena telah menyakiti fisik dan mental wanitanya.

"Katakan, berapa kali kau melakukannya?" Sian mengangkat tangan memberi perintah untuk pengawalnya berhenti.

Yuni tertawa sinis menatap Sian seolah dia meremehkan kekejaman pria yang kini tengah memakai sarung tangan karet berwarna hitam.

"Ryn tidak akan pernah bisa melawan apalagi membenciku tuan Sian yang terhormat." Yuni mengatakan hal cukup memuakkan bagi Sian. Ryn bukan wanita lemah tapi Sian juga heran kenapa Ryn tidak pernah melawan atau melaporkan Yuni ke polisi.

"Aku dan dia berbeda." Kemudian Sian memberi Yuni tamparan keras sekali hingga sudut bibirnya robek berdarah.

"Bagaimana jika Ryn tahu kekasihnya bahkan menganiaya ibu kandungnya? Kau pikir Ryn tidak akan membencimu? Hahaha." Sian semakin naik pitam mendengar celotehan Yuni.

Dia memberi tatapan pada Jun untuk mengakhiri penderitaan Yuni hari ini. Besok dia ingin mengulangnya lagi demi membuat Yuni jera.

Di rumah sakit Ryn bersiap pulang karena sudah merasa lebih baik. Apalagi dia mendapat obat-obatan berkualitas bagus. Sayangnya langkah Ryn harus terhenti, dia dihadang Yuri Chen di lobby.

"Kenapa kau tidak mati saja sekalian anak gundik? Kau merebut calon suamiku mengikuti jejak ibumu." Makian Yuri cukup keras mampu membuat perhatian orang-orang teralihkan menatap Ryn penuh cemoohan.

Ryn benar-benar sedang menjadi tontonan akibat kesengajaan Yuri. Semua harus tahu bahwa dia adalah calon istri pemegang saham terbesar Le Hospital.

"Jadi benar nona Chen akan menikah dengan tuan muda Sian?" Kata seseorang penasaran.

"Ya ampun pasangan serasi. Kenapa harus ada wanita penggoda diantara mereka?"

"Terlihat baik ternyata anak gundik."

Suara sumbang menghampiri telinga Ryn, dia tidak marah soal statusnya sebagai anak Yuni karena memang benar Ryn tidak tahu siapa ayah kandungnya. Namun jujur Ryn sedikit tidak nyaman menyangkut hubungannya dengan Sian, mereka sama-sama memiliki perasaan meski tak terungkapkan. Sementara Yuri hanya menjalani perjodohan semata.

"Silahkan anda berkoar nona Chen, kau justru bisa mempermalukan Sian dan keluarga besar Lee. Kuharap nona bersikap bijaksana." Kata Ryn sebelum meninggalkan kerumunan. Yuri mengepal erat kedua tangan kesal.

Sian yang tiba di rumah sakit awalnya ingin membantu Ryn, tapi karena sesuai prediksi dia selalu bisa mengatasi masalah yang datang padanya Sian hanya menyaksikan. Ryn tersenyum melihat kedatangan Sian, begitu juga Sian langsung merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Ryn penuh rasa bangga.

"Aku merindukanmu, Sian." Gumam Ryn namun masih bisa Sian dengar. Entahlah, mendapat ucapan romantis dari seseorang merupakan pertama kali baginya. Sian mengalami hal baru itu bersama Ryn. Lidahnya keluh tak tahu harus menjawab apa.

"Pergilah ke mobil lebih dulu, disana ada Jun." Sian memerintah Ryn menunggunya di parkiran VIP sementara dia harus masuk sebentar mengurus sesuatu.

"Baiklah, jangan lama." Sebelum pergi Ryn menyempatkan mencium pipi kiri Sian. Benar-benar membuat Sian kelabakan.

Sian terpaksa masuk kedalam hanya karena ingin memberi Yuri sedikit pelajaran. Yuri sumringah melihat kedatangan Sian segera menghampiri. Langkahnya terhenti saat pria itu melarangnya mendekat.

"Dengar nona Chen, aku benci hidupku terganggu oleh hal tak berguna. Lain kali kau harus menjauhi wanitaku." Yuri terdiam seribu bahasa. Kekasih yang dulu pernah meratukan dirinya kini telah berpaling.

Harusnya Yuri memilih setia dulu, tapi ia juga ingin mendapat kenikmatan yang tidak bisa Sian berikan. Itulah alasan Yuri selingkuh hingga bertunangan. Sayangnya sang tunangan memutuskannya karena Yuri masih menginginkan Sian.

"Kau boleh bermain dengannya kapanpun Sian, tapi pernikahan kita tetap berjalan sesuai rencana."  Yuri menggunakan keunggulannya dalam hal memenangkan Sian.

Sian tersenyum meremehkan kemudian berkata "bagiku Ryn bukan mainan." Tegasnya sebelum pergi.

Bagi Sian dia perlu melindungi Ryn meski wanita muda itu bisa menghadapi masalah apapun. Sian tidak suka Ryn terlalu mandiri, Ryn harus bergantung padanya meski dalam hal sekecil apapun.

Setibanya Sian di dalam mobil, Ryn terlihat sedang sibuk dengan ponselnya hingga tak sadar seseorang telah duduk di sampingnya.

"Ekhm... " Akhirnya Ryn menoleh mendengar suara Sian.

"Oh maaf, tadi kak Bandi bertanya kabar. Aku jawab besok sudah mulai bekerja." Ryn memberitahu agar Sian tidak marah dan salah paham mengenai dirinya bertukar pesan dengan lawan jenis.

"Apa harus kau memanggilnya kakak? Terlalu berlebihan." Cibir Sian kesal mengetahui Ryn menyebut pria lain seperti itu. Sementara dia belum pernah memanggilnya secara romantis.

"Dia jauh lebih tua dariku... " Ryn langsung menutupi bibirnya, perlahan melirik Sian hati-hati takut menyinggung soal perbedaan usia. Bagaimna tidak, keduanya terpaut sebelas tahun.

"Puas mengataiku? " Tanya Sian pura-pura marah agar Ryn mau memanggilnya dengan sebutan lebih indah.

"Maaf Sian keke, berhenti merajuk ok?" Perdebatan kecil mereka menghantar aura positif untuk asisten Jun.

Dia bersyukur Sian bisa bertemu Ryn di usianya yang matang. Berharap hubungan mereka tetap bertahan sampai ke jenjang lebih serius, meskipun jalannya nanti tidak akan mudah.

"Patuhlah, jangan jadi anak nakal." Tangan Sian bergerak mengusap ujung kepala Ryn, Ryn tersenyum mengangguk kemudian memeluk lengan Sian.

Sian sudah menjadi rumahnya, tempat ia pulang setelah lelah menghadapi kejamnya dunia.

'Tolong ikat Sian padaku Tuhan. Aku jatuh tanpanya.' Gumam Ryn dalam hati, Sian mengecupnya hangat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!