Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.
Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.
Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri yang Hilang
Yu Chen menatap terpaku ke arah sosok gadis kecil di sampingnya. "Putri... Phoenix?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya panik, memeluk jubah abu-abu Yu Chen. "Bukan! Hamba bukan putri! Hamba hanya anak kecil biasa yang ingin pergi mencari Kakak kandungku..."
Namun, Prajurit Zirah Batu setinggi lima meter itu tetap memosisikan tubuh raksasanya dalam sikap bersujud takzim. Pendaran cahaya keemasan di lubang matanya menyala hangat. "Keputusan hukum absolut hamba tidak akan pernah melesat. Hanya keturunan langsung dari garis darah murni Klan Phoenix Langit yang memiliki kapabilitas untuk membangkitkan dan mengendalikan kesadaranku!"
Di dalam kesadaran pikiran Yu Chen, suara Roh Menara mendadak bergema penuh keharuan purba. "Konfirmasi ini memperjelas segalanya, Shen Yu. Tebakanku tak salah... Ibu kandungmu memang berasal dari takhta Klan Phoenix Langit."
Yu Chen membisu. Selama bertahun-tahun di Desa Qinghe, ia dibesarkan dalam hinaan sebagai anak haram dari penduduk biasa. Namun semakin jauh langkah kakinya menembus dunia kultivasi, semakin luas rahasia takdir darahnya terkuak.
Ia berjongkok, menatap lembut wajah sembap gadis kecil itu. "Siapa namamu, Kecil?"
Gadis itu menunduk pelan. "Namaku... Ling'er. Seingatku, Kakak selalu memanggilku dengan nama Ling'er."
Yu Chen tersenyum tipis, mengusap kepala gadis itu. "Baiklah, Ling'er. Mulai detik ini, aku bersumpah akan membantumu mencari keberadaan Kakakmu."
Manik mata Ling'er seketika berbinar terang. "Benarkah, Kakak Pendekar?"
"Tentu saja," sahut Yu Chen mantap. "Karena aku... juga sedang menempuh perjalanan untuk mencari sisa keluargaku."
Ling'er menggenggam erat jemari Yu Chen. Untuk pertama kalinya sejak diselamatkan dari cengkeraman Sekte Budak Hitam, senyuman tulus terukir indah di wajah cantiknya.
Prajurit batu raksasa itu perlahan bangkit berdiri. "Tuan Muda, silakan mengayunkan langkah kaki Anda. Orang yang berjalan mendampingi Sang Putri Phoenix adalah tamu terhormat di Reruntuhan Dewa Purba ini. Gerbang menuju Aula Warisan telah resmi terbuka."
WUUUNG!
Tepat di pusat dunia kecil terisolasi tersebut, Gunung Emas Rangkaian Purba mendadak memancarkan pendaran cahaya ilahi. Dari dasar lembah, sebuah undakan tangga batu putih membentang melayang menuju ke puncaknya.
Namun, tepat pada detik Yu Chen bersiap melangkah...
BOOOOMMMM!!!!!
Seluruh dimensi dunia kecil itu mendadak bergoyang hebat. Kubah langit berwarna ungu tua dipenuhi oleh jutaan garis retakan spasial yang berderak hancur.
Prajurit batu mendongakkan kepalanya, suaranya memberat. "Sialan... waktu aman kita ternyata merosot drastis!"
"Apa yang terjadi?!" seru Yu Chen memasang kuda-kuda siaga.
"Segel pelindung kuno yang memayungi Dunia Dewa Purba ini telah melemah parah," jawab Prajurit batu. "Jika keretakan ini berlanjut, koordinat dimensi ini dipastikan akan terendus oleh para penguasa tertinggi dari dunia luar!"
Roh Menara berseru panik dari balik cincin. "Ini buruk! Jika aliansi sekte raksasa mengunci koordinat tempat ini, perang besar pembantaian pasti meluas!"
Yu Chen mengepalkan tinjunya. Ia baru saja menemukan tempat perlindungan rahasia, namun tempat ini pun rupanya sedang berada di ambang kemusnahan.
KRAAAKKK!!!
Tiba-tiba, dari balik retakan terbesar di kubah langit ungu, termaterialisasi sesosok mata raksasa berwarna merah darah yang teramat kolosal. Mata iblis itu perlahan terbuka, menembus awan dan gunung, mengunci fokus pandangannya tepat ke arah koordinat Yu Chen!
Aura penindasan yang dipancarkannya begitu tirani, seketika membekukan pasokan oksigen di sekitar arena.
Ling'er gemetar hebat, memeluk erat lengan Yu Chen. "Kakak... aku takut..."
Yu Chen berdiri tegak di depan tubuh Ling'er. Meski kedua kakinya bergetar hebat menahan badai gravitasi tekanan aura tersebut, ia sama sekali tidak memundurkan langkahnya satu milimeter pun.
Di dalam jiwa Yu Chen, suara Roh Menara bergetar hebat karena ketakutan purba. "Demi Kosmik... Ini tidak mungkin! Makhluk iblis itu... bagaimana bisa ia masih hidup dan bernapas?!"
"Siapa sebenarnya pemilik mata merah itu, Kakek?!" desis Yu Chen.
Roh Menara menyahut dengan nada tercekat. "Dia adalah... Penguasa Iblis Langit (Heavenly Demon Lord)! Sosok panglima tertinggi yang memimpin aliansi pembantaian untuk memusnahkan Sekte Dewa Kuno puluhan ribu tahun lalu!"
Yu Chen menyipitkan matanya tajam, aura membunuh berdesir di dantiannya. "Jadi... dia adalah salah satu eksekutor yang membantai keluargaku..."
HAHAHAHA!
Sebaris suara tawa ghaib yang sanggup meremukkan jiwa bergema memotong hukum udara dari balik retakan langit.
"Bocah cilik pembawa warisan... akhirnya kau mengetahui kebenaran sejarahmu," desis Penguasa Iblis Langit, suaranya sedingin es abadi. "Serahkan Cincin Penyegel dan Menara Dewa Kuno itu sekarang juga, maka aku akan menganugerahkan kematian yang cepat tanpa rasa sakit bagimu!"
Yu Chen menyunggingkan senyuman sinis yang sarat akan keliaran. "Pilihan tawaran yang teramat sangat buruk, Tuan Iblis."
Keheningan membeku sejenak. Lalu... tawa murka Penguasa Iblis Langit meledak, menggetarkan seisi dunia kecil.
"Lancang! Sudah puluhan ribu tahun tidak ada serangga fana yang berani menantang otoritas tiraniku!"
SWISH!
Seberkas pilar cahaya merah destruktif mendadak melesat jatuh dari pupil mata raksasa tersebut, meluncur kilat mengincar dahi Yu Chen!
"Shen Yu, merunduk!" teriak Roh Menara.
Yu Chen mengerahkan [Langkah Bayangan Ilusi] hingga batas maksimal.
BOOOOMMMM!!!!!
Pilar cahaya merah menghantam lantai tanah merah, meletuskan kawah jurang sedalam puluhan meter. Yu Chen berhasil melenting melompat mundur, namun gelombang kejut energinya membuat seteguk darah segar keluar dari sudut bibirnya.
"Hanya dari satu tatapan mata... daya hancurnya se-ekstrem ini?!" bisik Yu Chen menyeka darah. Ia akhirnya menyadari betapa mengerikannya kasta musuh utama yang harus dihadapinya di masa depan.
Saat Mata Penguasa Iblis Langit bersiap melepaskan serangan susulan...
Wush!
Ling'er mendadak melompat maju berdiri di depan tubuh Yu Chen. Sebilah liontin phoenix di lehernya mendadak meletuskan kobaran api keemasan yang teramat murni dan suci, membungkus tubuh mungilnya.
CRAAAKKK!
Sebuah manifestasi bayangan Burung Phoenix Kuno raksasa termaterialisasi di angkasa, mengepakkan kedua sayap apinya ke udara!
DUAAARRR!!!!!
Semburan api keemasan phoenix tersebut menghantam telak pilar cahaya merah milik Penguasa Iblis Langit hingga hancur berkeping-keping menjadi serpihan energi!
Suara raungan murka melengking dari balik retakan langit: "Garis Darah Suci Phoenix Langit?! Kalian bajingan-bajingan pembawa sial ternyata masih belum punah sepenuhnya?!"
Namun, karena tubuh fisik Ling'er masih terlalu muda dan fana, pengerahan energi ilahi itu seketika menguras habis stamina jiwanya. Cahaya api keemasan memudar, dan tubuh mungil Ling'er seketika ambruk pingsan.
Yu Chen bergerak cepat menangkap dan menggendong tubuh Ling'er ke punggungnya. "Ling'er!"
Prajurit Zirah Batu menghantamkan tombak besarnya ke tanah. "Tuan Muda! Cepat lari menaiki undakan tangga menuju Aula Warisan! Struktur hukum perisai di puncak gunung adalah satu-satunya tempat yang tidak dapat ditembus oleh proyeksi energi Iblis Langit itu!"
Yu Chen mengangguk tegas. Tanpa membuang waktu, ia memacu kecepatan larinya, melesat bagai kilat menaiki anak tangga batu melayang menuju puncak Gunung Emas.
Di jalur belakangnya, Mata Raksasa Penguasa Iblis Langit terus mengunci pergerakannya dengan pekatnya niat membunuh mutlak. "Larilah sepuasmu, Bocah... Karena begitu segel dimensi ini hancur total, seluruh alam kultivasi akan resmi menjelma menjadi kuburan massal bagi jiwamu!"
Yu Chen tidak memalingkan wajahnya sedikit pun. Ia mencengkeram erat gagang pedang tuanya, membalas dengan nada datar yang sedingin es:
"Jika itu adalah takdir yang kauinginkan... maka dipastikan sebelum hari itu tiba... aku sendiri yang akan memburu dan mengubur jasadmu lebih dulu!"
WUUUUUUNGGG!!!!!
Tepat saat Yu Chen menapakkan kaki di puncak gunung, sepasang pintu gerbang emas Aula Warisan Dewa Purba perlahan-lahan terkuak lebar, memuntahkan pendaran cahaya keabadian yang menyelimuti tubuh Yu Chen dan Ling'er sepenuhnya!