Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.
Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.
Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.
Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.
Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 : Panti Asuhan Kasih Bunda
Isabel tersenyum tipis, tetapi tidak menjawab pertanyaan itu. "Silahkan beristirahat, Nona. Besok pagi saya akan datang menjemput Anda."
Aurora mendesah pelan. "Baiklah..."
Setelah memastikan tidak ada lagi yang dibutuhkan, Isabel bersama kedua pelayan lainnya membungkukkan badan sebelum keluar dari kamar.
Pintu pun tertutup.
Kini hanya Aurora seorang diri di dalam kamar yang begitu luas. Ia berdiri beberapa saat sambil memandang sekeliling ruangan. Masih sulit dipercaya, beberapa jam yang lalu ia masih berlari di jalanan, dikejar para penagih utang.
Sekarang, ia justru berada di kamar semewah hotel bintang lima. Aurora berjalan menuju koper pakaian yang tadi dibawakan pelayan. Ia mengambil satu set piyama berwarna krem berbahan satin yang terasa begitu lembut.
"Semua ini pasti mahal sekali...."
Tak lama kemudian, Aurora masuk ke kamar mandi. Beberapa menit berlalu, suara air berhenti mengalir. Aurora keluar dengan rambut yang masih sedikit basah.
Kini ia mengenakan piyama panjang berwarna krem dengan motif sederhana. Wajahnya terlihat jauh lebih segar setelah membersihkan darah dan debu yang menempel sejak sore tadi.
Namun bekas tamparan di pipi kirinya masih terlihat samar. Ia duduk di tepi tempat tidur, lalu menjatuhkan tubuhnya perlahan ke atas kasur yang empuk.
"Astaga...." Aurora menatap langit-langit kamar sambil menghela napas panjang. "Baru saja aku bebas dari para penagih hutang, sekarang aku justru terjebak di markas pria aneh." Ia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. "Kenapa hidupku selalu seperti ini?"
Pikirannya kembali mengingat kejadian beberapa jam lalu. Wajah dingin Adrian, tatapannya yang tajam. Sikapnya yang selalu memerintah. Lalu kalimat yang terus terngiang di kepalanya. "Mulai sekarang kau ikut denganku."
Aurora langsung membuka matanya. "Benar-benar seenaknya sendiri. Aku bahkan belum pernah bertemu pria yang lebih keras kepala darinya."
Ia membalikkan tubuhnya ke samping sambil memeluk bantal. "Don katanya.... memangnya dia mengira semua orang harus menuruti ucapannya?"
Aurora mendengus pelan. "Tidak tahu sopan santun, suka memaksa, galak, aneh, dan menyebalkan."
Semakin lama ia mengomel, justru wajah Adrian semakin jelas terbayang di benaknya. Tatapan dingin pria itu, cara bicaranya yang tenang. Serta bagaimana ia berdiri sendirian menghadapi lima orang bersenjata tanpa sedikit pun terlihat gugup.
Aurora segera menggeleng kuat-kuat. "Kenapa aku jadi memikirkan dia? Sudahlah, Aurora... kau hanya numpang tinggal di sini. Begitu masalah hutangmu selesai... kau akan pergi dan tidak akan pernah bertemu pria itu lagi."
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun entah mengapa... jauh di dalam hatinya, ia merasa keputusan itu mungkin tidak akan semudah yang ia bayangkan.
Di sisi lain mansion...
Adrian baru saja memasuki ruang kerjanya. Johan telah menunggu dengan beberapa berkas di atas meja.
"Don."
"Semua orang yang mengejar Nona Aurora sudah diamankan."
Adrian duduk di kursinya. "Interogasi mereka, siapa yang menyuruh mereka mengejar gadis itu?"
"Baik, Don."
Johan menyerahkan sebuah map berwarna hitam. "Kami juga sudah menyelidiki identitas Nona Aurora."
Adrian membuka map itu perlahan. Di halaman pertama terpampang sebuah foto Aurora dengan senyum cerah yang sangat berbeda dari ekspresinya malam ini.
Adrian menatap foto itu cukup lama. Kemudian tanpa sadar ia bergumam pelan, "Aurora Bellini."
Adrian masih menatap foto Aurora yang berada di dalam map hitam itu. Tatapannya kemudian bergeser ke halaman berikutnya. Beberapa lembar data pribadi, riwayat pendidikan, hingga alamat tempat tinggal Aurora tersusun rapi.
Namun, satu foto membuat jemarinya mendadak berhenti membalik halaman. Foto itu memperlihatkan Aurora kecil yang tampak berusia sekitar sepuluh tahun. Ia sedang berdiri di depan sebuah bangunan tua dengan senyum ceria. Di atas gerbang bangunan itu terpampang sebuah papan kayu bertuliskan,
PANTI ASUHAN KASIH BUNDA
Tatapan Adrian seketika membeku. "Panti Asuhan Kasih Bunda..." Suara Adrian terdengar sangat pelan.
Johan yang berdiri di samping meja ikut memperhatikan foto itu. "Don mengenal tempat itu?"
Adrian tidak langsung menjawab. Pandangannya masih terpaku pada foto tersebut. Perlahan, kenangan yang selama bertahun-tahun terkubur kembali memenuhi pikirannya.
***
Flash Back...
Lima belas tahun yang lalu...
Seorang anak laki-laki berusia delapan tahun berdiri di depan gerbang Panti Asuhan Kasih Bunda. Tubuhnya kurus, pakaiannya lusuh. Di sampingnya berdiri seorang pria yang bahkan tidak mau menatap wajahnya.
Pria itu adalah ayah kandung Adrian. "Aku akan menjemputmu nanti." Ucapan itu masih jelas teringat di kepala Adrian kecil.
Namun, hari berganti minggu. Minggu berganti bulan, tak pernah sekali pun pria itu kembali. Selama tiga tahun Adrian tinggal di panti asuhan itu. Ia belajar membaca, menulis, membantu membersihkan halaman.
Meski hidup sederhana, setidaknya ia masih memiliki tempat berteduh, sampai suatu hari...
"Uangnya hilang!" Suara Ibu Panti menggema di seluruh bangunan.
Semua anak dikumpulkan. Tatapan mereka satu per satu mengarah kepada Adrian.
"Dia yang terakhir keluar dari ruang donatur."
"Itu pasti dia."
"Aku melihatnya masuk."
Padahal saat itu Adrian hanya diminta mengantarkan sapu ke ruangan tersebut. Ia bahkan tidak tahu uang apa yang sedang mereka bicarakan.
"Aku tidak mengambilnya." Adrian kecil berusaha menjelaskan. "Aku sungguh tidak mengambil apa pun."
Namun tak seorang pun mempercayainya.
Beberapa pengurus mulai berbisik. "Ia memang anak yang dibuang. Mana mungkin bisa dipercaya."
Kalimat-kalimat itu masih membekas hingga sekarang. Tanpa sempat membela diri, tas kecil miliknya dilempar keluar gerbang.
"Pergilah. Kami tidak bisa menampung pencuri di sini."
Air mata Adrian kecil mengalir tanpa henti. Ia terus menggeleng. "Aku tidak mencuri... tolong percaya padaku..."
Namun gerbang besi itu tetap ditutup. Meninggalkannya sendirian di luar.
Flash back off
***
Brak!
Suara map yang menutup membuat Johan tersadar dari lamunannya.
Adrian mengembuskan napas panjang. "Itu tempat pertama yang mengajariku, bahwa kejujuran tidak selalu dipercaya."
Johan menatap Don mudanya dengan iba. Ia mengetahui sebagian masa lalu Adrian. Namun baru kali ini mendengar cerita itu secara langsung.
Adrian berdiri lalu berjalan menuju jendela besar ruang kerjanya. Di luar, hujan mulai turun membasahi halaman markas.
"Setelah diusir dari sana... aku kembali mencari ayahku. Selama beberapa tahun kami hidup berpindah-pindah. Dia berjudi, selalu mabuk, dan terus berhutang."
Tatapan Adrian berubah dingin. "Setiap kali para penagih datang... akulah yang dipukuli. Akulah yang dipaksa bekerja agar kami bisa makan."
Johan mengepalkan tangannya. Ia tahu bagaimana akhirnya kehidupan itu berakhir.
"Sampai suatu hari..." Adrian melanjutkan dengan suara datar. "Ayahku menghilang, entah kabur... atau sudah mati. Aku bahkan tidak pernah tahu."
Ruangan kembali dipenuhi keheningan.
Tatapan Adrian perlahan kembali jatuh pada foto Aurora.
Satu pertanyaan terus memenuhi pikirannya. "Kenapa Aurora foto di Panti Asuhan Kasih Bunda? Apa dia juga pernah tinggal di sana... atau hanya datang sebagai pengunjung?"
Tanpa sadar, rasa penasaran Adrian terhadap gadis itu semakin besar. Dan ia merasa, pertemuannya dengan Aurora malam ini mungkin bukanlah sebuah kebetulan.