Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.
Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.
Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.
Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.
"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."
Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.
Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIMPI BURUK
Keiko menghampiri kios ikan panggang di pinggir jalan. Aroma gurih ikan ayu yang dibakar di atas bara arang membuat perutnya spontan melilit.
"Permisi, Pak. Satu ikan kayu panggang, ya," ucap Keiko ramah.
Pria paruh baya di balik panggangan mengangguk. Dengan cekatan, ia membalik beberapa ekor ikan sebelum memilih yang paling sempurna kematangannya. "Baru turun dari kuil?" tanyanya sambil membungkus ikan itu dengan kertas minyak.
"Iya," jawab Keiko tertawa renyah. "Jujur, jauh lebih melelahkan daripada yang saya bayangkan."
"Banyak yang menyerah di tengah jalan, kok nak."
"Pantas saja waktu kecil saya selalu punya seribu alasan supaya tidak ikut kalau Nenek mengajak ke sana."
Pria itu ikut terkekeh, tangannya menyerahkan bungkusan hangat. "Berarti hari ini kau berhasil mengalahkan dirimu sendiri."
"Mungkin karena terlanjur setengah jalan, Pak," sahut Keiko, lalu menerima bungkusan itu dengan kedua tangan dan sedikit membungkuk sopan. "Terima kasih banyak."
Langkah Keiko terasa jauh lebih ringan di sepanjang perjalanan pulang. Sore telah berganti malam; lampu-lampu di rumah warga mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana desa yang hangat dan tenang.
Saat melewati sebuah pagar bambu, langkahnya terhenti. Seekor anak kucing belang sedang sibuk mengendus tanah.
"Hai," sapa Keiko. Ia berjongkok, menyobek sedikit daging ikan panggangnya. "Nih."
Anak kucing itu langsung mendekat dan melahap suapan itu dengan lahap. Keiko tersenyum lebar melihat tingkahnya. Namun, sebelum ia sempat bangkit, seekor kucing abu-abu muncul dari balik pagar. Tubuhnya lebih besar dan bulunya terlihat sangat bersih. Kucing itu hanya duduk tenang, menatap Keiko tepat di manik matanya dari jarak beberapa meter.
"Kamu mau juga?" Keiko menyobek lagi sedikit ikan, meletakkannya di atas batu.
Namun, kucing abu-abu itu tidak bergeming. Tatapannya begitu tajam, seolah sedang menilai sesuatu. Keiko memiringkan kepala, merasa sedikit canggung. "Sepertinya seleramu bukan ikan, ya?"
Ia bangkit perlahan, meninggalkan potongan ikan di atas batu. Ketika baru berjalan beberapa langkah, rasa penasaran membuatnya menoleh ke belakang. Anak kucing belang itu masih sibuk makan, tapi kucing abu-abu tadi sudah lenyap tanpa suara. Keiko hanya mengedikkan bahu, menganggapnya sebagai kebetulan biasa.
***
Langit sudah sepenuhnya gelap saat Keiko sampai di rumah peninggalan neneknya. Setelah membersihkan diri, ia membawa nasi hangat dan sisa ikan panggangnya ke selasar kayu. Udara malam Tsukimori terasa tajam dan sejuk. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara jangkrik bersahut-sahutan di bawah naungan bulan purnama.
"Enak juga," gumamnya pelan, menikmati suapan terakhir.
Sejak ibunya pulang ke Tokyo, ia baru benar-benar menyadari betapa sepinya rumah tua itu ketika malam tiba. Tidak ada suara televisi. Tidak ada percakapan. Hanya bunyi jam dinding yang berdetak pelan dan desir angin yang sesekali menyentuh dinding kayu.
Tiba tiba dari sudut halaman rumah, suara pelan menarik perhatiannya. "Meong..."
Keiko menoleh dan menemukan kucing abu-abu tadi sudah duduk tenang di dekat gerbang.
"Oh, kamu lagi," sudut bibir Keiko terangkat. "Maaf ya, ikannya sudah habis."
Kucing itu tetap diam, hanya memandang Keiko dengan tenang. Tidak ada suara, tidak ada gerakan agresif.
"Gagal dapat makan malam, ya? Aku masak pas-pasan tadi. Besok saja kalau ketemu lagi," kekeh Keiko sambil membawa piring kosong masuk ke dalam rumah.
Sebelum menggeser pintu kayu, ia sempat melirik halaman sekali lagi. Kucing itu masih di sana, mematung di tempat yang sama. "Selamat malam," bisiknya.
Keiko masuk ke kamar, lalu menggantung jimat merah pemberian ibunya di dekat tempat tidur.
Pandangannya tanpa sadar kembali tertuju pada jimat merah yang tergantung di dekat tempat tidurnya.
Ia mendekat, lalu menyentuhnya dengan ujung jari.
"Kamu bikin semua orang ribut." Sudut bibirnya terangkat tipis. "Ibu menyuruhku jangan sampai melepasmu."
Ia terdiam sesaat, mengingat kembali ucapan pendeta di kuil. "Mungkin sudah waktunya kau melepasnya."
Keiko mengembuskan napas pelan.
"Kenapa malah jadi bertolak belakang begini..."
Ia menggeleng kecil. "Mungkin memang cuma cara pandang yang berbeda."
Penjelasan itu terasa paling masuk akal.
Daripada memikirkan dewa, legenda, atau hal-hal yang tidak bisa dibuktikan, Keiko lebih memilih percaya bahwa setiap orang memiliki keyakinannya masing-masing.
Cahaya bulan purnama masuk melalui celah jendela, membuat ruangan itu tidak sepenuhnya gelap. Keiko membaringkan tubuhnya. Namun bayangan pria yang ditemuinya di tangga kuil kembali muncul di kepalanya.
"Orang itu aneh sekali," gumamnya sambil duduk di tepi kasur. "Dia tidak tau cara bicara dengan seorang gadis ya."
Ia tertawa kecil mengingat pertemuannya. "Jangan-jangan dia itu calon pendeta kuil?"
Kemungkinan itu terasa jauh lebih logis daripada semua cerita legenda yang didengarnya sejak kemarin. Namun, sedetik kemudian, ia kembali tersenyum sendiri.
"Sayang sekali wajah setampan itu. Harusnya jadi aktor atau anggota boyband, bukan malah menghabiskan waktu jadi pendeta di gunung," kekehnya geli.
Dengan pikiran yang masih ringan, ia mematikan lampu dan membaringkan tubuh. Kelelahan setelah mendaki seharian Rasa kantuk perlahan mengalahkan pikirannya. Keiko memejamkaN mata, napasnya mulai teratur. Suara jangkrik dari luar rumah perlahan memudar hingga akhirnya lenyap ditelan sunyi.
...
Keiko membuka mata.
Ia masih berada di selasar rumah neneknya. Cahaya bulan purnama menyinari halaman dengan warna pucat yang lembut, namun udara di sana terasa janggal. Tidak ada desir angin. Bahkan daun-daun di pohon tidak berdesir sedikit pun. Keheningan itu begitu pekat hingga terasa menyesakkan dada.
"Aneh..." bisik Keiko.
Ia berniat melangkah turun, namun kakinya terkunci. Telapak kakinya seolah merekat mati pada lantai kayu yang dingin.
Gooong...
Dentang lonceng yang berat menggema dari kejauhan, merambat hingga ke tulang-tulangnya. Keiko mendongak. Di tengah halaman, seekor kucing abu-abu yang tadi ia temui di gerbang sedang duduk membelakanginya. Bulu panjangnya bergoyang halus, seolah tertiup angin yang tidak dirasakan oleh Keiko.
"Itu..." gumamnya, mengenali kucing tersebut.
Gooong...
Lonceng berbunyi lagi. Kucing itu perlahan memutar kepalanya. Begitu mata keemasannya bertemu pandang dengan Keiko, detak jantungnya berhenti sejenak. Itu bukan mata hewan. Cahaya redup memancar dari pupilnya yang menyempit tajam, menatap dengan ekspresi asing yang membuat bulu kuduk Keiko meremang.
Tanpa suara, tubuh kucing itu mulai memuai. Bulu-bulunya berdiri tegak, bahunya meninggi, dan dalam hitungan detik, sosoknya telah menjulang sebesar lembu. Bayangannya menutupi seluruh halaman, melahap cahaya bulan yang tadi bersinar.
"Ini cuma mimpi," Keiko meracau, berusaha menolak kenyataan.
Namun, makhluk itu mengangkat kepalanya. Di antara taring yang mengkilap, tergigit sebuah jimat merah yang sangat ia kenal.
"Itu... jimatku," suara Keiko tercekat.
Makhluk itu melangkah maju. Papan kayu di bawah kaki Keiko berderit dan bergetar hebat. Keiko mencoba mundur, namun tubuhnya masih menolak untuk bergerak. Dengan tangan gemetar, ia meraup segenggam pasir di lantai dan melemparkannya ke depan. "Kau cuma dongeng!"
Pasir itu beterbangan, namun menembus tubuh makhluk tersebut seperti kabut. Makhluk itu tak bergeming, terus menatap Keiko dengan tatapan yang menyesakkan dada.
Gooong...
Dunia di sekelilingnya hancur. Halaman rumah lenyap, berganti seketika menjadi pelataran Kuil Dewa Kucing yang diselimuti kabut tebal. Puluhan lentera merah melayang di udara tanpa tali, bergoyang mengikuti irama yang tak terdengar.
Di bawah gerbang torii merah, seorang pria berdiri membelakangi Keiko. Kimono hitamnya berkibar pelan, rambut keperakannya tampak kebiruan diterpa cahaya bulan. Keiko mengenali sosok itu—pria dari kuil tadi siang.
"Hei..." suaranya nyaris seperti embusan napas.
Pria itu tidak menoleh. Ia mengangkat tangan kanannya, dan jimat merah di mulut kucing raksasa itu melayang, mendarat sempurna di telapak tangannya. Keiko terpaku. "Siapa..."
"Kau masih membawanya," bisik pria itu rendah.
"Apa maksudmu?" tanya Keiko.
Keiko mencoba melangkah, namun jarak di antara mereka seolah diregangkan oleh kekuatan gaib. Semakin ia berlari, semakin jauh pria itu berada.
"Tunggu!"
Pria itu sedikit memiringkan wajahnya. Hanya garis rahang dan sebagian mata keemasan yang tertutup bayangan yang terlihat.
"Sudah terlambat."
Bisikan itu belum tuntas menghilang di udara ketika suara seorang perempuan yang pilu dan penuh penyesalan terdengar lirih dari balik kabut. "Jangan..."
Keiko tersentak, menoleh mencari sumber suara, namun tak ada siapa-siapa. Saat ia kembali menoleh ke depan, kucing raksasa itu sudah berada tepat di depan wajahnya. Napas hangat beraroma tanah dan kayu lapuk menerpa kulitnya. Taringnya perlahan terbuka lebar.
"Aaaahhh!"
Keiko tersentak bangun. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat hingga terasa sesak. Tanpa sadar, tangannya meraba wajah, leher, hingga ke atas kepalanya.
Normal. Tidak ada telinga kucing, tidak ada luka.
Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Hanya mimpi..." bisiknya pelan di tengah kegelapan kamar. Meski begitu, jantungnya belum juga tenang. Keiko menyingkirkan selimut, duduk di tepi kasur sambil mengusap tengkuknya yang basah oleh keringat dingin. Ia meraih gelas di meja samping tempat tidur dan menghabiskan isinya hingga tandas.
Jam dinding menunjukkan pukul tiga lewat dua belas menit.
"Kenapa bisa semengerikan itu..." gumamnya menatap kosong ke arah lantai. Mimpi itu terasa terlalu nyata. Dentang loncengnya masih terngiang, dan tatapan mata makhluk itu seolah masih menempel di ingatannya. "Pasti karena seharian penuh mendengar cerita-cerita aneh," ia mencoba tertawa kecil, meski suaranya terdengar hambar dan tidak meyakinkan.
Saat hendak berbaring kembali, suara pelan terdengar dari halaman depan.
"Meong..."
Keiko mengangkat kepala. Ia melangkah mendekati jendela, menyibak tirai tipis dengan hati-hati. Di bawah cahaya bulan, seekor kucing abu-abu sedang duduk di atas pagar kayu. Tubuhnya normal, tidak sebesar yang ia lihat dalam mimpi. Namun, Keiko tahu pasti itu kucing yang sama.
"Kamu lagi..." bisiknya.
Kucing itu tidak mengeong lagi. Ia hanya duduk diam, menatap lurus ke arah jendela kamar Keiko dengan tatapan yang luar biasa tenang.
"Aku ini kenapa, sih?" Keiko menggeleng pelan, berusaha mengusir rasa takut yang konyol. "Masa gara-gara mimpi, sekarang semua kucing terlihat menyeramkan."
Beberapa detik kemudian, kucing itu berdiri dengan santai. Ia melompat turun dari pagar, lalu berjalan menyusuri jalan kecil hingga menghilang ditelan kegelapan. Keiko merasa sedikit lega. Ia menutup tirai dan bersiap kembali tidur.
Namun, langkahnya terhenti.
Ting...
Keiko menoleh dengan cepat. Pandangannya terpaku pada jimat merah yang tergantung di sisi tempat tidur. Lonceng kecil di ujung jimat itu bergoyang pelan.
Ting... Ting...
Keiko mematung. Kamar itu tertutup rapat, tidak ada embusan angin yang mampu menggerakkan benda itu. Dengan ragu, ia melangkah mendekat. Saat ujung jarinya menyentuh kain merah tersebut, denting lonceng itu mendadak berhenti. Ruangan kembali sunyi mencekam.
Keiko menggenggam jimat itu erat-erat. "...Pasti cuma kebetulan," gumamnya, meskipun hatinya menolak keras penjelasan itu.
Sebuah pertanyaan mulai merayap di benaknya, sebuah keraguan yang tak mampu dijawab oleh logikanya. Jika semua ini memang hanya sebuah kebetulan, mengapa setiap kejadian kecil di desa ini terasa seperti potongan teka-teki yang sengaja diarahkan pada satu hal yang sama?