~~
Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8
***
Malam beringsut semakin tua, membawa gemuruh sisa hujan sore tadi yang kini berubah menjadi gerimis rapat yang tiada henti. Dinginnya udara pegunungan kian menusuk, memaksa jarum-jarum hawa beku menyelinap ke dalam sela dinding kayu. Namun, suasana di ruang dalam rumah joglo itu terasa berbeda. Sebuah anglo kecil di sudut ruangan membara merah, memanaskan kuali tanah liat kecil berisi rebusan jahe, serai, dan gula aren yang menguapkan aroma hangat yang menenangkan.
Larasati duduk bersila di atas tikar pandan dekat anglo tersebut. Kebaya katunnya telah diganti dengan lurik cokelat yang bersih, dan rambut hitamnya yang panjang dikepang rapi ke samping. Matanya menatap nyala api yang menari kecil, namun telinganya tetap terjaga, menangkap setiap suara dari halaman depan. Jiwa remajanya tidak lagi didera gejolak pemberontakan yang meledak-ledak. Sejak sore mencerahkan itu—saat pintu kamar masa kecil Baskoro dibuka—sudut pandangnya runtuh. Pria kaku yang selama ini dianggapnya sebagai monster tanpa hati ternyata hanyalah seorang anak yang terluka oleh keangkuhan tradisi.
Krieeek…
Suara pintu depan yang besar berderit membuka, diikuti derap langkah kaki yang berat dan kentara sangat lelah. Larasati seketika bangkit berdiri. Tangannya bergerak cekatan namun tenang, menuangkan wedang jahe yang masih mengepul dari kuali tanah ke dalam cangkir kuningan berkaki.
Raden Mas Baskoro melangkah masuk ke ruang dalam. Beskap lurik gelapnya tampak agak lembap di bagian ujung, dan bahunya sedikit merosot—sebuah pemandangan langka bagi seorang juragan yang selalu menjaga punggungnya tetap tegak sempurna. Wajahnya yang kaku terlihat kusam setelah seharian penuh berdebat menyelesaikan sengketa tanah yang rumit di balai desa terjauh. Ia mulai mengangkat tangan untuk melepas keris pushakanya di pinggang belakang, bersiap menghadapi keheningan canggung yang biasa menyambutnya.
Namun, langkah pria empat puluh tahun itu mendadak terkunci di lantai jati.
Di depannya, Larasati berdiri tegak seraya membawa nampan kuningan kecil berisi cangkir wedang yang mengepul. Gadis itu tidak lagi menunduk dengan tubuh gemetar ketakutan seperti buronan. Ia menatap lurus ke arah Baskoro, dan seulas senyuman tipis yang sangat tulus—senyuman hangat yang menghapus sisa-sisa jarak di antara mereka—terpahat di bibirnya.
"Anda sudah pulang, Raden Mas?" sapa Larasati lembut. Suaranya terdengar jernih, mengalun hangat mengalahkan deru gerimis di luar. "Kulo sengaja membuatkan wedang jahe hangat untuk Anda. Hari ini pasti sangat melelahkan."
Baskoro terpaku diam selama beberapa detik. Manik matanya yang sedalam sumur tua berkejaran dengan rasa terkejut yang teramat sangat. Selama puluhan tahun hidup di rumah joglo ini, semua pelayan menyambutnya dengan sujud ketakutan, dan kepulangannya selalu dipenuhi oleh formalitas kaku yang sepi. Baru malam ini, ada seseorang yang menunggunya dengan kerelaan hati yang murni. Topeng besi di wajah kaku itu perlahan melonggar, matanya bergetar menatap cangkir yang disodorkan istrinya.
"Kamu... belum tidur, Laras?" tanya Baskoro. Suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya, ada gurat serak karena kelelahan, namun nadanya melembut tanpa ia sadari.
"Kulo mboten bisa tidur sebelum memastikan Raden Mas pulang dengan selamat," jawab Larasati sembari melangkah lebih dekat, menaruh nampan itu di atas meja marmer hitam dekat mereka. Ia lalu mengulurkan tangannya yang kecil secara perlahan, membantu melepaskan simpul tali keris pusaka di pinggang belakang Baskoro—tugas seorang istri sejati yang kini ia lakukan tanpa rasa terpaksa. "Mari, kulo bantu lepas kerisnya, Raden Mas."
Baskoro membiarkan tangan kecil Larasati bergerak di pinggangnya. Sentuhan jari-jari kecil itu terasa hangat, merambat melewati kain jariknya dan menyentuh bagian paling beku di dalam hatinya. Setelah keris diletakkan takzim di atas kotak jati, Baskoro duduk di kursi kayu berukir, lalu meraih cangkir kuningan itu. Uap jahe menerpa wajahnya yang kaku saat ia menyesapnya perlahan. Rasa hangat yang pedas dan manis seketika membasahi tenggorokannya yang kering.
"Wedang ini... rasanya pas. Tidak terlalu manis," gumam Baskoro, matanya menatap cairan di dalam cangkir sebelum mendongak menatap Larasati yang kini berdiri di samping kursinya.
Larasati tersenyum tipis, rona merah alami muncul di pipinya yang biasa pucat. "Kulo ingat kata Raden Mas waktu itu, Anda tidak suka sesuatu yang terlalu berlebihan. Jadi kulo kurangi gula arennya sedikit."
Baskoro meletakkan cangkir itu kembali ke meja. Ia menatap Larasati dengan tatapan yang sangat lekat, seolah sedang membaca lembaran baru di wajah istri kecilnya yang berusia tujuh belas tahun itu. Kerapuhan yang ia tunjukkan di kamar rahasia sore tadi seolah menjadi jembatan yang meruntuhkan tembok pemisah mereka.
"Duduklah di sini, Larasati," ucap Baskoro, menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Larasati menurut tanpa ragu. Ia duduk dengan anggun, melipat jemari tangannya di atas pangkuan jarik wirunya.
Baskoro menghela napas panjang, bersandar pada sandaran kursi. "Sengketa tanah di bulak timur benar-benar menguras pikiran. Para mandor bertindak serakah, dan para petani ketakutan. Menjadi penguasa di atas bukit ini tidak semudah yang terlihat dari bawah, Nduk. Setiap titah yang keluar dari mulutku harus ditakar, jika salah sedikit saja... reputasi trah keluarga ini yang akan hancur."
Larasati mendengarkan dengan saksama, matanya memancarkan rasa empati yang mendalam. "Kulo paham, Raden Mas. Beban Anda teramat berat. Tetapi... kulo berharap, di dalam rumah ini, Anda tidak perlu memikul beban itu sendirian lagi. Anda bisa melepas topeng kaku itu saat bersama kulo."
Kata-kata Larasati menyentuh lubuk hati Baskoro yang paling dalam. Juragan besar itu tertegun, rahangnya sedikit bergerak menahan gejolak emosi. Ia mengulurkan tangannya yang besar dan kasar, meraih tangan kecil Larasati yang berada di atas pangkuan, lalu menggenggamnya dengan kelembutan yang sangat hati-hati—takut menyakiti ranting kecil yang kini berharga baginya.
"Larasati..." ucap Baskoro, suaranya terdengar parau dan berat. "Malam ini, di depan wedang yang kamu buat... aku ingin membuat janji baru bersamamu."
Larasati mendongak, menatap mata suaminya. "Janji apa, Raden Mas?"
"Aku tahu pernikahan kita bermula dari secarik kertas utang jaminan tanah yang licik," Baskoro menatap lurus ke dalam mata Larasati dengan ketulusan yang murni. "Aku tahu aku telah merampas paksa masa mudamu. Tetapi dengarkan aku... aku berjanji akan menjamin seluruh kebahagiaanmu di rumah ini. Aku tidak akan pernah lagi menuntutmu bertingkah seperti wanita dewasa yang kaku jika jiwamu belum siap. Dan yang terpenting... aku tidak akan pernah menuntut keturunan darimu secara paksa, sampai hatimu benar-benar rela dan siap menerimaku."
Mendengar sumpah setia yang keluar dari bibir seorang pria paruh baya yang kaku dan ditakuti seluruh kecamatan itu, air mata haru merembes di sudut mata Larasati. Ketulusan Baskoro malam ini meruntuhkan sisa-sisa keraguannya. Pria di depannya bukan lagi juragan kejam pemegang surat utang, melainkan seorang suami yang sedang memohon tempat di hatinya dengan cara yang paling terhormat.
Larasati membalikkan telapak tangannya, membalas genggaman tangan Baskoro dengan erat. Kulit suaminya yang hangat memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
"Raden Mas..." bisik Larasati, suaranya bergetar halus oleh kebahagiaan baru yang menyusup ke dadanya. "Kulo... kulo sudah melihat isi kamar masa kecil Anda sore tadi. Kulo melihat luka Anda. Dan malam ini... kulo melihat ketulusan Anda yang teramat sangat. Kulo tidak perlu menunggu waktu lebih lama lagi."
Baskoro mengernyitkan alis tebalnya sedikit. "Maksudmu, Nduk?"
Larasati menatap mata Baskoro dengan tatapan yang sarat akan kerelaan dan keberanian seorang istri yang sesungguhnya. "Kulo sudah siap, Raden Mas. Kulo sudah siap menerima Anda seutuhnya sebagai suami kulo. Bukan karena surat perjanjian itu, bukan pula karena rasa takut... melainkan karena kulo ingin mendampingi Anda menghapus kesepian di rumah joglo ini."
Getaran hebat menjalar di dada Baskoro mendengar pengakuan itu. Kehangatan melingkupi seluruh rongga dadanya yang selama puluhan tahun gersang. Tanpa sepatah kata pun, ia bangkit berdiri, menuntun Larasati berjalan perlahan menuju kamar utama mereka.
Krieeek... Blam.
Pintu jati kamar utama ditutup rapat dari dalam, mengunci suara gerimis dan dunia luar di balik dinding tebal. Di dalam kamar, lampu teplok minyak menyala temaram, menciptakan bayangan panjang yang bergerak lembut di dinding kayu berukir. Bau harum dupa ratus yang samar menenangkan suasana.
Baskoro berjalan mendekati ranjang jati raksasa di tengah ruangan. Matanya tertuju pada guling besar yang selama seminggu ini diletakkan di tengah kasur sebagai pembatas suci di antara mereka.
Baskoro mengulurkan tangannya, meraih guling pembatas tersebut. Ia menoleh ke arah Larasati yang berdiri dekat meja rias. "Boleh aku menyingkirkan benda ini, Laras?" tanya Baskoro, memastikan kerelaan istrinya untuk terakhir kali.
Larasati melangkah mendekat dengan senyuman lembut yang meneduhkan. "Singkirkanlah, Raden Mas. Pembatas itu sudah tidak diperlukan lagi di antara kita."
Baskoro melempar guling pembatas itu ke lantai dengan perlahan. Ranjang jati yang luas itu kini tak lagi terbagi dua. Pria empat puluh tahun itu berbaring terlebih dahulu di sisinya, lalu mengulurkan lengan kanannya yang kokoh ke arah Larasati.
Larasati merangkak naik ke atas kasur kapuk yang empuk. Dengan perlahan dan tanpa keraguan lagi, ia merebahkan kepalanya di atas lengan bidang Baskoro, menjadikan dada suaminya sebagai bantal terbaiknya malam itu. Baskoro menarik kain jarik tebal bermotif sidomukti untuk menyelimuti tubuh mereka berdua dari serangan hawa dingin malam pegunungan.
Tangan besar Baskoro melingkar erat di pinggang kecil Larasati, mendekap tubuh istrinya dengan perlindungan mutlak yang protektif namun sangat lembut. Larasati membenamkan wajahnya di dada Baskoro, menghirup dalam-dalam aroma khas kayu cendana dan kehangatan tubuh suaminya yang menenangkan jiwa remajanya.
"Terima kasih, Larasati... terima kasih karena bersedia menerima pria tua yang kaku ini," bisik Baskoro lirih di atas ubun-ubun rambut Larasati, suaranya bergetar penuh rasa takzim yang dalam.
Larasati mendongak sedikit di dalam dekapan erat itu, menatap rahang tegas suaminya yang kini berada sangat dekat. "Kulo yang berterima kasih, Raden Mas. Karena di balik dinding jati yang dingin ini, Anda telah memberikan kulo sebuah rumah yang sesungguhnya."
Bersambung
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
lanjut tor semangat