Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.
【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】
Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.
Namun, tidak dengan Leon.
Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.
【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 — Insting yang Terbangun (Bagian 2)
Keheningan menyelimuti tepi sungai.
Tidak ada lagi raungan monster.
Tidak ada lagi suara benturan senjata.
Yang tersisa hanyalah desiran angin dan napas berat Leon yang masih berusaha kembali normal.
Ia menatap pedang di tangannya.
Ujung bilahnya dipenuhi bekas goresan akibat benturan dengan cakar Shadow Lynx.
"Bahkan pedang ini ikut bertarung..."
gumamnya.
Garrick pasti tidak akan senang melihat kondisi pedang itu.
Daren berjalan mendekat sambil menepuk bahu Leon cukup keras.
"Ha ha ha! Tidak buruk, Pendatang Baru!"
Leon meringis.
"Bahuku masih sakit."
"Itu tandanya kau masih hidup."
Daren tertawa lepas.
"Kebanyakan orang yang bertemu Shadow Lynx hanya punya dua pilihan."
"Pulang sebagai pahlawan..."
"...atau tidak pulang sama sekali."
Leon tersenyum tipis.
Kalimat itu terdengar seperti lelucon.
Namun ia tahu Daren sedang mengatakan kenyataan.
Rowan menghampiri sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Apa pelajaranmu hari ini?"
Leon berpikir beberapa saat sebelum menjawab.
"Monster yang kuat tidak selalu ingin membunuh."
Rowan mengangguk.
"Lanjut."
"Insting bisa menyelamatkan nyawa."
"Lanjut."
Leon memandang ke arah hutan tempat Shadow Lynx menghilang.
"Lalu..."
"...aku merasa ada sesuatu yang belum kupahami."
Rowan tersenyum tipis.
"Itu jawaban terbaikmu hari ini."
Leon mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena orang yang merasa sudah memahami segalanya..."
"...berhenti belajar."
Ucapan itu membuat Leon terdiam.
Ia sadar bahwa semakin lama berada di dunia ini, semakin banyak misteri yang belum terpecahkan.
Tentang sistem.
Tentang kelas tersegel.
Tentang para Penjaga.
Dan tentang pria tua berjubah abu-abu yang sesaat tadi ia rasakan kehadirannya, meski tidak pernah benar-benar melihatnya.
Perjalanan pulang menuju Desa Aster terasa jauh lebih ringan.
Misi mengumpulkan Silverleaf telah selesai.
Tak satu pun anggota kelompok mengalami luka serius.
Bahkan Daren terlihat bersiul sepanjang perjalanan.
"Aku masih tidak percaya."
katanya sambil terkekeh.
"Dalam dua hari, kau bertemu Alpha Dire Wolf lalu Shadow Lynx."
Leon tersenyum kecut.
"Kalau bisa memilih..."
"...aku lebih suka bertemu ayam."
Semua orang langsung tertawa.
Bahkan Rowan yang biasanya dingin ikut tersenyum kecil.
Sesampainya di Desa Aster, Rowan langsung membawa hasil misi ke Balai Misi.
Seorang wanita berambut cokelat yang mengenakan seragam hijau menyambut mereka dari balik meja.
"Selamat datang."
Ia memeriksa kantong berisi Silverleaf satu per satu.
"Hasilnya bagus."
"Tidak ada daun yang rusak."
Rowan menunjuk Leon.
"Dia yang memetik sebagian besar."
Wanita itu tersenyum ramah.
"Kalau begitu..."
"...selamat atas misi pertamamu."
Ia menyerahkan sebuah kantong kecil berisi koin.
Ding!
Misi Selesai!
Hadiah Diterima:
120 EXP
8 Koin Sistem
Cahaya tipis menyelimuti tubuh Leon.
EXP-nya bertambah, meski belum cukup untuk naik level.
Ia membuka kantong kecil itu.
Di dalamnya terdapat delapan koin perak dengan lambang pohon besar di salah satu sisinya.
"Inikah mata uang di dunia ini?"
tanya Leon.
Wanita itu mengangguk.
"Itu Koin Sistem."
"Bisa digunakan di seluruh wilayah Kerajaan Arvend."
Leon menyimpan koin tersebut dengan hati-hati.
Itu adalah uang pertama yang ia hasilkan di dunia ini.
Bukan dari hadiah sistem.
Bukan pemberian orang lain.
Melainkan hasil kerja kerasnya sendiri.
Perasaan itu...
Memberikan kepuasan yang sulit dijelaskan.
Malam harinya, setelah makan malam bersama Rowan dan Daren di kedai desa, Leon kembali ke kamarnya.
Tubuhnya terasa sangat lelah.
Namun pikirannya justru semakin aktif.
Ia duduk di tepi ranjang lalu membuka panel status.
Nama: Leon
Level: 4
Gelar: Murid Rowan
Skill:
Dasar Pedang Lv.1
Insting Tempur Lv.1
Kelas: ??? (Tersegel)
Leon menatap tulisan Kelas: ??? cukup lama.
"Siapa sebenarnya aku...?"
bisiknya pelan.
Saat itulah...
Tok... Tok... Tok...
Terdengar ketukan di pintu.
Leon segera berdiri.
"Masuk."
Pintu perlahan terbuka.
Namun yang masuk bukan Rowan.
Bukan Daren.
Bukan pula Lyra.
Melainkan seorang gadis berusia sekitar tujuh belas tahun dengan rambut perak sebahu dan mata biru cerah. Ia mengenakan jubah sederhana berwarna putih dengan lambang pohon emas di bagian dada.
Gadis itu menatap Leon beberapa saat sebelum tersenyum tipis.
"Jadi..."
"...kau benar-benar ada."
Leon mengernyit.
"Maaf, kita pernah bertemu?"
Gadis itu menggeleng.
"Belum."
"Tapi Guruku sudah menunggumu."
"Gurumu?"
Ia mengangguk pelan.
"Lelaki tua berjubah abu-abu."
Mata Leon langsung membelalak.
Orang yang selama ini hanya muncul dari kejauhan...
Ternyata benar-benar ada.
Dan kini...
Ia mengirim seseorang untuk menemuinya.