Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Kepanikan di Pagi Hari
Pukul enam pagi, suara alarm ponsel Galang akhirnya membangunkannya. Dengan mata yang masih berat, ia meraih ponsel di atas nakas. Begitu melihat angka yang terpampang di layar, tubuhnya langsung tersentak.
"Astaga... jam enam?"
Ia spontan bangkit dari tempat tidur. Wajahnya panik. Hari itu adalah hari Senin, hari pertama bekerja setelah akhir pekan. Ia hafal betul bagaimana kondisi jalanan menuju kantornya setiap Senin pagi. Kemacetan selalu lebih parah dibanding hari-hari biasa. Jika berangkat terlambat sedikit saja, ia bisa terjebak berjam-jam di jalan.
Di sampingnya, Mayang masih terlelap pulas. Galang menoleh sekilas ke arah wanita itu, lalu menghela napas kesal.
"Mayang, bangun! Udah jam enam!"
Mayang menggeliat malas sebelum akhirnya membuka mata. Begitu melihat jam di ponselnya, ia langsung menjerit kecil.
"Ya Allah! Kok udah jam enam?"
Galang mengusap wajahnya kasar. Entah kenapa, pagi itu ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Rumah terasa begitu sunyi.
Barulah beberapa detik kemudian ia menyadari penyebabnya.
Biasanya, saat azan Subuh berkumandang, Arini sudah lebih dulu bangun. Setelah menunaikan salat, istrinya itu akan mulai beraktivitas di dapur. Suara peralatan masak, aroma kopi yang diseduh, dan wangi masakan yang perlahan memenuhi rumah selalu menjadi penanda bahwa pagi telah dimulai.
Tak jarang, ketika Galang bangun kesiangan, semua keperluannya sudah siap. Handuk telah digantung, pakaian kerja sudah disetrika, tas kerjanya diletakkan di dekat pintu, sementara sarapan mengepul hangat di meja makan.
Namun pagi ini... Tak ada suara dari dapur. Tak ada aroma masakan. Tak ada siapa pun yang mengurus semua itu. Barulah Galang benar-benar tersadar. Arini sudah pergi.
Wanita yang selama ini diam-diam mengurus seluruh kebutuhan rumah itu telah meninggalkan rumah yang dulu ia rawat sepenuh hati.
Galang segera menggeleng pelan, seolah menepis pikiran yang mulai mengganggunya.
"Cepat bangun, siapkan baju, aku udah telat!" katanya kepada Mayang dengan nada tergesa.
Di luar kamar, suasana tak kalah kacau.
Suara pintu kamar dibuka dengan tergesa-gesa disusul langkah kaki yang berlari di lorong rumah.
"Ya ampun! Kok udah jam segini?" pekik Vera panik. Rambutnya masih acak-acakan, wajahnya kusut karena baru terbangun. Ia buru-buru mengambil handuk lalu berlari ke kamar mandi.
"Bu, kenapa nggak dibangunin, sih?" teriaknya dari balik pintu kamar mandi.
Bu Sumarni yang sejak tadi mondar-mandir di ruang tengah menjawab dengan nada tak kalah kesal.
"Ibu juga baru bangun. Semalam capek."
"Alasan terus." sahut Vera.
Beberapa menit kemudian, suara hair dryer, lemari yang dibuka tutup dengan keras, dan langkah kaki yang hilir mudik memenuhi rumah. Vera berganti pakaian secepat mungkin sambil terus menggerutu. Di sisi lain,
Tak lama kemudian, Galang dan Vera akhirnya keluar hampir bersamaan. Galang yang sudah rapi tampak beberapa kali melirik jam tangan. Mereka berjalan menuju ruang makan dengan harapan setidaknya masih sempat mengisi perut sebelum berangkat.
Namun, langkah mereka terhenti.
Meja makan yang biasanya dipenuhi aneka hidangan pagi kini kosong melompong. Tak ada nasi goreng, tak ada telur dadar, tak ada teh hangat ataupun kopi. Bahkan, piring dan gelas pun masih tersusun rapi di rak, seolah dapur belum tersentuh sejak semalam.
Vera menghela napas keras. "Mana sarapannya?"
Tak ada yang menjawab.
Ia menoleh tajam ke arah ibunya. "Bu, kok nggak masak?"
Bu Sumarni mengerutkan dahi. "Ibu juga kesiangan."
"Terus kita makan apa?" Vera mulai meninggikan suara. "Masa di rumah nggak ada makanan sama sekali?"
"Iya terus ibu harus gimana? Ibu juga baru bangun."
Vera mendecak kesal. "Dulu nggak pernah kayak gini. Setiap pagi tinggal duduk, makanan udah siap. Sekarang apa-apa berantakan."
Ucapan itu membuat suasana mendadak hening.
Mayang hanya menundukkan kepala. Ia tahu siapa yang dimaksud Vera tanpa perlu menyebut nama.
Dulu, setiap pagi Arini selalu bangun paling awal. Saat semua penghuni rumah masih terlelap, ia sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan lengkap, menyeduh kopi, bahkan memastikan bekal sudah siap. Tak seorang pun pernah memikirkan bagaimana semua itu bisa tersedia, karena mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.
Kini, setelah Arini benar-benar pergi, rumah itu mulai memperlihatkan wajah aslinya.
Tak ada lagi sosok yang diam-diam mengurus semuanya tanpa banyak bicara. Yang tersisa hanyalah kepanikan, saling menyalahkan, dan meja makan yang kosong.
Dari ruang keluarga, terdengar suara Pak Hardi.
"Bu... sarapannya mana? Saya lapar. Sebentar lagi harus minum obat."
Bu Sumarni menoleh dengan wajah semakin kusut.
"Bentar, Pak!"
Ia melihat kulkas, berharap ada bahan yang bisa dibikin menu sarapan, tetapi dia tidak menemukan apa pun yang bisa dimasak.
Bu Sumarni mengembuskan napas panjang.
"Ternyata bahannya nggak ada."
"Hah? Kok bisa nggak ada?"
"Ya habis, kemarin kan belanjanya dikit banget. Orang Galang hanya ngasih uang dua ratus ribu."
Vera langsung mengernyit. "Terus sekarang kita makan apa?"
"Ibu juga lagi mikir."
Dari ruang keluarga, Pak Hardi kembali berseru dengan nada yang mulai tidak sabar.
"Bu, jadi ada sarapan atau nggak?"
Bu Sumarni menjawab sedikit keras karena ikut terbawa emosi. "Nggak ada bahannya, Pak. Mau masak apa coba?"
Pak Hardi menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. Baru kali ini dapur rumah itu benar-benar kosong hingga tak ada satu pun menu yang bisa disajikan untuk sarapan.
Suasana pagi yang seharusnya tenang berubah menjadi penuh kepanikan. Semua orang saling kebingungan, sementara waktu terus berjalan. Galang dan Vera hanya saling berpandangan. Kini mereka mulai merasakan sendiri betapa selama ini keberadaan Arini membuat segala sesuatu di rumah itu berjalan begitu teratur. Setelah Arini pergi, hal-hal yang dulu dianggap sepele ternyata menjadi persoalan besar.
Vera mendengus kesal. Ia melirik jam dinding yang terus bergerak, sementara perutnya mulai keroncongan.
"Ya sudah, aku sarapan di luar aja. Minta uang saku, Bu. Sekalian buat bensin motor."
Bu Sumarni yang sejak tadi pusing memikirkan sarapan spontan menoleh. "Lho, kok minta ke ibu?"
Vera mengernyit. "Emang harus minta ke siapa?"
Bu Sumarni langsung mengalihkan pandangannya kepada putra sulungnya. "Galang, kasih adikmu uang saku!"
Galang yang sedang mengenakan jam tangan hanya menggeleng pelan. "Nggak ada, Bu. Aku kan belum gajian."
"Hah?" Vera menatap kakaknya tak percaya. "Serius, Mas? Masa uang buat adik aja nggak punya?"
Galang mengembuskan napas panjang. "Ya memang lagi nggak ada. Bulan ini pengeluaran banyak."
Padahal, sebagian besar pengeluarannya habis untuk menyenangkan Mayang. Mulai dari biaya akad, mas kawin, membelikan pakaian, makan di restoran, hingga berbagai kebutuhan wanita itu. Tabungannya pun ikut terkuras demi menyenangkan istri keduanya tersebut.
Bu Sumarni mulai panik. "Terus ini gimana? Masa kalian berangkat tanpa makan?"
Vera semakin kesal. "Ya aku juga nggak bisa jalan kalau nggak ada bensin, Bu. Bensin motor tinggal sedikit."
Bu Sumarni terdiam. Biasanya, urusan seperti ini tidak pernah menjadi masalah. Kalau Galang sedang tidak punya uang tunai, Arini akan diam-diam mengeluarkan uang belanja atau mentransfer kebutuhan yang diperlukan tanpa banyak bertanya. Bahkan sering kali Arini sudah lebih dulu mengisi saldo e-wallet Vera agar adik iparnya itu tidak kerepotan.
Namun kini, tidak ada lagi orang yang sigap menutupi semua kekurangan itu.
Pak Hardi yang sejak tadi memperhatikan akhirnya bersuara dengan nada datar, tetapi penuh sindiran.
"Baru aja kemarin Arini pergi, rumah ini sudah kayak kapal kehilangan nahkoda."
Kalimat itu membuat ruang makan mendadak sunyi.
Tak ada satu pun yang mampu membantah. Sebab, kini mereka benar-benar merasakan betapa banyak hal yang selama ini bergantung pada sosok Arini, sosok yang justru paling sering mereka abaikan.
__________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
lbih bagus laporin beres.