Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.
Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Panggung pembuktian diri
Senin pagi yang mendebarkan akhirnya tiba. Gedung pencakar langit berlantai lima puluh tujuh yang menjadi markas utama dari anak perusahaan Megah Corp berdiri dengan megah.
Jajaran kaca kebiruan yang membungkus arsitektur modern bangunan itu memantulkan pendar cahaya matahari pagi, memancarkan aura kekuasaan dan ambisi korporasi yang luar biasa besar.
Di sudut lobi, Larissa berdiri dengan tegap. Dia mengenakan setelan kerja formal berupa blazer hitam yang dipadukan dengan celana kain senada yang sederhana.
Meskipun sederhana, pakaian itu melekat dengan sangat pas di tubuhnya yang kini tampak lebih ramping. Rambut panjangnya disanggul rapi ke belakang dengan gaya low bun, menampakkan leher jenjangnya dan mempertegas rahangnya yang kokoh.
Wajahnya dipoles dengan riasan yang sangat tipis dan natural, menonjolkan sepasang manik mata gelap yang terlihat tegas.
Larissa melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Waktu menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Rapat presentasi tender proyek logistik raksasa itu akan dimulai tepat lima belas menit lagi di ruang konferensi utama lantai tiga puluh.
"Ayo, Ris. Kita harus segera naik dan mempersiapkan draf salinan di ruang rapat," suara Pak Joko memecah suasana.
Pria paruh baya itu tampak luar biasa tegang; pelipisnya basah oleh keringat dingin dan tangannya yang memegang tas kerja tampak sedikit bergetar.
Sebagai kepala administrasi sekaligus manajer operasional dari perusahaan logistik kecil, melangkah masuk ke dalam wilayah kekuasaan Megah Corp terasa seperti domba yang sedang berjalan masuk ke dalam istana singa.
"Baik, Pak," sahut Larissa dengan tenang.
Langkah kakinya terdengar tegas dan beritme saat dia berjalan mendampingi Pak Joko menuju lift. Di dalam hatinya, tidak ada lagi ketakutan akan kemiskinan atau status sosial yang rendah.
Tempat ini adalah panggung pembuktian pertamanya, dan dia tidak akan membiarkan apa pun mengacaukannya.
Namun takdir nampaknya senang menguji ketahanan mental manusia di detik-detik krusial.
Tepat ketika pintu lift terbuka di lantai tiga puluh, langkah Pak Joko mendadak terhenti. Wajah pria paruh baya itu seketika berubah menjadi pucat pasi, nyaris kehilangan seluruh warnanya.
Tangan kanannya refleks mencengkeram lengan baju Larissa dengan sangat kuat, sementara tangan kirinya bergerak memegangi perutnya yang mendadak melilit hebat.
"A-Aduh... Ris..." rintih Pak Joko, tubuhnya membungkuk menahan rasa sakit yang luar biasa. Butiran keringat sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahinya.
Larissa membelalakkan matanya samar, langsung menahan tubuh Pak Joko agar tidak limbung ke lantai koridor. "Pak Joko? Bapak kenapa? Apa yang terjadi?"
"Perutku... dari subuh tadi sudah terasa tidak enak, tapi aku paksakan karena ini hari besar kita," bisik Pak Joko dengan suara yang bergetar menahan mual dan perih yang luar biasa.
"Sepertinya penyakit asam lambungku kambuh karena terlalu stres memikirkan rapat ini... Aduh, kepalaku juga mendadak berputar kencang. Aku... aku tidak bisa berdiri tegak..."
Melihat kondisi Pak Joko yang sudah lemas dan napasnya yang memburu pendek, Larissa memapah Pak Joko menuju kursi sofa panjang di koridor tunggu.
Larissa melambaikan tangan kepada seorang asisten yang kebetulan sedang berjaga di depan meja registrasi panitia tender.
"Selamat pagi, Pak. Saya Larissa dari PT Laju Utama," ujar Larissa dengan tenang.
"Manajer saya baru saja mengalami serangan medis, Saya mohon bantuan untuk memanggil tim medis gedung," sambungnya meminta bantuan, dan asisten tersebut dengan cepat menghubungi tim medis gedung.
"Pak Joko, Bapak harus dibawa ke ruang klinik medis gedung ini sekarang juga," ujar Larissa tegas setelah melihat Pak Joko nyaris tidak bisa membuka matanya lagi akibat pusing yang mendera.
"Tapi... tapi rapatnya!" Pak Joko mencengkeram tangan Larissa dengan sisa tenaganya, matanya memancarkan kepanikan.
"Sebentar lagi perwakilan direksi Megah Corp akan masuk ke ruang konferensi! Tim pemasaran kita yang lain tidak ada yang menguasai draf proposal itu! Hanya aku dan kamu yang tahu seluruh seluk-beluk perhitungan efisiensi biayanya! Kalau aku pergi ke klinik... siapa yang akan maju melakukan presentasi?! Proyek kita akan langsung dicoret!"
Larissa terpaku di tempatnya berdiri. Jika mereka mundur hari ini, PT Laju Utama akan hancur, dan satu-satunya tangga yang Larissa miliki untuk merangkak naik membalas dendam pada Bram dan Vera akan patah begitu saja sebelum dia sempat menapakinya.
Dan dia akan selamanya tertahan di kantor sempit itu sebagai staf admin biasa yang dihantui rumor kemandulan.
Larissa menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
Wanita itu melepaskan cengkeraman tangan Pak Joko dengan lembut, lalu berdiri dengan tegak.
"Biar saya yang menggantikan presentasi, Pak," ujarnya, suaranya mengalun sangat tenang tanpa ada sedikit pun nada ragu atau gemetar di dalamnya.
"Bapak biar di periksa dulu dan istirahat. Serahkan seluruh ruang rapat itu kepada saya. Saya yang menyusun proposal itu dari awal, dan saya yang akan memastikan proyek ini jatuh ke tangan kita."
Pak Joko menatap Larissa dengan pandangan tidak percaya bercampur kagum. Di tengah situasi krisis yang sanggup meruntuhkan mental pria dewasa, wanita yang selalu diterpa rumor miring ini justru berdiri tegak bagai benteng pertahanan yang kokoh.
"Larissa... kamu... kamu serius? Kamu berani maju sendirian menghadapi para petinggi Megah Corp?"
Larissa tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menganggukkan kepalanya sekali dengan mantap, lalu meraih map plastik merah tebal berisi draf proposal.
Dia membalikkan badannya, melangkah tegap menuju pintu ganda kayu besar yang menjadi gerbang menuju ruang konferensi utama, meninggalkan Pak Joko yang sedang dipapah petugas medis menuju klinik.
Begitu Larissa mendorong pintu tersebut, atmosfer kemewahan dan tekanan langsung menyergap seluruh inderanya. Ruangan itu sangat luas, didominasi oleh sebuah meja rapat oval raksasa berbahan kayu eboni hitam yang berkilau mahal.
Di sekeliling meja tersebut, telah duduk belasan pria dan wanita paruh baya. Mereka adalah jajaran dewan direksi, manajer senior Rantai Pasok, dan tim kurator teknis dari anak perusahaan Megah Corp.
Di sudut paling depan ruangan, terdapat sebuah podium yang dilengkapi dengan mikrofon dan layar proyektor raksasa yang menyala terang.
Karena materi presentasinya sudah disiapkan oleh staf IT, layar proyektor besar di depan ruangan sudah menyala megah, menampilkan slide pembuka dari PT Laju Utama tanpa ada kendala.
Larissa melangkah masuk sendirian, memecah keheningan ruangan. Kehadirannya yang tanpa didampingi oleh manajer pria seketika memicu kerutan di dahi para petinggi yang hadir.
Tatapan menilai, skeptis, dan dingin dari belasan pasang mata langsung menghujam tubuh Larissa dari berbagai arah.
Larissa merasakan telapak tangannya mendadak dingin. Rasa gugup tiba-tiba menyerang batinnya, ini adalah pertama kalinya dia berdiri di hadapan para elite bisnis setelah lima tahun penuh mengurung diri sebagai ibu rumah tangga penurut di rumah Bram.
Selama lima tahun itu, Bram selalu mencuci otaknya, mendoktrinnya dengan kalimat kejam bahwa dia hanyalah wanita yatim piatu bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang dunia luar, wanita tidak berguna yang kapabilitasnya tidak lebih tinggi dari urusan dapur dan kasur.
Larissa berdiri di balik podium, tangannya yang memegang remot presentasi sedikit bergetar. Dia menatap belasan pasang mata dingin di hadapannya yang seolah sedang menanti kegagalannya.
Dia memejamkan matanya selama tiga detik. Di dalam kegelapan batinnya itu, dia mengingat kembali rasa dingin air hujan saat dia diusir dari rumahnya sendiri.
Dia mengingat tumpukan abu hitam dokumen pengorbanannya yang dibakar Bram tanpa ampun. Dan dia mengingat sumpah dendam yang dia ucapkan di depan cermin kos kecilnya.
“Jangan jadi pengecut, Ris." bisik suara batinnya.
Ketika dia membuka matanya kembali, seluruh getaran di tangannya lenyap seketika. Rasa gugupnya menguap tanpa sisa, bertransformasi sepenuhnya menjadi rasa percaya diri.
Larissa menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah jajaran dewan direksi, lalu menekan tombol pertama pada remot presentasi. Layar proyektor di belakangnya seketika menampilkan diagram analisis rute distribusi logistik yang sangat kompleks namun tertata rapi.
"Selamat pagi, jajaran dewan direksi dan tim kurator Megah Corp," Larissa mulai berbicara. Suaranya yang mengalun melalui pengeras suara podium terdengar sangat jernih dan tegas.
"Nama saya Larissa, perwakilan dari PT Laju Utama. Pagi ini, saya berdiri di sini bukan untuk menyajikan untaian janji manis tentang pelayanan pengiriman barang. Saya berdiri di sini untuk membongkar tiga titik buta fatal dalam sistem manajemen rantai pasok global dan menyodorkan solusi efisiensi biaya yang akan menghemat anggaran korporasi Anda hingga tiga puluh lima persen pada kuartal pertama."
Kalimat pembuka yang sangat berani itu seketika memotong kebosanan para direksi. Beberapa manajer senior yang semula sibuk memeriksa ponsel mereka, mendadak mendongakkan kepala dengan wajah terkejut, menatap Larissa dengan pandangan mata yang mulai fokus dan tertarik.
Larissa mulai memaparkan isi proposalnya. Detik demi detik berlalu, dan Larissa bertransformasi sepenuhnya menjadi sosok arsitek bisnis yang luar biasa jenius di atas podium.
Dengan diksi bahasa bisnis yang sangat berkelas, Larissa menguliti satu per satu kelemahan sistem logistik konvensional. Menggunakan papan digital, jemarinya dengan lincah mencoret rute-rute distribusi yang selama ini membuang waktu dan biaya akibat kemacetan jalur luar kota.
Dia menyodorkan metode konsolidasi kargo terintegrasi dan penggunaan algoritma pembagian rute dinamis yang dia pelajari secara otodidak di kamar kosnya yang pengap.
Setiap angka efisiensi, data statistik perbandingan cuaca, hingga matriks manajemen risiko bea cukai yang dia paparkan disajikan dengan logika yang sangat detail, dan tidak terbantahkan.
Beberapa kali, manajer senior Rantai Pasok Megah Corp mencoba melayangkan pertanyaan jebakan yang rumit untuk menguji mentalnya.
Tapi Larissa berhasil menjawab setiap pertanyaan itu dalam hitungan detik menggunakan data yang akurat, membuat si manajer terpaksa menganggukkan kepala dengan wajah kagum dan bungkam tak berkutik.
Kejeniusan dan ketelitian analisis Larissa benar-benar memukau dan menghipnotis seluruh ruang rapat yang semula dingin itu.
Sementara itu, di sudut paling belakang ruang konferensi, duduk seorang pria muda mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan pin logo emas Megah Corp di kerahnya. Pria itu adalah Harris, asisten pribadi utama dari CEO tertinggi Megah Corp.
Sepanjang jalannya presentasi, sepasang mata Harris tidak pernah lepas dari sosok Larissa di atas podium. Keningnya berkerut dalam, bukan karena tidak suka, melainkan karena rasa takjub yang luar biasa besar melihat performa wanita tersebut.
Harris meraih ponselnya dari balik saku jas, lalu dengan jari yang bergerak cepat, dia mengetik sebuah pesan yang ditujukan langsung ke nomor pribadi bos besarnya, sang penguasa tertinggi Megah Corp yang memegang kendali atas triliunan aset.
Pesan itu berbunyi: “Pak Bayu, presentasi dari vendor logistik skala kecil PT Laju Utama sedang berlangsung di lantai tiga puluh. Perwakilan mereka adalah seorang wanita bernama Larissa, baru saja merombak total seluruh draf strategi pemasaran dengan analisis efisiensi biaya sebesar 35 persen yang sangat rasional."
"Performanya tajam dan berhasil membungkam seluruh dewan direksi. Saya rasa, kita baru saja menemukan permata tersembunyi."
Dua puluh menit berlalu, Larissa menutup presentasinya dengan sebuah kesimpulan yang sangat kuat dan memukau. Dia mematikan layar proyektor, lalu memberikan penghormatan kecil dengan kepala yang tertunduk anggun.
"Esensi dari sebuah kemitraan logistik bukanlah tentang siapa perusahaan terbesar, melainkan tentang siapa yang memiliki ketepatan kalkulasi terkecil untuk mengamankan setiap sen investasi Anda. PT Laju Utama memiliki kalkulasi itu, dan saya siap menjamin akurasinya di lapangan. Terima kasih," tutupnya dengan tenang.
Suasana ruang rapat itu sempat hening selama dua detik, sebelum akhirnya...
Prok! Prok! Prok!
Suara tepuk tangan yang sangat meriah pecah dari ujung meja rapat, disusul oleh tepuk tangan dari seluruh jajaran dewan direksi dan tim kurator yang hadir di dalam ruangan.
Beberapa manajer senior bahkan berdiri dari kursi mereka, memberikan penghormatan atas performa presentasi paling brilian yang pernah mereka saksikan sepanjang tahun ini.
Larissa mengembuskan napas panjang di balik podium, sebuah perasaan lega dan puas membuncah di dalam dadanya. Dia berhasil.
Dia baru saja membuktikan pada dirinya sendiri, pada dunia, dan secara tidak langsung pada bayang-bayang kejam Bram Baskoro bahwa dia bukanlah wanita bodoh tak berguna yang bisa diinjak-injak sesuka hati.
Setelah ruang rapat mulai membubarkan diri secara teratur, seorang pria paruh baya mengenakan jas hitam yang merupakan perwakilan tertinggi sekaligus Direktur Utama dari anak perusahaan Megah Corp melangkah mendekati podium tempat Larissa sedang membereskan berkas-berkasnya.
Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Larissa. "Presentasi yang sangat luar biasa dan mengagumkan, Ibu Larissa. Saya sudah puluhan tahun memimpin tender di perusahaan ini, dan saya belum pernah melihat analisis strategi rantai pasok setajam dan sesegar apa yang Anda paparkan hari ini. Anda benar-benar jenius."
Larissa menyambut uluran tangan tersebut, menyunggingkan senyum tipis. "Terima kasih banyak atas kesempatannya, Pak. Saya hanya menyajikan data yang rasional."
Direktur Utama itu mengangguk kagum, lalu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan selembar nota resmi berlogo hologram emas Megah Corp. Dia menyerahkannya ke tangan Lana dengan sikap yang sangat terhormat.
"Proposal Anda sukses besar dan telah disetujui secara mutlak oleh seluruh dewan direksi kami hari ini," ujar sang Direktur Utama, nadanya terdengar sangat serius dan bersemangat.
"Namun sesuai dengan regulasi utama korporasi kami untuk proyek berskala nasional, penandatanganan kontrak akhir tidak bisa dilakukan di tingkat anak perusahaan."
Pria itu menjeda kalimatnya sejenak, "Besok pagi pukul sepuluh, CEO utama dan pemilik tertinggi dari seluruh jaringan Megah Corp ingin bertemu langsung dengan Anda di ruangnya untuk menandatangani kontrak kerja sama ini secara formal. Beliau sendiri yang meminta kehadiran Anda setelah membaca laporan dari asisten pribadinya."
Larissa tertegun di tempatnya berdiri, menggenggam nota resmi berhologram emas itu dengan jemari yang bergetar samar, bukan karena takut, melainkan karena gelombang kemenangan yang kian mendekat.
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut