Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Sang Garda Depan
Sinar matahari pagi di hari ketiga kiamat terasa jauh lebih terik dari biasanya. Tidak ada lagi kicauan burung atau suara deru mesin kendaraan. Kota Seoul kini sepenuhnya tenggelam dalam keheningan yang hanya sesekali dipecahkan oleh suara reruntuhan beton dari kejauhan.
Di lantai seratus Menara Surga, Han Do-Yoon berdiri di depan pintu kamar utama. Tangan kanannya menempel pada daun pintu kayu mahoni tersebut, mengalirkan energi sihir berwarna hitam pekat yang perlahan membentuk pola jaring rumit di seluruh permukaan dinding dan pintu kamar.
"Keahlian: Segel Bayangan Mutlak," gumam Do-Yoon.
Aura hitam itu meresap ke dalam material kayu dan beton, mengeras layaknya lapisan baja tak kasat mata. Do-Yoon melepaskan tangannya, membiarkan napasnya berhembus pelan. Ia baru saja mengorbankan dua puluh persen total Energi Sihirnya untuk menciptakan perisai pelindung ini.
Yoo Ji-Ah, yang sudah bersiap dengan pedangnya di pinggang, menatap pola bayangan yang perlahan memudar itu dengan takjub.
"Apakah Ji-Hye akan benar-benar aman di dalam sana?" tanya Ji-Ah, meski matanya memancarkan kepercayaan penuh. Ia telah meninggalkan cukup air dan makanan kaleng di samping ranjang adiknya.
"Segel ini mengisolasi keberadaan energi kehidupan di dalamnya," jawab Do-Yoon sambil memperbaiki kerah kemejanya. "Monster-monster yang mengandalkan penciuman atau deteksi sihir tidak akan bisa merasakan adikmu. Bahkan jika ada makhluk Tingkat C yang berhasil naik hingga ke lantai seratus, mereka membutuhkan waktu berjam-jam untuk mendobrak segel ini. Adikmu tidak akan bangun sampai kita kembali."
Ji-Ah mengangguk mantap. Meninggalkan Ji-Hye di tempat yang aman adalah pilihan terbaik. Membawa anak berusia delapan tahun ke dalam penjara yang dipenuhi penjahat haus darah sama saja dengan mencari mati.
"Kita berangkat sekarang," perintah Do-Yoon.
Mereka keluar menuju balkon griya tawang yang menghadap langsung ke arah barat daya. Alih-alih turun menggunakan lorong kereta angkut seperti kemarin, Do-Yoon memanggil Panggung Bayangan miliknya. Lempengan kegelapan itu terbentuk di udara terbuka.
Mereka berdua melompat ke atas panggung tersebut.
Dengan satu perintah dari pikiran Do-Yoon, panggung bayangan itu melesat membelah udara pagi. Mereka berselancar di atas lautan atap gedung-gedung Seoul, mengabaikan gerombolan monster yang hanya bisa meraung marah dari bawah jalan raya.
Tepat saat arloji Do-Yoon menunjukkan pukul 08:00 pagi, suara lonceng perak kembali berdentang di dalam kepala mereka.
[Tahap Penyesuaian Hari Ketiga dimulai.]
[Seluruh penyintas yang tersisa kini telah dipaksa untuk beradaptasi. Sistem akan menguji struktur sosial umat manusia yang baru.]
[Misi Utama Ketiga: Hukum Rimba (Perebutan Wilayah) diaktifkan!]
Tingkat Kesulitan: C
Keterangan: Tatanan dunia lama telah hancur. Ini adalah saatnya bagi para penguasa baru untuk bangkit. Taklukkan salah satu Zona Strategis di wilayah Anda, atau jadilah bawahan dari penguasa yang memenangkan zona tersebut.
Syarat Penyelesaian: Duduki dan klaim Inti Wilayah di dalam Zona Strategis, lalu pertahankan selama 6 jam.
Hadiah: Hak kepemilikan mutlak atas Zona Strategis, 10.000 Koin Emas, dan Peningkatan Tingkat +1.
Hukuman Kegagalan: Penurunan Atribut sebesar 50% selama tiga hari bagi yang tidak memiliki wilayah bernaung.
"Sistem mulai memaksa manusia untuk saling membunuh demi memperebutkan wilayah," gumam Ji-Ah, membaca layar biru di depannya dengan dahi berkerut. "Hukuman kegagalannya sangat kejam. Penurunan atribut lima puluh persen sama saja dengan hukuman mati jika berpapasan dengan monster."
"Itu adalah cara Sistem menyaring sampah dari emas," Do-Yoon menatap lurus ke depan, ke arah sebuah kompleks bangunan raksasa yang dikelilingi oleh tembok beton tinggi dan kawat berduri. "Dan wilayah yang ada di depan kita ini adalah salah satu Zona Strategis terbaik di tahap awal. Rumah Tahanan Seoul."
Panggung bayangan mereka mulai menukik turun.
Dari udara, mereka bisa melihat kondisi penjara tersebut. Asap hitam mengepul dari beberapa blok sel. Tembok luar penjara masih utuh, namun halaman utamanya dipenuhi oleh kekacauan. Tidak ada monster di dalam tembok tersebut. Yang ada hanyalah manusia.
Ratusan manusia mengenakan seragam tahanan berwarna oranye dan biru kusam berkumpul di lapangan olahraga. Di tengah-tengah lapangan, beberapa sipir penjara berseragam biru tua tampak diikat dan disuruh berlutut dengan wajah babak belur.
Do-Yoon dan Ji-Ah mendarat di atas atap menara pengawas utama tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Mereka menatap ke bawah layaknya dewa kematian yang sedang mengawasi semut-semut pekerja.
Di tengah lapangan, seorang pria plontos bertubuh sangat gemuk dan penuh tato naga melangkah maju. Ia membawa sebilah kapak besar yang bilahnya menyala oleh api kemerahan.
Itu adalah Hwang Jang-Ho, seorang gembong narkoba dan pembunuh berantai yang di kehidupan lama dijatuhi hukuman seumur hidup.
"Dengar baik-baik, kalian semua!" teriak Hwang Jang-Ho, suaranya diperkuat oleh energi sihir hingga menggema ke seluruh penjuru penjara. "Dunia yang lama sudah mati! Hakim, jaksa, dan polisi yang memasukkan kita ke dalam sangkar ini sekarang tidak lebih dari tumpukan kotoran di jalanan!"
Para tahanan di sekelilingnya bersorak kegirangan, mengangkat senjata-senjata rampasan mereka.
"Sistem telah memilihku!" Hwang Jang-Ho menepuk dadanya sendiri yang berotot tebal. "Aku mendapatkan Kelas 'Algojo Darah'! Dan hari ini, aku akan mengklaim Inti Wilayah penjara ini. Mulai sekarang, akulah hukumnya! Dan hukum pertamaku adalah... eksekusi bagi para anjing penjaga ini!"
Hwang Jang-Ho mengangkat kapak apinya tinggi-tinggi, bersiap memenggal kepala sipir penjara yang paling tua. Sipir itu memejamkan mata, gemetar dalam keputusasaan yang mutlak.
Namun, sebelum kapak itu mengayun turun, suara hantaman keras terdengar dari arah barisan tahanan.
BUM!
Tiga orang tahanan bertubuh kekar terlempar ke udara dan jatuh menghantam pagar kawat hingga pingsan.
Dari balik kerumunan yang terbelah, sesosok raksasa melangkah maju dengan langkah berat yang membuat tanah bergetar. Tingginya mencapai dua meter, dengan bahu seluas pintu dan otot-otot yang mengembang layaknya balok baja. Ia mengenakan seragam tahanan bernomor 707, wajahnya dipenuhi luka memar segar, namun matanya memancarkan keteguhan yang mustahil dipatahkan.
"Hentikan, Hwang Jang-Ho," geram raksasa itu, suaranya berat layaknya gerusan batu karang.
Ji-Ah yang mengamati dari atas menara pengawas langsung menoleh ke arah Do-Yoon. "Itu dia?"
"Kang Tae-Ho," Do-Yoon menyeringai tipis. "Sang Garda Perunggu Absolut."
Di lapangan bawah, Hwang Jang-Ho menoleh dan mendecakkan lidah kesal. "Kang Tae-Ho. Kau lagi. Aku tidak mengerti, kenapa orang sepertimu yang masuk ke sini karena membunuh seorang lintah darat bajingan justru sok berlagak menjadi pahlawan bagi para sipir ini? Mereka menyiksamu bulan lalu di sel isolasi, ingat?!"
Tae-Ho berdiri tegak di depan sipir yang berlutut, melindungi mereka dengan tubuh besarnya. Tangan kanannya memegang sebuah tameng baja darurat yang ia sobek dari pintu sel tahanan.
"Mereka memang bajingan," jawab Tae-Ho dengan nada tenang, "tetapi mereka tetaplah manusia. Dan aku tidak akan membiarkan pembantaian tak berdaya terjadi di depan mataku. Jika kau ingin membunuh mereka, kau harus melewati mayatku dulu."
"Hahaha! Keberanian yang bodoh!" Hwang Jang-Ho tertawa terbahak-bahak, lalu matanya berubah menjadi bengis. "Kau pikir karena Pembangkitan Kelasmu adalah 'Pembela Baja', kau bisa menahan seranganku? Aku berada di Tingkat 12, Tae-Ho! Kau hanyalah Tingkat 8 yang belum berani membunuh monster apa pun di luar sana!"
Tanpa basa-basi, Hwang Jang-Ho menerjang maju. Kapak apinya mengayun mendatar dengan kekuatan penuh, menciptakan lengkungan api yang membakar oksigen di sekitarnya.
"Keahlian: Dinding Baja!" raung Tae-Ho.
Aura berwarna perak pucat meledak dari tubuh Tae-Ho, menyelimuti pintu sel yang ia jadikan tameng. Ia menancapkan kuda-kudanya, menyerap seluruh dampak benturan dari kapak tersebut.
TRANGGG! BUMMM!
Ledakan energi terjadi. Aspal di bawah kaki Tae-Ho hancur, dan tubuh raksasanya terdorong mundur hingga tiga meter. Darah segar menetes dari sudut bibirnya, dan pintu sel bajanya meleleh sebagian akibat panasnya kapak Hwang Jang-Ho. Namun, ia tidak jatuh. Ia berhasil melindungi sipir di belakangnya.
"Sialan! Matilah kau, bongkahan daging!" Hwang Jang-Ho mengayunkan kapaknya bertubi-tubi dalam kemarahan yang buta.
Trang! Trang! KRAK!
Pada hantaman keempat, tameng pintu baja Tae-Ho akhirnya hancur berkeping-keping. Kapak api itu menyayat dada Tae-Ho secara diagonal, merobek seragam tahanannya dan menyemburkan darah segar.
Tae-Ho jatuh berlutut, napasnya terputus-putus. Atribut kelincahannya yang sangat rendah membuatnya tidak bisa menghindari serangan beruntun tersebut.
"Ini akhirnya, Kang Tae-Ho!" Hwang Jang-Ho mengangkat kapaknya tinggi-tinggi, mengincar leher pria raksasa itu. "Jadilah tumbal pertamaku!"
Tae-Ho memejamkan mata. Ia sudah tidak memiliki sisa Energi Sihir untuk mempertahankan diri. Ia telah berjuang hingga titik darah penghabisan untuk melindungi nilai keadilan yang ia yakini.
Namun, rasa sakit yang ia tunggu tidak kunjung datang.
Tepat saat kapak itu hendak menebas leher Tae-Ho, sebuah kilatan petir berwarna hitam pekat menyambar dari langit.
JDAR!
Hwang Jang-Ho terlempar mundur hingga puluhan meter, tubuh gemuknya berguling-guling di atas aspal dan menabrak tembok beton penjara dengan kekuatan yang mengerikan. Kapak apinya terlepas dan berputar di udara sebelum akhirnya ditangkap oleh sebuah tangan ramping yang terbalut aura kegelapan.
Keheningan seketika menyelimuti seluruh lapangan penjara. Ratusan tahanan yang tadi bersorak kini terdiam membeku, menatap kemunculan sosok misterius yang jatuh dari langit.
Debu perlahan menipis, memperlihatkan Han Do-Yoon yang berdiri santai di depan Kang Tae-Ho. Jas hitamnya berkibar tertiup angin. Di tangan kanannya, ia memegang kapak api milik Hwang Jang-Ho.
"Senjata yang buruk," gumam Do-Yoon datar. Ia meremas gagang kapak tersebut. Energi Ketiadaan murni meledak dari telapak tangannya, melahap api kemerahan itu dan menghancurkan seluruh bilah kapak tersebut menjadi debu besi dalam hitungan detik.
Para tahanan menahan napas dalam kengerian absolut. Senjata Tingkat Langka milik bos mereka dihancurkan hanya dengan satu remasan tangan kosong!
Tae-Ho perlahan membuka matanya. Ia menatap pria berbahu tegap yang berdiri memunggunginya. "S-siapa... kau?"
Do-Yoon tidak menoleh. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Ji-Ah yang baru saja mendarat dengan elegan di sampingnya, Pedang Panjang Besi Hitam-nya sudah terhunus dari sarungnya.
"Ji-Ah," panggil Do-Yoon, suaranya bergema menembus kesunyian, dingin dan tanpa belas kasihan. "Di tempat ini, semua yang mengenakan seragam tahanan selain pria besar di belakangku ini, adalah sampah. Jika ada satu saja dari mereka yang berani melangkah maju..."
Do-Yoon menatap ratusan pasang mata yang gemetar ketakutan di depannya. Matanya yang segelap malam tanpa bintang memancarkan niat membunuh yang membuat suhu udara di lapangan itu anjlok drastis.
"...Pancung kepala mereka tanpa ampun."
jangan lupa hadir juga 😉