Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.
Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maya Dipindahkan ke Kamar Belakang Hanya Bibi Rina dan Alena yang Masih Pe
Bab 7
Sejak saat aku melihat wajah asli Vanessa yang penuh kebencian itu suasana di rumah berubah menjadi semakin gelap dan semakin berat bagiku. Ia tidak lagi berusaha menyembunyikan rasa tidak sukanya kepadaku sepenuhnya meskipun di hadapan Ayah Ibu dan ketiga kakakku ia masih tetap memakai topeng gadis yang lemah dan baik hati. Setiap kali kami berpapasan sendirian di lorong atau di halaman belakang ia akan menatapku dengan tatapan yang tajam dan penuh ancaman seolah olah sedang mengingatkanku untuk tetap diam dan tidak mencoba menghalangi jalannya. Aku tahu bahwa ia sedang menunggu waktu yang tepat untuk melakukan langkah selanjutnya dan aku tahu bahwa waktu yang tersisa bagiku semakin sedikit setiap harinya.
Beberapa hari kemudian saat aku pulang dari berjalan kaki sebentar di halaman depan rumah aku melihat pintu kamarku terbuka lebar dan beberapa pelayan sedang memindahkan barang barangku ke dalam kardus kardus besar yang tersusun rapi di lantai. Aku terkejut dan segera berjalan masuk ke dalam kamar yang selama ini menjadi tempat peristirahatanku sejak aku masih kecil. Di sana berdiri Ibu bersama Vanessa yang berdiri di belakangnya dengan wajah yang tampak sedih dan kasihan seolah olah ia tidak setuju dengan apa yang sedang terjadi namun tidak berani mengucapkan apa pun. Ibu berkata dengan suara yang dingin dan tidak menatap mataku lagi Maya kami memutuskan untuk memindahkanmu ke kamar yang lain di bagian belakang rumah. Kamar ini lebih besar dan lebih bagus dan lebih cocok untuk Vanessa karena ia sering merasa tidak enak badan dan membutuhkan ruangan yang lebih luas dan lebih terang untuk pemulihannya. Kamar yang baru untukmu sudah disiapkan di bagian belakang dekat dapur di sana juga tenang dan tidak bising sehingga kau bisa beristirahat dengan nyaman tanpa mengganggu orang lain.
Hati rasanya seperti tertusuk berkali kali mendengar kata kata itu. Ini adalah kamarku kamarku sejak aku lahir di sini dinding dinding ini menyimpan setiap tawa setiap tangis setiap mimpi yang pernah aku miliki selama bertahun tahun. Dan sekarang aku dipindahkan pergi begitu saja seolah olah aku hanyalah barang yang bisa dipindah pindah sesuka hati mereka kapan pun mereka mau kapan pun ada orang lain yang menginginkan tempatku. Aku menatap Ibu dan berkata dengan suara yang bergetar Ibu ini kamarku sendiri kenapa aku harus pindah? Vanessa bisa menempati kamar yang lain yang juga luas dan terang di lantai atas yang lain kenapa harus kamarku? Namun Ibu hanya menggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada yang tidak mau dibantah keputusan sudah diambil Maya. Jangan membuat masalah lagi kali ini juga. Pindahkan barang barangmu secepatnya sebelum sore hari tiba.
Aku menoleh ke arah Vanessa yang berdiri di belakang bahu Ibu. Saat Ibu tidak melihat ke arahnya Vanessa tersenyum senyum kemenangan yang tipis namun sangat jelas terlihat olehku. Ia berhasil mengambil kamarku juga satu hal lagi yang dulunya milikku kini menjadi miliknya. Tidak ada satu orang pun dari ketiga kakakku yang datang bertanya atau membela aku saat itu. Mereka semua entah ke mana seolah olah mereka sengaja pergi agar tidak perlu melihat aku diusir dari tempat yang seharusnya menjadi milikku selamanya. Dengan perasaan yang hancur aku mulai membantu pelayan pelayan yang terlihat tidak enak hati namun tidak berani menolak perintah tuan rumah. Kami memindahkan buku buku pakaian mainan kenangan dan barang barangku yang lain satu per satu ke kamar yang baru di bagian paling belakang rumah yang letaknya agak terpisah dari bangunan utama dan jauh sekali dari ruang ruang tempat Ayah Ibu dan ketiga kakakku biasanya berkumpul bersama Vanessa.
Kamar yang baru itu jauh lebih kecil dari kamarku yang dulu jendelanya menghadap ke arah tembok tinggi dan pepohonan rimbun yang membuat cahaya matahari sulit masuk ke dalam ruangan. Lantainya terasa agak dingin dan dindingnya terlihat sedikit tua dan kusam. Tidak ada hiasan dinding yang indah tidak ada karpet yang lembut dan tidak ada lemari besar yang bagus seperti yang ada di kamarku yang dulu. Namun aku tahu bahwa aku tidak boleh mengeluh karena setidaknya aku masih memiliki atap di atas kepalaku dan tempat untuk menyembunyikan buku catatan pentingku dengan aman. Aku menyusun barang barangku seadanya di tempat yang tersedia dan menyembunyikan buku catatan tebalku di dalam laci meja kayu tua yang terkunci rapat di sudut ruangan.
Saat hari mulai gelap seseorang mengetuk pintu kamarku yang baru itu pelan sekali. Saat aku membukanya ternyata itu adalah Bibi Rina pelayan yang sudah bekerja di rumah ini sejak aku masih bayi. Bibi Rina selalu memperlakukanku dengan baik sejak dulu dan sering membawakan makanan enak kepadaku saat aku masih kecil. Ia masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi makanan hangat dan menutup pintu dengan hati hati agar tidak ada orang lain yang melihatnya. Ia meletakkan nampan itu di atas meja lalu menatapku dengan mata yang berkaca kaca dan berkata dengan suara yang pelan sekali agar tidak terdengar dari luar aku sangat menderita melihat semua ini terjadi Nona Maya. Tidak ada satu orang pun yang berani membela kau di depan Tuan dan Nyonya maupun ketiga Tuan Muda. Semua orang takut kalau mereka memihak kepadamu mereka akan dianggap tidak setuju dengan kehadiran Nona Vanessa dan akan diusir dari rumah ini. Hanya aku yang berani membawakan makanan untukmu karena aku tidak tega melihat kau sendirian di sini tanpa diperhatikan sedikit pun.
Aku memeluk Bibi Rina dengan rasa terima kasih yang sedalam dalamnya. Di rumah yang seharusnya penuh dengan keluargaku sendiri justru orang asing yang bekerja di sini yang masih memiliki hati nurani yang tulus kepadaku. Bibi Rina berkata kepadaku bahwa aku harus berhati hati sekali dengan Vanessa karena ia sering mendengar pembicaraan yang aneh di telepon dan melihat orang orang asing yang datang diam diam ke pintu belakang saat larut malam. Ia juga berkata bahwa Ayah dan Ibu serta ketiga kakakmu benar benar buta saat ini Nona Maya. Tidak ada satu hal pun yang tidak terlihat jelas oleh siapa pun yang tidak memihak namun mereka tidak mau melihatnya. Bibi Rina berjanji akan selalu datang sesering mungkin untuk membawakan makanan dan memberi tahu jika ada hal penting yang terjadi di bagian depan rumah yang perlu aku ketahui. Kehadiran Bibi Rina memberiku kekuatan yang baru seolah olah aku tidak benar benar sendirian di tempat yang asing dan sepi ini.
Beberapa hari kemudian Alena datang berkunjung seperti biasa namun kali ini ia tidak diizinkan masuk ke dalam rumah melalui pintu depan seperti dulu. Pelayan yang membukakan pintu berkata dengan muka yang malu namun tegas bahwa tamu yang mencari Maya harus masuk melalui pintu belakang mulai sekarang. Alena tidak marah sedikit pun ia langsung berjalan mengikuti pelayan itu menuju ke kamarku yang baru di bagian belakang rumah. Saat ia masuk dan melihat betapa kecilnya tempat tinggalku sekarang matanya langsung berkaca kaca dan ia memelukku erat erat tanpa mengucapkan sepatah kata pun terlebih dahulu. Setelah ia tenang ia melihat sekeliling ruangan dan berkata dengan suara yang penuh kemarahan yang tertahan bagaimana bisa mereka melakukan hal seperti ini kepadamu Maya? Kau adalah darah daging mereka sendiri sementara gadis itu hanyalah orang asing yang datang entah dari mana. Namun Alena segera menghela napas panjang dan menenangkan dirinya sendiri lalu melanjutkan dengan nada yang tegas tidak apa apa tempat ini tidak masalah yang penting kau tetap aman dan tetap waspada. Kita akan membuktikan semuanya dan saat hari itu tiba mereka akan datang memohon maaf kepadamu di tempat ini sendiri.
Alena juga membawakan kabar penting untukku. Ia sudah mulai mencari informasi tentang asal usul Vanessa namun sejauh ini sulit sekali menemukan jejak yang jelas. Seolah olah Vanessa muncul begitu saja dari ketiadaan tanpa ada riwayat masa lalu yang bisa ditemukan di mana pun. Hal itu semakin memperkuat kecurigaan kami bahwa nama Vanessa mungkin bukan nama aslinya dan bahwa ia sengaja dikirim atau dikirimkan ke dalam keluargaku dengan tujuan tertentu yang sudah direncanakan sejak lama sekali. Alena berkata bahwa ia akan terus mencari sampai menemukan kebenaran dan menyuruhku untuk terus mencatat setiap hal kecil yang terjadi di rumah ini karena catatan catatanku adalah senjata paling kuat yang kita miliki saat ini.
Setelah Alena pulang aku duduk sendirian di tepi tempat tidurku sambil memandangi cahaya bulan yang samar samar masuk melalui jendela kamarku yang baru. Di rumah yang besar dan megah itu ada banyak ruangan yang luas terang dan nyaman namun tidak ada satu ruangan pun yang disediakan untukku dengan sukarela kecuali ruangan kecil yang tersembunyi di bagian belakang ini. Namun di tempat yang kecil dan sepi ini justru aku menemukan dua orang yang tulus kepadaku tanpa mengharapkan imbalan apa pun yaitu Bibi Rina yang setiap hari merawatku dan Alena yang selalu datang membawakan harapan dan kebenaran. Di ruangan kecil inilah buku catatanku semakin tebal setiap harinya di sinilah setiap gerak gerik Vanessa dicatat satu per satu dengan teliti dan di sinilah aku menunggu dengan sabar sampai tumpukan kebohongan itu runtuh dengan sendirinya di hadapan mata mereka semua.
Malam itu aku menulis di halaman baru buku catatanku tentang pindahnya aku ke kamar belakang tentang kebaikan Bibi Rina yang berani membawakan makanan secara diam diam dan tentang kedatangan Alena yang tidak peduli harus masuk lewat pintu belakang demi bertemu sahabatnya. Aku menulis bahwa penderitaan yang aku alami hari ini bukanlah tanda bahwa aku sudah kalah melainkan tanda bahwa musuhku merasa terancam dan ingin menyingkirkanku sejauh mungkin dari pusat segala sesuatu yang berharga. Namun ia lupa satu hal semakin jauh aku disingkirkan semakin leluasa aku bergerak tanpa diawasi semakin banyak hal yang bisa aku lihat dan dengar tanpa diketahui oleh siapa pun. Di tempat tersembunyi inilah aku akan menyusun kekuatan dan mengumpulkan semua bukti yang diperlukan untuk hari pembalasan yang pasti akan datang. Tidak peduli seberapa gelap dan sepi tempat ini cahaya kebenaran tidak akan pernah padam di dalam hatiku dan suatu hari nanti cahaya itu akan bersinar terang sampai ke sudut paling gelap di rumah ini dan di dalam hati setiap orang yang telah memalingkan wajah dariku.
Bersambung...