Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Meeting Lantai 8
Ruang meeting itu jauh lebih besar dari yang Doni bayangkan meja oval panjang, kursi kulit hitam berjejer rapi, layar proyektor besar menempel di dinding kaca yang menghadap pemandangan kota dari lantai delapan.
Empat orang udah duduk menunggu Pak Yusuf dari divisi pengadaan, dua orang lain yang belum Doni kenal, dan seorang wanita paruh baya berkacamata yang duduk paling ujung, terlihat paling senior dari cara semua orang sedikit menunduk hormat waktu dia masuk belakangan.
"Selamat pagi, silakan duduk," kata Pak Yusuf, menunjuk dua kursi kosong.
Doni dan Pak Hardianto duduk berdampingan. Doni ngerasa jantungnya berdebar kencang, tapi berusaha nunjukin muka setenang mungkin.
"Perkenalkan, ini Bu Ratna, Direktur Pengadaan kami," kata Pak Yusuf, menunjuk wanita berkacamata itu. "Dan ini Pak Bimo dari tim legal."
"Selamat pagi," sapa Doni, suaranya sedikit gemetar di awal.
"Selamat pagi. Silakan mulai presentasinya," kata Bu Ratna, nadanya datar tapi nggak terkesan galak.
Doni berdiri, membuka laptop, slide pertama muncul di layar besar foto kebun kelapa dan pohon aren di Desa Kenanga, diambil sendiri pakai HP waktu dia pulang kampung beberapa minggu lalu.
"Selamat pagi, Bapak Ibu sekalian. Saya Doni, mewakili Koperasi Tani Makmur Sejahtera, gabungan dari Desa Kenanga dan Desa Sukamaju."
Dia lanjut ke slide berikutnya, nunjukin data anggota, kapasitas produksi, dan sistem pembayaran yang mereka tawarkan.
Suaranya makin mantap seiring dia ngomong, seolah rasa gugup perlahan berubah jadi fokus.
"Total kapasitas produksi kami dua ribu seratus lima puluh kilogram per bulan, dari empat puluh delapan petani gabungan dua desa. Kami menjamin kualitas karena rantai produksi langsung dari petani, tanpa pengumpul perantara yang biasanya mencampur kualitas dari berbagai sumber."
Bu Ratna mengangkat tangan. "Boleh saya potong sebentar?"
"Silakan, Bu."
"Kalian koperasi baru, baru berdiri kurang dari sebulan. Kenapa kami harus percaya kalian bisa penuhi kontrak enam bulan, sementara ada pemasok lain yang sudah bertahun-tahun bekerja sama dengan kami?"
Doni menarik napas, inget saran Pak Hardianto semalam. "Betul, Bu, kami memang baru. Tapi petani-petani di balik koperasi ini sudah produksi gula aren turun-temurun, bukan pemain baru di bidangnya. Yang baru cuma badan hukumnya, bukan pengalamannya."
"Terus, kalau ada anggota yang keluar di tengah kontrak, bagaimana jaminannya?"
"Kami punya sistem cadangan, Bu. Setiap anggota wajib laporkan estimasi produksi bulanan, dan kami sisihkan sepuluh persen dari total kapasitas sebagai buffer, supaya kalau ada yang gagal panen, kami tetap bisa penuhi kontrak."
Bu Ratna manggut-manggut, mencatat sesuatu di kertasnya.
Pak Bimo, yang dari tadi diam, akhirnya buka suara. "Soal legalitas, koperasi kalian sudah punya NPWP?"
"Sudah, Pak. Semua dokumen legalitas ada di lampiran proposal, termasuk akta notaris dan NPWP koperasi."
"Kalau ada sengketa harga di tengah jalan, gimana penyelesaiannya?"
Doni sempat diam sebentar, pertanyaan itu agak di luar persiapan dia. Tapi dia inget diskusi sama Pak Wardi soal keadilan harga, jadi dia jawab pelan-pelan.
"Kami punya kesepakatan tertulis di internal koperasi soal skema harga tetap selama kontrak berjalan, Pak, jadi nggak ada celah buat sengketa dadakan. Kalau memang ada perubahan harga pasar signifikan, kami akan komunikasikan dulu sebelum ambil keputusan sepihak."
Pak Bimo mengangguk, terlihat cukup puas dengan jawaban itu.
Sesi tanya jawab berlanjut sekitar dua puluh menit, lebih lama dari perkiraan awal Doni. Beberapa kali Pak Hardianto ikut menjawab pertanyaan teknis soal riset ekonomi desa, memberi bobot akademis pada penjelasan
Doni yang lebih ke pengalaman lapangan.
Menjelang akhir sesi, Bu Ratna menutup buku catatannya, menatap Doni lama-lama. "Terus terang, saya suka pendekatan kalian. Biasanya pemasok besar cuma mikirin volume, jarang yang benar-benar jelasin soal keberlanjutan dan kesejahteraan petani di baliknya."
"Terima kasih, Bu."
"Kami akan diskusi internal dulu. Keputusan akan kami sampaikan minggu depan, paling lambat Rabu."
"Baik, Bu. Terima kasih atas kesempatannya." ucap Doni
Keluar dari gedung, Doni langsung duduk lemas di bangku taman kecil dekat halte bus, keringat masih membasahi kemeja batiknya meski AC ruang meeting tadi cukup dingin.
"Gimana, Pak? Menurut Bapak peluang kita gimana?" tanya Doni ke Pak Hardianto yang duduk di sebelahnya.
"Susah nebak, Don. Tapi dari cara mereka nanya dan reaksi Bu Ratna di akhir, saya rasa peluang kalian cukup besar. Yang penting kamu udah kasih yang terbaik."
"Semoga aja, Pak."
"Sekarang tinggal nunggu. Sambil nunggu, kamu jangan lupa kuliah kamu juga, jangan sampai gara-gara ini nilai kamu anjlok lagi kayak semester lalu."
Doni tertawa kecil, meski pikirannya masih melayang ke ruang meeting tadi. "Siap, Pak. Saya usahain seimbang."
Sepanjang perjalanan pulang naik angkot, Doni menatap keluar jendela, kota yang berisik seperti biasa, tapi pikirannya jauh melayang ke Desa Kenanga dan Sukamaju, membayangkan wajah-wajah petani yang menaruh harapan besar di pundaknya. Malam itu, sebelum tidur, dia berdoa singkat bukan buat info sistem, melainkan buat hasil tender yang sepenuhnya di luar kendalinya sekarang.