NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

Ruang makan pribadi di Sayap Timur—bukan aula besar yang dingin, melainkan ruangan yang lebih kecil dan intim—telah disiapkan. Silas, dengan tangan gemetar namun patuh, telah membantu Elara menata meja.

Hanya ada dua kursi. Taplak meja putih bersih, peralatan makan perak yang dipoles hingga berkilau, dan di tengah meja, bukan vas bunga (karena tidak ada bunga di musim dingin), Elara meletakkan beberapa ranting pinus segar yang ia minta dari tukang kebun, memberikan aroma hutan yang segar dan maskulin.

Dan di sana, di atas piring saji keramik, terletak Blackberry Winter Cake buatannya. Sederhana, tanpa hiasan krim berlebihan, hanya taburan gula halus yang menyerupai salju di atas permukaan buah beri yang gelap.

Lilin-lilin dinyalakan. Bukan satu atau dua, tapi puluhan. Elara ingin ruangan ini terang dan hangat, melawan kegelapan di luar sana.

Jam dinding berdentang tujuh kali.

Elara duduk di kursinya, menunggu. Tangannya saling meremas di pangkuan. Ia telah mandi dan berganti pakaian, mengenakan gaun beludru biru tua yang senada dengan warna mata Kaelen—pilihan yang disengaja.

Menit berlalu. Tik. Tok.

Bagaimana jika dia tidak pulang? Bagaimana jika dia makan di barak lagi? Bagaimana jika dia masuk, melihat kue itu, dan membalikkannya ke lantai?

Setiap skenario buruk bermain di kepala Elara seperti pertunjukan teater yang mengerikan. Kecemasan mulai merayap naik, mencekik lehernya (emotional beat focus). Apakah ia terlalu lancang? Apakah ia terlalu naif? Silas sudah memperingatkannya. Martha sudah memperingatkannya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di koridor.

Langkah kaki yang berat, berirama, dan tegas. Suara sepatu bot militer yang menghantam lantai batu. Bukan langkah Silas yang menyeret kaki.

Jantung Elara berhenti.

Pintu ruang makan terbuka.

Angin dingin dari koridor ikut menyelinap masuk sebelum pintu ditutup kembali. Kaelen berdiri di sana.

Dia masih mengenakan pakaian lapangannya—jubah bulu serigala yang basah oleh salju yang meleleh, pelindung dada kulit yang tergores, dan pedang di pinggangnya. Rambutnya basah dan berantakan. Wajahnya merah karena terpaan angin dingin, namun matanya... matanya lelah dan kosong.

Kaelen berhenti di ambang pintu. Dia membeku.

Indra penciumannya yang tajam pasti langsung menangkapnya. Aroma manis kue. Aroma lilin lebah. Aroma pinus.

Matanya menyapu ruangan. Melihat lilin-lilin yang menyala terang. Melihat meja yang ditata rapi untuk dua orang. Dan akhirnya, tatapannya mendarat pada kue di tengah meja, lalu bergeser ke Elara yang duduk kaku di kursi.

Elara bangkit berdiri perlahan. Kakinya terasa lemas.

"Selamat malam, Kaelen," sapa Elara, suaranya sedikit bergetar namun ia memaksakan sebuah senyum kecil.

Kaelen tidak menjawab. Dia tidak bergerak. Dia menatap pemandangan di depannya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Itu bukan kemarahan yang meledak, tapi juga bukan kegembiraan. Itu adalah kebingungan yang bercampur dengan... kewaspadaan? Seolah-olah dia sedang melihat perangkap.

Perlahan, Kaelen melangkah masuk. Setiap langkahnya terasa berat, seolah dia sedang berjalan melawan arus sungai yang deras. Dia mendekati meja. Dia menatap kue itu lekat-lekat.

"Apa ini?" suaranya serak, rendah, dan berbahaya.

"Makan malam," jawab Elara, berusaha terdengar ringan. "Silas bilang kau mungkin lelah setelah inspeksi seharian. Aku pikir... suasana yang lebih tenang akan lebih baik daripada aula besar."

Kaelen mendongak, menatap mata Elara tajam. "Jangan bermain-main denganku, Elara. Kau tahu tanggal berapa hari ini."

"Aku tahu," kata Elara. Ia tidak mundur. Ia membalas tatapan itu. "Itu sebabnya ada kue."

Rahang Kaelen mengeras. Urat di pelipisnya berdenyut. Tangan kanannya, yang masih mengenakan sarung tangan kulit basah, mengepal di sisi tubuhnya.

"Siapa yang memberitahumu?" desisnya. "Silas?"

"Tidak perlu ada yang memberitahuku," Elara berbohong demi melindungi Silas. "Tanggal itu ada di mana-mana jika kau mau melihat. Di dokumen pernikahan kita, di lukisan di galeri..."

"Galeri," potong Kaelen. Suaranya penuh dengan nada pahit. "Jadi kau pergi ke sana. Menggali kuburan masa lalu."

"Aku pergi ke sana untuk melihat wajah suamiku," kata Elara lembut. "Dan aku melihat seseorang yang pernah tersenyum."

Kata-kata itu menghantam Kaelen seperti pukulan fisik. Dia tersentak mundur sedikit, matanya melebar sesaat sebelum menyipit kembali menjadi celah pertahanan yang sempit.

"Orang itu sudah mati," kata Kaelen dingin. "Dikubur bersama abu."

"Mungkin," Elara melangkah maju, mengitari meja, mendekat ke arah Kaelen. Jarak mereka kini hanya terpisah satu meter. Elara bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari jubah Kaelen, bertabrakan dengan kehangatan ruangan. "Tapi kau masih di sini, Kaelen. Kau berdiri di sini. Kau bernapas. Kau merasa sakit. Itu artinya kau belum mati."

Elara mengambil pisau perak pemotong kue. Tangan Kaelen menegang, seolah bersiap menepisnya. Tapi Elara tidak menyerang. Ia memotong sepotong kecil kue itu. Uap panas mengepul keluar dari dalamnya, membawa aroma blackberry yang manis.

Ia meletakkan potongan itu di piring kecil dan menyodorkannya ke arah Kaelen.

"Aku tidak memintamu untuk tertawa," kata Elara, matanya berkaca-kaca namun suaranya teguh. "Aku tidak memintamu melupakan apa pun. Aku hanya memintamu untuk makan. Satu suap. Untuk menghargai fakta bahwa kau masih hidup satu tahun lagi."

Kaelen menatap piring itu, lalu menatap Elara. Pertarungan batin yang hebat terjadi di wajahnya. Rasa bersalah, rasa duka, kerinduan, dan rasa lapar yang sangat manusiawi bertempur di balik topeng batunya.

Selama satu menit penuh, tidak ada yang bergerak. Hanya suara lilin yang mendesis.

Lalu, perlahan, sangat perlahan  , tangan Kaelen terulur. Dia tidak mengambil piring itu. Jari-jarinya yang bersarung kulit menyentuh pinggiran piring, menahannya.

Dia tidak melemparnya. Dia tidak berteriak.

"Duduklah," perintah Kaelen akhirnya. Suaranya lelah, seperti orang yang baru saja kalah dalam pertempuran panjang.

Elara menghembuskan napas yang tak sadar ia tahan. Ia duduk kembali.

Kaelen menarik kursi di hadapannya. Dia duduk, masih dengan jubah basahnya. Dia melepas sarung tangannya dengan gerakan kasar, melemparkannya ke meja.

Dia mengambil garpu perak kecil itu. Tangannya yang besar dan kasar terlihat aneh memegang benda sehalus itu. Dia menusuk kue itu.

Elara menahan napas, memperhatikan setiap gerakan.

Kaelen memasukkan potongan kue itu ke mulutnya. Dia mengunyah perlahan. Rasa manis blackberry dan gula meledak di lidahnya, rasa yang kontras dengan kepahitan hidupnya selama lima tahun terakhir.

Kaelen menelan. Dia tidak tersenyum. Wajahnya tetap datar. Tapi bahunya yang tegang perlahan turun. Matanya yang tadi tajam dan waspada, kini meredup, menatap nyala lilin dengan pandangan kosong yang sedih.

"Manis," gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Itu bukan pujian. Itu adalah pernyataan fakta. Tapi bagi Elara, satu kata itu adalah kemenangan terbesar yang pernah ia raih.

Malam itu, mereka makan dalam diam lagi. Tapi itu bukan diam yang bermusuhan. Itu adalah keheningan gencatan senjata. Di luar, badai masih mengamuk, tetapi di dalam ruangan itu, di bawah cahaya lilin dan aroma kue blackberry, sang Iblis Utara baru saja menerima persembahan damai dari istrinya.

Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Kaelen Draxos tidak merayakan ulang tahunnya dengan mabuk atau membunuh, melainkan dengan rasa manis di lidahnya.

1
Yuu Li
semoga bahagia lady
Roaffi Jj
mantap ceritanya
Lamia Dante
ceritanya menarik
kiu kiu
good...pasangan yg cocok.klu bisa saling bekerjasama mencairkan suasana di kastil yg sedingin salju itu.elara apa dia tk tertarik bermain pedang...dilihat dari sikapnya dia wanita yg tangguh.mampu menembus pertahanan duke draxos.semangat ya thor...lanjutkan...
Jake King
semangat lady
Irzad
go ladyyy
ikyar
mohon dukungannya terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!