Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Hari Sebelum Eksekusi
Aku hanya tidur setelah membaca novel.
Sungguh. Itu saja.
Tidak ada petir menyambar kamarku. Tidak ada lingkaran sihir muncul di lantai. Tidak ada suara misterius yang berkata, “Wahai anak terpilih, masuklah ke dunia lain dan selamatkan kerajaan!”
Aku hanya begadang, makan keripik pedas, membaca novel kerajaan sampai bab terakhir, lalu ketiduran dengan ponsel menempel di pipi.
Kesalahan pertamaku: membaca novel tragis sebelum tidur.
Kesalahan keduaku: menertawakan nasib tokoh villainess yang akan dieksekusi.
Kesalahan ketigaku: berkata dengan sombong, “Kalau aku jadi dia, aku pasti bisa selamat.”
Sepertinya semesta punya selera humor yang buruk.
Karena ketika aku membuka mata, hal pertama yang kulihat bukan langit-langit kamarku, bukan poster idola di dinding, bukan pula charger ponsel yang biasanya kusambar begitu bangun.
Yang kulihat adalah langit-langit batu lembap, jeruji besi, lilin hampir mati, dan seekor tikus kecil yang sedang menatapku seolah berkata, “Selamat datang, korban baru.”
Aku terdiam.
Tikus itu juga terdiam.
Kami saling menatap selama lima detik penuh.
Lalu aku berteriak.
“Aaaa!”
Tikus itu ikut berlari.
“Aaaaa!”
Baiklah. Aku tidak tahu tikus bisa panik juga.
Aku langsung duduk, tetapi kepalaku terasa berat. Rambut panjang berwarna merah gelap jatuh ke depan wajahku. Tunggu. Rambutku tidak sepanjang ini. Terakhir kali aku cek, rambutku sebahu dan warnanya hitam biasa, bukan merah anggur mewah seperti iklan sampo kerajaan.
Aku mengangkat kedua tangan. Jari-jariku lebih lentik. Kulitku lebih pucat. Kukuku dihias warna merah gelap dengan ukiran emas kecil yang jelas bukan hasil kerja salon langgananku di dekat minimarket.
“Apa ini?” bisikku.
Suara yang keluar bukan suaraku.
Lebih halus. Lebih anggun. Lebih cocok untuk mengatakan, “Pengawal, penggal kepalanya,” daripada “Bang, nasgor satu pedas.”
Aku menelan ludah.
Mataku bergerak liar mencari sesuatu yang bisa kupakai sebagai cermin. Di sudut ruangan ada baskom berisi air. Aku merangkak ke sana dengan perasaan sangat tidak enak.
Saat wajahku memantul di permukaan air, seluruh tubuhku membeku.
Mata merah muda keunguan. Rambut merah gelap. Wajah cantik berbahaya. Bibir kecil. Tahi lalat tipis di bawah mata kiri.
Aku tahu wajah ini.
Aku baru saja membaca 183 bab tentang wanita ini.
Lady Evangeline Arvella.
Villainess paling dibenci dalam novel Mahkota untuk Sang Saintess.
Tokoh sampingan jahat yang hidupnya penuh skandal, obsesinya pada Putra Mahkota tidak sehat, hobinya menindas tokoh utama perempuan, dan pada akhirnya dihukum mati karena dituduh meracuni Saintess Seraphina.
Aku berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu aku tertawa hambar.
“Haha. Lucu sekali.”
Tidak ada yang menjawab.
Aku menepuk pipiku. Sakit.
Aku mencubit lengan. Sakit.
Aku menarik rambutku sendiri. Sangat sakit.
“Oke,” kataku pelan. “Ini bukan mimpi.”
Aku memandang jeruji besi di depanku. Ruangannya gelap. Bajuku bukan gaun indah seperti di pesta, melainkan gaun merah kusut yang robek di bagian bawah. Pergelangan tanganku memakai bekas rantai. Di sudut ruangan ada nampan berisi roti keras yang bahkan mungkin bisa dipakai sebagai senjata pembunuh.
Aku mencoba mengingat alur novel.
Lady Evangeline ditangkap setelah pesta ulang tahun Putri Suci Seraphina. Ia dituduh menaruh racun di gelas anggur Seraphina. Seluruh istana percaya ia pelakunya karena Evangeline memang terkenal jahat, arogan, dan terobsesi pada Putra Mahkota Lucien.
Lucien membencinya.
Seraphina menangis dengan anggun.
Para bangsawan bersorak minta hukuman.
Tiga hari kemudian, Evangeline dieksekusi di alun-alun kerajaan.
Tunggu.
Tiga hari?
Aku menoleh ke arah jendela kecil yang tertutup jeruji. Dari luar, samar-samar terdengar suara lonceng gereja.
Dentang. Dentang. Dentang.
Di bawah jendela, ada pengawal yang berbicara dengan suara pelan.
“Kasihan juga Lady Evangeline. Tiga hari lagi kepalanya hilang.”
“Tiga hari? Kukira dua.”
“Tidak, tiga. Putra Mahkota ingin sidang terakhir dulu. Katanya agar semua bukti sah.”
“Ah, tetap saja mati.”
Mereka tertawa kecil.
Aku langsung merasa rohku keluar dari tubuh, berjalan ke sudut ruangan, lalu menangis sambil memeluk tikus tadi.
Tiga hari lagi.
Aku akan mati tiga hari lagi.
“Aku baru bayar langganan streaming bulanan,” bisikku, hancur. “Aku bahkan belum sempat nonton episode terakhir.”
Aku menunduk, memegang kepalaku.
Tenang. Tenang. Panik tidak akan membantu. Aku harus berpikir seperti orang cerdas. Aku sudah membaca novel ini. Aku tahu alurnya. Aku tahu siapa yang baik, siapa yang jahat, siapa yang akan menang, siapa yang akan mati.
Masalahnya, karakter yang akan mati itu aku.
“Bagus sekali, Alena,” gumamku. “Dulu kamu cuma punya masalah cicilan paylater. Sekarang masalahmu eksekusi publik.”
Aku menarik napas dalam-dalam.
Langkah pertama: cari tahu posisi cerita.
Langkah kedua: buktikan aku tidak bersalah.
Langkah ketiga: kabur kalau langkah pertama dan kedua gagal.
Langkah keempat: kalau kabur gagal, pura-pura kerasukan.
Ya. Rencana yang sangat ilmiah.
Tiba-tiba, pintu besi di ujung lorong berderit terbuka. Suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat. Seorang gadis berseragam pelayan berlari ke arah sel sambil menangis seperti air terjun.
“Nonaaaaa!”
Aku menoleh.
Gadis itu menabrak jeruji.
Bunyi kepalanya cukup keras sampai aku ikut meringis.
“Aduh!” Ia memegang dahinya, lalu menangis lagi. “Nona! Nona akhirnya sadar! Hamba pikir Nona sudah mati karena terlalu cantik!”
Aku terdiam.
Apa hubungan cantik dengan mati?
“Nona!” Pelayan itu mengguncang jeruji. “Kita akan binasa! Kita akan tamat! Kita akan menjadi legenda tragis! Hamba belum menikah, Nona! Hamba bahkan belum pernah digandeng pria!”
Aku memandangnya datar.
“Kamu siapa?”
Pelayan itu membeku.
Air matanya berhenti seketika seperti keran rusak yang tiba-tiba ditutup.
“Nona... tidak mengingat hamba?”
Aku menggeleng pelan.
Pelayan itu menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca lagi.
“Ya ampun. Hukuman ini terlalu berat. Selain akan dieksekusi, Nona juga kehilangan ingatan. Dunia sungguh kejam. Kalau begitu, izinkan hamba memperkenalkan diri sekali lagi dengan penuh pengabdian.”
Ia berdiri tegak, mengangkat ujung rok, lalu membungkuk dramatis.
“Hamba Mira, pelayan pribadi Nona sejak kecil. Spesialisasi hamba adalah menyiapkan gaun, menyisir rambut, menyembunyikan surat cinta ilegal Nona kepada Putra Mahkota, dan berteriak saat situasi genting.”
“Spesialisasi terakhir sangat terlihat.”
“Terima kasih, Nona!”
“Itu bukan pujian.”
Mira kembali menangis.
Baiklah. Setidaknya aku punya satu sekutu. Walaupun sekutu ini tampak bisa pingsan hanya karena melihat bayangan sendiri.
“Mira,” kataku, mencoba terdengar tenang. “Dengarkan aku baik-baik. Apa benar aku dituduh meracuni Saintess Seraphina?”
Mira mengangguk cepat. “Benar, Nona. Mereka bilang racun ditemukan di meja Nona. Semua orang melihat Nona bertengkar dengan Saintess sebelum pesta. Lalu Putra Mahkota sangat marah. Beliau berkata Nona adalah perempuan paling kejam di kerajaan.”
Aku meringis.
“Dia selalu sedramatis itu?”
“Tidak, Nona. Biasanya lebih dingin.”
“Hebat. Aku benar-benar beruntung.”
Mira mendekatkan wajahnya ke jeruji. “Tapi hamba percaya Nona tidak melakukannya!”
Aku menatapnya, sedikit terharu. “Kamu percaya padaku?”
“Tentu saja! Nona memang sering melempar vas, menghina bangsawan rendahan, mengancam pelayan, dan pernah menyuruh hamba menulis surat sepanjang tujuh halaman tentang betapa indahnya rambut Putra Mahkota, tapi Nona tidak pernah pintar soal racun.”
Aku menatapnya lama.
“Mira.”
“Ya, Nona?”
“Cara kamu membelaku sangat menyakitkan.”
“Maaf, Nona!”
Aku memijat pelipis. Baiklah. Evangeline asli memang kacau. Tapi bukan berarti dia pembunuh. Dalam novel, kematian Evangeline hanya dipakai sebagai batu loncatan agar Seraphina terlihat semakin suci dan Putra Mahkota semakin tegas.
Waktu aku membaca, aku tidak terlalu peduli. Evangeline muncul sebagai antagonis menyebalkan. Tapi sekarang setelah menjadi dirinya, aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Kalau Evangeline memang sejahat itu, kenapa bukti racunnya terlalu mudah ditemukan?
Kenapa sidangnya sangat cepat?
Kenapa Seraphina hanya “hampir mati”, tapi cukup untuk membuat Evangeline kehilangan kepala?
Dan kenapa aku, yang sudah membaca novelnya, tidak pernah melihat adegan Evangeline benar-benar menuang racun?
Karena mungkin... dia memang tidak melakukannya.
“Mira,” kataku serius. “Aku butuh informasi. Siapa yang bisa menemuiku sebelum sidang?”
Mira berpikir. “Putra Mahkota mungkin datang hari ini.”
Aku langsung ingin kembali pingsan.
Lucien.
Tunanganku yang membenciku.
Pria utama dalam novel. Rambut pirang, mata biru, wajah seperti lukisan malaikat, hati sedingin tagihan listrik. Dalam cerita asli, dia adalah pasangan Seraphina. Dia akan berdiri di depan Evangeline saat eksekusi dan berkata, “Aku berharap kau menyesali dosamu.”
Kalimat romantis? Tidak. Kalimat pembunuh mental? Iya.
“Siapa lagi?” tanyaku.
“Saintess Seraphina meminta izin menjenguk Nona.”
Aku memegang jeruji.
“Untuk apa?”
“Katanya ingin memaafkan Nona.”
Aku tertawa pendek. “Dia ingin memaafkan orang yang katanya meracuninya?”
Mira mengangguk polos. “Saintess memang sangat baik hati.”
Atau sangat pandai bermain peran.
“Lalu ada satu lagi,” lanjut Mira.
“Siapa?”
Mira merendahkan suara, seolah menyebut nama iblis.
“Duke Cassian North.”
Aku hampir tersedak udara.
Duke Utara?
Tokoh yang bahkan pembaca novel pun bingung apakah dia protagonis, antagonis, atau sekadar pria tampan yang muncul untuk membuat semua orang gugup?
Cassian North adalah penguasa wilayah utara. Dalam novel, dia terkenal dingin, cerdas, tidak memihak siapa pun, dan selalu minum teh bahkan saat kerajaan hampir perang. Dia jarang muncul, tapi setiap kali muncul, alur cerita langsung berubah.
“Kenapa dia mau menemuiku?” tanyaku.
Mira menggeleng panik. “Hamba tidak tahu. Tapi katanya beliau membawa kontrak.”
“Kontrak?”
“Ya, Nona. Hamba juga bingung. Orang lain membawa bunga untuk tahanan. Duke Utara membawa kontrak. Mungkin di utara itu bentuk belasungkawa.”
Aku menutup wajah.
Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan Duke Utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh.
Baiklah.
Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Suara langkah kaki terdengar lagi. Kali ini lebih teratur. Lebih berat. Lebih penuh wibawa.
Mira langsung berdiri kaku seperti papan.
“Nona,” bisiknya. “Putra Mahkota datang.”
Aku menelan ludah.
Dari lorong gelap, seorang pria muncul. Rambut pirangnya rapi sempurna. Mantel putih kebiruan dengan lambang kerajaan menempel di bahunya. Wajahnya dingin, tampan, dan sangat menyebalkan karena bahkan dalam pencahayaan penjara pun dia terlihat seperti model sampul majalah kerajaan.
Matanya menatapku tanpa kehangatan sedikit pun.
“Evangeline.”
Suaranya rendah.
Aku menahan refleks untuk menjawab, “Hadir, Pak.”
Dia berhenti di depan sel. Mira membungkuk dalam-dalam sambil gemetar.
Aku berdiri pelan, membersihkan debu dari gaun kusutku. Kalau aku harus mati tiga hari lagi, setidaknya aku tidak akan terlihat seperti kain pel kerajaan.
Putra Mahkota Lucien menatapku dari atas ke bawah.
“Kau tampak tenang untuk seseorang yang akan dihukum mati.”
Aku tersenyum tipis.
“Yang Mulia tampak kecewa aku belum menangis.”
Matanya menyipit.
Mira di belakangnya hampir pingsan.
Aku juga sebenarnya ingin pingsan, tapi gengsi dulu.
Lucien melangkah lebih dekat. “Kau masih berani bersikap angkuh setelah apa yang kau lakukan pada Seraphina?”
Aku menatapnya. “Apa Yang Mulia melihat sendiri aku meracuninya?”
Lucien terdiam sepersekian detik.
Aku menangkap itu.
Tidak melihat.
“Racun ditemukan di mejamu,” katanya.
“Meja saya di pesta terbuka untuk puluhan orang.”
“Kau bertengkar dengannya sebelum pesta.”
“Bertengkar tidak sama dengan membunuh.”
“Kau membencinya.”
Aku tersenyum lebih manis. “Banyak orang membenci banyak orang, Yang Mulia. Kalau semua rasa benci langsung dianggap bukti pembunuhan, separuh istana ini harus ikut dieksekusi.”
Mira menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya berteriak: Nona, tolong jangan menantang calon pemilik pedang kerajaan!
Lucien menatapku lama. Sepertinya dia tidak menyangka Evangeline akan menjawab dengan kalimat yang masih punya struktur logika. Mungkin biasanya Evangeline asli langsung berteriak, menangis, lalu menyebut nama Seraphina dengan kutukan panjang.
“Menarik,” ucapnya akhirnya. “Kau berubah.”
Aku hampir menjawab, “Iya, ganti penulis,” tapi kutahan.
“Aku hanya akhirnya sadar,” kataku, “bahwa menangis tidak akan menyelamatkan kepalaku.”
Lucien mendekat sampai jaraknya hanya beberapa langkah dari jeruji. “Sidang terakhirmu tiga hari lagi. Kalau kau benar-benar tidak bersalah, buktikan.”
Aku menatapnya tajam. “Izinkan aku menyelidiki.”
Dia tertawa kecil. Dingin. “Tahanan tidak punya hak menyelidiki.”
“Kalau begitu, Yang Mulia lebih suka menghukum mati tunangan sendiri tanpa memastikan kebenaran?”
Wajah Lucien mengeras.
Aku tahu kalimat itu menusuk harga dirinya. Dalam novel, Lucien digambarkan sebagai pangeran adil. Orang seperti dia sangat benci dianggap tidak adil.
Bagus.
Mari manfaatkan karakter setting.
“Aku tidak meminta dibebaskan,” lanjutku. “Aku hanya meminta akses pada bukti, daftar tamu pesta, dan izin bertanya pada beberapa orang.”
Lucien menatapku dengan curiga. “Dan sebagai gantinya?”
Aku terdiam.
Ah, benar. Di dunia bangsawan, bahkan napas mungkin butuh imbalan.
Aku berpikir cepat. Apa yang bisa kutawarkan? Uang? Tidak tahu. Kekuasaan? Sedang di penjara. Cinta? Dia membenciku. Martabat? Evangeline mungkin sudah menghabiskannya sejak bab awal.
Akhirnya aku berkata, “Sebagai gantinya, jika aku gagal membuktikan diriku tidak bersalah dalam tiga hari, aku tidak akan membuat keributan saat eksekusi.”
Lucien tampak terkejut.
Mira memekik kecil.
Aku tersenyum. “Tapi kalau aku berhasil membuktikan bahwa aku dijebak, Yang Mulia harus mencabut tuduhan secara terbuka.”
Hening.
Lilin di lorong berkedip pelan.
Lucien menatapku seperti sedang melihat orang asing. Mungkin memang begitu. Evangeline yang dia kenal pasti tidak akan bicara seperti ini.
Akhirnya, dia berkata, “Kau punya tiga hari.”
Jantungku hampir melompat.
“Tapi kau tidak akan keluar dari pengawasan,” lanjutnya. “Dua pengawal akan mengikutimu. Dan jika kau mencoba kabur—”
“Aku akan ditangkap?”
“Kau akan langsung dieksekusi.”
Aku tersenyum kaku. “Motivasi yang sangat membangun.”
Lucien berbalik hendak pergi, tetapi berhenti sejenak.
“Evangeline.”
Aku menatapnya.
“Jangan berpikir aku mempercayaimu.”
Aku mengangkat bahu. “Tidak apa-apa, Yang Mulia. Aku juga belum tentu mempercayai Anda.”
Untuk kedua kalinya, Lucien terdiam.
Lalu dia pergi tanpa berkata apa-apa.
Begitu langkahnya menjauh, Mira langsung merosot ke lantai.
“Nonaaaaa! Kita hidup! Untuk sementara! Ini kemajuan besar!”
Aku ikut merosot, tapi dengan lebih elegan.
“Jangan senang dulu. Aku baru mendapat waktu tiga hari.”
“Tiga hari cukup untuk apa, Nona?”
Aku menatap lorong gelap.
“Untuk menemukan pelaku sebenarnya.”
Belum sempat Mira menjawab, suara tepuk tangan pelan terdengar dari ujung lorong.
Tepuk. Tepuk. Tepuk.
Aku menoleh.
Seorang pria berambut hitam berdiri di sana dengan mantel gelap berbulu, wajah tenang, dan secangkir teh di tangan. Dia tersenyum tipis seolah baru saja menonton pertunjukan kecil yang menghibur.
Mira langsung menjerit tertahan.
“D-Duke Utara...”
Pria itu berjalan mendekat. Langkahnya tidak terburu-buru. Anehnya, di penjara yang lembap dan bau ini, dia tetap terlihat seperti sedang memasuki ruang jamuan.
“Lady Evangeline,” katanya dengan suara halus. “Saya datang membawa tawaran.”
Aku menatap cangkir tehnya, lalu wajahnya, lalu gulungan kertas bersegel hitam di tangannya.
“Apakah semua pria kerajaan punya hobi datang ke sel wanita yang akan mati?”
Senyumnya melebar sedikit.
“Hanya jika wanita itu menarik.”
Aku menyipitkan mata. “Saya tidak punya uang untuk membeli teh.”
“Saya tidak menjual teh.”
Dia mengangkat gulungan kertas.
“Saya menawarkan kontrak.”
Mira berbisik panik, “Nona, jangan tanda tangan apa pun sebelum membaca huruf kecilnya.”
Aku menatap Duke Cassian North.
“Kontrak macam apa?”
Dia menjawab dengan sangat santai, seolah sedang menawarkan menu makan siang.
“Saya membantu Anda tetap hidup. Sebagai gantinya, Anda membantu saya menghancurkan orang yang menjebak Anda.”
Aku terdiam.
Di luar jendela, lonceng kembali berdentang.
Tiga hari sebelum eksekusi.
Satu putra mahkota yang membenciku.
Satu saintess palsu yang terlalu manis.
Satu pelayan yang bisa mati karena panik.
Dan satu Duke Utara yang menawarkan kerja sama berbahaya sambil minum teh.
Aku menarik napas panjang.
Lalu tersenyum.
“Baiklah, Duke North. Mari kita baca kontraknya.”
Kalau dunia ini ingin menjadikanku penjahat, maka aku akan memerankan peran itu dengan sempurna.
Tapi kali ini, penjahatnya tidak akan mati.
Penjahatnya akan membalikkan cerita.