Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudut yang Berbeda
Aroma karbol dan gemercik air keran menjadi latar belakang di koridor area toilet siswa siang itu. Di sela-sela jam istirahat kedua yang riuh, beberapa murid laki-laki sengaja berjalan melewati lorong tersebut hanya untuk melihat pemandangan langka: Gavin, sang ketua geng motor yang ditakuti, sedang memegang kain pel dan ember dengan pakaian seragam yang sudah basah oleh keringat akibat hukuman lari tadi siang.
Namun, alih-alih kelihatan merana atau malu, Gavin justru membersihkan lantai WC itu dengan ekspresi yang kelewat santai. Ia bahkan sesekali bersiul kecil, mengabaikan tatapan sinis maupun takut dari siswa lain yang berlalu-lalang.
Dari kejauhan, Kayla berdiri mematung sembari memegangi sebotol minuman soda dingin yang baru saja ia beli dari kantin. Matanya menatap lurus ke arah Gavin. Rasa bersalah kembali mencubit hatinya; bagaimanapun juga, Gavin dihukum sebrutal ini karena ulah laporan ibu tirinya kemarin.
Dengan langkah yang diselimuti keraguan dan gengsi yang tinggi, Kayla akhirnya memberanikan diri berjalan mendekati area toilet. Begitu Gavin keluar dari pintu untuk membuang air ember, Kayla langsung mencegatnya di dekat bangku kayu panjang yang terletak di samping taman kecil sekolah.
"Nih," ucap Kayla singkat dan ketus, menyodorkan botol minuman dingin itu tepat di depan dada Gavin, lalu langsung mengambil posisi duduk di atas bangku taman.
Gavin sempat tertegun, namun sedetik kemudian senyuman lebarnya langsung terkembang sempurna. Ia menerima botol itu dengan antusias, membiarkan sensasi dinginnya meredakan panas di telapak tangannya yang mulai memerah.
"Widiihh... makasih banget, Kay! Lo emang paling ngerti deh kalau cowok lo lagi kehausan begini," seru Gavin jenaka. Sebelum Kayla sempat memprotes kata 'cowok lo', jemari Gavin yang bebas dengan gemas mencolek ujung hidung Kayla, meninggalkan sedikit sisa dingin di sana.
Kayla refleks memundurkan wajahnya, mendelik sebal namun tidak benar-benar marah. "Gak usah kegeeran. Gue cuma gak mau utang budi karena lo udah dihukum gara-gara gue."
Gavin hanya tertawa renyah, lalu meneguk minuman itu hingga tandas setengahnya, merasa semua rasa lelahnya hilang seketika hanya karena keberadaan gadis es di sampingnya.
Sementara itu, di seberang sudut koridor utama yang membatasi area taman, sepasang mata elang menatap tajam ke arah interaksi manis tersebut. Arka berdiri mematung di balik pilar beton. Kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya seketika mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Rasa tidak suka, cemburu, dan kecewa bercampur aduk menjadi satu di dalam dada Arka. Ia tidak suka melihat bagaimana Kayla—gadis yang selalu ia jaga dengan penuh kehati-hatian—bisa dengan begitu mudahnya memberikan perhatian dan senyuman tipis kepada berandalan seperti Gavin. Padahal, setiap kali bersamanya, Kayla hampir selalu memasang tembok tinggi yang dingin.
Merasa hatinya semakin panas dan pikirannya mulai kacau, Arka memilih untuk membalikkan badannya dengan cepat. Ia melangkah lebar meninggalkan koridor tersebut, berjalan menuju ke lantai atas tempat perpustakaan sekolah berada. Arka hanya butuh ketenangan untuk meredakan gemuruh emosi di kepalanya.
Begitu pintu kaca perpustakaan didorong perlahan, aroma khas buku-buku tua dan keheningan yang mutlak langsung menyambutnya. Arka melangkah menyusuri deretan rak buku tinggi yang sepi. Hingga langkahnya terhenti di ujung sudut perpustakaan yang paling tenang, dekat jendela besar yang menghadap ke arah pohon-pohon rindang.
Di sana, Arka melihat ada Citra.
Gadis yang terkenal anggun, cantik, dan bertutur kata ramah itu sedang duduk sendirian dengan posisi tubuh yang tegak. Fokusnya sepenuhnya tercurah pada sebuah buku novel tebal bersampul gelap yang sedang ia pegang. Arka mengernyitkan dahi sejenak, mengenali desain sampul buku tersebut. Itu adalah novel misteri-detektif yang kebetulan sudah selesai ia baca minggu lalu.
Arka melangkah mendekat, lalu bersuara dengan nada rendah agar tidak mengganggu ketenangan ruangan. "Hai, Cit. Lo juga suka baca novel itu?"
Sapaan tiba-tiba itu seketika membuat Citra tersentak kaget. Ia mendongak, dan sepasang mata indahnya langsung membulat sempurna begitu mendapati sosok Arka sudah berdiri di dekat mejanya. "Ahh... hai, Arka. Iya, ini... novelnya seru dan bagus banget," ucap Citra terbata-bata, mencoba menutupi detak jantungnya yang mendadak melompat riang.
"Ya, kan? Novelnya emang bagus banget," timpal Arka. Tanpa meminta izin lebih dulu, ia langsung menarik kursi di hadapan Citra dan duduk di sana, membuat jarak di antara mereka kini hanya terpisah oleh meja kayu. "Cuman... agak bikin pusing kalau kita harus nebak-nebak siapa pembunuh aslinya sebelum akhir ceritanya kebuka. Penulisnya pinter banget bikin plot twist."
Tindakan spontan Arka yang memilih duduk bersamanya seketika membuat Citra kaget sekaligus luar biasa senang. Rasa gugupnya perlahan terkikis oleh binar kebahagiaan. "Iya, Ka! Aku bahkan udah baca sampai bab tengah dan masih nebak-nebak terus dari tadi. Eh... tapi, lo ternyata suka baca novel juga ya?" tanya Citra, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Arka tersenyum tipis—sebuah senyuman lepas yang sangat jarang ia perlihatkan di kelas akhir-akhir ini. "Suka banget, Cit. Udah banyak novel misteri maupun non-misteri yang selesai gue baca di rumah. Kalau lo mau, nanti kapan-kapan gue bisa rekomendasiin beberapa judul yang alurnya lebih pecah dari ini."
Citra mengangguk cepat dengan senyuman anggun yang terukir manis di wajahnya. "Mau banget, Ka! Nanti kabari gue ya kalau lo lagi senggang."
Di sudut perpustakaan yang sunyi itu, mereka berdua akhirnya terus mengobrol dengan suara berbisik-bisik, saling bertukar teori tentang akhir cerita novel tersebut. Untuk sekejap, fokus Arka benar-benar teralihkan. Segala kekesalan, rasa cemburu, dan kepeningannya akibat melihat kedekatan Kayla dan Gavin di taman bawah tadi mendadak menguap begitu saja, tergantikan oleh kenyamanan baru yang dihadirkan oleh tutur kata lembut Citra.