Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Cerita tentang perjuangan Kanaya selama lima tahun terakhir membuat setiap orang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Bu Winda beberapa kali mengusap sudut matanya yang mulai basah. Pandangannya bergantian tertuju pada Kanaya, lalu kepada Abinaya dan Anaya yang masih duduk bermain di atas karpet. Semakin banyak hal yang ia ketahui, semakin besar rasa kagumnya kepada perempuan yang kini duduk tidak jauh darinya. Namun ada satu pertanyaan yang terus mengganjal di dalam benaknya.
"Arka." Suara Bu Winda memecah keheningan.
Arkana yang sejak tadi lebih banyak menundukkan kepala perlahan mengangkat wajahnya. "Ya, Ma?"
Bu Winda menatap putranya lekat-lekat. "Kenapa kamu tidak pernah memberi tahu Mama kalau sudah menikah?"
Pertanyaan itu membuat ruangan kembali hening. Arkana membeku di tempat duduknya. Jemarinya perlahan mengepal di atas lutut.
"Arka?" panggil Bu Winda lagi ketika tidak mendapat jawaban.
Di sisi lain, Kanaya ikut menoleh. Tatapannya tenang, tetapi matanya tidak lepas dari wajah Arkana. Untuk pertama kalinya sejak pembicaraan dimulai, ia benar-benar ingin mendengar apa yang akan dikatakan pria itu. Apakah kali ini Arkana akan berkata jujur, atau kembali bersembunyi di balik kebohongan seperti yang pernah dilakukannya dahulu.
"Kenapa diam?" tanya Bu Winda lagi, kali ini dengan nada lebih tegas. "Mama tanya kenapa kamu tidak jujur kalau sudah menikah."
Arkana menelan ludah. Bibirnya bergerak beberapa kali, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ingatannya seolah dipaksa kembali ke lima tahun yang lalu. Tawa teman-temannya, taruhan bodoh yang mereka buat, dan wajah Kanaya yang dipenuhi air mata ketika mengetahui semuanya.
"A-ku ...." Suaranya terdengar serak. "Aku dan Kanaya menikah siri, Ma."
"Apa?!"
Bu Winda langsung terkejut. Matanya membelalak lebar. Bu Cantika dan Pak Adjie pun ikut menatap Arkana dengan tidak percaya.
"Kalian menikah siri?" ulang Bu Winda.
Arkana mengangguk pelan.
"Kenapa?" tanya Bu Winda. "Apa karena takut Mama tidak merestui?"
"Bukan," jawab Arkana tanpa jeda.
"Lalu apa alasannya?"
Arkana kembali terdiam. Tanpa sadar ia melirik ke arah Kanaya. Namun wanita itu hanya membalas dengan tatapan datar. Tidak ada bantuan atau pembelaan untuknya. Kanaya membiarkan Arkana menghadapi semuanya sendiri.
Arkana mengembuskan napas panjang. Tidak ada lagi yang bisa ia sembunyikan.
"Aku harus menjelaskan semuanya dari awal."
Semua orang langsung memusatkan perhatian kepadanya. Bahkan Abinaya dan Anaya yang sedang bermain mulai melirik ke arah orang-orang dewasa.
"Dulu aku punya tiga sahabat dekat," ujar Arkana pelan. "Kami sering berkumpul bersama. Sampai suatu hari kami membuat taruhan."
Pak Adjie mengernyit. "Taruhan apa?"
Arkana menundukkan kepala semakin dalam. Rasanya setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti pisau yang kembali menggores luka lama.
"Waktu itu Kanaya selalu memakai cadar. Teman-temanku penasaran dengan wajahnya."
Bu Cantika langsung menggenggam tangan Kanaya.
"Kita semua melakukan taruhan untuk melihat wajah asli Kanaya."
Bu Winda mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Lalu?" tanyanya.
"Dari kami berempat hanya aku yang bisa melakukan tantangan itu, yang lain gagal," lanjut Arkana.
Ketiga teman Arkana lainnya, jangankan bisa dekat dengan Kanaya. Ngajak bicara saja, jawabannya selalu singkat dan menjaga jarak.
Wajah Pak Adjie perlahan mengeras. Shaka yang sejak tadi diam juga mulai menatap Arkana dengan tajam.
"Dan setelah itu?" tanya Pak Adjie dengan suara dingin.
Arkana memejamkan mata sejenak. "Haji Soleh, pemimpin yayasan tempat pati asuhan Kanaya berada, meminta aku jangan mengganggu Kanaya. Jika serius, maka harus menikahinya bukan menjadi pacaran."
"Setelah itu taruhan berkembang semakin jauh. Mereka menantangku untuk menikahi Kanaya dan menjalin hubungan dengannya selama seratus hari."
Arkana ingat betul kejadian setelah itu. Dia menghubungi ketiga temannya. Mereka malah semakin memprovokasi dirinya.
"Kalau aku berhasil, maka setelah seratus hari ...." Suaranya mulai bergetar, "... aku harus menceraikannya."
BRAK!
Pak Adjie memukul meja dengan keras hingga semua orang terkejut. Wajah pria itu memerah menahan amarah.
"Apa?! Kamu menikahi Kanaya karena taruhan?"
"Tidak, Pak!" Arkana buru-buru menggeleng. "Aku tidak seperti itu!"
"Lalu seperti apa?" bentak Pak Adjie.
Arkana menatap semua orang yang kini memandangnya dengan marah dan kecewa. "Aku memang menerima taruhan itu," akunya. "Tapi aku sudah jatuh cinta kepada Kanaya sebelum kami menikah."
Bu Winda menatap putranya dengan wajah pucat. "Ya Allah, Arka," bisiknya lirih. "Kamu melakukan hal sekeji itu?"
Air mata mulai memenuhi pelupuk mata Bu Winda. Selama ini ia selalu bangga kepada Arkana. Ia membesarkan anaknya untuk menjadi laki-laki yang menghormati perempuan. Namun hari itu, ia baru mengetahui kesalahan terbesar yang pernah dilakukan putranya.
Bu Cantika terlihat jauh lebih marah. "Jadi selama ini Kanaya menangis karena itu?" tanyanya.
Tidak ada jawaban.
"Jadi selama ini dia membesarkan anak-anaknya sendirian karena ulahmu?" gumam Bu Winda menahan rasa kesal dan kecewa.
Arkana menunduk semakin dalam.
Pak Adjie menggeleng tidak percaya. "Kalau saja Kanaya tidak sekuat itu, mungkin hidupnya sudah hancur karena perbuatanmu."
Suasana semakin tegang. Shaka yang sejak tadi menahan diri akhirnya berdiri dari kursinya. Rahangnya mengeras.
"Kalau bukan karena Abi dan Aya ada di sini," kata Shaka dingin, "mungkin sejak tadi aku sudah menghajarmu."
Arkana tidak membalas. Ia sadar dirinya memang tidak memiliki alasan untuk membela diri.
Di tengah kemarahan semua orang, Kanaya justru tetap diam. Ia duduk tenang dengan kedua tangan berada di pangkuannya. Tidak ada tangisan, teriakan, apalagi amarah yang meledak-ledak.
Namun, justru itulah yang membuat suasana terasa jauh lebih menyakitkan. Karena luka yang terlalu dalam sering kali tidak lagi mampu menangis.
Melihat itu, Bu Winda menatap Kanaya dengan perasaan rasa sedih penuh luka. Wanita paruh baya itu menggenggam tangan Kanaya dengan kedua tangannya.
"Kanaya ..." Suara Bu Winda bergetar. "Saya minta maaf."
Kanaya tersenyum tipis. Senyum yang membuat dada siapa pun yang melihatnya terasa sesak.
"Ibu tidak perlu meminta maaf."
"Tapi Arka anak saya."
Kanaya menunduk sesaat sebelum kembali mengangkat wajahnya. "Kesalahan Arkana bukan kesalahan Ibu."
Kalimat sederhana itu justru membuat air mata Bu Winda jatuh. Karena perempuan yang paling berhak marah di ruangan itu malah menjadi orang yang paling tenang.
Sementara Arkana hanya bisa duduk terpaku. Rahasia yang selama lima tahun ia sembunyikan akhirnya terbongkar di hadapan semua orang.
Dia benar-benar merasakan beratnya penyesalan yang selama ini menghantuinya. Karena tidak ada seorang pun di ruangan itu yang bisa membenarkan perbuatannya, bahkan dirinya sendiri.