NovelToon NovelToon
PLAGUEHART

PLAGUEHART

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Penyelamat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Widya Pramesti

Di kota Plaguehart, Profesor Arya Pratama melakukan eksperimen berbahaya untuk menghidupkan kembali istrinya, Lara, menggunakan sampel darah putrinya, Widya. Namun, eksperimen itu gagal, mengubah Lara menjadi zombie haus darah. Wabah tersebut menyebar cepat, mengubah penduduk menjadi makhluk mengerikan.

Widya, bersama adiknya dan beberapa teman, berjuang melawan zombie dan mencari kebenaran di balik wabah. Dengan bantuan Efri, seorang dosen bioteknologi, mereka menyelidiki lebih dalam, menemukan kebenaran mengerikan tentang ayah dan ibunya. Widya harus menghadapi kenyataan pahit dan mengambil keputusan yang menentukan nasib kota dan hidupnya.

Mampukah Widya menyelamatkan kota dengan bantuan Dosen Efri? Atau justru dia pada akhirnya ikut terinfeksi oleh wabah virus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya Pramesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berpura-Pura Menjadi Manusia

Sementara itu, di toko baju, zombie wanita bertato tergelatak di lantai. Jari-jarinya yang mulai berubah menjadi kuku tajam menggenggam lantai, mencoba untuk bangkit. Kulitnya yang dulu halus kini terkelupas, pucat, dan urat-urat ungu terlihat jelas di sepanjang tubuhnya.

Mata merahnya perlahan terbuka, menatap kosong ke depan. Tubuhnya menggeliat, kepalanya berputar dengan suara berderak. Namun, gerakannya terhenti sejenak. Dia merasakan kesakitan pada dadanya, terlihat bekas darah yang sudah mengering akibat tusukan yang di berikan oleh Widya.

Oleh sebab itu, amarah zombie wanita bertato itu mulai mendidih, membenci Widya yang telah menusuknya hingga terkapar di lantai. Beberapa gigitan zombie, masih terlihat pada tubuhnya. Dia merasa sedih, pasrah, karena kini wujudnya sudah berubah menjadi zombie.

(Hanya Ilustrasi)

Tanpa pikir panjang, dia merangkak menuju rak pakaian yang masih berdiri kokoh. Dengan tenaga yang tersisa, tangannya menggenggam erat rak pakaian untuk menopang tubuhnya yang lemas.

Dia mulai meraih sebuah jaket panjang, celana jeans dari rak tersebut. Dengan gerakan kaku, zombie wanita bertato itu kesulitan mengenakan pakaian tersebut dengan gerakan terbatas.

"Kenapa sangat sulit untuk bergerak cepat seperti ini?" katanya, bertanya dengan nada serak dan penuh amarah.

Dia melanjutkan gerakan kakunya, mengenakan pakaian itu di waktu yang cukup lama. Berhasil, tubuhnya yang terinfeksi, kulitnya yang pucat kini sudah tertutup oleh jaket dan celana jeans.

Namun, bola mata merahnya masih terlihat jelas. Dia melangkah pelan, menuju rak yang berisi aksesoris. Meraih topi dan kacamata hitam, menutupi tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki, dan berpura-pura menjadi manusia lagi meskipun tubuhnya sudah jelas terinfeksi.

Wanita bertato itu terdiam sejenak. Memikirkan, kenapa dirinya masih bisa berbicara dan berpikir seperti manusia? Sementara kini tubuhnya telah terinfeksi menjadi zombie!

"Apa yang terjadi denganku? Kenapa, aku berbeda dengan makhluk yang lain?" tanyanya lagi, pada diri sendiri. Namun, dia mencoba menerima nasib barunya. Dan tiba-tiba, senyum sinis terbentuk di bibirnya.

Sebuah naluri untuk balas dendam, membunuh, dan rasa benci pada Widya yang terus membara, muncul di dalam dirinya. Suara ketawa sinis, serak, mulai keluar dari mulutnya. "Aku akan membunuhmu, Widya."

Tiba-tiba, suara deru mesin truk terdengar dari luar toko. Beberapa orang turun dari truk, di antaranya adalah Sersan Arif dan Gio yang segera masuk ke dalam toko, memeriksa sekeliling sambil mengangkat senjatanya.

Namun, langkah kaki mereka terhenti saat melihat sosok manusia yang membelakangi mereka dan tidak menyadari jika itu adalah zombie yang sedang berpura-pura menjadi manusia dengan pakaian rapinya.

"Permisi!" seru Arif. "Apa kamu sendirian di sini?" tanyanya, dengan nada rendah, dan menurunkan senjatanya.

Wanita bertato itu membalikkan tubuhnya, menundukkan kepalanya. Dia menyembunyikan wajahnya dengan kulitnya yang terlihat pucat dan rusak di balik kacamata hitam dan topinya berusaha menampilkan diri seolah masih seorang manusia.

"Iya," jawabnya serak, perlahan mengangkat kepalanya, menatap mereka dari balik kacamata.

Sersan Arif dan Gio saling pandang, merasa aneh dengan suara serak dan gerakan kaku pada sosok dihadapannya. Namun, Arif memberanikan diri, melangkah dekat ke arah wanita bertato.

"Siapa namamu?" tanya Arif. Dengan cepat, Wanita bertato itu tersenyum miring. "Namaku... Laura," jawabnya pelan, berusaha mengontrol gerakan kakunya dan suara seraknya.

Arif mengangguk, mengangkat senjatanya, menghidupkan senter dan menyoroti ke arah lain sambil bertanya lagi. "Apa kamu tidak takut?" katanya, melihat sebuah zombie wanita separuh baya tergeletak di sisinya dalam keadaan mengenaskan.

Wanita bertato itu menjawab. "Kenapa, aku harus takut?" tanyanya balik, senyum miring terus terukir di bibirnya. "Zombie itu, tidak akan bisa bangkit lagi."

Namun, perkataan dari Laura membuat kening Arif berkerut, menoleh dan menatap ke arahnya dengan wajah serius. "Apa kamu yakin?" tanyanya lagi, dengan cepat melanjutkan pertanyaan berikutnya. "Bagaimana, jika zombie ini akan bangkit lagi? Lalu, kenapa kamu masih berdiam diri di tempat ini?"

Wanita bertato itu mengangguk perlahan. "Yakin. Karena itu... tidak akan terjadi lagi, dan aku di tinggalkan oleh seseorang di tempat ini," jawabnya.

Arif semakin mengerutkan keningnya, begitu juga dengan Gio yang tidak mengerti maksud jawaban dari Laura. "Apa maksudmu? Apa tadi, ada orang lain bersamamu? Dan dimana dia?" tanya Gio, melangkah mendekatinya.

Laura menatap mereka dengan gerakan kaku, mencoba menjelaskan dengan nada serak yang tidak bisa kontrolnya lagi. "Dia seorang wanita. Berseragam militer seperti kalian," ucapnya.

Mendengarkan itu, Arif melebarkan matanya dan menatap ke arah Gio dengan ekpresi yang sama. "Apa jangan-jangan itu, Widya?" kata mereka berdua, bertanya serentak.

Kemudian, Arif bertanya sekian kalinya lagi tanpa rasa bosan. "Apa kamu tahu, dimana wanita yang kamu maksud, Laura?"

Laura menggeleng. "Aku tidak tahu. Karena tiba-tiba, dia meninggalkan diriku seorang, setelah zombie ini mati. Dan dia pergi meninggalkan tempat ini bersama anak kecil menggunakan motor Harley," katanya lagi, menjawab pertanyaan untuk sekian kali.

"Anak kecil?" bisik Arif, bertanya dengan nada rendah. Namun, dia mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi.

Arif dan Gio saling menatap sejenak, dan mengangguk. Seolah saling memberi kode khusus, dan tanpa ragu, Arif mengajak Laura untuk ikut bersama mereka. "Laura, ayo naik ke truk. Kami akan membawamu ke tempat aman, dan mengarantina diri di perbatasan kota."

Laura mengangkat kepalanya perlahan, mengangguk setuju. Tanpa menunggu lama, Arif memimpin jalan, melangkah keluar menuju truk di ikuti oleh Gio dan Laura dari belakang.

Dengan pelan, tubuh yang kaku, mereka berdua duduk bersebelahan. Namun, setelah wanita itu naik, Arif yang duduk di kursi depan truk segera memberi instruksi kepada Bryan. "Ayo, kita harus mencari keberadaan Widya dan juga warga yang masih selamat di sekitar sini."

Bryan mengangguk. "Siap, Sir!" serunya dengan suara lantang. Dia menekan pedal gas mobilnya, melajukan truk tersebut dengan hati-hati.

Sementara itu, di kursi belakang truk. Wilona dan Claudia mulai merasa ada yang aneh. Mereka melihat kulit wanita bertato, Laura, yang sangat pucat, seolah berbeda dengan orang yang biasa mereka temui.

Mereka saling pandang dan mulai menyadari ada yang janggal. Wilona yang duduk berhadapan dengannya, memberanikan diri untuk bertanya. "Hei, siapa namamu? Apa kamu baik-baik saja?"

Wanita itu hanya tersenyum kaku. "Laura. Aku baik-baik saja," jawabnya pelan, dengan suara serak. Tapi, Claudia yang duduk di sebelah Wilona mulai merasa ragu, penasaran, namun mencoba berpikir positif.

"Kulitnya agak berbeda, kan?" bisik Claudia pada Wilona, bertanya dengan penasaran. "Tapi, sepertinya itu memang kulit aslinya," sahut Wilona cepat sambil berbisik.

Laura yang menyadari dua wanita dihadapannya sedang berbisik, hanya bisa tersenyum miring. Dia berharap, penyamarannya untuk berpura-pura menjadi manusia, berhasil. Dan bisa bertemu kembali dengan Widya, untuk melakukan pembalasan dendamnya.

1
iqbal nasution
mantap
Apin۝☞
Sempurna
Apin۝☞
lanjut dong
Titi$🤑
Aku kira ceritanya bakalan seperti pada zombie umumnya, ternyata alurnya berbeda, lebih seru dan menegangkan ini. Tidak membosankan, karena sulit di tebak alurnya serta banyak adegan aksi, bikin terharu juga masuk. The best banget ini karya👍🏻
🟢WidyaAA: Terimakasih banyak kak🥰
total 1 replies
Titi$🤑
kenapa ceritanya bagus dan seru
Titi$🤑
Sumpah ini cerita keren banget, bacanya membuat aku terbawa suasana, menegangkannya dapat banget, seram tapi keren👍🏻 di bikin jantungku berdegup kencang sangking serunya
🍃⃝⃟𝔗𝔞𝔫𝔱𝔢 𝔞𝔦𝔦
teruskan bakatmu🎉
🔵Ney Maniez
semangat
😈ˢ⍣⃟ₛ 𝕯𝐄𝐌𝐈𝐓
mimisan
nightdream19
hai kakak cantik rose nya udah aku kirim ya kakak. Kakak sehat selalu dan tetap semangat ya kakak cantik
nightdream19: sama sama kakak cantik
total 2 replies
Pompon
lanjut kak
Pompon
mungkin Roger nanti jdi zombie kek laura
Pompon
ego bet dah nanti kalo kena karmanya gimana
Pompon
ulala yang di tunggu tunggu update juga
𝐀𝐢𝐤𝐡𝐚𝐲 𝐇𝐨𝐬𝐡𝐢𝐧𝐨⚡
Apakah ini pertanda Roger bakal jadi zombai?
Cappie
lanjut
Fara F
jejak... lanjut thor... karyanya keren😍
🟢WidyaAA: terimakasih sudah mampir akak
total 1 replies
➶𝖈𝖎𝖈𝖎🍒⃞⃟🦅
ini teh jadi zombie???
🟢WidyaAA: iya cerita zombie ini
total 1 replies
Selly AWP
selalu mendukungmu kak,saya reader baru
Selly AWP
Kak, sampai sini dulu ya bacanya,nanti aku lanjut lagi,tetap semangat ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!