Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 — Luka yang Tidak Diucapkan
Hari-hari setelah pagi itu berjalan seperti biasa, tetapi tidak lagi terasa sama bagi Diara.
Rumah tetap rapi. Makanan tetap ia siapkan. Pagi dan malam tetap ia jalani dengan rutinitas yang tidak berubah. Namun ada sesuatu yang perlahan berubah di dalam dirinya—bukan di rumah itu.
Jarak.
Bukan jarak fisik, melainkan sesuatu yang tidak terlihat, tetapi terasa semakin nyata setiap hari.
Suatu sore, Diara duduk di ruang keluarga dengan ponsel di tangannya. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaan kecil dari klien, namun pikirannya tidak benar-benar di sana.
Jam menunjukkan hampir pukul enam.
Ia melirik layar ponselnya.
Tidak ada pesan dari Jifan.
Diara menunggu beberapa menit, lalu akhirnya mengirim pesan terlebih dahulu.
Diara:
“Mas, pulang jam berapa hari ini?”
Beberapa menit berlalu.
Tidak ada balasan.
Diara menghela napas pelan.
“Selalu seperti ini…” gumamnya.
Ia meletakkan ponsel, lalu kembali menatap layar televisi yang menyala tanpa benar-benar ia tonton.
Malam hari, suara pintu akhirnya terdengar.
Klik.
Jifan masuk dengan langkah cepat, membawa tas kerja di tangannya. Wajahnya terlihat lelah, namun fokusnya masih sama seperti biasanya—seolah pikirannya belum benar-benar kembali ke rumah.
Diara berdiri dari sofa.
“Mas baru pulang?” tanyanya pelan.
Jifan melepas sepatunya tanpa menatap lama.
“Iya. Ada meeting tambahan tadi,” jawabnya singkat. “Maaf.”
Diara mengangguk kecil.
“Sudah makan?”
“Belum. Tapi nanti saja, aku masih harus cek beberapa file.”
Diara terdiam.
“Nanti saja…” ulangnya pelan, hampir tidak terdengar.
Jifan sudah berjalan menuju meja kerja kecil di sudut ruang tamu. Laptop dibuka, dokumen disusun, dan dunia Diara seolah berhenti di belakangnya.
Diara berdiri beberapa detik di tempatnya. Ia menatap punggung suaminya yang sibuk, yang bahkan tidak menyadari perubahan ekspresi di wajahnya.
“Mas…” panggilnya pelan.
“Hm?” Jifan menjawab tanpa menoleh.
“Tidak apa-apa,” kata Diara akhirnya, lalu berbalik ke dapur.
Di dapur, Diara bersandar pada meja. Tangannya perlahan menggenggam tepi meja, bukan karena lelah fisik, tetapi karena sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.
“Aku ini sebenarnya masih dianggap istri, atau hanya orang yang satu rumah dengannya?” ucapnya lirih.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara air yang mengalir dari keran yang belum dimatikan sempurna.
Malam semakin larut.
Diara sudah menyiapkan makan malam, namun Jifan belum juga bergabung. Ia hanya keluar sebentar untuk mengambil makanan, lalu kembali lagi ke meja kerjanya.
“Taruh saja di sana, Diara. Aku makan nanti,” ucapnya tanpa mengangkat wajah.
Diara berdiri diam.
“Baik,” jawabnya singkat.
Setelah itu, tidak banyak percakapan terjadi.
Hanya suara keyboard dan halaman yang dibuka di laptop Jifan. Sementara Diara duduk di sofa, memandangi tangannya sendiri yang mulai terasa asing di rumah yang sama.
Di dalam hatinya, sesuatu mulai berubah.
Bukan lagi sekadar kecewa.
Tapi pelan-pelan… ia mulai berhenti berharap terlalu banyak.
Beberapa hari kemudian, perubahan itu semakin jelas.
Diara tidak lagi selalu menunggu Jifan pulang.
Ia makan lebih awal.
Ia tidak lagi bertanya terlalu sering.
Dan ketika Jifan pulang larut, Diara hanya mengangguk, tanpa banyak kata.
Suatu malam, Jifan sempat memperhatikan perubahan itu.
“Kenapa kamu sekarang lebih diam?” tanyanya sambil membuka jas kerja.
Diara yang sedang mencuci piring berhenti sejenak.
“Aku capek,” jawabnya singkat.
Jifan mengernyit kecil.
“Capek apa?”
Diara menutup keran, lalu menoleh sekilas.
“Capek menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar sampai.”
Jifan terdiam.
Namun hanya sesaat.
“Aku sedang sibuk, Diara,” katanya pelan. “Kamu tahu itu.”
Diara mengangguk kecil.
“Iya. Aku tahu.”
Lalu ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada suara tinggi.
Hanya jarak yang semakin jelas, meski mereka berada di ruangan yang sama.
Malam itu, Diara masuk ke kamar lebih awal dari biasanya.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap cermin kecil di meja riasnya.
“Kalau begini terus…” gumamnya pelan.
Ia berhenti sejenak.
“…aku harus belajar tidak terlalu menunggu.”
Diara menarik napas panjang, lalu berbaring.
Matanya terpejam, tetapi pikirannya tidak benar-benar tidur.
Ada luka yang tidak terlihat.
Luka yang tidak pernah ia ucapkan kepada siapa pun.
Dan mulai malam itu, Diara belajar satu hal baru dalam pernikahannya:
bagaimana mencintai seseorang… tanpa selalu berharap untuk dibalas dengan cara yang sama setiap waktu.
🪻🪻🪻🪻
Pagi itu Diara tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Gedung masih terasa lengang, hanya beberapa staf yang sudah mulai bekerja. Ia melangkah masuk dengan map desain di tangan, wajahnya tenang seperti biasa—terlatih untuk tidak menunjukkan apa pun yang sedang ia simpan di dalam pikirannya.
Hari ini jadwalnya padat.
Konsultasi klien, rapat proyek, hingga finalisasi desain yang harus segera diserahkan.
Di ruang kerjanya, Diara duduk di depan laptop, membuka satu per satu file yang sudah menunggu revisi. Notifikasi email terus berdatangan, namun ia tetap fokus.
“Baik, kita revisi area ruang keluarga sesuai permintaan klien, tone-nya kita buat lebih soft modern,” ujar Diara saat video call berlangsung.
Klien di layar mengangguk.
“Setuju. Saya percaya dengan keputusan Anda, Diara.”
“Terima kasih, Bu. Akan saya kirimkan finalnya hari ini.”
Beberapa jam kemudian, pintu ruangan Diara diketuk pelan.
Tok… tok…
“Masuk,” ucap Diara tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Pintu terbuka, dan seorang perempuan masuk dengan membawa tablet di tangannya.
“Bu Diara,” suara itu lembut namun formal.
“Hara?” Diara akhirnya menoleh.
Sekretarisnya itu tersenyum kecil sambil melangkah mendekat.
“Ada undangan untuk Ibu.”
Diara mengernyit pelan.
“Undangan?”
Hara mengangguk, lalu menyerahkan sebuah amplop elegan berwarna emas.
“Undangan malam penghargaan pengusaha terbaik tahun ini. Nama Ibu tercantum sebagai tamu kehormatan dari kategori desain interior emerging consultant.”
Diara menerima amplop itu.
“Penghargaan…” gumamnya pelan.
Hara tersenyum.
“Iya, Bu. Acaranya besok malam.”
Diara menatap amplop itu beberapa detik.
“Baik, terima kasih, Hara.”
“Siap, Bu.”
Hara kemudian keluar dari ruangan, meninggalkan Diara yang masih memandangi undangan itu dalam diam.
Sore hari, pekerjaan akhirnya selesai.
Rapat terakhir baru saja berakhir, file final sudah dikirim, dan kantor mulai sepi satu per satu.
Namun Diara tidak langsung berdiri.
Ia hanya duduk, menatap layar laptop yang sudah gelap.
Tangannya meraih ponsel.
Tidak ada pesan baru.
Ia menghela napas pelan.
“Untuk apa langsung pulang…” gumamnya lirih.
Matanya menatap jendela kaca kantor yang memperlihatkan langit sore mulai memudar.
“Di rumah juga… aku cuma sendirian.”
Tanpa banyak berpikir, Diara akhirnya mengambil tasnya dan keluar dari kantor.
Mobilnya melaju tidak menuju rumah, tetapi ke arah yang sudah mulai ia kenali sebagai tempat singgahnya.
Baila Florist
Bel kecil berbunyi saat Diara masuk.
“Welcome back, orang sibuk!” suara ceria langsung menyambutnya.
Diara tersenyum kecil.
“Kalau aku sibuk, kamu berarti apa? Super sibuk juga?” balasnya.
Baila—sahabatnya—tertawa sambil menaruh gunting bunga.
“Jelas. Aku ini sibuk menjaga bunga-bunga ini tetap tidak stres seperti pemiliknya.”
Diara terkekeh pelan.
“Bunga aja kamu urusin, apalagi manusia.”
Baila mendekat, memperhatikan wajah Diara.
“Hmm… kamu kelihatan capek tapi dipaksa kuat.”
Diara mengangkat bahu.
“Seperti biasa.”
Baila menunjuk kursi kecil di dekat etalase.
“Duduk dulu. Mau teh atau mau curhat gratis?”
Diara duduk.
“Teh dulu.”
Baila langsung bergerak ke belakang meja.
“Pasti ada yang kamu pikirkan lagi,” ucapnya sambil menyiapkan minuman.
Diara menatap bunga-bunga di sekelilingnya.
“Tidak ada yang baru.”
Baila mengangkat alis.
“Itu justru masalahnya. Kalau kamu bilang ‘tidak ada yang baru’, biasanya berarti semuanya sudah terlalu lama kamu tahan.”
Diara diam.
Lalu tersenyum tipis.
“Kamu terlalu pintar untuk jadi penjual bunga.”
Baila tertawa kecil sambil meletakkan teh di depannya.
“Aku bukan penjual bunga biasa. Aku spesialis baca orang yang pura-pura baik-baik saja.”
Diara menunduk, lalu tertawa pelan.
“Kalau begitu… aku pelanggan paling sering ya.”
“Sayangnya iya,” jawab Baila santai. “Dan kamu selalu datang di jam orang mulai lelah dengan hidup.”
Diara menghela napas, lalu bersandar.
“Kalau aku pulang langsung ke rumah… rasanya cuma seperti menunggu sesuatu yang tidak pasti.”
Baila berhenti sejenak, lalu duduk di seberangnya.
“Dan di sini kamu merasa lebih hidup?”
Diara berpikir sebentar.
“Tidak lebih hidup.”
Ia tersenyum kecil.
“Tapi setidaknya… aku tidak sendirian di dalam diam.”
Baila mengangguk pelan.
“Itu sudah cukup jujur.”
Beberapa menit kemudian, Diara berjalan di antara bunga-bunga lagi. Kali ini lebih santai.
“Yang ini apa namanya?” tanyanya sambil menunjuk bunga putih.
“Lily. Elegan tapi gampang patah hati,” jawab Baila sambil bercanda.
Diara langsung menoleh.
“Bunga aja kamu kasih diagnosis.”
Baila tertawa.
“Karena bunga itu mirip manusia. Kelihatannya kuat, padahal banyak yang rapuh.”
Diara diam sesaat, lalu tersenyum kecil.
“Kalau begitu… aku yang mana?”
Baila menatapnya singkat.
“Kamu? Masih mekar. Tapi terlalu sering dipaksa tumbuh sendiri.”
Diara tidak menjawab.
Namun matanya sedikit melembut.
Di sore yang mulai gelap itu, Diara tidak pulang lebih cepat.
Ia memilih duduk lebih lama di antara bunga, di tempat yang tidak menuntutnya untuk kuat setiap waktu.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak memikirkan rumah.
Ia hanya memikirkan dirinya sendiri.
🪻🪻🪻🪻