NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16.Pertemuan tanpa disengaja.

Beberapa hari terus berlalu, dan bagi Ivy, waktu terasa berjalan jauh lebih cepat dari biasanya. Setiap pagi saat ia membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah angka samar yang melayang di atas kepalanya—angka yang terus menyusut sedikit demi sedikit, seolah menghitung mundur detik-detik sisa hidupnya. Rasa cemas perlahan mulai merayap masuk ke dalam hatinya; ia belum mendapatkan kesempatan untuk bertemu Rama lagi, dan tanpa sentuhan atau kedekatan dengan pria itu, ia merasa kekuatannya perlahan terkikis habis.

Namun, Ivy tidak ingin menyerah begitu saja. Selama menunggu kesempatan bertemu Rama, ia tetap menjalani rutinitas dengan disiplin. Ia bangun pagi-pagi sekali untuk berolahraga ringan di taman belakang rumah, menjaga agar tubuhnya tetap bugar meski penyakit itu diam-diam menyerang. Ia meminum obat-obatan yang diberikan dokter secara teratur, dan atas saran Bibi Nora, ia juga mencoba ramuan tradisional dari tumbuhan yang dipercaya bisa memperlambat pertumbuhan sel kanker. Meskipun tidak ada perubahan drastis, setidaknya itu membuatnya merasa sedang berusaha melakukan sesuatu untuk bertahan hidup.

Pagi itu, hari pertama ia harus kembali masuk sekolah setelah masa libur panjang berakhir. Ivy mengenakan seragam sekolahnya yang rapi namun sederhana, berbeda dengan Oliv yang selalu tampil dengan aksesoris mewah dan riasan yang berlebihan. Saat turun ke ruang makan, ia melihat Oliv sudah duduk menunggu, dan tidak lama kemudian mobil pribadi keluarga pun siap mengantar mereka.

Di dalam mobil, pikiran Ivy terus melayang. Semalam ia membaca berita di internet dan melihat laporan bahwa Rama Cahya baru saja kembali ke Kota Vale Ria setelah menghabiskan waktu hampir seminggu untuk urusan bisnis di luar kota. Kabar itu membuat jantungnya berdebar kencang—kesempatan sudah semakin dekat, tapi ia harus menemukan cara untuk keluar dari pengawasan ketat Ayah dan Bibi Nora tanpa menimbulkan kecurigaan.

“Supir, tolong berhenti sebentar di supermarket yang ada di tikungan depan. Aku ingin membeli beberapa barang kebutuhan,” ucap Oliv tiba-tiba saat mobil mendekati kawasan sekolah.

Mendengar itu, Ivy merasa ada kesempatan yang terbuka. “Aku ikut turun juga sekalian, mungkin ada yang perlu aku beli,” katanya cepat sebelum Oliv sempat melarang.

Begitu mobil berhenti, keduanya turun dan berjalan menuju pintu masuk supermarket. Namun, saat Ivy melirik ke seberang jalan, pandangannya langsung tertuju pada sebuah kejadian yang membuat langkah kakinya terhenti.

Seorang kakek tua yang berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat kayu baru saja tersenggol oleh pengendara sepeda motor yang melaju terlalu cepat. Kakek itu terhuyung-huyung dan hampir terjatuh, namun berhasil menahan tubuhnya dengan susah payah. Alih-alih meminta maaf, pengendara motor itu malah berhenti dan mulai mengomel dengan nada keras, menyalahkan kakek itu karena berjalan sembarangan di pinggir jalan.

“Dasar orang tua yang tidak tahu diri! Kalau tidak bisa berjalan, sebaiknya diam saja di rumah, jangan bikin repot orang lain!” bentak pengendara itu dengan kasar.

Mendengar kata-kata itu, darah Ivy seketika mendidih. Tanpa berpikir panjang, ia segera menyeberang jalan dengan langkah cepat dan berdiri di depan kakek tua itu, melindunginya.

“Kau yang salah! Mengapa mengemudi dengan kecepatan tinggi di jalan yang ramai? Orang tua ini hampir jatuh karena kelalaianmu, bukannya meminta maaf malah menyalahkan orang lain!” bentak Ivy dengan suara lantang dan tegas.

Pengendara motor itu terkejut melihat keberanian gadis muda itu, namun ia masih berusaha mempertahankan argumennya. “Ini bukan urusanmu! Menyingkirlah sebelum kau ikut kena masalah!”

“Kalau kau tidak meminta maaf dan memastikan dia baik-baik saja, aku akan memanggil polisi sekarang juga,” jawab Ivy tanpa gentar, sambil mengeluarkan ponselnya seolah siap menghubungi pihak berwajib.

Melihat ketegasan Ivy, pengendara motor itu akhirnya mengurungkan niatnya untuk bertengkar. Ia mendengus kesal, melontarkan satu kata makian, lalu segera melajukan kendaraannya pergi.

Ivy segera menoleh ke arah kakek itu, suaranya kembali lembut dan perhatian. “Kakek, apakah Kakek baik-baik saja? Ada bagian tubuh yang terasa sakit?”

Kakek tua itu mengangkat wajahnya, menatap Ivy dengan pandangan yang dalam dan penuh rasa terima kasih. Wajahnya penuh keriput, namun matanya terlihat tajam dan cerdas, seolah telah melihat banyak hal dalam hidupnya. “Terima kasih, Nak. Aku tidak apa-apa, hanya sedikit terkejut saja. Kau gadis yang sangat berani dan baik hati. Banyak orang yang hanya melihat dan berlalu, tapi kau berani membela orang asing.”

Ia tersenyum tipis, lalu bertanya, “Siapa namamu, Nak? Agar Kakek bisa mengingat kebaikanmu ini.”

Namun sebelum Ivy sempat membuka mulut, ponsel di saku seragamnya berdering nyaring. Itu suara panggilan dari Oliv, yang mulai bertanya-tanya mengapa Ivy tidak kunjung menyusul masuk ke dalam supermarket. Rasa khawatir akan dicurigai muncul kembali di hatinya.

“Maaf, Kakek, aku harus pergi sekarang. Semoga Kakek selalu sehat dan berhati-hati di jalan,” ucap Ivy cepat sambil tersenyum, lalu segera berlari kecil menyeberang jalan kembali menuju tempat Oliv menunggu.

Kakek tua itu hanya berdiri diam di tempat, menatap punggung Ivy yang semakin menjauh hingga menghilang di balik pintu masuk toko. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang penuh makna.

“Gadis yang baik… sungguh beruntung jika seseorang memiliki anak atau cucu dengan hati sepertinya,” gumamnya pelan, suaranya terdengar lembut namun mengandung wibawa yang tidak terlihat dari penampilan sederhananya.

Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan hitam yang terlihat sangat mewah dan bersih berhenti tepat di sampingnya. Seorang pria paruh baya berpakaian rapi turun dari kursi pengemudi dan segera membukakan pintu belakang dengan rasa hormat yang tinggi.

“Maaf, Tuan Candra, saya terlambat menjemput. Apakah Tuan mengalami kesulitan?” tanya pria itu dengan nada sopan.

Kakek yang dipanggil Tuan Candra itu menggeleng pelan sambil masih menatap ke arah jalan tempat Ivy tadi berdiri. “Tidak apa-apa, Bima. Hanya ada sedikit kejadian kecil yang sudah selesai. Ada gadis muda yang sangat berani dan berhati mulia tadi menolongku. Rasanya aku baru saja bertemu dengan seseorang yang memiliki cahaya yang jarang dimiliki orang lain.”

Ia melangkah masuk ke dalam mobil dengan bantuan sopirnya, namun pikirannya masih terus teringat pada sosok Ivy. Di balik penampilan sederhana dan sikapnya yang tenang, ia samar-samar merasakan ada sesuatu yang berbeda—seolah ada beban berat yang dipikul gadis itu, namun ia tetap mampu tersenyum dan berbuat baik pada orang lain.

Sementara itu, di dalam supermarket, Oliv menatap Ivy dengan tatapan curiga. “Kau ke mana saja? Kenapa berlari ke seberang jalan? Ada apa?” tanyanya dengan nada menyelidik.

“Tidak ada apa-apa. Hanya melihat ada orang yang membutuhkan bantuan, itu saja,” jawab Ivy singkat, berusaha terlihat santai agar tidak menimbulkan kecurigaan lebih lanjut.

Ia tahu hari ini belum waktunya untuk pergi menemui Rama, tapi peristiwa bertemu kakek tua itu terasa seperti pertanda kecil—bahwa meski hidupnya terasa singkat dan penuh tekanan, ia masih bisa melakukan hal-hal yang membuatnya merasa hidup. Dan suatu hari nanti, saat ia bertemu Rama lagi, ia berjanji pada dirinya sendiri akan melakukan apa saja agar angka di atas kepalanya itu tidak terus berkurang, melainkan bertambah kembali untuk memberinya kesempatan hidup lebih lama.

1
𝒁𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!