Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
"Saya harap kalian semua juga memperlakukan Safia dengan baik," kata Pak Gunawan, memberikan senyum penuh harap kepada seluruh anggota tim.
"Tentu, Pak," sahut Bimo mewakili yang lain, meski senyumnya agak dipaksakan.
"Nanti dia juga diajari ya, Fela," tambah Pak Gunawan lagi, menatap sang manajer tim kreatif.
Fela tidak langsung mengiyakan. Ia melirik Safia sejenak sebelum kembali menatap Pak Gunawan dengan saksama. "Saya sedang menangani proyek penting dengan W-Corp saat ini, Pak. Konsentrasi saya sepenuhnya harus di sana. Apa tidak bisa Safia ditempatkan di divisi lain saja?"
Pak Gunawan tampak menimbang-nimbang. Memang benar, proyek W-Corp adalah taruhan besar bagi agensi mereka saat ini.
"Hmmm... kalau begitu, Mirin. Kamu yang jadi mentor untuk Safia," putus Pak Gunawan akhirnya.
"Baik, Pak," jawab Mirin patuh, meski dalam hati ia mulai merasa gugup harus membimbing gadis secanggih Safia.
"Kalau gitu saya serahkan Safia pada kalian. Saya kembali ke ruangan dulu," pamit Pak Gunawan seraya berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang tim kreatif.
"Baik, Pak," sahut mereka hampir bersamaan.
Setelah pintu kaca tertutup rapat di belakang Pak Gunawan, Fela langsung mengambil kendali profesionalnya kembali. Ia menatap Mirin. "Mirin, mulai sekarang kamu yang bertanggung jawab atas Safia. Aku akan kembali ke ruangan."
"Dia duduk di mana?" tanya Mirin bingung. Matanya mengedar mencari meja kosong yang tersisa.
Belum sempat Mirin atau Fela menjawab, Safia langsung mengangkat telunjuknya yang lentik dengan kuku ber-manikur mahal. "Aku mau di dekat Kenzo!" tunjuk Safia tanpa ragu. Ia lalu menoleh pada Fela dengan senyum manisnya. "Gimana, Kak Fela?"
Kenzo yang sejak tadi diam, langsung menatap Fela sesaat sebelum buru-buru menyela. "Di sini area cowok," tolak Kenzo dingin dan tegas. Ia langsung melirik rekan di sebelahnya. "Iya kan, Bang Bimo?"
Bimo yang merasa namanya diseret hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku sih ... terserah."
Mendengar itu Safia langsung bertepuk tangan kecil dengan riang. "Nah, Bang Bimo bilang terserah! Aku duduk di dekatmu ya, Ken?" paksa Safia mulai melangkah mendekat.
"Enggak," tolak Kenzo lagi suaranya sedikit meninggi. Sangat jelas menunjukkan keberatan.
Melihat keramaian itu, Siska yang sejak awal sudah merasa tersaingi dan gerah dengan kehadiran Safia. Akhirnya tidak tahan untuk ikut bersuara.
"Aduh! Terserah deh mau duduk di mana saja, pokoknya jangan dekat denganku!" tolak Siska terang-terangan. Setelah melayangkan tatapan sinis, Siska langsung menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi kerjanya sendiri dengan kasar, berpura-pura sangat sibuk dan tidak peduli lagi.
Fela menghela napas pendek. Matanya beralih menatap kursi kosong di sebelah meja Mirin.
"Duduk di dekat meja Mirin, Safia. Dia mentor mu," putus Fela dengan nada final yang tidak bisa diganggu gugat. Ia lalu menambahkan dengan nada datar. "Dari sana kamu juga masih bisa lihat Kenzo, kan?"
Mendengar keputusan tegas Fela, Safia hanya bisa mengangguk. Sementara Kenzo diam-diam mengembuskan napas lega di mejanya.
***
Hari presentasi draf iklan yang krusial itu akhirnya tiba. Di ruang rapat utama kantor agensi, Fela berdiri di depan layar proyektor. Di hadapannya, duduk Dion direktur pemasaran W-corp.
Di sebelah Dion, duduk Pak Beni, senior dari W-corp yang selama ini selalu memercayai hasil kerja tim Fela.
Fela menekan tombol remote presentasi. Layar menampilkan visual draf iklan mobil listrik terbaru yang mengusung konsep unik. Dual Mode. Konsep ini menggabungkan dua sisi yang kontras. Sisi yang cerah dan mencolok berpadu dengan sisi yang tenang dan elegan. Hasil riset lapangan yang matang yang ia lakukan bersama Kenzo beberapa hari lalu.
Baru saja Fela menjelaskan setengah jalan, Dion langsung bersandar di kursinya dan mendengus meremehkan. Karena masih kesal setelah diputuskan oleh Fela, Dion sengaja ingin menjatuhkan mental Fela di depan timnya.
"Hanya begini?" potong Dion dengan suara dingin dan merendahkan.
"Konsep iklan kalian ini membingungkan dan tidak konsisten. Di satu sisi kalian ingin terlihat cerah dan mencolok, tapi di sisi lain ingin terlihat tenang. Ini tidak tegas. Perusahaan kami menjual kendaraan kelas atas untuk orang kaya yang ingin gengsinya terlihat jelas, bukan konsep setengah-setengah seperti ini. Saya rasa tim Anda tidak memahami selera pasar kami."
Mendengar sindiran tajam itu, Bimo dan Siska yang duduk di barisan belakang langsung tegang dan cemas.
Namun Fela tidak goyah sedikit pun. Ia melipat tangannya dengan tenang. Menatap lurus ke arah Dion lalu tersenyum tipis.
"Saya memahami kekhawatiran Anda, Pak Dion," ujar Fela. Suaranya tenang namun terdengar tegas di seluruh ruangan. "Namun, bukankah Anda sebagai orang yang terbiasa di kalangan atas, tahu betul mengenai karakter konsumen kita?"
Semua menoleh ke arah Dion.
Dion menyipitkan matanya, merasa tersindir. "Apa maksud Anda?"
Semua kembali menoleh ke Fela.
"Konsumen kelas atas saat ini tidak bisa disamaratakan," jelas Fela. Ia langsung menyerang ego Dion. "Ada tipe orang kaya yang ingin tampil mencolok, berani, dan langsung menjadi pusat perhatian di jalanan. Tapi, ada juga tipe orang kaya lama yang lebih menyukai ketenangan, privasi, dan keanggunan yang tidak berisik. Jika kita hanya memilih salah satu, kita akan kehilangan setengah dari potensi pasar yang sangat besar ini."
Fela berbalik dan menunjuk ke arah layar proyektor yang menampilkan transisi visual mobil listrik tersebut di jalanan.
Di satu sisi layar, mobil itu melaju di bawah lampu kota yang cerah, menampilkan lekuk bodinya yang modern dan mencolok. Di sisi lain, visual berganti ke area kabin yang kedap suara, sunyi, dan menyajikan kenyamanan yang sangat elegan saat melaju tanpa suara.
"Melalui konsep Dual Mode ini, kita memuaskan kedua tipe tersebut," lanjut Fela mantap. "Kita menunjukkan bahwa mobil listrik ini bisa tampil cerah dan bertenaga di luar untuk memuaskan mereka yang ingin tampil mencolok, namun tetap menyajikan kesunyian dan kemewahan yang tenang di dalam kabin untuk mereka yang menginginkan keanggunan. Ini bukan konsep setengah-setengah, Pak Dion. Ini menunjukkan bahwa kendaraan kita bisa menguasai kedua dunia tersebut."
Pak Beni yang sejak tadi menyimak, langsung berdeham dan mengangguk puas. Rico yang ikut dalam rapat juga mengangguk setuju.
"Bukankah kalian ini w corp mengeluarkan mobil listrik dengan warna cerah ceria?" tanya Fela.
"Benar. Mobil listrik kita sengaja mengeluarkan tone warna yang segar." Pak Beni bicara.
Mendengar penjelasan Fela yang begitu menohok dan logis, wajah Dion langsung berubah kaku. Mulutnya mendadak terkunci rapat. Kata-kata Fela bagaikan tamparan yang membuatnya tidak berkutik.
semangat Fel....