NovelToon NovelToon
Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: fhadilah

Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

siapa wanita itu?

Waktu terus berjalan. Sudah cukup lama Garendra berdiri di depan pintu kamar rawat Felisyah.

Sejak keluar dari ruangan itu, ia tidak pernah benar-benar pergi. Langkahnya terus bolak-balik di depan pintu, sesekali berhenti untuk menatap gagang pintu seolah ingin membukanya.

Namun setiap kali tangannya hendak meraih gagang pintu, ia kembali mengurungkan niat.

Ia takut.

Takut melihat tatapan dingin Felisyah.

Takut wanita itu kembali mengusirnya.

Padahal selama ini, Garendra adalah pria yang tidak pernah takut menghadapi siapa pun.

Menghadapi rapat besar, menaklukkan pesaing bisnis, bahkan membuat keputusan miliaran rupiah tidak pernah membuatnya ragu.

Namun menghadapi satu wanita yang baru saja menjadi istrinya…

Ia justru tidak tahu harus berbuat apa.

"Bagaimana keadaanmu, Felisyah?" gumamnya pelan dengan tatapan cemas.

"Kenapa kamu belum juga keluar?"

Di sisi lain, Bayu yang sejak tadi menyaksikan tingkah bosnya hanya bisa menghela napas panjang.

Tangannya memijat pelipis dengan wajah pasrah.

Astaga...

Ini benar-benar Garendra Pratama yang selama ini dikenal dingin dan tidak tersentuh?

"Kelamaan menjomblo, sekali jatuh cinta langsung hilang setengah akal," gumam Bayu dalam hati.

Ia masih ingat dengan jelas bagaimana setelah hubungan Garendra dengan Monica berakhir, pria itu menutup hatinya rapat-rapat.

Tidak ada satu wanita pun yang berhasil mendekatinya.

Dan sekarang?

Bukan sekadar mendekat.

Baru bertemu beberapa hari, malah langsung mengubah status menjadi suami.

Benar-benar di luar dugaan.

"Bos..."

Panggilan Bayu membuat langkah Garendra berhenti.

"Apa?" jawabnya singkat.

"Daripada Bos mondar-mandir seperti orang kehilangan alamat, saya yang melihat saja ikut pusing."

Satu tatapan tajam langsung meluncur dari mata Garendra.

Bayu spontan menelan ludah.

"Maaf, Bos. Saya cuma memberi perumpamaan."

Garendra tidak menanggapi. Ia hanya menunggu Bayu melanjutkan ucapannya.

"Menurut saya, lebih baik panggil dokter untuk mengecek kondisi istri Bos. Dengan begitu Bos bisa tahu keadaannya tanpa membuat Nona Felisyah merasa terganggu."

Mata Garendra sedikit melebar.

Untuk sesaat, ia terdiam.

Seolah baru saja mendapatkan jawaban dari soal yang selama ini sangat sulit.

"Kenapa kamu baru bilang sekarang?" tanyanya dingin.

Deg.

Bayu langsung menegakkan tubuhnya.

Lagi-lagi ia menjadi korban kekesalan bosnya sendiri.

"Loh, Bos..." Bayu menatap tidak percaya.

"Yang bingung dari tadi Bos, yang muter seperti satpam ronda juga Bos. Kok saya yang disalahkan?"

Tatapan Garendra semakin tajam.

Bayu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Baik, saya salah. Saya yang salah."

Dalam hati, Bayu mengeluh.

Ya ampun, Bos. Saat mengurus perusahaan, semua masalah bisa Bos selesaikan dalam hitungan menit. Tapi urusan cinta satu orang saja, otak Bos mendadak seperti berhenti bekerja.

Namun tentu saja Bayu tidak cukup berani mengucapkan itu secara langsung.

Kalau sampai Bosnya mendengar, mungkin bonus akhir tahun bisa menghilang begitu saja.

Melihat ekspresi takut Bayu, Garendra hanya mendengus pelan.

Untuk pertama kalinya, Bayu melihat sisi lain dari bosnya.

Pria dingin yang selalu sempurna dalam segala hal ternyata bisa berubah menjadi pria yang panik hanya karena seorang wanita.

Dan wanita itu bernama Felisyah.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Tidak berselang lama, langkah kaki seseorang terdengar mendekat ke arah ruang rawat Felisyah.

Seorang dokter dengan jas putih berhenti tepat di depan pintu. Namun, begitu melihat sosok yang berdiri dengan wajah serius di sana, keningnya langsung berkerut heran.

"Loh... Garendra?" ucapnya tidak percaya.

Dokter itu adalah Kevin, salah satu dokter terbaik di rumah sakit tersebut. Namun di balik hubungan profesional mereka, ada hubungan keluarga yang tidak banyak diketahui orang.

Kevin adalah sepupu Garendra.

Garendra menoleh sekilas. Tidak ada raut terkejut sedikit pun di wajahnya, seolah ia memang sudah mengetahui siapa yang datang.

"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Kevin penuh rasa penasaran.

Setahunya, Garendra datang ke rumah sakit hanya untuk menjenguk oma mereka yang sebelumnya dirawat. Namun, sang oma sudah diperbolehkan pulang.

Lalu kenapa pria yang terkenal dingin dan sibuk itu masih berada di rumah sakit?

Terlebih lagi, dari raut wajahnya, Garendra terlihat sangat gelisah.

Sebuah ekspresi yang hampir tidak pernah Kevin lihat.

"Jangan banyak bertanya. Lakukan tugasmu."

Suara Garendra terdengar dingin dan tegas.

Kevin mengangkat satu alis.

"Tapi—"

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tatapan tajam Garendra sudah lebih dulu menghentikannya.

Sebagai orang yang tumbuh bersama Garendra sejak kecil, Kevin sangat mengenal arti tatapan itu.

Jangan bertanya sekarang.

Kevin mengembuskan napas panjang.

"Baiklah."

Rasa penasarannya terpaksa ia kubur sementara.

Ceklek.

Pintu kamar perlahan terbuka.

Namun, langkah Kevin terhenti sesaat saat melihat seseorang yang berada di dalam ruangan itu.

Seorang wanita.

Seorang wanita muda dengan wajah yang cantik, tetapi terlihat begitu rapuh.

Matanya sembab akibat terlalu banyak menangis, wajahnya pucat, dan tatapannya kosong seakan sedang menanggung beban yang sangat berat.

Alis Kevin berkerut.

Dalam benaknya muncul ribuan pertanyaan.

Siapa wanita ini?

Apa hubungannya dengan Garendra?

Dan sejak kapan pria yang selalu menjaga jarak dengan wanita itu rela menunggu berjam-jam di depan kamar seseorang?

Kevin tanpa sadar menoleh ke arah Garendra.

Dan untuk sesaat, ia benar-benar terdiam.

Tatapan yang diberikan Garendra kepada wanita itu begitu berbeda.

Tidak dingin.

Tidak datar.

Tatapan itu penuh kecemasan, kelembutan, bahkan ketakutan.

Seakan ia takut wanita itu akan kembali terluka.

Tatapan seperti itu belum pernah Kevin lihat sebelumnya.

Namun, ia memilih menahan semua rasa ingin tahunya.

Sekarang bukan waktu yang tepat.

Dengan sikap profesional, Kevin mendekat.

"Permisi, Nona. Boleh saya memeriksa keadaan Anda?"

Felisyah yang sejak tadi terdiam hanya mengangguk pelan.

Tidak ada tenaga untuk berbicara.

Ia membiarkan Kevin melakukan pemeriksaan meskipun sebenarnya tubuhnya sudah terasa jauh lebih baik.

Tidak lama kemudian, Garendra ikut melangkah mendekat.

Tatapannya tidak pernah meninggalkan wajah Felisyah sedetik pun.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Garendra dengan nada yang tidak bisa menyembunyikan kecemasan.

Kevin melirik Garendra.

Kemudian kembali melihat Felisyah.

Ratusan pertanyaan memenuhi kepalanya.

Namun ia memilih menyimpannya.

"Nona sudah jauh lebih baik. Hanya saja tubuhnya masih sangat lemah karena kekurangan nutrisi dan kelelahan."

"Pastikan dia banyak beristirahat. Jangan melewatkan waktu makan lagi, dan kondisi emosinya juga harus dijaga."

Garendra mengangguk pelan.

"Baik."

Hanya satu kata.

Namun nada suaranya menunjukkan bahwa ia benar-benar akan melakukan semua yang diperintahkan dokter.

Setelah pemeriksaan selesai, Kevin mulai merapikan alatnya.

"Kalau begitu, saya permisi dulu."

Ia melangkah keluar dari ruangan.

Namun sebelum pintu tertutup, Kevin kembali menoleh.

Pandangan Garendra masih tertuju kepada wanita itu.

Sementara wanita tersebut justru memalingkan wajahnya, seakan tidak ingin melihat keberadaan pria itu.

Pemandangan yang membuat rasa penasaran Kevin semakin membesar.

Setelah berada di luar ruangan, ia menghela napas panjang.

"Apa sebenarnya yang terjadi?" gumamnya dalam hati.

"Siapa wanita itu?"

"Dan sejak kapan Garendra yang membenci kedekatan dengan wanita bisa menatap seseorang dengan cara seperti itu?"

Bibir Kevin membentuk senyum kecil penuh rasa ingin tahu.

Sepertinya, ada sebuah cerita besar yang ia lewatkan.

Dan ia yakin...

Garendra Pratama akhirnya telah jatuh cinta.

1
Alia Chans
Hadir thor, like + bunga🌹
semangat✍️😉
fhadilah: Masha Allah, makasih 😍😍komentar pertama.. bkn hsru😍🙏🙏makasih sayang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!