Lyra mencoba untuk bertahan meski ia terluka oleh kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui setelah 6 bulan lamanya. Suami tercinta tega menduakan cintanya dan bermain api dengan Ibunya sendiri.
Rumah Tangga seumur jagung bagai neraka untuk Lyra. Lantas bagaimana ia harus menghadapi situasi ini?
Baca kisahnya yuk readers...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Perjalanan Ringkas
Bab 15. Perjalanan Ringkas
(POV Author)
Sesuai ucapan Teguh, besoknya ia berangkat pagi-pagi sekali bahkan saat Lyra belum bangun dari tidurnya. Lelaki super sibuk itu sudah berada di bandara bersama Farhan.
"Dapet apa aja tadi malam?"
"Dapet apaan?"
"Nggak usah muna. Cewek cakep gitu masa iya Lo anggurin gitu aja."
"Maksud Lo, Lyra?"
"Oh, namanya Lyra."
"Nggak Gue apa-apain. Bisa di gerek Umi Gue ntar."
"Jadi masih di Apartemen Lo sekarang? Tu cewek ada masalah apa sih?"
"Tadi malam dah Gue tanyain. Tapi kayaknya masih shyok gitu. Jadi Gue biarin dulu di Apartemen sampai Gue balik nanti." Kata Teguh.
"Semoga aja urusan kita bisa lebih cepet dari jadwal. Aisyah tadi Gue tinggalin lagi nggak enak badan." Keluh Farhan.
"Nggak ada yang nemenin dia?"
"Gue dah minta nyokap nginep dirumah buat nemenin Aisyah."
Setelah itu mereka tidak lagi berbicara karena pesawat bersiap take off.
***
Di Apartemen.
Lyra meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. Kepalanya terasa berat disertai pusing yang berdenyut-denyut.
Sambil memijit kepalanya, Lyra men*des*ah. Ia harus memaksakan diri untuk bangun karena merasa tidak nyaman bangun siang apalagi sedang menumpang di rumah orang.
Dengan langkah tertatih Lyra berjalan menuju ruang tengah yang sekaligus menjadi ruang tamu di Apartemen itu. Dari ruangan itu, hanya beberapa meter saja, ia sudah dapat melihat ruangan dapur.
Perlahan Lyra berjalan menuju kulkas untuk melihat isinya. Wanita itu berpikir untuk mencari apapun yang bisa ia makan dan mencari obat untuk meredakan sakit kepalanya.
Namun tanpa di sangka Lyra menemukan uang sejumlah lima ratus ribu rupiah, serta secarik kertas berisikan pesan dari si empunya rumah.
Persediaan makanan di lemari dan kulkas, Gue rasa cukup untuk 2 hari. Tapi Gue juga ninggalin sedikit uang, siapa tahu Lo nggak bisa masak dan mau pesan drive-food.
Lyra tidak menyangka orang yang sempat ia kira jahat tadi malam malah begitu memperhatikan kebutuhannya secara tidak langsung.
CK! Si Abang ngeremehin Gue nggak bisa masak. Belum tahu aja dia. Tapi salut juga. Padahal baru ketemu sekali, tapi dia benar-benar baik sama Gue. Batin Lyra.
Lyra sangat bersyukur bertemu Teguh tadi malam. Jika saja mereka tidak bertemu, Lyra tidak dapat membayangkan entah bagaimana keadaannya kini.
Lyra membuka isi kulkas, full sayur serta buah dan daging. Ia juga membuka lemari persediaan, beraneka makanan instan ada di sana serta snack dan juga biskuit-biskuit.
"Nggak nyangka si Abang onta itu sangat teliti seperti ini." Gumam Lyra.
Kemudian Lyra membuka lemari di sebelahnya. Disana lah ia menemukan kotak P3K yang sangat ia butuhkan.
"Masak mie aja yang praktis. Sakit banget kepala Gue." Kata Lyra lagi berbicara sendiri.
Lyra mengambil sebungkus mie instan, kemudian sebiji telur, dan sayur sawi sebagai pelengkapnya. Ia pun mulai memasak mie tersebut.
Tidak butuh waktu lama, mie itu siap di santap.
"Ada nasi nggak ya?"
Lyra mencoba membuka risecooker yang ada di dekatnya.
"Bahkan sampai nasi pun dia bisa masak." Ujar Lyra merasa salut.
Tanpa sungkan Lyra mengambil nasi putih itu dan mememasukan beberapa sendok makan kedalam mie. Barulah ia menikmati makanan.
"Apa setelah ini Gue coba ke rumah Mita lagi ya? Atau Gue cari ke kampus aja?" Gumam Lyra pada angin.
"Tapi kepala Gue masih belum bisa di ajak kompromi."
Lyra menghela napas.
Habis ini Gue minum obat terus istirahat dulu aja sebentar baru ke kampus. Batin Lyra.
Lyra segera menghabiskan makanannya, kemudian membersihkan alat-alat masak dan makan yang ia gunakan. Barulah setelah itu ia meminum obat pereda sakit kepala. Dan Lyra lalu beristirahat di kamarnya kembali.
Pagi berganti siang, siang berganti sore, namun Lyra tak kunjung bangun dari tidurnya.
Sementara itu, di Sumatera.
"Lo kenapa sih hari ini, kerja kayak kese*ta*na*n gitu?!" Tanya Farhan yang nyaris tak bertenaga mengikuti jadwal Teguh, yang di ubah dadakan dan lebih padat lagi.
"Gue kepikiran anak orang di Apartemen. Gue lupa ninggalin handphone satu, buat komunikasi, takut kalau-kalau ada apa-apa."
"Lo dah kayak emaknya ya."
"Kalau bisa malam ini juga kita pulang begitu selesai. Pesan aja tiket." Ujar Teguh kembali tanpa merespon ucapan Farhan.
Jadwalnya yang di rencanakan dua hari menjadi 1 hari oleh Teguh. Bisa di bayangkan betapa ia kejar-kejaran dengan waktu, tenaga dan pikiran demi segera kembali ke Jakarta dan melihat keadaan seseorang di Apartemennya.
Teguh yang berpikir kritis dan selalu mempertimbangkan segalanya berasumsi bawah keadaan Lyra tidak baik-baik saja. Apalagi ia mengingat wanita itu semalam di guyur hujan hingga basah kuyub dengan wajah pucat.
Kalau dia sampe sakit terus kenapa-napa dan meninggoy di Apartemen Gue, bisa bahaya nih! Batin Teguh berkecamuk.
Pertemuan dengan klien dan membahas segala keluhan serta bukti-bukti yang terkumpul pun berlangsung selama 2 jam. Setelah itu, Teguh dan Farhan langsung bergegas menuju bandara. Menaiki pesawat terakhir menuju Jakarta.
Sayangnya mereka harus transit di Batam selama 30 menit. Dan itu menambah rasa tidak sabar Teguh untuk segera sampai di Jakarta.
Pukul 23: 25 Akhirnya Teguh keluar dari Bandara Soekarno-Hatta di jemput oleh Pak Benu sopir kantor selalu siap kapan saja.
Pak Benu menurunkan Farhan ke rumahnya, barulah ia melakukan mobil Teguh menuju Apartemennya. Hingga pukul 01.04 dini hari, Teguh sampai di Apartemennya.
"Tidur di sini saja Pak, sudah malam." Ujar Teguh menyarankan Pak Benu, mengingat kondisi jalan sudah sangat sepi.
"Ada anak saya jemput Den. Tadi saya minta menunggu di depan Apartemen." Ujar Pak Benu.
"Oh begitu, ya sudah. Hati-hati ya Pak, dan ini buat Bapak."
Teguh menyelipkan uang 200 ribu kedalam saku baju Pak Benu.
"Oalah, terima kasih Den. Kalau begitu, saya permisi dulu."
"Sama-sama Pak, ya hati-hati."
Setelah itu Teguh segera masuk ke dalam lift menuju lantai 4 unit Apartemennya.
Lyra mengerjap matanya perlahan. Tenggorokannya yang terasa sangat kering memaksanya untuk bangun dan berjalan keluar kamar menuju dapur.
Cahya remang-remang dari lampu yang hidup secara otomatis mengikuti penyesuaian cahaya di luar Apartemen, menuntun Lyra melihat di sekitar ruangan. Kepala yang masih berat tidak mampu membuat Lyra berpikir jernih, dan pada akhirnya dia tumbang di dekat sofa ruang tamu.
Bersamaan dengan itu pintu utama Apartemen terbuka. Teguh baru saja melangkahkan kakinya masuk kedalam tempat tinggalnya.
"Lyra!"
Seru Teguh menyebut nama wanita itu yang terlihat sudah tergeletak di lantai ruang tamu.
Bersambung...
hempaskn para bunga bangkai itu
maksain diri amiiiittttt
salah sangka..tiwas berbunga hati tryt berbunga bangkai
harus nya selidiki diam diam saat mereka mengira kamu gak curiga klo gini kan mereka waspada dasar. Polos apa goblok. gregeten akunya 😄