WARNING!! HANYA UNTUK DEWASA!!
Cecilia tidak menyangka, baru saja pindah jiwa ke tubuh wanita lain malah terjebak jadi simpanan Tuan Douglas yang dingin.
Cecilia pun berpikir untuk bisa kabur dari jeratan Tuan Douglas, semakin Cecilia menjauh maka semakin kuat juga Tuan Douglas ingin memilikinya.
"Kau hanya milikku sayang, sampai kapanpun akan tetap menjadi milik ku!" Douglas
"Enak saja! Lebih baik aku mati saja daripada jadi simpanan!" Cecilia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balasan Kecil Cecilia
Dan pada akhirnya, di sinilah kedua insan yang memiliki dendam kesumat itu berada. Suasana di dalam kamar mewah bernuansa abu-abu tersebut terasa begitu kontras dengan ketegangan batin yang melanda sang gadis.
Cecilia duduk bersila di tepian ranjang empuk, sementara Douglas duduk selonjoran di atas karpet berbulu tebal tepat di lantai, menikmati bahunya yang kini sedang dipijat dengan enggan oleh Cecilia.
Tidak tahu saja pria itu, di balik punggungnya, Cecilia sedang menatapnya dengan tatapan setajam silet. Di dalam kepala Cecilia, berbagai skenario pembunuhan berencana berputar-putar dengan liar. Gadis itu sangat ingin menusuk Douglas menggunakan benda tajam saat ini juga. Sialnya, tidak ada pisau, gunting, ataupun pecahan kaca di dekatnya yang bisa digunakan untuk melenyapkan nyawa sang iblis.
Karena rasa kesal dan amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun, tanpa sadar Cecilia melampiaskannya pada kekuatan tangannya. Ia meremas dengan sangat kuat bagian otot bahu tegap Douglas, seolah-olah ia sedang meremas leher pria itu hingga patah.
Kriet... otot bahu itu menegang.
Douglas yang tadinya menutup mata menikmati pijatan perlahan membuka kelopak matanya. Terdengar hembusan napas kasarnya yang berat keluar dari hidung.
Merasakan ketegangan di tubuh Douglas, Cecilia tidak mengendurkan tekanannya, ia justru semakin menguatkan dan menekan pijitannya dengan tenaga ekstra pada titik syaraf di bahu pria itu, berharap bisa membuat Douglas kesakitan.
"Argh... shh..." Douglas menggeram tertahan.
Dengan gerakan refleks yang cepat, tangan besar Douglas langsung mencekal dan menahan pergelangan tangan kecil Cecilia yang sedang meremas bahunya.
Douglas menoleh ke belakang, memutar kepalanya dengan tatapan menyelidik.
"Apa yang sedang kamu lakukan, hah?" tanya Douglas dengan suara baritonnya yang dingin dan penuh curiga.
"Kamu sengaja mau meremukkan tulangku?"
Mendapat interogasi mendadak itu, Cecilia langsung tersentak kaget. Ia menelan ludah dengan susah payah, wajahnya terlihat gagap dan salah tingkah.
"T-tidak! Aku tidak sengaja melakukan apa-apa, kok!" elak Cecilia cepat, mencoba memasang wajah selugu mungkin.
"Aku kan cuma... cuma terlalu bersemangat memijat pundakmu, Tuan! Makanya tenaga tanganku agak kebablasan."
Douglas menyipitkan mata, menatap sangat intens ke dalam manik mata Cecilia, seolah-olah ia sedang memindai kebohongan di balik wajah pucat gadis itu.
Sementara itu, Cecilia buru-buru membuang mukanya ke arah samping, menghindari kontak mata langsung karena takut kebohongannya terbongkar.
Melihat reaksi mencurigakan itu, Douglas mendengus pelan. Pria itu kembali memalingkan wajahnya ke depan, membelakangi Cecilia.
"Hah... sudahlah. Aku terlalu lelah untuk berdebat denganmu sekarang," ucap Douglas malas.
"Lanjutkan pijatannya. Aku masih pegal."
Mendengar perintah itu, sifat impulsif Cecilia yang asli mendadak keluar. Karena terlalu jengkel dengan nada bicara menyebalkan Douglas, tanpa sadar tangan Cecilia melayang dan memukul bagian tengah punggung Douglas dengan cukup keras.
Bugh!
Suara hantaman tangan kecil itu telak mengenai punggung bidang Douglas.
Seketika itu juga, Cecilia langsung membelalakkan matanya ngeri. Ia buru-buru membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, merutuki kebodohan tubuhnya sendiri yang bergerak di luar kendali.
"Mati aku! Kenapa tanganku malah refleks memukulnya?!" batin Cecilia histeris ketakutan.
Di sisi lain, Douglas yang tidak menduga akan mendapat serangan fisik secara tiba-tiba langsung bangkit berdiri dengan gerakan cepat. Pria bertubuh tinggi itu membalikkan badan, menatap tajam Cecilia dengan sorot mata yang menyala-nyala penuh kemarahan. Wajah tampannya menggelap seketika.
"Berani sekali..." desis Douglas dengan suara rendah yang mengancam, melangkah maju mendekati ranjang.
Sebelum Cecilia sempat merangkak mundur, Douglas sudah menerjang maju. Pria itu mendorong tubuh Cecilia hingga terbaring telentang di atas kasur, lalu mengurung tubuh kecil itu di bawah kukungan kedua tangannya. Douglas menindih bagian kaki Cecilia, menunduk tajam menatap wajah cantik gadis itu yang kini tampak sepucat mayat dengan mata melotot ketakutan.
Untuk sepersekian detik, Douglas sempat terpikat oleh keindahan mata bulat Cecilia yang memancarkan kepanikan luar biasa dari jarak sekecil ini. Namun, egonya sebagai pria berkuasa langsung mengambil alih. Ia tidak boleh melewatkan kesempatan untuk memberi pelajaran pada wanita di bawahnya ini karena sudah berani berulah.
"Berani sekali tangan kecilmu itu memukul punggungku, Cecilia?" bisik Douglas tepat di depan wajah Cecilia, suaranya terdengar sangat berbahaya.
"Kamu sudah bosan hidup, hm?"
"A-ampun! Tolong lepaskan aku, Douglas!" raca Cecilia panik setengah mati, kedua tangannya terangkat ke udara, berusaha mendorong dada bidang Douglas meskipun tenaganya tidak ada apa-apanya.
"Tadi itu... tadi itu ada nyamuk besar di punggungmu! Sumpah demi apapun, aku cuma mau menepuk nyamuk itu! Reflek saja, tidak ada maksud lain sama sekali!"
Douglas menaikkan sebelah alisnya, menatap penuh selidik. "Nyamuk? Di dalam kamar ber-AC dan steril ini ada nyamuk?"
"I-iya! Betul! Nyamuknya bandel banget makanya aku pukul agak keras!" alibi Cecilia berdusta dengan wajah tanpa dosa, meskipun keringat dingin sudah membasahi pelipisnya.
"Aku ikhlas kok memijatmu, Tuan... sumpah ikhlas lahir batin!"
Douglas menatap Cecilia dengan tatapan intens penuh intimidasi selama beberapa detik yang terasa sangat panjang bagi gadis itu. Jantung Cecilia sudah berdegup kencang sedetik menjelang maut, menyangka Douglas akan kembali menghukumnya dengan cara yang brutal.
Namun, di luar dugaan, Douglas tiba-tiba menghela napas pendek. Pria itu menegakkan tubuhnya, bangkit dari atas kukungan Cecilia, lalu merapikan kemejanya sekilas.
"Jangan bermain-main denganku, Cecilia," ucap Douglas dingin sebelum ia berbalik badan dan melangkah langsung menuju pintu kamar mandi di dalam kamar tersebut.
Ceklek...
Blam!
Pintu kamar mandi tertutup rapat dari dalam, meninggalkan Cecilia seorang diri yang terbaring lemas di atas kasur dengan napas terengah-engah dan dada bergemuruh hebat karena ketakutan.
Begitu deruman suara air shower mulai terdengar dari dalam kamar mandi menandakan Douglas sudah masuk ke dalam ketegangan di wajah Cecilia perlahan-lahan mencair. Rasa takutnya seketika berganti menjadi gelombang kepuasan yang luar biasa.
Cecilia perlahan-lahan mengubah posisinya menjadi duduk. Gadis itu menatap pintu kamar mandi dengan seulas senyuman kemenangan yang merekah lebar di bibirnya.
"Hahaha... rasakan itu!" bisik Cecilia kegirangan sambil mengepalkan kedua tangan mungilnya di udara.
Ia merasa sangat puas. Meskipun kecil, setidaknya hari ini ia berhasil membalas sedikit rasa kesalnya pada sang iblis dengan cara memukul punggungnya secara tidak sengaja padahal itu hanya alasannya saja. Rasanya sungguh menyegarkan setelah dua hari belakangan ini ia hanya bisa menangis dan menjadi objek penderitaan.
"Seharusnya tadi aku memukulnya jauh lebih keras lagi," batin Cecilia menyesal sambil terkikik geli dalam hati.
"Kenapa aku cuma memukulnya pelan begitu? Ah, ruginya."
Sebuah ide cemerlang mendadak melintas di dalam kepala cerewet Cecilia. Jika pria arogan itu menuntutnya melayani dan memijatnya sesuka hati, maka Cecilia akan memanfaatkan kesempatan emas itu untuk melancarkan strategi. Ia akan memberikan siksaan-siksaan kecil yang menyebalkan secara diam-diam kepada Douglas, mulai dari mencubit sedikit daging di pinggangnya, menuangkan air yang agak panas saat melayaninya, hingga menonjok punggungnya dengan dalih ada serangga.
"Siksaan kecil-kecil tapi menyebalkan... sepertinya itu ide yang sangat cemerlang," batin Cecilia menyeringai licik, menantikan babak baru permainan balas dendamnya di mansion mewah ini.
Bersambung...
Yang mau dukung Cecilia untuk balas dendam silahkan komentar ya guys.
ati2 cecil🤭🤭🤭
ati2 doughlas klo cecilia kabur🤣🤣🤣🤣
thor plis kasih doughlas pelajaran dong,jdi gemes nih🤣🤣🤣🤣
mungkin methong kedua kali cil baru bebas