Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Kehadiran Elena Vanderbilt yang memicu percikan cemburu di ruang kerja Adrian kemarin memang berhasil dituntaskan dengan cara yang dramatis. Namun, kembalinya Elena ke kota ini bukan sekadar kunjungan emosional mantan tunangan. Bagi Adrian dan jaringan intelijen Vane Group, *Vanderbilt Corp* adalah raksasa bisnis yang punya hubungan gelap dengan kartel perdagangan senjata di Eropa Timur.
Pagi itu, Aura duduk di ruang VIP lantai teratas gedung Vane Group. Ponsel rahasianya di atas meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi transaksi perbankan Swiss milik *V-Core Investments* masuk—modal investasinya yang kini terus berlipat ganda kembali mencatatkan kenaikan bersih sebesar tiga miliar rupiah setelah ia mengeksekusi saham perusahaan medis lokal.
"Uang ini sudah cukup buat beli villa eksklusif di Bali lengkap dengan heliport-nya sendiri," gumam Aura santai, menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa kulit.
Namun, ketenangannya terganggu saat pintu ruang VIP diketuk dua kali secara teratur. Seorang pria tinggi tegap berpakaian setelan jas abu-abu terang melangkah masuk. Pria itu memiliki wajah keturunan campuran yang sangat tampan, rambut hitam yang disisir rapi, serta sepasang mata hijau netral yang tenang namun memancarkan kecerdasan taktis yang berbahaya.
Dialah **Julian Vance**—bukan Julian mantan pacar Aura yang tak berguna itu, melainkan pimpinan tertinggi dari *Vance Syndicate*, kelompok penasihat keamanan dan investor independen paling berpengaruh di Asia Tenggara.
"Nona Aura Vane," sapa Julian Vance dengan aksen bahasa Indonesia yang sangat fasih dan dalam. Ia membungkuk hormat dengan sangat sopan. "Atau mungkin saya harus menyapa Anda dengan sebutan Pemilik *V-Core Investments*?"
Mata Aura seketika memicing tajam. Dalam waktu kurang dari setengah detik, mode bertarung dan naluri pertahanan agen elit milik jiwanya menyala sepenuhnya. Tidak ada yang tahu identitas rahasia *V-Core Investments* selain pialang anonim yang ia sewa lewat jalur tertutup di Swiss.
"Bagaimana seorang tamu asing bisa tahu nama perusahaan cangkang kecilku?" tanya Aura dingin, bicaranya meluncur tegas tanpa ketakutan sedikit pun.
Julian Vance tersenyum tipis, melangkah mendekat namun tetap menjaga jarak dua meter dengan sangat sopan. "Dunia keuangan internasional itu sempit untuk orang-orang dengan analisis genius seperti Anda, Nona. Pola eksekusi saham *V-Core* di bursa London minggu lalu memiliki algoritma pertahanan yang hanya dimiliki oleh mantan personel intelijen tingkat atas. Saya sudah lama mengagumi cara Anda mengeksekusi pasar."
Aura melipat kedua tangannya di dada, menatap pria misterius di depannya ini dari atas ke bawah. "Kalau kamu datang ke sini cuma buat melontarkan pujian murahan, lebih baik kamu balik kanan. Waktuku terlalu berharga buat melayani penggemar rahasia."
Julian Vance justru terkekeh pelan—sebuah tawa elegan yang meniru gaya pria bangsawan. "Saya datang bukan sebagai penggemar, Nona Aura. Saya datang untuk menawarkan kemitraan. *Vance Syndicate* butuh otak finansial seperti Anda untuk mengambil alih aset *Vanderbilt Corp* di Pelabuhan Barat. Dan sebagai imbalannya... saya bisa memberi Anda kebebasan penuh dari cengkeraman dunia bawah tanah Adrian Vane."
Aura mengangkat sebelah alisnya. "Kebebasan?"
"Saya tahu pernikahan Anda dengan Adrian berawal dari perselisihan dan perjanjian," lanjut Julian Vance dengan tatapan mata hijau yang begitu intens dan penuh ketertarikan mendalam. "Adrian adalah pria yang berbahaya. Dia hidup di balik bayang-bayang pertumpahan darah. Wanita secerdas dan sehebat Anda tidak seharusnya menjadi burung dalam sangkar emas milik seorang bos mafia. Bersama saya, Anda bisa menguasai pasar Asia secara bebas."
Julian Vance mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit tipis, berniat menjabat tangan Aura sebagai bentuk penawaran kerja sama.
Namun, sebelum jemari Julian Vance sempat menyentuh udara di depan Aura, pintu ruang VIP mendadak terbuka lebar dengan dentuman pelan!
*Brak!*
Aura membunuh yang begitu pekat dan membekukan udara seketika memenuhi seluruh ruangan. Adrian Vane berdiri di ambang pintu. Pria itu sudah melepas jas luarnya, kini hanya mengenakan kemeja hitam yang dua kancing atasnya terbuka, memperlihatkan aura dominasi mutlak seorang raja penguasa kegelapan.
Di belakang Adrian, belasan pengawal pribadi Vane Group bersenjata lengkap menyebarkan perimeter pengawalan secara ketat.
"Memasuki wilayahku, menyusup ke ruang pribadi istriku, dan menawarinya kebebasan..." suara Adrian terdengar begitu rendah, berat, dan dipenuhi ancaman mematikan yang sanggup membuat pimpinan kartel paling nekat sekalipun gemetar. "...kamu punya keberanian yang cukup besar untuk seseorang yang menumpang bernapas di kotaku, Julian Vance."
Julian Vance tidak panik. Ia menarik kembali tangannya dengan tenang dan berbalik menghadap Adrian. "Tuan Vane. Ini hanya perbincangan bisnis antar profesional."
"Istriku bukan bagian dari bisnis siapa pun," potong Adrian dingin. Langkah kakinya yang mantap mengintervensi ruang gerak di antara Julian Vance dan Aura. Adrian berdiri tepat di depan Aura, mengurung wanita itu di belakang tubuh tegapnya secara posesif.
Adrian menatap Julian Vance dengan pandangan membunuh yang legendaris. "Keluar dari gedungku dalam waktu lima menit sebelum aku memastikan *Vance Syndicate* kehilangan seluruh izin operasinya di Pelabuhan Barat sebelum matahari terbenam."
Julian Vance menatap Adrian sejenak, lalu melirik Aura dari balik bahu Adrian dengan senyuman misterius yang sangat tenang. "Penawaran saya tetap berlaku, Nona Aura. Sampai bertemu lagi di jamuan Pelabuhan Barat minggu depan."
Dengan gerakan anggun, Julian Vance membungkuk kecil lalu melangkah pergi meninggalkan ruang VIP di bawah pengawalan ketat anak buah Adrian.
Setelah pintu tertutup kembali, suasana ruang VIP mendadak menjadi sangat hening dan panas.
Adrian berbalik menghadap Aura. Mata gelapnya menatap wanita itu dengan intensitas yang sangat tinggi—perpaduan antara amarah yang menahan diri, cemburu yang membara, dan rasa khawatir yang amat sangat.
"Siapa pria itu?" tanya Adrian dingin, suaranya mengandung getaran rendah yang berbahaya. "Bagaimana dia bisa tahu soal pergerakan saham *V-Core* milikmu?"
Aura yang dasarnya tidak suka diinterogasi dengan nada menuduh langsung menyambar secepat senapan mesin!
"Mana aku tahu dia siapa?!" cecar Aura secepat peluru tanpa jeda napas. "Dia tiba-tiba masuk dan sok tahu soal transaksiku! Lagipula kamu ngapain menatapku seperti aku ini buronan yang baru ketahuan selingkuh?! Aku bahkan belum sempat menyentuh ujung bajunya tahu!"
"Dia menawarimu kebebasan dariku, Aura," tegak Adrian, melangkah satu kali hingga jarak mereka begitu rapat. Tangan kokoh Adrian mencengkeram lembut kedua bahu Aura, menahan wanita itu agar menatap lurus ke dalam matanya. "Dia menawarimu meninggalkan mansion dan pergi dariku!"
Aura tertegun sejenak melihat raut wajah Adrian. Di balik aura dingin penguasa mafia itu, Aura bisa melihat ketakutan yang sangat nyata di mata Adrian—ketakutan akan kehilangan dirinya.
Dada Aura berdesir aneh. Kemarahannya seketika menguap, digantikan oleh kehangatan yang menjalar pelan.
"Dan kamu pikir aku bakal mau ikut sama pria bermata hijau yang bicaranya sok puitis begitu?" balas Aura dengan intonasi yang sedikit melunak, meski bicaranya tetap cepat. "Aku ini mantan agen—maksudku, aku ini wanita cerdas! Mana mungkin aku mau ditipu sama janji manis kemitraan konyol begitu!"
Adrian menatap bibir Aura yang terus berbicara secepat kilat. Tanpa memberikan peringatan satu detik pun, Adrian menundukkan kepalanya dan menyapu bibir Aura dengan ciuman yang sangat dalam, dominan, dan penuh dengan kepemilikan yang pekat!
"Mph—!" Aura membelalakkan mata kaget, tangannya refleks mencengkeram kemeja hitam Adrian di bagian dada.
Ciuman itu berlangsung cukup lama hingga membuat napas Aura terengah-engah dan kepalanya sedikit pening. Begitu Adrian melepaskan tautan bibir mereka, pria itu menyandarkan keningnya di kening Aura, mengelus pipi wanita itu dengan jarinya yang hangat.
"Kamu milikku, Aura," bisik Adrian dengan suara rendah yang sangat seksi dan posesif. "Tidak ada Julian Vance, tidak ada *Vanderbilt Corp*, dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang boleh mengambilmu dariku."
Aura merona hebat hingga ke lehernya. Ia mencoba mendorong dada Adrian secepat kilat untuk menyelamatkan harga dirinya.
"I-iya, iya! Aku paham! Cepat lepaskan, dadamu keras sekali tahu!" seru Aura gelagapan, bicaranya yang serba cepat kembali keluar seperti biasa.
Aura berniat melangkah mundur dari dekapan Adrian untuk merapikan gaunnya yang sedikit berantakan.
Namun... seperti yang sudah menjadi tradisi tak terelakkan, sifat ceroboh bawaan jiwanya yang selalu muncul saat ia merasa malu atau panik kembali berulah!
Hak sepatu *pumps*-nya tersangkut di lipatan kabel ekstensi di dekat kaki meja kaca!
"Aah, sialan—!"
Aura hilang keseimbangan total dan tubuhnya meluncur jatuh ke samping!
*Greb!*
Tentu saja, lengan kokoh Adrian yang sudah sangat terlatih menghadapi atraksi jatuh istrinya menyambar pinggang Aura dari samping, menarik tubuh wanita itu dengan kuat hingga Aura kembali mendarat mulus tepat di dalam pelukannya.
Aura berkedip konyol di pelukan Adrian untuk kesekian kalinya hari ini.
Adrian menatap wajah merona Aura, lalu sebuah kekehan renyah dan hangat meluncur dari dada bidangnya.
"Setiap kali ada pria asing yang mencoba mendekatimu," bisik Adrian lembut sambil mencium kening Aura yang hangat, "kamu selalu membuktikan bahwa tempat berdirimu yang paling aman... hanyalah di dalam pelukanku, Istriku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘