Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 — SATU PAYUNG, DUA ORANG
Hujan badai yang mengguyur SMA Garuda Bangsa sejak bel pelajaran terakhir berbunyi belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Langit sore berubah kelabu pekat, diiringi suara petir yang bersahut-sahutan dari kejauhan. Bau tanah basah dan hawa dingin yang menusuk tulang merayap masuk ke sepanjang koridor lantai dasar.
Sebagian besar siswa sudah berkumpul di depan lobi, berdiri menumpuk menunggu jemputan atau sekadar menanti hujan mengering. Naya berdiri di sudut gazebo dekat taman tengah sekolah, merutuki nasibnya.
"Sialan banget... kenapa payung lipat di tas gue malah ketinggalan di meja belajar sih?!" gumam Naya kesal, memukuli tas punggungnya sendiri dengan pelan.
Saskia yang tadi menunggunya sudah dijemput oleh kakaknya sepuluh menit yang lalu. Sekarang Naya sendirian. Ponselnya mati total karena kehabisan daya sejak jam pelajaran terakhir, membuatnya tidak bisa menghubungi siapa pun—termasuk Arka.
Di ujung koridor dekat perpustakaan, Arka keluar seraya membawa tas punggung hitamnya. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah payung lipat berwarna biru tua yang masih terbungkus rapi. Seperti biasa, penampilannya rapi tanpa cacat. Arka menyapu pandangan ke arah lobi yang padat, lalu matanya menangkap sosok Naya yang berdiri canggung di bawah atap gazebo, meniup-niup telapak tangannya yang kedinginan.
Arka berjalan pelan melewati kerumunan siswa. Saat berada cukup dekat dengan area tempat Naya berdiri—di mana ada beberapa siswa kelas 10 yang juga berteduh—Arka memperlambat langkahnya. Ia memasang wajah datar khas Ketua OSIS, sama sekali tidak melirik ke arah Naya.
Naya yang melihat Arka berjalan mendekat refleks menegakkan tubuhnya, berpura-pura sangat sibuk memperhatikan rintik air hujan yang jatuh di daun talas.
"Hujan sepertinya masih lama," kata Arka dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh siswa-siswi di sekitarnya, namun matanya menatap lurus ke arah gerbang. "Kalian yang rumahnya jauh lebih baik tunggu di kantin saja, di sana lebih hangat."
Siswa-siswa kelas 10 itu mengangguk sopan. "Iya, Kak Arka. Terima kasih."
Arka kemudian membuka payung birunya dengan satu dentupan halus. Tanpa menyapa atau menatap Naya, ia melangkah melintasi genangan air hujan menuju gerbang luar.
Naya menggigit bibir bawahnya, merutuk dalam hati. Bener-bener ya tuh robot! Dia lihat gue kedinginan di sini, punya payung, tapi malah jalan duluan tanpa rasa bersalah sedikit pun! Dasar enggak punya perikemanusiaan!
Dengan dongkol, Naya memutuskan untuk nekat menerobos hujan gerimis tipis menuju pos satpam agar lebih dekat dengan jalan raya. Ia memasang kupluk jaketnya, menarik napas dalam-dalam, lalu bersiap berlari.
Namun baru tiga langkah Naya menerobos hujan, rintikan air yang membasahi kepalanya mendadak berhenti.
Naya menghentikan langkahnya, bingung. Ketika ia mendongak, sebuah kanopi kain biru tua sudah terbentang rapat di atas kepalanya.
Arka berdiri di sampingnya. Bahu kanan cowok itu sudah basah kuyup karena ia sengaja menggeser posisi payungnya lebih banyak menutupi tubuh Naya daripada tubuhnya sendiri.
"Kamu mau bikin diri kamu sendiri masuk angin?" tegur Arka pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh gemuruh hujan, tapi jarak mereka yang begitu dekat membuat Naya bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Naya menoleh kaget, matanya membelalak. "A—Arka?! Lo ngapain balik lagi? Kalau ada anak sekolah lain yang lihat gimana?!"
"Area belakang aula ini sudah sepi, Naya," sahut Arka datar, sambil matanya sigap menyapu sekeliling. "Anak-anak kelas sepuluh tadi sudah jalan ke kantin. Sekarang jalan. Jangan banyak protes."
Arka memegang gagang payung dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya secara refleks memegang pergelangan jaket Naya untuk membimbing cewek itu berjalan sejajar dengannya di bawah lindungan payung yang sama.
Naya menelan ludah kasar. Jarak di antara mereka teramat rapat—hanya terpisah beberapa sentimeter. Setiap kali mereka melangkah menghindari genangan air, lengan mereka saling bersentuhan. Aroma minyak kayu putih tipis dan wangi sabun khas Arka menusuk hidung Naya, bertarung dengan aroma hujan yang basah.
"Payung lo kecil banget sih," cibir Naya pelan untuk menutupi detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan. "Otomatis bahu lo jadi basah tuh."
"Kalau payungnya lebih besar, nanti makin mencolok," balas Arka tanpa menoleh, matanya fokus memperhatikan jalanan licin di depan mereka. "Lagian, siapa suruh kamu lupa membawa payung? Padahal tadi pagi ramalan cuaca sudah jelas bilang bakal hujan deras."
"Gue kan buru-buru gara-gara ada yang nguasai meja belajar lama banget!" sembur Naya tak mau kalah.
"Meja belajar itu luasnya dua meter, Naya. Kamu yang menumpuk tas dan kotak kosmetik kamu sembarangan di sana," sahut Arka tenang, namun ada nada geli yang tersembunyi di balik suaranya.
"Ih! Kok malah nyalahin kosmetik gue sih?!" Naya mencubit pelan lengan jaket Arka yang basah.
Arka menghentikan langkahnya sebentar, melirik Naya dari sudut mata. "Jangan mencubit. Pegangan yang benar kalau tidak mau terpeleset. Semen di depan pos satpam ini licin."
"Gue nggak bakal terpeleset ya!" tegas Naya. Tapi tepat setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, ujung kets hitamnya menginjak lumut basah di tepi trotoar.
"Eh—!"
Naya kehilangan keseimbangan, tubuhnya tergelincir ke belakang.
Dengan refleks secepat kilat, Arka menggeser payung ke atas dan merengkuh pinggang Naya menggunakan lengan kirinya, menarik cewek itu rapat ke dadanya dalam satu gerakan mantap.
Sret!
Naya tertahan tepat di dada bidang Arka. Napasnya memburu. Pegangan tangan Arka di pinggangnya sangat kuat, sementara tangan satunya tetap kokoh menggenggam gagang payung biru di atas kepala mereka.
Beberapa detik terasa berjalan sangat lambat. Rintik hujan yang jatuh di sekeliling mereka seolah berubah menjadi suara latar samar-samar. Naya mendongak, mendapati wajah Arka berada tepat di atas wajahnya. Dari jarak sepelukan ini, Naya bisa melihat titik-titik air hujan yang menempel di ujung bulu mata Arka, serta kerutan cemas di dahi cowok yang biasanya selalu tenang itu.
"Kamu... tidak apa-apa?" suara Arka terdengar agak tidak teratur, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Naya.
Naya terpaku. Dadanya bergemuruh liar, jauh lebih keras daripada suara petir yang baru saja menyambar di langit. Ia merasa wajahnya memanas mendadak.
"I—iya... nggak apa-apa," bisik Naya gelagapan, buru-buru menegakkan tubuhnya dan melepaskan diri dari dekapan Arka. Ia membetulkan letak tasnya dengan tangan gemetar. "Gue kan udah bilang... semennya emang licin."
Arka memalingkan wajahnya cepat ke arah jalan raya, berdeham pelan untuk menutupi rasa canggung luar biasa yang mendadak menyerang mereka berdua. Ujung telinga Arka memerah cerah.
"Makanya... dengarkan kata-kata saya," gumam Arka datar, meski nada suaranya terdengar tidak semantap biasanya.
Arka kembali melangkah, dan Naya mengekor di sampingnya rapat-rapat di bawah satu payung biru yang sama. Kali ini, tidak ada lagi perdebatan atau saling sindir di antara mereka. Hanya ada suara hujan yang menghantam kain payung dan dua pasang langkah kaki yang berjalan beriringan menuju mobil di ujung jalan.
Tanpa mereka sadari, rasa dingin akibat guyuran hujan sore itu perlahan terkikis oleh kehangatan kecil yang merayap di antara jemari dan dada mereka. Tembok kebencian yang dulunya kokoh berdiri, kini perlahan terasa sedikit lebih runtuh.