Rey saat ini seorang presdir sebuah perusahaan besar yang dulunya hangat namun setelah lulus kuliah dia berubah menjadi dingin, semua ini sebab Ayahnya yang memaksa dia memasuki dunia mafia, hal ini sangat mempengaruhi mentalnya dan dia berubah drastic dari dirinya yang dulu. Rey sekarang berada pada fase senja dimana gelap akan segera datang namun terang masih belum ingin pergi. Dan Aya seorang gadis humoris, baik hati namun manja yang bertemu dengan Rey
Akankah kehidupan mereka berdua setelah bertemu akan berjalan seperti biasa atau mungkin keduanya akan berada jauh dari Zona Nyaman mereka ?
Let’s Reading…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ralia Imutz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
_Dijemput_
Tak terasa sudah saatnya para pegawai kantor untuk pulang termasuk Aya dan Jen
“Hay Aya, mau pulang denganku tidak ? “ Kata Jen santai ketika bertemu dengan Aya saat di lobby kantor
“Wahhh,,, Jen kau memanggil namaku tadi ? “ kata Aya semangat
“Hehe,, iya Aya, bagaimana mau tidak ? “ Tanya Jen sekali lagi
“Aku mau sihh,,, tapi tuh kamu lihat sendiri “ Kata Aya agak lesu
Jen menoleh dan mendapati seorang pria ganteng dengan pakaian rapi sedang menunggu didepan mobilnya
“Aya, itu Rey ? dia jemput kamu ? “ tanya Jen
“Ya, begitulah Jen “ kata Aya menjawab
“Aya, hati-hati ya kalau dia macam-macam kamu telpon aku segera..” kata Jen
“Iya-iya Jen, sejak kapan kamu jadi bawel bwgini, hehe “ kata Aya tertawa kecil
“Sejak aku jadi temen kamu Ay… “ ucap Jen membalas candaan Aya
“Haha, jadi kalau orang yang jadi temen aku gini ya, jadi bawel gini “ kata Aya tertawa
“Hehe, bisa dibilang begitu…”
“aku duluan ya Jen, by “ Kata Aya keluar kantor terlebih dahulu menemui Rey
“Kok lama sih ? “ kata Rey dingin
“Siapa suruh kamu jemput aku “ kata Aya gak mau kalah
“Kan siang tadi aku udah bilang jangan biarin aku nunggu lama …” kata Rey lagi
“lupa… “ sahut Aya
“Jadi istri itu harus patuh sama suami, mau jadi istri durhaka kamu ? “ Kata Rey yang amarahnya mulai tesulut
“ Iya,,, iya,,, makanya kalau udah didepan hubungin aku biar aku segera turun “ Kata Aya masih menyalahkan Rey
“Masuk..” Kata Rey yang sudah membukakan pintu untuk Aya
“Apaan nih ? ngomongnya bikin kesel tapi sikapnya manis gini” kata Aya dalam hatinya
Selama perjalanan didalam mobil hanya keheningan yang ada diantara mereka berdua. Aya hanya menolehkan kepalanya kesamping melihat hiruk pikuk kota dan pengendara lain yang silih berganti melalui mereka, namun terasa asing bagi Aya.
“Rey, ini bukan jalan menuju rumah aku tau ? kamu gak tau jalan ya ? “ Kata Aya kebingungan
“Aku tau jalannya, udah kamu diam aja “ sahut Rey dingin
“Ya sudahlah, mungkin jalan pintas “ ujar Aya dalam hati untuk menenangkan pikirannya
Berselang 20 menit kemudian, Rey memasukkan mobilnya kesebuah pekarangan rumah yang mewah. Ini bukan rumah Aya apa jangan-jangan ini rumah Rey tebak Aya
“Turun” kata Rey ketika sudah membukakan pintu untuk Aya
“Rumah siapa ? “ tanya Aya ketika keluar drai mobil
“Rumah kita “ sahut Rey sambil berjalan meninggalkan Aya yang masih menatap wahh rumah mewah dihadapannya
“wait,,wait,,, Rumah kita ? jadi ini rumah aku sama Rey ? tinggal bersama maksudnya gitu ? “ batin Aya sambil otaknya loading
“Reyyyy,, apaan nih maksudnya ? “ teriak Aya pada Rey yang sudah didalam. Aya terpaksa turun dari mobil, ketika Aya turun sudah ada seorang wanita paruh baya yang menyambutnya
“ Selamat sore nyonya, saya Bi Ijah pembantu disini “ kata seorang wanita paruh baya tersebut
“ Sore bi, saya Aya. Panggil aja Aya jangan pakai Nyonya ya “ kata Aya sambil senyum ramah
“Maaf nyonya, tapi tuan menyuruh saya untuk memanggil Nyonya begitu “ kata Bibi tetap ramah
“Baiklah bi, kalau itu perintah Rey, O ya bi, Rey dimana ya ? “ tanya Aya
“Saya lihat tadi Tuan langsung masuk kemar Nyonya, dilantai kedua sebelah kanan disitu kamar Nyonya dan tuan “ jelas Bi Ijah
“Makasih ya bi, saya tinggal dulu” pamit Aya
“silahkan nyonya “ kata bi Ijah
Aya pun berjalan sesuai yang bi Ijah bilang tadi sebuah kamar dilantai dua sebelah kanan, memang disitu ada sebuah pintu yang didesain klasik berwarna putih.
“Ketok ? apa langsung masuk aja ya ? ini kan kamar gue “ pikiran aya dilema
“ketok aja deh, entar dia marah kalo gue langsung masuk… “
“tok,,tok,,tokk ,, Rey aku masuk ya “ kata Aya
Selang beberapa saat tidak ada sahutan dari dalam, Aya pun memberanikan diri membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.
“Rey, kamu dimana ? “ kata Aya saat sudah didalam kamar sebab tidak nampak sosok Rey dimanapun
“ Ahh,, capeknyaaa…” Aya langsung merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk, memejamkan matanya sejenak sambil merenggangkan badannya melepas penat. Aya pikir Rey tidak masuk kamar ini, sebab tidak ada batang kupingnya yang terendus oleh Aya
“udah mau tidur aja kamu, gak mandi dulu ? “ kata seseorang yang ternyata ada didalam
“Re,,Rey,,, dari mana kamu tadi, kok ada disini? “ Kata Aya spontan berdiri ketika mendengar suara Rey
“aaaa….. Rey kok gak pakai baju ? “ kata Aya setengah berteriak sambil menutup matanya dengan tangan
“Ya kan aku habis mandi “ kata Rey santai
“udah, sana,,sana,, pakai baju dulu baru ngomong “ ucap Aya, dia tidak ingin matanya ternoda dengan melihat roti sobek punya Rey
Suara langkah kaki Rey menjauh dan Aya pun membuka matanya. Tak berapa lama Rey keluar dari ruang pakaian memakai baju rumahan.
“Rey, maksud kamu apa ini rumah kita ? “ kata Aya mulai minta penjelasan
“Iya, rumah aku sama kamu ? “ jawab Rey yang tidak sesusai dengan keinginan Aya
“Maksud aku kita tinggal bersama gitu ? “ tanya Aya memperjelas
“Iya “ sahut Rey singkat
“tapi kan, kamu gak ngomong sama aku. Emang aku mau tinggal sama kamu, aku mau pulang Rey “ kata Aya lagi
“Rumah kamu udah aku jual “ kata Rey datar
“Apaaa,,, Rey jangan becanda gitu, gak lucu tau “ sahut Aya gak percaya
“Gak mungkin juga kali lo jual rumah gue, orang surat-suratnya ada sama gue “ kata Aya lagi
“ He, percaya aja kamu aku ngomong apa. Rumah udah aku sewa in sama Sam “ jelas Rey tersenyum singkat dia tidak mengangka bahwa Aya begitu mudah percaya dengan apa yang dikatakan Rey
“Humf,,, syukurlah kalo gak dijual, tapi Rey lo gak bisa seenaknya gitu ya ! itukan rumah gue Rey “ Aya mulai marah
“ udah deh, makanya tinggal disini aja “ paksa Rey
“ dasar Es Balok pemaksa, gue mau pulang ngambil pakaian dulu… “ perkataan Aya mulai memakai loe gue karena kesal
“pakaian kamu udah ada disini, tuh didalam walk-in closet “ sahut Rey menunjuk dengan kepala sebuah ruangan didalam kamarnya
“ Siapa yang beresin ? gak bisa seenaknya gini Rey, gue juga punya hak kali milih dimana gue mau tinggal “ sahut Aya masih kesal
“Oh,,, sekarang udah mulai gak sopan nih sama suami ? main panggil loe gue aja ? “ kata Rey
“Arghh,, terserah. gue mau mandi…” Kata Aya menyudahi perdebatan ini
Selesai mandi Aya gak mau negliat wajah Rey jadi dia acuh tak acuh saja dengan Rey, selesai berpakaian dia langsung turun kebawah
“Nyonya mau apa ? bisa bibi bantu “ kata bi Ijah ketika melhat Aya didapur
“Cuma mau ngambil minum aja bi, bibi bisa lanjut yang bibi kerjakan Aja “ sahut Aya
“Baik nyonya, bibi pergi dulu ya “ Kata bi Ijah pamit
"Iya Bi silahkan” sahut aya dengan senyum ramahnya
Setelah minum Aya berencana ingin menonton tv dan dia duduk disofa yang ada diruang tengah kemudian menyetel channel favorit dia. Saat asyik nonton tv ada seseorang yang mendekat, Aya tidak mau menghiraukan orang tersebut.
“Hey,,, masih marah ya “ bujuk Rey
“Hm,,,” sahut Aya judes
“kan kita suami istri wajar dong kalau tinggal serumah, apa kata orang nanti kalau liat kita gak serumah …” jelas Rey
Aya masih mendiamkan Rey, tidak ada sedikitpun ingin menanggapi perkataan Rey
“ grukk, grukkk” suara perut Aya yang minta diisi wajah Aya ikut memerah karena malu
“makan yuk, sudah disiapin sama bibi “ Ajak Rey yang mendengar bunyi perut Aya, Rey ingin tertawa namun ditahannya.
Ayapun berjalan kemeja makan tanpa meperdulikan Rey, Tidak ada perbincangan dimeja makan, Aya masih kesal dengan Rey seusai makan Aya kembali untuk menonton tv, sedangkan Rey naik kembali ke atas.
“Huaammm,,, udah jam berapa sih ? “ kata Aya mengantuk, Aya menoleh keatas dan melihat sudah jam 10 malam.
“Handphone gue dimana ya ? “ Aya bertanya pada diri sendiri sambil mencari disekitarnya
“Ah,,, ketinggalan dikamar Rey nih kayaknya “ kata Aya pelan
“Ambil enggak ya ? oh iya aku harus hubungin Jen biar jemput kesini, gak sudi aku nginep disini “ Aya pun bergegas menuju kamar mereka
Setibanya didepan kamar, Aya gak mau ngetuk pintu tak takut ketahuan Rey diapun secara diam-diam masuk kekamar mencari keberadaan Rey agar tidak ketahuan
“Humff,,, syukur dia sudah tidur…” kata Aya dalam hati. Ayapun berjalan pelan-pelan menuju ruang pakaian seingat Aya handphonenya ada didalam saku celana miliknya
“Akhirnya ketemu, yesss… “ ucap Aya pelan saat menemukan handphonenya
“oke, gue harus cepet-cepet keluar dari rumah ini “ Aya pun bergegas keluar.
Ketika Aya baru saja keluar dari ruang pakaian, tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya dan mendorong tubuh Aya ke tempat tidur
“aaaa…. Siapa nih ? lo mau gapain “ kata Aya ketakutan sambil berusaha memberontak
“Aku suamimuu, cepetan tidur “ kata orang tersebut yang ternyata adalah Rey
“Rey,,, lepasin gue. Gue mau tidur diluar” kata Aya masih memberontak namun Rey mengenggam tangan Aya dengan kuat dan menaikkan satu kakinya untuk menindih tubuh Aya. Posisinya saat ini Aya sedang terbaring dikasur dengan membelakangi Rey, sehingga Aya tidak dapat melihat ekspresi wajah Rey
“tidur disini istriku, kalau tidak kamu akan ku hukum “ bisik Rey ditelinga Aya dengan seringai mesum
“gue gak salah kali, pakai dihukum segela. Orang Cuma mau tidur diluar doang “ kata Aya
“itu salah istriku. Pertama,kamu sekarang udah gak sopan sama suami kamu. Kedua, kamu gak mau tidur bareng suami kamu atau kalo gak mau aku akan meminta hak aku sebagai suami mala mini juga “ bisik Rey menggoda Aya
Mendengar hal itu bulu kuduk Aya merinding, dia gak siap untuk melakukan itu sekarang. Aya memilih diam dan berusaha tidak memikirkannya. Sedangkan Rey dia tersenyum karena Aya hanya diam, ini berarti Aya sudah mau tidur bareng dengan dirinya. Rey pun melonggarkan kuncian tangannya di pergelangan tangan Aya, kini tangan Aya bisa bergerak namun Rey masih memeluk dirinya
“Hm,,, begini ternyata rasanya memeluk seseorang sangat hangat “ batin Rey, sebab selama ini jagankan memeluk, untuk menyetuh seseorang saja Rey tidak bisa sebab alergi anehnya ini.
“Aku harus segera konsul dengan Dokter Harun tentang ini, agar aku segera sembuh “ batin Rey memikirkan penyakitnya.
Malam pun berlalu dengan tenang, Rey terus memeluk Aya tidak ini melepasnya barang sejenak, Rey tertidur dengan nyenyak memeluk seseorang didepannya, sangat hangat dan membuatnya nyaman melalui malam ini. Aya pun begitu, ini pertama kalinya dia tidur dipeluk seseorang walau awalnya Aya tidak ingin tidur namun akhirnya dia terlelap juga.
Jangan lupa like dan juga masukkan ke favorit ya jika kalian suka 💗 Salam hangat dari Author 🤗