Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebimbangan Arsen
Ruangan kerja yang ditempati Arsen dilengkapi dengan sebuah kamar pribadi untuknya beristirahat yang juga terdapat kamar mandi. Dia sudah biasa mandi dan istirahat di sini kalo sedang lembur atau malas untuk pulang ke rumah. Jadi Arsen sekarang memilih mandi di ruangannya saja. Jas, kemeja dan celana yang harus dia kenakan juga sudah ada di sini.
Neneknya juga melengkapi penampilannya dengan sebuah jam yang harganya pasti sangat fantastis karena ada butiran berlian yang menghiasinya. Talinya saja dari emas putih. Neneknya sangat memperhatikan penampilannya. Wajar, karena dia diangkat menjadi CEO. Penampilan super wah pasti wajib untuknya.
Huuhh .... Arsen melepaskan nafas panjang. Sejak menjadi anak Latif Jaffar, barang barang mewah dan brand brand ternama melekat di tubuhnya.
Hal yang tidak pernah dia bayangkan selama ini. Untungnya dia cocok saja saat mengenakannya. Terlihat memang dia terlahir untuk itu.
Rekan rekan modelnya belum tau kemana dia menghilang. Dulu brand brand yang dia kenakan ini, beberapa diantaranya sempat menjadi mata pencahariannya. Sekarang dia malah dengan mudah memilikinya, bahkan dengan brand brand yang belum pernah dia sentuh, karena level modelnya belum setinggi itu untuk menggapainya.
Arsen menghela nafas panjang. Kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat.
Dia kemudian beranjak ke kamar mandi. Pancuran air dari shower cukup lama membasahi kepalanya. Membasahi rambut gondrong sebahunya. Uap tipis mulai mengembun di kaca kamar mandi karena dia menggunakan air hangat.
Kedua tangan Arsen menumpu di dinding dekat shower. Membiarkan shower terus mengucur membasahi dirinya. Kelelahannya mulai luruh bersama puluhan tetesan air.
Ananta. Ya, namanya Ananta, batin Arsen mulai mengingat. Gadis yang mau saja dijodohkan dengannya karena menuruti permintaan orang tuanya. Juga demi proyek yang ditawarkan neneknya.
Huuuh ...., Arsen membuang nafas kasar.
Dia pikir apa tentang pernikahan ini?
Dia serius mau hidup dengan seorang laki laki asing yang baru dia kenal?
Padahal dia pasti tidak bodoh. Bukannya lulusan master.
BUG
Arsen memukul keras dinding kamar mandi. Pertanyaan pertanyaan itu begitu mengganggunya. Keningnya kemudian menempel di dinding kamar mandi dengan membiarkan tubuhnya terus diguyur oleh pancuran deras air dari shower.
*
*
*
Dengan handuk yang melilit di pinggangnya, Arsen mengambil ponselnya. Dia melihat lagi video viral yang ditunjukkan Cakra tadi. Dia menontonnya sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Wajah Ananta tampak sangat tenang setiap menjawab pertanyaan dari para pencari berita itu. Walaupun tak jarang pertanyaan pedas yang mereka lontarkan, karena menyinggung pekerjaan papanya sebagai anggota dewan.
Arsen tersenyum sama. Gadis itu punya mental baja, batinnya memuji. Tapi apa dia bisa setenang itu saat berada di ranjangnya nanti? Senyum miring Arsen tercipta.
Arsen mulai mengenakan pakaian dari neneknya. Tapi tatapnya tetap menyorot pada Ananta. Baru kali ini dia betah menonton video viral di sosmed. Apalagi tokoh utamanya seorang perempuan.
Dia lebih cantik kalo begini, puji Arsen lagi dalam hati. Wajah dinginnya tampak sedikit manusiawi.
Ponselnya bergetar. Mamanya yang menelpon. Pasti akan menanyakan kesiapannya sekarang. Mamanya pasti sedang merasa ngga tenang karena dia lupa mengabarkan kalo akan berangkat dari perusahaan saja. Arsen juga ingin mama dan papinya lebih sering berduaan. Menggantikan momen mereka yang hilang akibat ulah jahat neneknya.
Arsen menghirup nafasnya dalam dalam sebelum menerima panggilan mamanya.
"Iya, mam."
"Kamu di mana?" Nada suara mamanya terdengar ngga sabar.
"Masih di perusahaan." Arsen menyahut tenang.
Terdengar helaan nafas panjang mamanya.
"Sudah jam berapa sekarang? Nanti kamu akan terlambat. Papi sebentar lagi akan menjemput mama." Nada suara mamanya terdengar kesal.
"Kalo kamu ngga serius, harusnya kamu batalkan sejak papi menanyaimu," omel mamanya lagi.
Arsen tertawa sejenak.
"Tenang, mam. Nenek sudah mengirimkan pakaian yang harus aku kenakan. Aku akan berangkat dari perusahaan sebentar lagi." Arsen berusaha menenangkan kegusaran maminya.
Annette-mamanya Arsen mengubah mode telponnya menjadi video.
Mamanya tersenyum senang melihatnya.
"Mama sudah percaya sekarang?" ledeknya
"Oke oke. Hati hati nanti berangkatnya. Jangan telat. Nenekmu itu perfeksionis," kata Annette mengingatkan tapi dengan intonasi yang penuh tekanan.
"Iya, mam. Nanti Jiro yang akan menyupir. Sebentar lagi aku jalan."
Annette menganggukkan kepalanya.
"Ya, baguslah. Ingat, nanti bersikap yang sopan."
"Iya, mam."
Mamanya memutuskan komunikasi mereka. Arsen memutar lagi video yang menampilkan wawancara Ananta sambil mengenakan jam tangannya.
"Semoga kamu bisa setenang ini saat memjawab pertanyaan nenek," gumamnya pelan.
*
*
*
Prameswari bersama suaminya menjemput Ananta di butik Tante Dita.
"Kamu cantik sekali sayang," puji mamanya saat melihat penampilan putrinya. Sepasang matanya penuh binar.
Belum lagi Ananta sempat membuka mulutnya untuk mengucapkan terimakasih atas pujian mamanya, suara mamanya terdengar lagi.
"Tapi lebih cantik lagi kalo kamu mengenakan gaun yang berwarna merah marun atau navy," sambungnya lagi sedikit menyesalkan penampilan putrinya.
Tante Dita melirik Ananta sambil menahan tawa.
Tuh, kan. Mamanya ngga pernah ikhlas dengan pilihannya, batinnya kesal. Kemudian Ananta menghembuskan nafas perlahan.
"Ada gaun yang lainnya?" tanya Gala sambil melihat istrinya yang agak kesal. Keningnya berkerut.
"Ada dua yang modelnya lebih menarik." Kemudian Praneswari menatap temannya Dita.
"Harusnya kamu nyuruh dia pilih dua gaun saja," sungutnya.
Barulah Tante Dita bisa tertawa.
"Menurutku Ananta lebih cantik dengan gaun pilihannya."
Ananta lega mendengar pembelaan teman mamanya. Ternyata gaun krem ini dari Tante Dita.
Makasih, tante.
"Iya, sayang, sudah cantik banget putri kita, kok, seperti ini. Lagi pula ini pertemuan penting. Warna lembut begini bisa bikin adem," bantah Gala Aghia--papanya, juga ikut membelanya.
Ananta lega mendengar pembelaan papanya.
Makasih, pa.
"Iya, iya." Walaupun kesal tapi mamanya berusaha tidak menampakkannya.
"Dita, makasih, ya," ucap Prameswari.
"Aku percaya dengan magicmu."
Tante Dita tambah berderai mendengarnya.
"Sama sama. Putrimu aslinya sudah sangat cantik. Di dandan apa pun dia pasti akan sangat menarik," pujinTante Dita lagi.
Ananta merasa sanjungan itu berlebihan. Tapi dia tau, Tante Dita sedang membujuk mamanya.
"Aku yakin anaknya Latif Jaffar pasti akan semakin menyukainya," lanjutnya lagi dengan nada sungguh sungguh.
Aaah .... Tante salah. Dia juga sama terpaksanya seperti aku, bantah Ananta dalam hati.
Ananta bingung, bagaimana harus mengatakannya kalo laki laki itu tidak tertarik dengannya.
Prameswari dan Gala Aghia tersenyum lebar mendengarnya. Bahkan Prameswari tertawa berderai juga akhirnya.
semangat😉
cerita keluarga baru apa?