NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34 - WANITA HARUS DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

Nalendra tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Wulan. Namun, ia telah mengambil keputusan bulat. Apa pun yang terjadi malam ini, ia tidak akan membiarkan istrinya pergi dari hidupnya. Di kehidupan sebelumnya, hubungan mereka hanyalah nama tanpa isi — suami istri hanya di atas kertas, tanpa pernah benar-benar menjadi sepasang. Malam ini, ia akan mengukuhkan kenyataan itu dengan caranya sendiri, dimulai dari sikap hormat yang paling sederhana. Ia tidak akan mengulangi kesalahan yang dulu membuatnya kehilangan segalanya tanpa sempat memperbaiki apa pun. Kali ini, ia berniat menjadikan malam pertama mereka sebagai fondasi yang kokoh, bukan batu sandungan yang selama ini membuat keduanya saling menahan diri. Wulan telah berubah, dan ia tahu betul bahwa perubahan itu bukan sesuatu yang bisa ia abaikan begitu saja. Ia menatap gadis di sampingnya yang menatap lilin dengan mata berkaca-kaca, dan dalam diam ia bersumpah untuk tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan kedua yang Tuhan berikan kepadanya.

Tuhan telah memberinya kesempatan untuk memulai kembali dari titik nol. Ia pun kini melihat dengan jelas siapa yang benar-benar ia cintai. Untuk apa masih bersikap kaku? Ia sudah merasakan betapa perihnya kehilangan di kehidupan lampau. Tidak semua orang seberuntung itu — kehilangan lalu menemukan kembali. Dan Wuri, gadis ketujuh keluarga Ardani itu, tidak pernah menjadi gadis yang pemalu. Jika ia menyukai seseorang, ia akan memperjuangkannya dengan sepenuh hati dan tidak pernah bersembunyi di balik tirai kepura-puraan. Semakin ia merenung, semakin yakin pula ia bahwa memilih Wulan adalah keputusan yang tidak akan pernah ia sesali. Ia ingat bagaimana dulu Wulan selalu menunduk ketika berpapasan dengannya, bagaimana ia selalu menghindari matanya, dan betapa itu membuat hatinya sakit. Tapi sekarang, gadis itu berani menahannya di depan pintu, berani menatap matanya tanpa berkedip, dan berani mengatakan bahwa ia tidak akan memikirkan orang lain lagi. Perubahan itu adalah hadiah paling berharga yang pernah ia terima, dan ia tidak akan menyia-nyiakannya dengan keraguan yang tidak perlu.

Wulan menurunkan tangannya dan melirik sepasang lilin merah yang mulai meredup di atas meja. Sudah lewat tengah malam jauh. Nalendra memadamkan semua dian teratai emas di ruangan itu, hanya menyisakan cahaya redup dari sepasang lilin merah yang menjadi saksi bisu malam pertama mereka. Nyala api yang kecil itu berkelip-kelip, seolah ikut menahan napas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya di antara dua insan yang baru saja saling mengikat janji. Di sudut ruangan, tumpukan mahar dan hadiah pernikahan masih tersusun rapi, dan aroma bunga rampai yang ditaburkan di atas tempat tidur masih tercium samar-samar. Wulan menelan ludah, menyadari betapa nyatanya semua ini — ia benar-benar telah menjadi istri Nalendra, bukan lagi mimpi yang hilang ketika pagi tiba.

Ruangan gelap dalam sekejap, dan di luar jendela hening tanpa suara. Nalendra berbaring di sampingnya, menepuk-nepuk kepala Wulan dengan lembut, lalu menarik selimut brokat hingga hanya menyisakan wajah mungilnya yang mengintip dari balik kain tebal itu. "Baiklah, tidurlah." Suaranya pelan, seperti nyanyian yang menidurkan, tetapi di dalamnya tersimpan kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Wulan merasakan telapak tangannya yang dingin namun kokoh itu menutup matanya dengan perlahan, dan untuk sesaat dunia terasa begitu aman. Ia hampir ingin menangis, karena selama dua kehidupan, tidak pernah ada yang merawatnya dengan selembut ini. Semua orang hanya melihatnya sebagai putri ketujuh keluarga Ardani yang lincah dan bandel, tetapi hanya Nalendra yang melihat kelelahan di balik senyumnya.

Wulan hanya bisa membalas dengan tatapan kosong. "..." Ia tidak tahu harus berkata apa. Lidahnya seakan kehilangan fungsi, dan seluruh kalimat yang tadi ia susun rapi di kepalanya menguap begitu saja. Ia membuka mulut, menutupnya lagi, lalu mengerjapkan mata seolah ingin memastikan bahwa pria di sampingnya ini masih nyata. Di kehidupan sebelumnya, malam seperti ini tidak pernah terjadi — Nalendra selalu pergi sebelum malam tiba, dan ia selalu membiarkannya pergi tanpa berusaha menahan. Tapi sekarang semuanya berbeda, dan Wulan merasa seakan sedang berdiri di ambang pintu sebuah dunia yang selama ini ia tolak untuk masuk.

Ini akhirnya? Hanya ini? Setelah seharian bersiap-siap, setelah semua debar jantung, setelah semua yang ia pikirkan sejak pagi — beginikah akhir malam pernikahannya? Ia mengerjapkan mata beberapa kali, memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Sesuatu yang terasa seperti kekecewaan menyengat di dadanya, tetapi anehnya, di balik kekecewaan itu ada kehangatan yang mengalir pelan. Mungkin inilah maksud Nalendra sebenarnya — membiarkan ia menyesuaikan diri, tidak memaksanya melakukan apa pun yang belum ia siap lakukan. Dan untuk seorang gadis yang selama ini selalu merasa terburu-buru, kedamaian yang diberikan pria itu justru terasa seperti hadiah yang tak terduga.

Itu saja! Wulan menggigit bibir, tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat. Pria di sampingnya itu tampak tenang seperti baru saja menyelesaikan tugas yang paling biasa, tanpa sedikit pun tanda kegelisahan. Ia bahkan hampir tertidur, sementara Wulan masih duduk dengan jantung yang berdebar tidak karuan. Sungguh, pria ini terlalu bisa membuatnya kesal. Ia mengumpulkan keberanian sepanjang hari untuk menghadapi malam ini, dan hasilnya hanya ajakan untuk tidur? Nalendra pasti sedang mempermainkannya, atau lebih buruk — ia menganggap Wulan masih terlalu kecil untuk diperlakukan sebagai istrinya.

Aroma dingin khas Nalendra masih memenuhi napasnya. Wulan beringsut mendekat, mencoba bersandar ke arahnya sekuat yang ia bisa, berharap pria itu menangkap isyarat yang ia berikan dengan seluruh gerakan tubuhnya yang kaku dan canggung. Ia menggenggam ujung jubah Nalendra dengan perlahan, seperti anak kucing yang mencari kehangatan di tengah malam. Dulu, gerakan seperti ini terasa mustahil baginya. Tapi malam ini, ia ingin menebus semua kesempatan yang ia sia-siakan di kehidupan sebelumnya — setiap malam ketika ia membiarkan Nalendra tidur sendirian di ruangan yang dingin.

"Ini... akhirnya?" Bisikannya nyaris tak terdengar, penuh keraguan dan kekecewaan yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia menatap Nalendra dari samping, menunggu jawaban yang mungkin tidak akan pernah datang. Nalendra membuka matanya, menoleh, dan untuk sesaat kedua pandangan itu bertemu di tengah kegelapan yang temaram. Ada sesuatu di mata pria itu — sesuatu yang hangat dan dalam, seperti danau yang tenang di malam hari. Wulan merasakan perutnya mulas, bukan karena takut, melainkan karena gelombang perasaan yang tidak bisa ia namai.

Nalendra menahan tawa melihat raut wajahnya yang menggemaskan itu. Ia mengulurkan tangan, mengusap rambut Wulan dengan lembut, dan berkata pelan, "Wuri, perempuan harus dilindungi undang-undang." Di balik candaan itu tersimpan makna yang jauh lebih dalam — ia memilih untuk menjaga gadis di sampingnya, bukan karena tidak menginginkannya, melainkan karena ia terlalu menghargainya untuk bertindak sembrono. Ada aturan tak tertulis di Kesultanan Tirtaloka bahwa seorang suami tidak boleh memaksakan kehendaknya pada istri yang belum siap, dan Nalendra, yang selama ini selalu taat pada aturan, memilih untuk menghormatinya dengan sepenuh hati. Ia lebih memilih menunggu seribu hari daripada melukai hati Wulan dalam satu malam.

Wuri mendengus jijik mendengar jawaban itu. Sialan, sikap pria ini terlalu tenang. Jika ia terus bersikap sewajarnya seperti ini, bukankah urusan rumah tangga mereka tidak akan pernah maju? Dalam kehidupan ini, Wulan tidak akan lagi diam-diam menahan rasa. Ia akan bersikap terbuka, tanpa malu-malu, dan tetap menempel pada suaminya sendiri — itu bukan sesuatu yang perlu ia malui, melainkan hak yang ia perjuangkan dengan kedua tangannya sendiri. Ia menggigit bibirnya, lalu dengan berani merapatkan diri ke pelukan Nalendra, membenamkan wajahnya di dada pria itu meskipun jantungnya berdebar seperti genderang perang. Kalau pria ini mau bermain sopan, ia akan menunjukkan bahwa istrinya tidak akan kalah berani.

Dan begitulah malam itu berakhir — bukan dengan keintiman yang gegabah, tetapi dengan dua orang yang saling bertukar cerita sampai suara keduanya serak, tertawa kecil di tengah kegelapan, dan akhirnya terlelap saling bergandengan tangan. Kehangatan yang sederhana itu justru terasa jauh lebih berharga daripada apa pun yang Wulan bayangkan, karena untuk pertama kalinya ia merasa benar-benar diterima, bukan sekadar dinikahi. Malam itu menjadi awal yang sesungguhnya — awal dari dua jiwa yang perlahan belajar untuk saling mempercayai tanpa syarat. Ketika fajar menyingsing dan burung-burung mulai berkicau di luar jendela, Wulan membuka matanya dan menemukan Nalendra sudah terbangun, menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa ia artikan. Ia tersenyum, dan untuk pertama kalinya, senyum itu bukan senyum yang ia paksakan.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!