NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14.

Langkah Kecil Mengalah

Pagi itu udara masih terasa sejuk saat Rara selesai berpakaian seragam. Ia berdiri di depan cermin, merapikan kerah baju berkali-kali seolah ada yang kurang pas, padahal semuanya sudah rapi. Jantungnya berdegup tak tenang, bayangan wajah Laras yang penuh kemarahan kemarin terus melintas di pikirannya. Rasanya masih berat sekali untuk melangkah mendekat dan mengucapkan kata maaf.

Saat hendak berjalan ke ruang makan, ia berhenti sejenak di depan pintu dapur di mana Mama sedang menyiapkan sarapan. Rara menarik napas panjang, lalu melangkah masuk perlahan.

"Ma..." panggilnya pelan.

Mama menoleh sambil tersenyum lembut. "Iya, Nak? Kenapa mukanya masih terlihat cemas begitu?"

Rara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menunduk sejenak sebelum bertanya dengan ragu. "Rara... Rara mau tanya dulu ya, Ma. Emangnya Rara harus banget ya minta maaf sama Laras? Nggak ada cara lain selain itu?"

Mama meletakkan sendok di piring, lalu berjalan mendekat dan menatap mata putrinya dengan tegas namun tetap lembut. Ia mengangguk pelan namun mantap. "Iya, harus. Udah nggak usah ragu-ragu lagi, Nak. Percuma kamu menghindar, nanti ketemu juga di kelas. Lebih baik selesaikan sekarang, supaya hatimu lega dan sekolahmu jadi nyaman."

Rara menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan tanda mengerti. "Iya deh, Ma... Rara coba ikuti saran Mama ya."

Sesampainya di sekolah, Rara berjalan dengan langkah berat menuju kelas. Ia melihat Laras sudah duduk di bangkunya, meletakkan tas dengan kasar sambil melipat tangan di dada, wajahnya masih terlihat cemberut. Beberapa teman sekelas yang lain sudah mulai berdatangan, membuat Rara semakin gugup.

Aisyah duduk di sebelahnya dan menyadari kegelisahan Rara. "Kamu kenapa? Pucat banget," bisiknya.

Rara menelan ludah, lalu berbisik balik. "Mama nyuruh aku minta maaf sama Laras. Aku deg-degan banget, Yah."

Aisyah tersenyum menyemangati. "Ayo dicoba. Aku dukung kamu kok."

Belum lama berselang, saat Laras hendak mengambil buku dari dalam tas, Rara memberanikan diri berjalan mendekat. Suasana di sekitar mereka sejenak hening. Rara berdiri tepat di samping meja Laras, tangannya meremas ujung rok seragamnya erat.

Laras menoleh, menatap Rara dengan tatapan menyelidik dan sedikit sinis. "Ngapain lo ke sini? Mau cari ribut lagi ya?" tanyanya ketus.

Rara menarik napas dalam-dalam, membuang rasa gengsinya sejauh mungkin. Ia menatap mata Laras lurus-lurus, lalu berkata dengan suara yang sedikit bergetar namun tegas.

"Bukan. Gue ke sini mau ngomong sesuatu sama lo. Gue... gue minta maaf ya, Lar. Kemarin gue emang salah. Gue terlalu ikut emosi, nada bicara gue tinggi, dan omongan gue mungkin nyakitin hati lo. Gue nggak bermaksud bikin lo kesal atau malu di depan orang lain," ucap Rara tulus, tetap menggunakan kata 'gue' dan 'lo' seperti kebiasaan mereka sehari-hari.

Laras terdiam sejenak, matanya membelalak tak percaya. Ia mengira Rara akan kembali menantang atau menyindir, bukan malah meminta maaf duluan. Wajahnya yang tadinya kaku perlahan melunak, meski masih terlihat ragu.

"Lo... lo serius ngomong gini?" tanyanya pelan.

"Serius. Gue sadar gue juga nggak sepenuhnya benar kalau bales ketus kayak gitu. Kita kan satu kelas, satu kelompok lagi. Gue nggak mau kita terus-terusan bermusuhan kayak gini. Gue harap lo juga bisa maafin kesalahan gue kemarin," jawab Rara dengan tulus.

Laras membuang pandangannya ke arah jendela sebentar, lalu kembali menatap Rara. Rasa dongkolnya belum hilang sepenuhnya, tapi melihat ketulusan di mata Rara membuatnya sulit untuk tetap bersikukuh marah. Ia menghela napas panjang.

"Ya udah... gue juga sebenernya sadar kalau gue yang duluan menuduh dan nyerang lo kemarin. Gue juga minta maaf ya, Ra. Gue... gue emang kadang terlalu sensitif kalau soal hal kayak gitu," ucap Laras pelan, kali ini nada bicaranya jauh lebih lembut dari biasanya tapi ini semua hanya berpura-pura karena cuma mengimbangi Rara saja apalagi ini di kelas jadi harus jaga image terlebih dahulu biar kali aja gitu dilihat Dimas kalau dia perempuan yang suka memaafkan teman sekelasnya.

Rara tersenyum lega. "Berarti kita udah nggak ada masalah lagi kan?"

Laras tersenyum tipis, senyum yang jarang dilihat orang lain. "Iya, nggak ada masalah kok. Udah sana duduk lagi, nanti Bu Ratna masuk."

Rara kembali ke bangkunya dengan perasaan yang sangat ringan. Ia tahu persahabatan mereka belum tentu langsung akur seperti dengan Aisyah, tapi setidaknya jalan damai sudah terbuka berkat keberaniannya mendengarkan nasihat Mama.

Rara bergumam dalam hati kayaknya si Laras enggak memaafkan dengan tulus deh buktinya aja kayak begitu kalau ngomong benar benar nyebelin banget kalau bukan dari nyokap gue enggak akan pernah mau ngomong kayak begini!

“Gue juga ogah kali minta maaf sama lo sok kecantikan banget jadi orang, lo pikir gue enggak tahu ini cuma alibi doang kan supaya Dimas tuh kayak suka sama sikap lo yang meminta maaf kayak begitu! Gue tahu kayak gitu juga kalau misalkan lo bermain sama gue!” batin Laras dalam hati. Bab 14: Maaf yang Masih Tertahan

Suasana di kelas terasa canggung sekali setelah permintaan maaf itu terucap. Rara sudah bilang kata maaf, begitu juga Laras, tapi keduanya tahu itu belum sepenuhnya dari lubuk hati yang paling dalam. Rara masih merasa gengsi sekali harus mengalah duluan, sementara Laras pun sebenarnya belum benar-benar ikhlas melupakan rasa kesalnya. Kalau ada yang lewat di dekat mereka, mereka sekadar diam atau membuang muka ke arah lain, seolah baru saja menyelesaikan perang dingin yang belum berakhir.

Saat jam pelajaran olahraga dimulai, guru meminta siswa berpasangan untuk latihan lempar tangkap bola. Kebetulan sekali guru menunjuk Rara dan Laras untuk satu pasangan. Rara berjalan mendekat dengan langkah berat, wajahnya datar tanpa senyum sedikit pun. Laras pun menyambutnya dengan tatapan dingin, bola di tangannya dicengkeram erat.

"Lemparnya jangan terlalu keras, gue nggak mau keseleo lagi," ucap Laras duluan, nadanya masih terdengar ketus.

Rara mendengus pelan. "Tenang aja, gue nggak sejahat itu kok. Cuma jangan lo salah tangkap lagi kalau gue lempar pas, jangan malah nyalahin orang lain," balasnya singkat.

Saat bergantian melempar, gerakan mereka kaku sekali. Lemparan Rara agak terlalu cepat, tangkapan Laras hampir terlepas. Laras langsung menatap tajam. "Hati-hati dong! Lo sengaja ya?"

"Gue lempar biasa aja, lo aja yang nggak bisa tangkap. Udah minta maaf kok masih curigaan terus," sahut Rara tak mau kalah. Mereka berdua melanjutkan latihan tanpa suara lagi, hanya suara bola yang beradu dengan telapak tangan terdengar di antara keheningan.

Selesai olahraga, mereka berjalan ke kantin berbarengan namun tetap menjaga jarak jauh. Antrean makanan cukup panjang, akhirnya mereka berdiri berdekatan tanpa sengaja. Laras menyenggol bahu Rara sedikit saat mengambil gelas air.

"Aduh, awas dong!" seru Rara spontan.

"Gue kan nggak sengaja, jalannya sempit begini. Jangan sensian banget lo," jawab Laras sambil menata botol minumnya di meja.

"Gue nggak sensian, cuma lo aja yang nggak pernah hati-hati. Dari dulu emang gitu kan," balas Rara sambil duduk di meja lain, memunggungi Laras. Mereka makan dalam diam, tak satu pun mau menoleh atau menyapa lebih dulu.

Menjelang bel pulang, semua siswa berjalan berdesakan menuju pintu gerbang. Rara terhenti sejenak mengeluarkan buku catatan dari tas yang tertinggal di dalam, saat berbalik badan ia menabrak bahu Laras yang berjalan terburu-buru.

"Eh, lo liat-liat jalan dong!" bentak Laras sambil membetulkan posisi tasnya.

"Lo juga yang jalan nggak liat ke depan! Kok selalu aja salah gue terus di mata lo?" Rara menatapnya dengan mata berkaca-kaca karena kesal.

"Karena emang biasanya lo yang bikin masalah. Udah bilang maaf tapi kelakuan masih sama aja," ejek Laras sambil menyilangkan tangan di dada.

"Gue juga belum tentu ikhlas maafin lo sepenuhnya! Gue cuma nurut sama Mama aja, bukan berarti kita udah jadi sahabat dekat," balas Rara tegas.

Mereka berdiri berhadapan tepat di depan gerbang, orang-orang lewat sambil melirik sekilas. Tak ada yang mau mengalah, tak ada yang mau melembutkan nada bicara. Akhirnya Laras mendengus kasar, lalu berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan Rara tanpa menoleh lagi. Rara pun segera berjalan ke arah rumahnya dengan langkah lebar, rasa kesal masih membara di dada masing-masing. Mereka tahu kata maaf sudah terucap, tapi membenci itu ternyata jauh lebih mudah daripada saling memaafkan dengan tulus.

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!